Tampilkan postingan dengan label Taujih Mursyid 'Am Ikhwanul Muslimin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih Mursyid 'Am Ikhwanul Muslimin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2012

Kewajiban Ikhwan

By Administrator · 8 March 2012 · No comments
Risalah Mursyid, Tadzkirah · Tagged: Muhammad Mahdi 'Akif


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas pemimpin para nabi, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluaga, para sahabat dan mereka yang mengikuti dengan baik hingga hari pembalasan. Selanjutnya…

Tidak diragukan lagi akibat keras dan pahitnya realita, dan kuatnya tekanan; dari internal secara umum bangsa mengalami kerusakan system yang berkuasa, dan secara khusus para du’at mengalami berbagai perang, tipu daya, tekanan dan penyiksaan, dihadapkan dengan berbagai tuduhan bathil, diajukan kepengadilan secara dzalim, kehormatan dihinakan dan keluarga diintimidasi, gerak dan kebebasan mereka dibelenggu, harta dan kekayaan mereka dirampas serta jabatan dan pekerjaan mereka dijauhkan!

Adapun diluar mereka dihadapkan dengan persekongkolan, rekayasa, proyek dan agenda dengan maksud menguasai dan mengkebiri kita, menjajah negeri, mengotori kesucian, merampas sumber daya alam, mencabik-cabik persatuan, menghalangi kebangkitan, menghancurkan azimah seperti yang kita saksikan di Palestina, Iraq, Afghanistan, Somalia, sudan dan Lebanon serta negara dan dunia Islam lainnya.

Di hadapan kenyataan yang kelam dan suasana yang ironi ini, kami sampaikan kepada umat secara umum –dan ikhwan khususnya- janganlah menyerah dengan merendah diri dan putus asa, tunduk dengan merasa hina dan lemah dan marilah kita semua renungkan firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,” (Ali Imron, 139-140) dan sabda nabi dan pemimpin kita yang tercinta shalallahu ‘alaihi wa sallam saat menghadapi permusuhan, “Wahai Dzat yang memiliki hari pembalasan, hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan,” inilah yang kita jadikan bekal –alhamdulillah- dalam setiap rakaat dari setiap shalat.

Wahai Al Ikhwan Al Muslimun dan wahai umat manusia seluruhnya…, sikapilah realita ini dengan baik, lakukanlah persiapan dengan senjata yang memadai, dengan melakukan sebab-sebab yang dibutuhkan dan kewajiban yang difardhukan, diantaranya:

1. Hubungan yang Kuat kepada Allah

Tidak ada kerajaan kecuali milik-Nya, tidak ada perkara kecuali perkara-Nya, tidak ada hukum kecuali hukum-Nya, tidak ada Tuhan selain-Nya dan tidak ada Rabb kecuali Dia.

“Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya.” (Hud, 56)

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia,” (Yasin, 82), dan seluruh yang diserahkan kepada-Nya oleh hamba yang shalih dan mujahid tersimpan di tempat kemuliaan dan karunianya, maka petunjuk hanyalah dari-Nya saja.

“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan Hanya kepada-Nya-lah Aku kembali. (Huud, 88), dan pertolongan hanya dari-Nya saja “(Muhammad) berkata: “Ya Tuhanku, berilah Keputusan dengan adil. dan Tuhan kami ialah Tuhan yang Maha Pemurah lagi yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan.” (Al Anbiya, 112), dan keteguhan hanya dari-Nya saja “Dan kalau kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (Al Israa, 74), dan kemenangan hanya dari-Nya saja, “Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (Ghafir, 51)

Maka temukanlah ini semua dan dari selainnya serta dari selainnya –dari apa yang anda harapkan dan cintai wahai ikhwan Al muslimun- melalui Allah saja; dengan menjalin hubungan yang kuat dengan-Nya, tawakkal kepada-Nya, dan ingatlah arahan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,

-: “تعرَّفْ إلى الله في الرخاء يعرفْك في الشدة”،

“Kenalilah Allah pada saat senang sehingga Dia akan mengenalmu pada saat susah.”

Hendaklah kita mengenal kepada-Nya dengan ikhlas beribadah kepada-Nya, senantiasa taat, mengamalkan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, banyak berdzikir (mengingat) kepada-Nya, berinteraksi dengan kitab-Nya, menjaga waktu-waktu malam dengan ibadah, mengisi waktu sahur dengan ruku’, sujud, doa (munajat), dan air mata. Begitu dahsyatnya kesadaran sang Sholahuddin –rahimahullah- dan apa yang didapati dengan sunnah kemenangan dan kekalahan; ketika memantau dan melakukan inspeksi perkemahan pasukan di kegelapan malam, membangunkan orang yang tertidur untuk tahajjud dan munajat, dan memberikan peringatan kepada mereka dengan ungkapannya, “siapa yang seperti kalian akan kami berikan!”

2. Merpersenjatai Diri dengan Ilmu Pengetahuan

Setiap manusia yang berakal dan cerdas harus mempersenjatai diri dengan ilmu pengetahuan dan membekali diri dengan tsaqofah; sehingga memiliki wawasan terhadap setiap peristiwa dan masalah secara benar, memutuskan hukum secara tepat, melakukan aktivitas secara baik, dan ilmu pengetahuan ini lebih berhak atas seorang muslim; karena dirinya menyadari bahwa kata yang pertama kali diturunkan Allah dalam Al Quran Al Karim adalah: “Iqra” (Bacalah), kemudian membaca hal yang dapat menunjukkan bacaan dan membenarkan arahnya; agar menjadi di dalamnya manusia yang bermanfaat, memberikan kebaikan, membangun dan memakmurkan, seperti firman Allah, “dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan” (Al Alaq, 1), kemudian menyebutkan kata-kata wahyu pertama setelah bacaan sarana menuntut ilmu dan pengetahuan kedua yaitu tulisan, seperti dalam firman Allah, “Bacalah dan Tuhanmu yang Maha Mulia. Yang telah mengajarkan dengan pena. Mengajarkan manusia sesuatu yang tidak diketahui.” (Al Alaq, 3-5), dan karena seorang muslim selalu membaca juga firman Allah: “Dan katakanlah –wahai Muhammad- Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu.” (Thaha, 114) dan membaca doa nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,

اللّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا، وَالْحَمْدُ لِلّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَأَعُوذُ بِاللّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ” (سنن ابن ماجة عن أبي هريرة).

“Ya Allah berikanlah manfaat dari ilmu yang telah saya pelajari, dan karuniakanlah ilmu yang bermanfaat bagiku, tambahkanlah kepadaku ilmu, segala puji bagi Engkau dalam segala hal, dan aku berlindung kepada Allah dari adzab neraka.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Seorang muslim juga cerdas terhadap tujuan nasihatnya shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Dzar,

: “يا أبا ذر، لأن تغدوَ فتعلم آيةً من كتاب الله خيرٌ لك من أن تصلي مائة ركعة، ولأن تغدو فتعلم بابًا من العلم عُمِل به أو لم يُعمل به خيرٌ لك من أن تصلي ألف ركعة” (سنن ابن ماجة عن أبي ذر)

“Wahai Abu Dzar, Sungguh engkau pergi mengajarkan satu ayat dari kitab Allah lebih baik bagimu dari shalat sebanyak 100 rakaat, pergi mengajarkan satu bab dari ilmu, diamalkan atau tidak diamalkan lebih baik bagimu dari shalat sebanyak 1000 rakaat.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Dzar)

Begitupun dengan memahami hikmah para salafusshalih .. “Semoga Allah merahmati seseorang yang terkenal pada masa hidupnya dan istiqomah pada jalannya.”

Jika seperti ini kondisi setiap muslim dengan memiliki pengetahuan dan tsaqafah; maka kalian wahai Ikhwan lebih utama dan berhak darinya, kalian akan menghadapi setiap berbagai macam fikrah (ideologi) dan pandapat, teori dan filsafat, dalam berbagai sisi dan dimensi, maka dari itu perbanyaklah wahai ikhwan dalam mempelajari buku-buku, majalah-majalah, koran dan surat kabar, cermatlah dalam memantau berita-berita pada saluran dunia, kantor berita international dan berbagai peristiwa lainnya dari antena parabola; agar bisa mengikuti peristiwa dan perkembangan, dan memiliki kemampuan mengemban amanat dan risalah.

3. Tanggung Jawab dan Semangat yang Tinggi

Hendaklah mengisi hati dengan perasaan yang memiliki tanggungjawab terhadap agama, dakwah dan umat..perasaan ini yang kami perhatikan terdapat pada sikap Abu Bakar Ash Shiddiq –saat mencegah sebagian A’rab yang tidak mau membayar zakat; beliau berkata dalam ungkapannya yang menakjubkan, “Telah putus wahyu dan sempurna agama, apakah berkurang ajaran agama sementara saya masih hidup, apakah berkurang ajaran agama sementara saya masih hidup.”

Begitupun yang kami dapati pada diri Shalahuddin rahimahullah –orang yang paling kuat mengikuti sunnah, dalam satu kondisi dirinya tidak mampu tersenyum dan ketika ditanya alasannya beliau menjawab dalam ungkapan yang menakjubkan, “Bagaimana saya dapat tertawa sementara Al Aqsha tertawan.” Maka dengarkanlah wahai orang-orang yang suka bergurau dan bercanda.

Perasaan yang kuat akan tanggung jawab inilah yang bersinar dalam jiwa dan semangat yang tinggi, azimah yang kokoh yang mampu memudahkan segala kesulitan, meringankan segala beban dan mendekatkan segala yang jauh.

Sudahkah kalian menyaksikan kondisi sahabat sebelum perang Badr, ketika lepas dalam memantau kafilah, berjalan dalam khayalan dan pedang yang berkilat, dipelupuk mata ada warna darah, sementara dihidungnya tercium bau kematian, Al Miqdad bin Amru berbicara dengan lisan para muhajirin; sebagian ungkapan beliau adalah, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, jika engkau membawa kami menuju lembah yang dalam maka kami akan mengikutimu hingga engkau sampai padanya.” Sedangkan Sa’ad bin Muadz mewakili lisan Anshar dengan bersumpah beliau berkata, “Demi dzat yang mengutusmu dengan benar, jika engkau mengarungi lautan ini, lalu engkau ingin kami mengikutinya maka kami akan ikut bersamamu dan tidak ada seorangpun dari kami yang menyimpang.”

Semangat yang tinggi dan menyala telah menggerakkan generasi awal yang unik dan istimewa ini; terjun dalam perang demi perang, melaju marhalah demi marhalah dan melahirkan prestasi demi prestasi sehingga terjadi perubahan –dalam waktu yang singkat- kondisi Islam dan kaum muslimin, dari sembunyi-sembunyi kepada mujahadah secara terang-terangan dan keperkasaan, dari kondisi sedikit dan minoritas kepada kekuatan dan mayoritas, dari perasaan hina dan rendah diri menuju kewibawaan dan kejayaan.

Untuk itulah bekerjalah wahai orang-orang yang memiliki kesungguhan bekerja, bersemangatlah orang-orang yang memiliki kesungguhan, karena tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan kebaikan pada awalnya.

4. Berjiwa Positif

Yaitu sikap yang mampu mendorong pemiliknya untuk bersegera mengambil al-maslahah (kebaikan) untuk orang lain –individu ataupun jamaah- dan meninggalkan kerusakan darinya, sekalipun perkara tersebut bukan dalam kewajiban syar’i… saksikan Khabbab bin Al Mundzir radhiyallahu anhu –saat beliau melihat peristiwa yang dipilih oleh nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam; sambil bertanya dengan etika dan terus terang, “Wahai Rasulullah, apakah posisi ini yang telah diturunkan Allah kepadamu sehingga tidak ada bagi kami mendahului atau terlambat, atau itu merupakan taktik perang, pendapat dan tipu daya?”

Maka Nabi menjawab, “Ini adalah perang, pendapat, dan tipu daya.”

Lalu Khabbab berkata lagi tanpa rasa ragu, “Tempat ini bukanlah posisi yang tepat, namun kita harus berada diposisi paling rendah yang ada airnya, sehingga kita bisa membuat lembah, lalu kita kuasai semua sumur, kita dapat minum sementara mereka tidak bisa minum, kita bisa meneguk air namun mereka tidak bisa.”

Nabi pun akhirnya mengikuti pendapat tersebut dan menjadi salah satu penyebab kemenangan yang besar dalam perang yang menentukan.

Lihatlah Umar radhiyallahu anhu yang memberikan pendapat untuk membunuh tawanan perang tanpa belas kasih; sehingga menjadi pelajaran bagi setiap orang yang berani melecehkan agama ini atau melecehkan kaum muslimin; maka turunlah wahyu yang menyetujui pendapatnya dan menetapkan sikapnya, “Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Anfal, 67)

Lihatlah kepadanya saat menyampaikan pendapat kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Al Quran setelah banyak berjatuhan korban dari para penghafal Al Quran saat perang Al Yamamah memerangi pasukan Musailamah Al Kadzab, namun Abu bakar menolak pendapat beliau hingga akhirnya dilapapangkan dadanya oleh Allah terhadap perkara tersebut, sungguh ini merupakan pendapat yang lurus dan tepat sehingga terwujud dengannya janji Allah dengan memelihara kitab-Nya yang kekal dan wahyunya yang menjadi penutup.

Maka dari itu bersemangatlah –wahai ikhwan- mengikuti fenomena ini, berada pada kondisi seperti ini, karena dengan itulah agama kalian akan tetap mulia, dakwah akan menang serta umat akan bangkit.

5. Menjalin Silaturrahim dengan Masyarakat

Begitu luas lapangan yang menjadi tujuan Islam yang mulia!! Dan begitu jauh jangkauan yang ingin dicapai olehnya!! Bertujuan menjangkau bumi demi bumi, menyapa setiap insan… simaklah firman Allah, “Dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat untuk sekalian alam.” (Al Anbiya, 107) dan firman Allah, “Tidaklah Kami mengutusmu kecuali untuk seluruh manusia, member kabar dan peringatan.” (Saba, 28), dan tadabburkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku diutus untuk semua yang berwarna merah dan kuning.”

Maka setiap yang ingin melayani agama ini, mengemban amanah dakwah ini harus memperbaiki hubungan dan komunikasi dengan orang lain sekalipun terdapat perbedaan pendapat dan madzhab mereka.

Dalam kehidupan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bagi kalian ada tauladan yang baik, beliau dikenal dan dicintai oleh orang yang keras dan dekat dari keluarga dan kaumnya, mereka mengakui kelurusan pendapatnya, akhlak yang baik dalam setiap munasabah dan kondisi yang berbeda; seperti mereka rela atas keputusan diantara mereka saat berselisih dalam peletakkan hajar aswad setelah melakukan renovasi Ka’bah, mereka berkata, ini adalah kejujuran…kami rela dengan keputusannya, lalu merekapun mentaati hukum yang telah diputuskan.

Begitupun mereka menegaskan kesaksian mereka dengan kejujuran dan amanah pada awal pertemuan yang ramai bersama mereka setelah beliau diperintah melakukan dakwah jahriyah (terang-terangan), saat mereka bertanya, “Apa pendapat kalian jika aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di balik gunung ingin menyerang kalian, apakah kalian mempercayainya?”

Mereka menjawab dengan serentak, “Ya kami percaya, karena kami tidak pernah mendapatkan dalam diri kamu kebohongan sedikitpun..,” demikian pula Khadijah bersumpah kepadanya saat melihat pertama kali diturunkan wahyu kepadanya, “Demi Allah, Allah tidak akan menyesatkan dirimu,” kemudian diapun memberikan alasan dengan apa yang Allah inginkan menuju kemenangan dan keselamatan, “Sungguh engkau akan menyambung rahim (silaturrahim), memuliakan tamu, meringankan beban, mengadakan yang hilang dan membantu para pencari kebenaran.”

Maka hendaklah setiap kalian, wahai Ikhwan, keluar dari kondisi yang tidak baik, negatif yang ironis, sikap malu yang tercela, hendaklah diantara kalian berinteraksi dengan manusia dan berkomunikasi, memberi pengaruh dan perubahan, khususnya pada marhalah ini; sehingga mereka menerima kalian dalam berbagai pemilihan, memberikan kepercayaan kepada kalian, dan memberikan amanah diatas pundak kalian serta menjadi delegasi untuk menjadi penyambung lidah mereka terhadap masalah dan meminta kalian untuk memelihara hak-hak mereka dan menjaga kepentingan mereka, dan selalu husnudzon terhadap kalian, karena kalian memiliki hak, dan Allah akan menghisab perbuatan kalian, dan tidak ada seorangpun yang dapat mentazkiyah diri kecuali Allah dan cukuplah Allah pelindung kita dan sebaik-baik pelindung.

Shalawat dan salam atas nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan sahabat dan akhir seruan kami adalah segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam.

25 Oktober 2007
Readmore »»

Sabtu, 04 Februari 2012

Seruan Mursyid Am untuk Umat

Risalah Nukhbawiyah
5/2/2012 | 11 Rabbi al-Awwal 1433 H | 0 views
Oleh: Abu Ghozzah


Ikhwati wa akhawati al-kiram…
Putra dan putriku yang tercinta…
Bangsa Mesir yang besar…

Saya sampaikan kepada kalian untaian kata dari lubuk saya yang paling dalam yang sedang teriris pedih karena putra-putra kita yang tercinta telah menjadi korban bukan di medan laga, mereka meninggal bukan sedang menghadapi musuh, oleh karena itu saya mulai untaian kata ini dengan menyayangi mereka, dengan tetap memohon kepada Allah swt. agar mencurahkan keluasan rahmat-Nya kepada para korban dan menempatkan mereka di Surga bersama para Nabi, Shiddiqqin, Syuhada’ dan shalihin.

Sebagaimana saya turut bela sungkawa kepada keluarga korban, dengan mengharap kepada Allah swt. agar mereka diberikan kesabaran dan sikap positif. Juga saya persembahkan duka cita yang mendalam kepada saya dan kepada setiap anak bangsa Mesir yang mulia, sebagaimana juga saya berharap agar korban luka-luka segera sembuh, sehat seperti sedia kala.

Wahai tuan-tuan sekalian…

Kejadian di stadion Port Said tidak boleh lewat begitu saja tanpa adanya penindakan tegas. Telah terjadi serangkaian krisis keamanan pada masa transisi ini; di mulai dari peristiwa Maspiro, kejadian Jalan Muhammad Mahmud dan kejadian di Majelis Kementerian, dalam kejadian itu semua belum ada satu pun yang ditindak dan belum ada qishah terhadap pembunuh para syuhada’. Yang lebih mengherankan lagi pekan ini terjadi pembunuhan di stadion dan di luar stadion bola. Oleh karena itu, harus ada pernyataan resmi siapa penanggung jawab kejadian tersebut dan harus ditindak secara hukum kriminal dan aspek politik sesegera mungkin, demikian juga kami menuntut kembali agar diungkap pelaku dan otak segala krisis yang terjadi sebelum ini.

Kita tidak bisa menerima penyembunyian fakta tindak kriminal, pembunuhan, pengkrusakan dan penghinaan hak hidup. Allah swt. berfirman:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” QS. Al-Baqarah:179.

Kejadian baru-baru ini menunjukkan bahwa kepastian rasa aman di negeri ini mengkhawatirkan. Kepolisian tidak hanya abai dalam menjalankan tugasnya, namun lebih dari itu, dikhawatirkan ada diantara perwira yang balas dendam kepada rakyat yang telah menggalakkan revolusi dan menuntut kebebasan dan hak mereka. Oleh karena itu, kami melihat mendesak meninjau ulang struktur Kementerian Dalam Negeri dan membersihkannya dari anasis-anasir musuh rakyat dan meminta pertanggung jawaban menteri terkait dalam peristiwa ini.
Demikian juga perlu adanya keamanan bersama dengan partisipasi rakyat guna memastikan rasa aman. Juga memberlakukan yang sama antaranara pidana mantan pejabat dan tahanan rakyat biasa, fasilitas rumah sakit bagi mantan presiden diktator dan rezimnya dipindahkan ke rumah sakit penjara, tidak ada perlakuan khusus terhadap musuh rakyat dan melarang adanya kontak dan komunikasi dengan pihak lain… ini semua langkah yang mendesak untuk memastikan keamanan di Mesir.
Tidak mungkin hati puas dan rasa aman muncul jika pengadilan mantan presiden berjalan lambat. Oleh karena itu, hendaknya segera memutuskan hukum dengan tetap mengedepankan rasa keadilan, dengan tidak hanya melihat dari hukum kriminal semata, namun juga kejahatan politik bagi setiap orang yang merusak tata kehidupan dengan segala dimensinya, yang menjerumuskan Mesir pada tingkat kemunduran yang hebat seperti ini, dari sisi kemiskinan, keterbelakangan dan cerai-berai.

Ayyuhal ikhwah al-kiram…

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa ada orang-orang dan pihak-pihak yang hanya menginginkan kehancuran terhadap lembaga-lembaga negara, mereka menerima dana-dana besar dan latihan-latihan dari Luar untuk mengobarkan chaos dan kerusakan. Mereka ini diketahui oleh pihak intelejen dan Dewan Militer berdasarkan bukti-bukti yang sangat kuat, namun mereka sampai sekarang belum ditindak tegas, karena takut jika pihak-pihak Luar marah. Padahal rakyat menggulirkan revolusi agar negeri ini bebas dari pengaruh Barat, sehingga stabilitas dan keamanan terjaga. Karena stabilitas dan keamanan syarat mutlak untuk bisa bekerja dan meraih kemajuan. Oleh karena itu, tuntutan revolusi paling penting dan paling mendesak adalah menyingkap skenario dan menghentikan langkah mereka dan menindak tegas sesuai hukum. Dengan demikian, kontak mereka dengan pelaku kriminal murni bisa dihentikan. Pelaku kriminal juga harus ditindak guna menjamin keamanan negara dan rakyat. Jika ini dilaksanakan maka akan terang benderang mana yang pengusung revolusi sejati dan mana pendompleng kriminal.

Ayyuhal ikhwah al-kiram…

Bahwa Ikhwanul Muslimin bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat Mesir, baik secara geografis maupun eksistensi mereka di tengah-tengah masyarakat, sehingga mereka merasakan segala apa yang dirasakan rakyat; rasa sakit, kegetiran, bahkan juga cita-cita dan kehendak mereka. Oleh karena itu, mereka bersama rakyat dalam suka dan duka, dalam setiap langkah rakyat Mesir. Lebih lagi, rakyat telah mempercayai mereka bersama anggota parlemen lain yang mempresentasikan kehendak rakyat. Dengan demikian, anggota parlemen menjadi jaminan rasa aman bagi masyarakat dan berkhidmah pada rakyat, meskipun mereka harus mentaruhkan jiwa dan kehormatan mereka.

Ada sebagian media massa dan pihak-pihak yang meniupkan chaos berusaha melecehkan mereka. Mereka dengan ijin Allah swt. tetap sabar dan tegar menghadapi cacian dengan sikap positif. Mereka tetap memegang aspirasi rakyat dan bekerja karena Allah swt. semata, tidak menghendaki ucapan terima kasih dan balasan dari siapapun.

Bahwa semua tuntutan revolusi adalah tuntutan kami juga, kami tidak akan puas sebelum tuntutan itu terwujud bi idznillah. Contoh riil dari itu semua adalah apa yang dilakukan oleh partai kami di parlemen.
Jika kami menuntut Dewan Militer dan Menteri Dalam Negeri bertanggung jawab terhadap peristiwa Port Said, kami juga menuntut agar Gubenur Port Said dan Pengelola Stadion yang tidak melakukan pemeriksaan guna antisipasi terjadinya bentrokan diadili.

Jika Mesir milik semua anak bangsanya, maka saya mengundang seluruh komponen bangsa dan kekuatan politik yang ada untuk hadir dalam konferensi “Demi Mesir 6 Tercinta”. Sebelumnya kami telah mengadakan lima kali konferensi guna membahas masa depan Mesir dan bagaimana keluar dari krisis.

Ikhwah wa akhawat al-kiram…

Problematika yang kita lihat sekarang ini adalah merupakan krisis akhlak nomor satu. Karena siapa yang berani menumpahkan darah, membunuh, mengadakan pengkrusakan dan berbohong, maka ini adalah problem akhlak nomor satu.
Ini adalah rakyat Mesir. Tanggung jawab kemajuan akhlak ada di pundak mereka, ini tanggung jawab kita semua. Yang jadi dosen dan guru, pegiat media massa, senimam, olah ragawan, dan tanggung jawab setiap orang menginjakkan kaki di Mesir.
Kita semua sedang menaiki bahtera satu. Oleh karena itu, Rasulullah saw. menjadi contoh dalam hal ini, yaitu setiap kita yang berada dalam bahtera ini bertanggung jawab atas keselamatan semua isi bahtera. Jika saja ada pihak-pihak yang mencoba melobangi bahtera, maka Rasulullah saw. mengingatkan kita semua jangan sampai berkilah seperti ini: “Jika saja kita melobangi yang menjadi hak kita, maka kita tidak akan mengganggu tetangga kita.” Akan tetapi Rasul tidak menghendaki ada kejadian yang justeru akan membahayakan semua penumpang bahtera.”

Inilah kewajiban kita semua. Mengemban tanggung jawab dengan hati satu, bekerja sama dalam rangka kebaikan dan taqwa. Jika kita menemukan ada pihak-pihak yang melarang atau memusuhi kita, maka hendaknya kita larang dan kita cegah bersama-sama. Kita semua sama dalam kepemilikan negeri ini. Kita semua putra-putri bangsa ini. Kita semua pewaris negeri ini. Jika saja kita melihat ada orang yang berusaha berbuat kejahatan, maka kita cegah dia, sehingga dia sendiri selamat dan kita semua salamat dengan ijin Allah swt.

Ini adalah tanggung jawab kita semua. Oleh karena itu, mari kita bersatu padu dalam kemajuan ekonomi, peradaban, keilmuan, teknologi, juga kemajuan moralitas, sehingga nilai, prinsip dan akhlak yang diperoleh terejawantahkan di rumah, di kampus, di sekolah dan di setiap tempat kita berada. Nilai dan prinsip ini menjadi pengarah kehidupan.
Mari kita kembalikan nilai moralitas ini pada misi langit, misi kenabian. Dan itulah nilai orisinil Mesir.

Kami berdoa kepada Allah swt. bahwa kami dan Mesir berada dalam genggaman dan penjagaan-Mu Ya Rabbal Alamin. Oleh karena itu, jagalah negeri kami dari setiap upaya pengkrusakan dan tindak kejahatan. Selamatkan kami dari tipu daya pembuat makar, kembalikan tipu daya mereka menghancurkan mereka sendiri, dan bantu kami untuk memajukan negeri kami.

Ayyuhal ikhwah al-kiram…

Untaian tulisan sudah sangat jelas, musibah telah terjadi, hati telah teriris dan mata berlinang, namun kami tidak mengucapkan dan menuliskan kecuali sesuai yang di ridhai Allah swt.

Dalam penutup ini, saya kembali ulangi bela sungkawa saya kepada setiap anak bangsa Mesir dalam menghadapi musibah ini, terutama bagi keluarga para syuhada; dan hendaknya kita semua mengetahui bahwa kita semua akan bertemu dengan Tuhan kita, oleh karena itu, hendaknya kita ridha dengan keputusan Allah dan taqdir-Nya. Kita ulang-ulang firman Allah swt.:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS. Al-Baqrah:156-157.
Semoga Allah swt. menerima amal baik kita semua dan mengampuni segala kesalahan kita. Allah swt. memberi hidayah pada jalan yang lurus.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Readmore »»

Selasa, 31 Januari 2012

Strategi Hijrah antara Sebab Kausalitas dan Inayah Robbaniyah

Risalah Mursyid
30/1/2012 | 6 Rabbi al-Awwal 1433 H | 88 views
Oleh: Muhammad Badi


Risalah dari Prof. DR. Muhammad Badi’, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 12-01-2012

Penerjemah:

Abu ANaS MA

__________

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan orang-orang yang setia dengannya… selanjutnya;

Bahwa diantara makna strategi adalah mengoptimalkan seluruh potensi dan kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam waktu yang telah ditentukan, dan diantara ujian berat yang dihadapi oleh Mesir pada masa yang lalu bukan karena tidak adanya strategi yang memberikan manfaat kecuali karena adanya kerusakan dan strategi yang manhaji dalam kesesatan, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT:

وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا

“Dan mereka menyimpangkannya kejalan yang bengkok” (Al-A’raf:45)

Adapun strategi dalam Islam -yang tidak mungkin menghasilkan kebangkitan hakiki tanpanya- memiliki karakteristik tersendiri yang tidak terdapat pada yang lainnya. Intinya adalah sebagai berikut:

1. Masa konsepnya adalah kehidupan dan tempat kembali, mencapai pada kemakmuran hidup di dunia dan kenikmatan di akhirat

2. Kewajiban menggunakan berbagai sebab kausalitas dan yakin akan inayah (pertolongan dan bimbingan) rabbaniyah.

3. Mempertahankan tsawabit (yang tetap), mabadi (prinsip-prinsip) dan qiyam (nilai-nilai) akhlak.

4. Menyatukan konsep antara kejelian pengikut dan keampuhan kreatifitas; yang bertolak pada pilar-pilar strategis dan tujuan yang menyeluruh dari nash-nash syar’i serta ijtihad secara bersamaan untuk melakukan perbaikan kondisi real harian; bagi yang benar ijtihadnya maka akan mendapatkan dua ganjaran dan yang keliru beroleh satu ganjaran; sehingga dapat memotivasi diri dalam melakukan kreativitas dan menggabungkan antara orisinalitas dengan modernitas.

Dan realita yang terjadi di Mesir khususnya dan bangsa Arab dan umat Islam umumnya sangat membutuhkan akan fiqih pilar-pilar tentang strategi Islam terutama pada fase transisi ini; karena harus membuat sejarah baru; setelah bangsa Mesir dan Arab melewati kondisi kritis oleh karena adanya kediktatoran politik, korupsi, dekadensi moral, keterbelakangan peradaban, sehingga menyebabkan terjadinya revolusi, dan yang lainnya akan terjadi -bagi yang tidak mampu mengambil pelajaran- dengan yang lainnya berupa revolusi Arab yang dikarenakan oleh adanya empat karakteristik:

1. Robbaniyah

2. Kerakyatan

3. Perdamaian

4. Berperadaban

Dan kami telah memilihkan untuk para pembaca kami mulia dan kami cinta karena Allah pelajaran dari hijrah sebagai manhaj dalam konsep dan strategi untuk melakukan perbaikan masa depan bagi negara Mesir dan bangsa Arab dan Islam. Adapun pilar-pilar tersebut terdiri pada dua point utama:

1. Menggunakan berbagai sebab kausalitas yang dibolehkan secara syar’i

2. Yakin akan adanya inayah robbaniyah dan keberkahan rezki setelah menggunakan sebab kausalitas pada tingkat jamaah. Sebagaimana Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا

“Sekiranya Penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa…” (Al-A’raf:96)

dan pada tingkat personal. Sebagaimana firman Allah:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah maka akan diberikan jalan keluar dan diangerahkan rezki yang datangnya tidak disangka-sangka”. (At-Talaq:2-3)

Pertama:

Strategi dalam Hijrah; menggunakan sebab kausalitas dan mengoptimalkan berbagai potensi

Pelajaran dimulai dengan satu pilar yang jelas dalam hidayah rabbaniyah kepada Rasulullah yaitu menggunakan strategi hijrah dan menggunakan sebab (hukum kausalitas), tidak hanya bergantung pada diri, bahwa dirinya adalah seorang Rasul.. dan bahkan tidak mengabaikannya sehingga tidak menggunakan sebab akibat lainnya namun juga berusaha mengoptimalisasi potensi yang jelas yang dimiliki oleh setiap individu, sumber daya manusia dan materi. Hal tesebut terdapat pada perkara berikut:

1. Optimalisasi sumber daya manusia yang mumpuni dari kalangan sahabat terbaik; yaitu dengan menjadi teman dan pendampingnya saat melakukan hijrah, yaitu Abu Bakar As-Shiddiq; karena beliau memiliki karakter dan azimah yang kuat, ilmu yang tajam, kontribusi yang banyak, pengorbanan dan pertaruhan nyawa yang baik, etika yang sopan dan akhlak yang lembut serta cinta yang murni kepada Rasulullah saw.

2. Optimalisasi peran sahabat yang memiliki keberanian; yaitu dengan memilih Ali karena keberaniannya yang besar untuk menggantikan posisinya dan mengemban amanah serta menjaga nilai-nilai meskipun dalam kondsi yang kritis dan beresiko, dan apa yang dilakukan orang musyrik atas umat Islam bukan berarti interaksi mereka dengan yanh semisal dalam rangka dengan menggantikan posisi beliau serta menunaikan amanah tersebut kepada yang berhak; guna menjaga karakter Islam dari sisi akhlak dan peradaban.

3. Optimaliasi peran pemuda; dengan memilih Abdulllah bin Abu Bakar untuk mencuri dengar berita dan isu yang tersebar di kalangan orang-orang musyrik, lalu menyampaikannya kepada Rasulullah saw ketika hari sudah gelap (malam hari).

4. Optimalisasi peran pembantu seperti Amir bin Fahirah pembantu Abu Bakar; yang mana beliau ditugaskan untuk menggembala kambing sebagai cara menghapus bekas kaki dari perjalanan mereka.

5. Optimalisasi peran wanita diantaranya adalah Asma binti Abu Bakar yang membawakan makanan ke dalam Gua tempat Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi, semantera saat itu Asma sedang hamil yang pasti tidak ada seorangpun yang berani untuk menyakitinya, namun memberikan kasih sayang sesuai dengan nilai-nilai yang ada di kalangan Arab saat itu, dan juga seperti Ummu Ma’bad yang memiliki peran penting dalam mengumpulkan susu kambing dan makanan.

6. Optimalisasi peran non muslim karena pengalaman dan amanahnya; yaitu nabi memperbantukan Abdullah bin Uraiqith Al-Laitsi, yang sebagian riwayat menyebutnya dengan sosok pemberi petunjuk jalan yang berpengalaman atau faham jalan-jalan yang tidak biasa dilewati orang, sebagaimana dia juga disebut dengan orang yang memiliki profil yang gagah dan penjaga amanah yang nadir (jarang), sehingga tidak melemahkan dirinya meskipun mendapatkan tawaran bayaran yang besar dari pihak Quraisy yaitu 200 ekor unta, dan yang dengannya dapat menjadi orang terkaya di Arab jika menerimanya, namun demikian, dia juga tidak hanya memiliki sosok yang mumpuni, meskipun kafir dengan ilmu dan pengalaman namun juga memiliki fisik yang tangguh dan fleksibiliti, dan dalam mengemban tugas yang berat dan penting ini, nabi saw mengoptimalkan potensi orang kafir dan bahkan penyembah berhala.

7. Optimalisasi unsur waktu; yaitu nabi saw pergi ke tempat untuk mulai hijrah -saat manusia sedang beristirahat di rumah masing-masing- ke rumah Abu Bakar ra; sebagai tahapan awal berhijrah, lalu keluar melakukan hijrah pada malam hari, ketika kondisi telah gelap gulita dan manusia secara umum sedang tidur lelap, lalu berdiam diri di gua tsur selama tiga hari; menunggu kondisi tenang dan meminalisir pengintaian dari penduduk kota Mekkah.

8. Optimalisasi unsur tempat; yaitu Nabi saw memilih tempat keluar dari lorong-lorong rumah rumah Abu Bakar di malam yang gelap sehingga dapat menjaga anggota rumah tangganya, kemudian menuju gua tsur yang mengarah ke Yaman, dari arah selatan kota Mekkah bukan dari arah utara; sebagai arah dan jalan menuju Yatsrib, untuk mengalihkan pengintaian, membutakan pandangan dan mengelabui orang-orang kafir dari pengejaran.

Dan ketika beliau berada di gua Hira diantara strategi yang menakjubkan adalah mengoptimalkan jalan-jalan yang tidak dikenal; seperti yang disebutkan dalam sirah Ibnu Hisyam bahwa Abdullah bin Uraiqith sebagai orang pertama yang menjadi penunjuk jalan setelah keluar dari gua menuju menuju arah selatan Yaman, kemudian arah Barat menuju pesisir, sehingga pada saat sampai tujuan orang-orang tidak menyangkanya bahwa beliau telah sampai tujuan, yaitu yang mengarah ke utara dekat dari pantai laut mereka, lalu berjalan di perlintasan yang jarang dilewati oleh manusia.

9. Optimalisasi kendaraan atau binatang dengan memiliki dua ekor unta yang kuat dan gagah sehingga membantu keduanya dalam melakukan perjalanan yang panjang, mengoptimalkan gembala kambing menghapus bekas jalan yang mereka lewati, menghilangkan tanda-tanda pergerakan Rasulullah saw atau orang yang memiliki peran dalam memberikan informasi atau makanan atau petunjuk jalan pada perlintasan yang sesuai, sebagaimana pula beliau mengoptimalkan kambing untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan oleh manusia dari makanan dan minuman seperti dalam kisah Ummu Ma’bad, yang akhrinya menjadi sebab semua keluarganya masuk Islam.

10. Perhatian terhadap sisi kesehatan; dengan menyiapkan makanan yang hangat dan fresh yang dibawa oleh Asma binti Abu Bakar setiap hari ke Gua Tsur, dan susu kambing Ummu Ma’bad, yang mana ketika akan meminum terlebih dahulu beliau mencuci tempat perahan kambing tersebut, dan ketika sampai di kota Madinah penyambutan begitu meriah, maka dilakukanlah muakhah dengan mengikat hubungan persaudaraan umat yang baru lahir, begitu pula pembangunan masjid dan pasar; untuk menyatukan pelaksanaan ibadah dan muamalah dalam waktu yang bersamaan, dan ketika ada sahabat di madinah yang sakit karena adanya perubahan kondisi dan suasana maka Nabi saw memanggil mereka seperti disebutkan dalam hadits Shahih:

اللهم حبب إلينا المدينة كحبنا مكة أو أشد، وصححها، وبارك في صاعها ومدها، وانقل حماها فاجعلها بالجُحْفَة‏

“Ya Allah anugerahkanlah kepada kami kecintaan kepada kota Madinah sebagaimana kami mencintai kota Mekkah atau lebih dari itu dan luruskanlah dan berkahilah pada timbangannya -sha dan mud’nya- dan pindahkanlah penyakit demamnya dan jadikanlah jauh darinya”.

Akhirnya setelah itu dirinya menjadi sehat dari sisi jasadiyah, sejahtera secara ekonomi, dan lapang secara jiwa dalam mencintai kota Madinah disertai adanya keberkahan dalam timbangan dalam sha dan mudnya, dan terbebas dari penyakit lingkungan dan dipindahkan dari penyakit demam menjadi ringan.

11. Optimalisasi nilai-nilai akhlak Islam; bahwa strategi islam yang memberikan perhatian terhadap derajat tertinggi pada nilai akhlak mulia sangatlah penting; nabi saw bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

“Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”.

Karena itu, seiring dengan adanya siksaan, cacian, pembunuhan, perampasan dan pengusiran yang dilakukan oleh orang-orang musyrik di kota Mekkah,padahal mereka -orang musyrik- tidak bisa percaya kepada siapapun dalam memberikan amanah seperti Nabi Muhammad saw, usaha yang mereka lakukan bukan karena mengabaikan nilai-nilai amanah dan diberikan kepada pemiliknya, karena nabi tetap memiliki nilai ini dan berperan pada tugas ini, dan para sahabatnya pun telah tercetak jiwanya memiliki akhlak yang mulia ini, lalu dengan terpaksa meninggalkan kampung halamannya dan orang-orang musyrik dalam kondisi kebingungan dengan akhlak yang buruk, kemudian bersamaan dengan seluruh pengorbanan yang dilakukan oleh Abu Bakar dengan gigihnya, nabi memintanya untuk menyiapkan unta dengan harga yang paling mahal dengan penuh etika yang mulia, perasaan yang lembut, membedakan antara pemberian dengan permintaan, sebagaimana nabi saw mengambil susu dari Ummu Ma’bad meminta pemilik susu tersebut untuk meminumnya terlebih dahulu, lalu diikuti oleh Abu Bakar kemudian beliau yang terakhir meminumnya, dan ketika sampai di kota Madinah, beliau menjadi tamu tetap manjaga etika ketika berada di rumah Abu Ayyub al-anshari. Dilakukan persaudaraan -muakhah- yang dilakukan antara muhajirin dan anshar, tampak dari mereka itsar yang disambut dengan menjaga kehormatan diri dari kaum muhajirin; yaitu ketika Saad bin Ar-Rabi memberikan pilihan kepada Abdurrahman bin Auf untuk mengambil rumah yang terbaik, kebun yang terbaik dan istri yang tercantik yang dimiliki olehnya, namun beliau tetap menjaga kehormatannya dengan berkata:

جزاك الله خيرًا، بارك الله لك في مالك وأهلك ودارك، دُلَّني على السوق، وذهب يتاجر في الألبان حتى غنم مالاً كثيرًا، وصار المهاجري يطعم الأنصاري، والأنصاري يؤثر المهاجري

Jazakallah khairan, dan semoga Allah memberkahi dirimu; harta, keluarga dan rumahmu, mamun tolong tunjukkan kepada saya dimana pasar, lalu beliau pergi ke pasar tersebut dengan menjual susu sehingga dapat meraup keuntungan yang banyak, dan menjadi seorang muhajir yang kaya raya dan dapat memberi makan kaum anshar yang miskin, dan anshar itsar kepada orang muhajir.

Ini adalah contoh yang menunjukkan akan penting dan besarnya gambaran strategi dan konsep yang bersih, tidak terpaku pada tawakul, oleh karena dirinya sebagai Nabi Allah dan Rasul-Nya, dan pasti Allah tidak akan meninggalkannya. Namun beliau tetap melakukan optimalisasi terhadap berbagai sumber daya manusia, hewan, tempat, waktu dan nilai-nilai akhlak. Sehingga bagaimanakah hasilnya? inilah yang akan kita dapatkan dalam inayah rabbaniyah.

Kedua:

Keberhasilan Strategi karena adanya Inayah Robbaniyah

Bahwa keberhasilan strategi yang dibuat oleh Rasulullah saw yang berwujud pada hukum kausalitas, yang mana strategi islam selalu melewati dan melampaui batas bumi materi menuju kemenangan di dunia maupun di akhirat, meningkatkan perbaikan hidup dan tempat kembali di alam akhirat kelak; Allah berfirman:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”(Al-baqarah:201)

Dan Imam Syahid Al-Banna memandang bahwa umat Islam di era terakhir ini beriman kepada Al-Qadha dan Al-Qadar dengan iman terbalik; mereka meninggalkan hukum kausalitas dengan menyerahkan seluruhnya kepada Allah pemiliki segala urusan, sehingga datanglah hasil yang buruk sesuai dengan hukum ilahi, lalu mereka berkata: “Inikan sesuai dengan qadha dan takdir Allah”. dan ini menegaskan bahwa umat harus beriman kepada Qadha dan Qadar pada hasil bukan sebab.

Dan ini juga telah ditegaskan oleh syaikh Al-Ghazali saat memberikan komentar akan detail dan kuatnya strategi dalam perang Badar, beliau berkata:

لقد أعدَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم العدة كاملة كأنه لا يتوكل على الله، ثم ذهب إلى العريش يدعو ربه في العريش كأنه لم يعدّ شيئًا قائلاً: ”اللهم إن تُغلب هذه العصابة فلن تعبد على الأرض بعد اليوم”، وعليه فإن نتائج الأخذ بالأسباب جاءت كاملة من رب الأرباب في التخطيط للهجرة؛ حيث كان هناك النجاح الأكبر بالانتقال من الدعوة إلى الدولة، ومن العبادة إلى القيادة، ومن الجماعة المستضعفة بمكة إلى الدولة الراسخة بالمدينة، مع صور عديدة من العناية من أول الرحلة إلى آخرها

“Sungguh Nabi telah mempersiapkan perbekalan dengan begitu sempurna seakan beliau tidak bertawakkal kepada Allah, kemudian pergi ke Arsy dan disitu beliau berdoa seakan beliau tidak mempersiapkan apapun, beliau berkata: “Ya Allah jika kelompok kalah maka tidak akan ada lagi di muka bumi setelah ini yang menyembah-Mu”,

Dan karenanya hasil dari mengambil sebab kausalitas datang secara sempurna dari Allah pemilik segala urusan dalam melakukan strategi hijrah; sehingga terwujudlah keberhasilan yang besar berupa peralihan dari dakwah kepada daulah, dari ibadah kepada qiyadah, dari jamaah yang lemah di Mekkah kepada negara yang kokoh dan kuat di Madinah, dengan beragam gambaran yang berasal dari inayah dari Allah sejak perjalanan pertama hingga akhir. Diantaranya adalah:

1. Nabi saw keluar dari pintu utama rumahnya dan melewati 40 orang algojo arab yang berkumpul untuk membunuhnya, dan memisahkan darahnya ke dalam kabilah-kabilah yang ada, namun inayah Allah SWT membutakan mata mereka bahkan tidak cukup dengan menembus barisan mereka, beliau juga mengambil debu lalu menaburkannya kehadapan mereka sehingga beliau bisa melewati didepan mereka tanpa terlihat sedikitpun, dan Allah telah membuat mereka tidak melihatnya, sementara beliau membaca ayat:

وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لا يُبْصِرُونَ

“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat”. (Yasin:9)

Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang melihat Nabi saw kecuali ada bekas diatas kepala mereka debu yang ditaburkan oleh Nabi saw.

2. Ketika Nabi dan sahabatnya bersembunyi di gua tsur dan orang-orang musyrik mengintai dan mencarinya di berbagai tempat yang mungkin dijadikan untuk bersembunyi oleh nabi Muhammad saw dan sahabatnya, dan ketika mereka sampai di mulut gua tsur, yang membuat Abu Bakar khawatir, sehingga nabi pun mengingatkan beliau bahwa inayah Allah melindungi mereka, seperti yang difirmankan Allah:

إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (At-Taubah:40)

Dalam ayat ini imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas dari Abu Bakar berkata: Ketika aku bersama Nabi saw di gua tsur, maka akupun mengangkap kepala dan aku berada dihadapan kumpulan mereka karena dekat posisi mereka dengan mulut gua, akupun berkata: Wahai Nabi Allah, sekiranya sebagian mereka menundukkan kepalanya ke kaki mereka pasti mereka akan melihat kita, maka Nabipun bersabda:

“Bagaimana pendapatmu wahai Abu Bakar terhadap dua orang dan Allah yang ketiganya”.

3. Allah memberikan kelancaran berupa keluarnya susu dari kambing Ummu Ma’bad yang pada awalnya kambing tersebut tidak ada susunya, bahkan sebagian riwayat menjelaskan bahwa Nabi saw bertanya tentang kambing yang tidak bisa hamil atau tidak memiliki susu, maka inayah Robbaniyah hadir dalam mengeluarkan susu darinya.

4. Ketika Nabi saw melakukan berbagai usaha persembunyian dalam perjalanannya, dan syaitan dari bangsa jin berusaha membantu kafir Quraisy dengan memberitahukan mereka posisi Nabi dan sahabatnya melalui insting perasaan sehingga dapat diketahui tempat dan jalannya, lalu didahului oleh Suraqah bin Malik yang telah mendengar sayembara berhadiah jika berhasil menangkap Nabi saw dan sahabatnya, sehingga beliau mengejarnya dan ketika akan sampai kudanya tersungkur ketanah dan dirinya pun ikut tersungkur, hal tersebut membuat Suraqah kesal, lalu bangkit dan memaki kudanya, dan ketika ingin mengejar dan ingin menangkap kudanya tersungkur yang kedua kalinya, lalu berulang lagi yang ketiga kalinya seperti itu dan akhirnya Suraqah tidak berdaya, dan Rasululllah pun bersabda: “Kembalilah engkau wahai Suraqah, kelak engkau akan memiliki mahkota Kisra”. hal itu terjadi pada saat Nabi menenangkan Abu Bakar dalam perjalanan hijrah, beliau berkata: kita pasti akan terkejar wahai Rasulullah saw. Maka nabipun bersabda: “Jangan khawatir, sesungguhnya Allah bersama kita”. maka saya pun berkata: permintaan ini telah menyertai kita wahai Rasulullah, dan Nabi berkata lagi; “Jangan takut sesungguhnya Allah bersama kita”. (At-Taubah:40)

Inillah anugerah Allah dan limpahan karunia dan inayah Robbaniyah yang telah memuliakan hamba yang senantiasa menggunakan sebab kausalitas (ikhtiar).

Ketiga:

Kondisi negara Mesir dan Arab; antara sebab kausalitas dan Inayah Robbaniyah

Tidak ada keraguan bagi kita bahwa kita berada pada fase sejarah ini, yang jika kita menggunakan sebab-sebab strategi secara benar dengan cara mengoptimalkan satu tetes air yang menurut kita merupakan karunia Allah dari sungai-sungai yang mengalir di muka bumi, berupa hujan yang turun dari langit, matahari yang bersinar setiap pagi sehingga melipat gandakan tetumbuhan, bumi yang di dalamnya penuh dengan barang tambang yang sangat bernilai dan mahal harganya. seperti yang firman Allah:

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia”. (Al-Hadid:25)

Allah turunkan dari langit dan dititipkan di dalam bumi, dan Allah berikan minyak, gas, dan kekayaan yang berlimpah yang membutuhkan adanya strategi, manajemen dan tawakkal yang baik kepada Allah, bumi yang kita cintai dan penuh berkah adalah karunia Allah, yang memiliki tanah yang subur dan airnya pun jernih, kaum lelaki dan wanitanya akan memiliki kreatifitas, aktifitas dan ikhlas jika terdapat di dalamnya kebebasan, kehormatan, kebanggaan dan kedudukan, dan dengan izin Allah kita mendapatkan titik tolak yang penuh semangat dan gerakan yang lurus, melalui investasi dalam berbagai bidang; pertanian, industri, perniagaan, riset, kreasi, mencipta dan inovasi, sehingga memberikan ketsiqahan akan janji Allah SWT:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. (Al-A’raf:96)

Bahwa yang demikian itu, bukanlah tetesan-tetesan keberkahan namun pintu yang terbuka lebar sehingga mengeluarkan berbagai keberkahan, bukan dari bumi saja namun langit dan bumi, padahal kita di Mesir masih memiliki sisa-sisa dan musuh-musuh serta premanisme tetapi bangsa yang telah bangkit dan menyumbangkan para syuhada dan yang terluka, Allah membayarnya pada tahun ini sebagai permisalan bukan pembatasan; terjadi produksi gandum pada tahun 2011, delapan kali lipat dari produksi pada tahun 2010, anugerah dari langit bagi bangsa yang menginginkan martabat dan kebanggaan, seperti ungkapan syaikh Sya’rawi: “Jangan sampai terjadi sebuah keputusan sampai pada makanan hanya dari kepala namun harus berasal dari kapak kita sendiri.”

Saya menyeru kepada rakyat Mesir dan bangsa Arab untuk menyadari diri akan potensi yang dimiliki, sumber daya insani (internal) dan sumber daya eksternal yang telah Allah anugerahkan atasnya, memaksimalkan dan mengoptimalkannya dalam sebuah proyek; baik kecil atau besar sesuai dengan anugerah yang Allah berikan, berusaha membantu orang lain walau hanya dengan ide, sebagaimana Rasulullah saw telah mendapatkannya yang diawali dari nol, seperti yang diperintahkan kepada seorang sahabat untuk melakukan perencanaan hidup walau harus menjual tikar yang dimilikinya lalu makan sepertiga dari harga yang di dapatnya dan membeli alat untuk memotong batang kayu dan menabung sepertiga lainnya, beliau berkata kepadanya: “Pergilah dan belahlah kayu dan aku tidak akan menemuinya sampai lima belas hari nanti” setelah itu orag itupun kembali menemui Nabi saw dan telah mendapatkan rezki yang berelimpah dari Allah SWT; marilah kita pindah ke bidang kerja sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna: “Bahwa bidang perkataan bukanlah bidang kerja, dan bidang kerja bukanlah bidang Jihad, dan bidang Jihad yang hak bukanlah bidang Jihad yang batil, maka dari itu marilah kita memulai proyek ini secara individu dan kelompok, dan kita akan berusaha mengerahkan potensi terbaik kita untuk mengatasi semua hambatan yang ada dihadapan kita dan dihadapan para pemuda laki-laki dan wanita, generasi muda dan mudi, Muslim dan non-Muslim; untuk membuat negara-negara memiliki kedamaian sosial dengan cara memberikan empat hak-hak kewarganegaraan yaitu:

1. Meri’ayah (perhatian) umat,

2. Memakmuran Bumi

3. Mentaati peraturan dan undang-undang

4. Tolong menolong kepada pemimpin

Selama hal tesebut tidak melanggar Syariah, kemudian kita yakin bahwa Allah, Tuhan semesta alam pasti tidak akan membarkan kita, karena Dia telah berjanji dan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya, dan siapakah yang paling tepat memenuhi janjinya daripada Allah? dimana Allah berfirman dihadapan orang-orang beriman dalam setiap tempat dan waktu

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”. (An-Nuur:55)

وَيَقُولُونَ مَتَى هُوَ قُلْ عَسَى أَنْ يَكُونَ قَرِيبًا

“Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: “Kapan itu (akan terjadi)?” Katakanlah: “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat”. (Al-Isra:51)

Shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga dan para sahabatnya

Kairo, 17 Shafar 1433 H / 12 Januari 2012

____________________

Referensi:

1. Majma Az-Zawaid, Haitsami, no 9/18
Readmore »»

Kamis, 26 Januari 2012

Akhlak dan Ilmu; Dua Pilar Kebangkitan

Risalah Mursyid
25/1/2012 | 1 Rabbi al-Awwal 1433 H | 3 views
Oleh: Muhammad Badi


Risalah dari Prof. DR. Muhammad Badi’, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 05-01-2012

Penerjemah:

Abu ANaS MA

___________

Segala Puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas Rasulullah saw dan orang-orang yang mendukungnya.

Akhlak dan Ilmu adalah dua sisi mata uang

Para ulama sepakat bahwa akhlak merupakan landasan utama secara spiritual untuk kebangkitan suatu umat, neraca pertumbuhan, perkembangan dan kemajuannya. Sedangkan Ilmu adalah landasan utama secara materi untuk sebuah kebangkitan dalam berbagai sisi kehidupan. Oleh karena itu, ilmu tidak mampu secara sendirian memberikan kehidupan kepada manusia jika tidak disertai dengan akhlak dan nilai-nilai mulia. Namun demikian tidak akan berdiri tegak kebangkitan umat ini kecuali dengan hadirnya kedua asas tersebut secara bersamaan, sehingga dapat memberikan kemajuan dengan berbagai kebaikan bagi manusia yang diciptakan untuk meraih kebahagiaan dan kesenangan, serta kehidupan dengan penuh ketenangan dan ketentraman.

Ketika umat ini memiliki keterikatan dengan ilmu dan akhlak, maka akan terbangunlah kemuliaan dan kedudukannya di tengah umat lainnya; karena ilmu dan akhlak seperti saudara kembar; dengan keduanyalah muncul prestasi, dan dengan keduanya pula terjadi kemajuan. Itulah yang pernah terjadi dan belum pernah di temukan setelahnya dalam sejarah peradaban umat Islam yang agung, yang landasannya adalah ilmu dan akhlak yang bersumber dan memancar dari islam dan seluruh risalah samawiyah; sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi saw:

إنما بعثت لأتمِّم مكارم الأخلاق

“Sesungguhnya aku diutus, adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (Ahmad)

Sehingga merekapun memiliki keistimewaan dan kreatifitas dalam berbagai medan kerja; keilmuan, etika, sosial, tsaqafah, ekonomi, olah raga, seni dan riset, dan karena itu pula dakwah kepada ilmu sangatlah mulia dan tinggi derajatnya. Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (Al-Mujadilah:11)

Rasulullah bersabda:

طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة

“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah”

Bahkan Nabi saw menjadikannya (menuntut ilmu) sebagai jalan mudah menuju surga, seperti dalam riwayat Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda:

من سلك طريقًا يلتمس فيه علمًا سهَّل الله له طريقًا إلى الجنة

“Barangsiapa yang melintasi jalan yang di dalamnya untuk mencari ilmu niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

Ilmu juga dapat memajukan kehidupan dan peradaban umat ketika dilandasi dengan akhlak yang mulia. Allah berfirman:

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka Apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan Dia ke dalam neraka Jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim”. (At-Taubah:109)

Ilmu dan Akhlak adalah dua pilar Kebangkitan

Kita adalah umat “Iqra” yang hingga sekarang menjadi dustur pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi saw:

إقرأ باسم ربك الذي خلق

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan” (Al-Alaq:1)

Dan menulis menjadi dustur kedua yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi saw:

ن والقلم وما يسطرون

“Nun, Demi Al-Qalam dan apa yang dituliskan” (Al-Qalam:1)

Sedangkan Akhlak merupakan penyempurna akan dustur tersebt secara realita dan praktek, sebagaimana yang disabdakan Nabi saw:

إنما بعثت لأتمِّم مكارم الأخلاق

“Sesungguhnya aku diutus, adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (Ahmad)

Maksudnya adalah bahwa nilai-nilai mulia dan akhlak merupakan pondasi seluruh risalah samawiyah sebelumnya, karena Rasulullah bersabda: “Untuk menyempurnakan”.

Karena itu ilmu dan akhlak menjadi dua pilar kebangkitan di masa yang akan datang. Dan siapa yang merasa cukup dengan ilmu saja tanpa akhlak maka akan mengakibatkan dirinya menjadi penguasa yang zhalim dan diktator, dan bagi siapa yang memiliki akhlak tanpa ilmu maka dirinya menjadi orang yang lalai, padahal umat Islam yang diutus oleh Allah merupakan umat yang terbaik ditengah umat manusia, yang tidak mudah dibodohi dan dikuasai; karena kesadarannya pada jalan kebangkitan, dan karena keimanannya serta totalitasnya kepada Allah SWT.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Ali Imran:110)

Hafizh Ibrahim pernah berkata:

وَالْـِعـلْمُ إِنْ لَــمْ تَـكْـتَنِفُهُ شَـمَائِلُ تُـعْـلِـيْهِ كَـــانَ مُـطِـيَّةَ الإِخْفَاقِ

لاَ تَـحْـسَبَنَّ الْـعِـلْمَ يَـنْـفَعُ وَحْــدُهُ مَــا لَمْ يَــتَــوَجَّ رَبـُّــهُ بَــخَـلاَقٍ

Dan ilmu, jika tidak membentuk pada akhlak # mulia maka akan menjadi sia-sia

Jangan sangka ilmu secara sendirinya akan memberikan manfaat # Jika tidak diiringi oleh pemiliknya akhlak mulia

Dua pilar pembangunan peradaban yang bersih

Begitupula dengan pembangunan peradaban yang bersih harus memiliki dua sayap; sayap ruhi (spiritual) dan sayap materi. Karena itu, dalam membangun peradaban tidak boleh mengabaikan akhlak, hanya memperioritaskan materi yang ingin dicapainya; sehingga akan menjadi peradaban yang tidak memiliki nilai dan bahkan tidak akan mampu terbang sampai pada tujuan yang diinginkan; karena apakah masuk akal -padahal sebab-sebab kebangkitan senantiasa bersama kita- terjadi kemunudran dan keterbelakangan jalan pada umat ini? Sementara itu para cendekiawan banyak mengkaji berbagai sebab yang menghambat umat Islam dalam meniti jalan menuju kebangkitannya. diantaranya adalah:

1. Jauh dari Allah

2. Adanya perpecahan dalam barisan

3. Menyebarnya kebodohan

4. Berkurangnya semangat menuntut ilmu

5. Berpangku tangan dengan kondisi yang merusak (akhlak

6. Tidak berhukum kepada hukum Allah dan syariat-Nya

7. Jumud terhadap era keterbukaan pada setiap kemajuan global

Karena itu hakikatnya adalah

فِالْحِكْمَةُ ضَالَةُ الْمُؤْمِنِ

“Al-Hikmah (ilmu) adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman”

Imam Malik bin Nabi berkata:

وَالْعَالِمُ بِحِرْصِهِ عَلىَ الْحَقِيْقَةُ يَصْبَحُ أَخْلاَقًا لاَ يُطِيْقُ الْصَبْرَ عَلَى الْخَطَأِ حَتَّى يُجْرِيَ التَّصْحِيْحَ الْمَطْلُوْبَ عَلَيْهِ

“Orang yang berilmu pada hakikatnya dengan semangatnya yang membara akan menjadikannya memiliki akhlak mulia, lalu tidak memiliki kekuatan untuk sabar terhadap suatu kekeliruan (kesalahan) sehingga senantiasa memberikan pembenaran seperti yang diinginkan atasnya”.

Pilar-pilar suksesnya kebangkitan ilmu dan akhlak

1. Bertitik tolak dari Al-Qur’an dan Sunnah dalam melakukan pembangunan proyek kebangkitan; karena Al-Qur’an dengan hidayahnya akan memberikan gambaran tentang karakteristik kebangkitan dan faktor-faktor kemajuan, sementara Sunnah nabawiyah sebagai teladan yang akan memberikan gambaran karakteristik perubahan dan kebangkitan, yang akan mampu memberikan arahan manusia dalam memberikan solusi berbagai permasalahan, meluruskan akhlak dan mengarahkan harakahnya dan aktivitasnya di bumi, dan dengan sirahnya Nabi saw umat akan memahami akan pondasi dan faktor-faktor kebangkitan, menyingkap berbagai sebab kelemahan, memahami akan manhaj yang benar dalam memimpin umat menuju tepian yang aman, mengenal apa yang ada di muka bumi tentang berbagai nikmat dan kekayaan Allah yang dianugerahkan kepada seluruh manusia dan berbagai tambahan lainnya yang diberikan kepada orang-orang salih.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. (Al-A’raf:96)

2. Arahan dan petunjuk ditengah hakikat Al-Qur’an dan Sunnah kauniyah: Bahwa Al-Qur’an dan bumi adalah dua kitab yang menafsirkan hikmah penciptaan makhluk dan alam semesta, mengungkap berbagai tujuan rabbaniyah dalam memberikan tugas kepada manusia -seluruh manusia- amanah khilafah; karena itu ayat-ayat Allah yang tertulis dan ayat-ayat Allah berserakan di alam berasal dari satu sumber, dan itu merupakan ajakan yang gamblang untuk mengelola potensi dan kekayaan alam menuju realisasi kebangkitan ilmu dan materi; karena allah SWT tidak pernha mensyariatkan berbagai perintah secara sia-sia, dan juga dibuat tidak mengalami perubahan meskipun kondisi manusia mengalami perubahan, karena itu jatuhnya umat dan kebangkitannya, tidak mungin akan sempurna dengan sendirinya melalui pengungkapan sunah kauniyah yang ditakdirkan Allah dalam kehidupan pada berbagai sisinya.

3. Reformasi manusia dan metode pengajaran: Manusia merupakan sumber daya terbesar, jika memenuhi metode pengajaran yang dibangun atas dasar pemahaman dan pendalaman kontribusi kognitif modern, dan perkembangan ilmu baru dalam berbagai dimensi ilmu, karena itu bangsa dan negara dapat mengambil manfaat dari kecerdasan anak bangsanya sendiri daripada harus pergi jauh untuk memberikan pelayanan kepada umat lainnya.

4. Memanfaatkan ilmu untuk memberikan pelayanan kepada manusia dan pembinaan nilai-nilai mulia dalam jiwa: dan inilah yang diinginkan oleh Islam dari ilmu yang bermanfaat, dan inilah kaidah utama untuk sebuah kebangkitan umat secara umum, dan saat ini kita sangat membutuhkannya karena kita sedang berada diambang kebangkitan menuju ilmu yang bermanfaat dalam berbagai lini dan dimensinya, yang mana hal tersebut mengarah kepada perasaan takut dan menuju keumuman pemberian manfaat ke seluruh alam.

5. Mengeksplorasi harta karun dan sumber daya alam yang terdapat di perut bumi umat Islam, seperti yang telah diungkap setiap hari oleh para ulama geografi, geologi dan sejarah, dari para ulama kita yang terkemuka; cucu imam Ar-Razi, Zumakhsyari dan ibnu Haitsan, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Biruni, yang mana mereka telah mengabdikan diri dalam berbagai bidang; medis, matematika, geografi, fisika, enginering, sebagaimana mereka juga memiliki kelebihan dalam bidang akhlak, nilai dan agama secara bersamaan.

Dengan Semangat dan Cita-cita Mari kita Wujudkan Kebangkitan

Ada beberapa hambatan yang dapat menghalangi kita menuju sebuah kebangkitan ilmu dan akhlak; yaitu eksternal seperti taklid, ketergantungan dan kebodohan; dan internal seperti kediktatoran, kekacauan dan putus asa. Namun itu semua dapat sirna karena adanya semangat yang tinggi, optimisme, dan harapan, tekun dalam mengawal proyek kebangkitan, dan menampilkan kekuatan umat secara moral dalam mengawali kehidupan Islami dan kebahagiaan umat manusia di dunia.

Imam Syahid Hassan Al-Banna berkata tentang dua pilar ilmu pengetahuan dan moral, dalam rangka menghadirkan proyek islam menuju kebangkitan bangsa: “Umat membutuhkan pengetahuan yang seperti yang dibutukan untuk melakukan penemuan dan kreasi, dan Islam tidak menolak terhadap ilmu pengetahuan, dan menjadikannya sebagai salah satu kewajiban dari kewajiban lainnya” beliau juga berkata: ”Al-Quran tidak memisahkan antara ilmu dunia (sains) dan ilmu agama, bahkan dianjurkan untuk menguasai keduanya, dan menyatukan ilmu-ilmu alam semesta dalam satu ayat, bahkan memotivasi untuk meraihnya dan menjadikan ilmu sebagai sarana memiliki rasa takut dan jalan untuk mengenal Allah SWT.

Karena itu dalam surat Fathir ayat 27 Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit”

hal tersebut menjadi isyarat suatu pergerakan dan pengetahuan tentang astronomi dan tentang menyatukan langit dan bumi. Kemudian Allah berfirman:

فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا

“Lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya”

yang demikian merupakan isyarat adanya ilmu tentang tumbuhan ( botani), keajaiban dan kimiawi.

وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ

“Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat”.

Hal ini mengacu pada geologi dan stratigrafi, peredarannya dan perputarannya.

Dan dalam ayat 28 Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya)”.

Sebagai referensi tentang biologi dan hewan dengan berbagai macamnya dari manusia, serangga dan binatang; Apakah Anda pikir bahwa ayat ini menyisakan sedikit tentang ilmu pengetahuan alam. Kemudian Allah menambahkan semua itu, dengan firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”

Lalu beliau berkata tentang pilar akhlak:

“Dan bangsa yang ingin bangkit sangat membutuhkan kepada moral .. moral yang mulia, yang kuat dan kokoh dan jiwa yang mulia serta ambisi yang tinggi; karena mereka akan menghadapi tuntutan era baru tidak dapat dicapai kecuali dengan moralitas yang kuat, yang tulus yang bersumber dari iman yang mendalam, keteguhan yang mantap, pengorbanan yang banyak dan daya tahan yang besar, dan kebebasan publik dan untuk kebebasan berfikir; tidak hanyak untuk dapat mentransfernya pada kreativitas dan inovasi, namun juga dapat merumuskan diri secara penuh pada Islam semata .. yang membuat perbaikan diri dan kesuciannya sebagai pilar keberuntungan..

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (As-Syams:9-10)

Dan juga membuat perubahan lembaga umat sebagai renungan atas perubahan moral dan perbaikan diri. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)

Semoga Allah membimbing kita semua menjadi orang yang berilmu dan belajar untuk kebangkitan negeri kita yang tercinta dan umat di dunia, mengangkat derajat kita di tengah seluruh umat, negara dan bangsa.
Readmore »»

Rabu, 18 Januari 2012

Tujuan yang Jelas dan kerja keras… Jalan Menuju Kebangkitan Risalah Mursyid 17/1/2012 | 21 Safar 1433 H | 0 views Oleh: Muhammad Badi


Risalah dari Prof. DR. Muhammad Badi’, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 29-12-2011

Penerjemah:

Abu ANaS MA

__________

Segala puji hanya milik Allah, shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad saw dan orang-orang yang mendukung risalahnya, selanjutnya…

Setiap insan yang cerdas akan senantiasa memiliki tujuan jelas yang ingin berusaha dicapai dan dirainya, memiliki misi besar yang ingin berusaha direalisasikannya dalam rangka meraih kebahagiaan yang diidamkannya; baik kebahagiaan di dunia atau kebahagiaan di akhirat, atau kebahagiaan pada keduanya

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”. (Al-Baqarah:148)

Dan sesuatu yang sesuai bagi kemaslahatan individu tentunya akan sesuai pula bagi kemaslahatan jamaah, bahkan bagi kemaslahatan umat secara keseluruhan. Karena itulah, suatu jamaah tidak mungkin akan kokoh atau cerdas kecuali harus memiliki misi yang mulia yang ingin berusaha diraihnya dan tujuan besar yang ingin berusaha direalisasikan dan diwujudkan secara mudah, singkat dan terarah.

Rasulullah saw telah memberikan contoh yang menakjubkan bagaimana cara menentukan tujuan dan bekerja keras untuk meraih dan merealisasikannya, meskipun harus menanggung beban berat dan rasa letih, meskipun harus menghadapi banyak musuh dan sekutunya, meskipun ada usaha tipu daya dari para pembuat makar

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)”. (Al-Qalam:9)

Maka beliapun bersabda:

يا عمَّاه.. والله لو وضعوا الشمس في يميني والقمر في يساري على أن أترك هذا الأمر ما تركته حتى يظهره الله أو أهلك دونه

“Wahai Pamanku… Demi Allah sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, maka aku tidak akan meninggalkannya sempai Allah memenangkannya atau menghancurkannya”.

Umat Islam telah melewati -pada generasi awal- masa diatas manhaj yang lurus ini.. menyeru kepada Allah kepada petunjuk Allah yang hak, membimbing manusia dan memberikan keteladanan kepada akhlak dan perilaku mulia, menyebarkan nilai-nilai kebaikan, bersabar saat menghadapi berbagai cobaan dan siksaan, menghadang berbagai rintangan dan konsisten pada kebenaran, kemudian melakukan hijrah yang penuh berkah ke bumi yang indah dan sejahtera, adanya para pembela (kaum Anshar) yang tulus, kemudian mendirikan daulah yang berada dalam naungan petunjuk kebenaran dan keadilan, lalu mempertahankan agama yang mulia ini serta menyebarkan risalah ke seantero alam…

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali Imran:110)

Di era modern kita saat ini.. pada saat dakwah ikhwan mulai berusaha memberikan bimbingan kepada umat dan membangunkannya kembali, mengembalikannya ke posisi semula dan risalahnya, setelah mengalami kemunduran dan keterpurukan dalam jangka waktu yang begitu panjang…

حدد الإمام البنا في (رسالة المؤتمر السادس) غايتين لجماعته المباركة فقال: ”يعمل الإخوان المسلمون لغايتين: غاية قريبة يبدو هدفها وتظهر ثمرتها من أول يوم ينضم فيه الفرد إلى الجماعة، تبدأ بتطهير النفس وتقويم السلوك وإعداد الروح والعقل والجسم لجهاد طويل (وَنَفْس وَمَا سَوَّاهَا ﴿ ٧﴾ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿8﴾ قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿9 ﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ﴿ 10﴾ (الشمس)، وغاية بعيدة: لا بد فيها من توظيف الأحداث وانتظار الزمن وحسن الإعداد وسبق التكوين، تشمل الإصلاح الشامل الكامل لكل شئون الحياة، وتتعاون عليه قوى الأمة جميعها، وتتناول كل الأوضاع القائمة بالتغيير والتبديل لتحيا من جديد الدولةُ المسلمة وشريعة القرآن.. (ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ﴿ 18 ﴾إِنَّهُمْ لَن يُغْنُوا عَنكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْض وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ ﴿ 19﴾ (الجاثية).

Imam Al-Banna dalam risalah al-muktamar ke enam menargetkan dua tujuan bagi jamaah yang penuh berkah ini, beliau berkata: ”Ikhwanul Muslimin berusaha mencapai dua target penting:

1. Target jangka pendek; yang tampak tujuannya dan jelas hasilya sejak awal bergabungnya setiap individu di dalamnya kepada jamaah, dimulai dengan target mensucikan dan membersihkan diri, meluruskan perilaku, menyiapkan ruh, jasad dan akal untuk berjihad yang panjang

وَنَفْس وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Demi Jiwa yang diciptakan dengan sempurna, lalu diberikan ilham yang jahat dan taqwa, sungguh beruntung bagi siapa yang berusaha mensucikannya. dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”. (As-Syams:7-10),

2. Dan tujuan jangka panjang; yaitu berusaha memfungsikan dan memanfaatkan berbagai kondisi dan menunggu suatu masa yang tepat, yang tentunya terlebih melakukan persiapan dan pembentukan, mencakup perbaikan yang konfrehensif dan integral ke dalam seluruh lini kehidupan, bekerja sama dengan seluruh potensi yang dimiliki oleh umat, dan mencakup seluruh kondisi yang terjadi berupa perubahan dan pergantian untuk menghidupkan negara muslim dan syariat Al-Qur’an.

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ . إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ .

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa”. (Al-Jatsiyah:18-19)

Imam Al-Banna telah menetapkan misi besar dan agung tersebut dengan beberapa tujuan periodik dan sarana yang terperinci… diawali dengan tujuan melakukan perbaikan bagi setiap individu, kemudian membangun keluarga, lalu masyarakat, kemudian pemerintah lalu khilafah yang penuh berkah lalu menjadi pemimpin dunia.. pemimpin yang membawa hidayah, pemberi arahan, kebenaran dan keadilan.

ولقد حدد الإمام البنا لتلك الغاية العظمى أهدافًا مرحلية ووسائل تفصيلية.. تبدأ بإصلاح الفرد ثم بناء الأسرة ثم إقامة المجتمع ثم الحكومة فالخلافة الراشدة فأستاذية العالم.. أستاذية الهداية والرشاد والحق والعدل. وبين أن هذه الغايات والأهداف تحتاج بعد تحديدها ووضوحها إلى جِديَّة في التنفيذ، وإصرار على الإنجاز، وتدرج فى الخطوات، واستمرار فى العمل، وضم الصفوف بالإقناع لا بالإجبار، وبالحب لا بالجبروت (فَذَكِرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِرٌ ﴿ ١8 ﴾لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِر ﴿ 19﴾ (الغاشية)، (وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِجَبَّار فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ ﴿ 45﴾ (ق)، ثم الثبات على الطريق مهما اعترضته من عقبات وشدائد أو مكائد ومؤامرات،

Dan beliau juga menjelaskan bawa tujuan dan misi ini, meskipun telah ditetapkan targetnya dan penjelasannya, tetap membutuhkan adanya kesungguhan dalam mengeksekusinya, membutuhkan kerja keras untuk mencapainya, langkah-langkah bertahap, kerja yang berkesinambungan dan kontinyu, kesatuan barisan dengan penuh kepuasan bukan pemaksaan, dengan cinta bukan kekerasan.

فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ. لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

“Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”. (Al-Ghasyiah:21-22)

وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ

“Dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku”. (Qaaf:45)

Kemudian tsabat di jalan dakwah sekalipun harus menghadapai berbagai rintangan dan cobaan, siksaan, tipu daya dan konspirasi. dalam risalah yang sama beliau juga berkata:

إن تكوين الأمم وتربية الشعوب وتحقيق الآمال ومناصرة المبادئ تحتاج من الأمة التي تحاول هذا، أو من الفئة التي تدعو إليه على الأقل إلى قوة نفسية عظيمة تتمثل فى عدة أمور: إرادة قوية لا يتطرق إليها ضعف، ووفاءٍ ثابت لا يعدو عليه تلون ولا غدر، وتضحية عزيزة لا يحول دونها طمعٌ ولا بخل، ومعرفةٍ بالمبدأ وإيمان به وتقدير له، يعصم من الخطأ فيه والانحراف عنه والمساومة عليه والخديعة بغيره

“Bahwa pembentukan umat dan pembinaan bangsa, mewujudkan impian dan cita-cita serta mempertahankan prinsip-prinsip sangat membutuhkan dari umat yang memiliki kecendrungan perkara ini atau kelompok yang menyeru kepadanya minimal kekuatan jiwa yang kokoh berupa hal-hal berikut:

- Keinginan yang kuat yang tidak pernah terbetik sedikitpun perasaan lemah,

- Pemenuhan janji yang kokoh yang tidak pernah sedikitpun ternodai oleh kontaminasi muslihat dan tipu daya, dan pengorbanan yang besar yang sedikitpun tidak pernah berubah karena ketamakan dan kekikiran. Mengenal dan memahami prinsip dan keimanan kepadanya dan penghargaan untuknya, sehingga hatinya terlindungi dari kekeliruan, penyimpangan, konspirasi dan tipu muslihat dengan yang lainnya”.

Dan dalam berbagai revolusi kita yang penuh berkah – dimusim semi arab ini- keinginan yang kuat umat revolusioner terhadap target dan tujuan yang telah ditetapkan dan jelas adanya nyata, menyatu dan tidak pernah surut sedikipun, sehingga inilah yang menjadi sebab utama dalam mewujudkan jatuh dan turunnya rezim diktator dan pemerintah yang zhalim, mengubahnya menjadi kondisi bersih dari berbagai sistem yang rusak yang telah mengakar di negeri kita ini, sehingga membuat berbagai kerusakan dan kemunduran, perampasan berbagai sumber daya alam, terhalang kemajuannya dan tentunya kita saat ini sudah mendekati era dalam rangka mewujudkan target besar yaitu menegakkan sistem dan pemerintahan yang adil dan penuh dengan petunjuk kepada seluruh lembaga-lembaganya.

Meskipun para penentang dan pembangkang mencoba – sengaja atau tidak sengaja – meletakkan berbagai macam rintangan dan hambatan atau membuat umat sibuk dengan pertempuran internal; dengan berbagai klaim glamor tapi palsu, merobek (memecah belah) barisan umat dan tenggelam dalam berbagai perdebatan yang tak berguna, yang mana Nabi saw telah memperingatkan perkara tersebut:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ

“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah diberikan hidayah dan petunjuk kepadanya kecuali karena perdebatan yang tidak berguna” ,

Bahkan permasalahannya telah sampai pada tahapan pertempuran dan konfrontasi yang beragam, bahkan hingga pada kepada terjadinya pertumpahan darah dari orang yang tidak bersalah dan bersih dari dosa, semua ini mengganggu sebuah perjalanan dakwah dan mengaborsi revolusi dan membuat kita sibuk dari tujuan utama dan target yang ditetapkan, namun berkat karunia Allah SWT -dan keberkahan dari syura- kita mampu melewatinya dan tetap bekerja keras di atasnya untuk mencapai tujuan umat.

Bahwa diantara tujuan sebuah revolusi, yang bercita-cita untuk membentuk kekuatan umat dengan sejuta ragam permasalahan di Dewan Perwakilan Rakyat mewakili umat dengan perwakilan yang hakiki dan jujur, dimulai dari tahap pembentukan lembaga negara dan pemerintahan yang baik .. Negara kebebasan dan kesetaraan, membuat aturan tentang hak dan keadilan, dengan partisipasi dari semua kekuatan politik dan strata sosial.

Semua yang direkomendasikan untuk diri kita dan saudara-saudara kita dan mitra kami di negeri ini .. Janganlah kita sibuk dengan pertempuran atau polemik internal, atau ditarik ke dalam labirin jalan yang dibuat-buat dan direncanakan oleh musuh-musuh sehingga lupa melakukan perhatian terhadap agenda Besar dan tujuan mulia

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (Al-An’am:153)

Dan kitapun harus berhati-hati terhadap berbagai usaha yang ingin memecah belah umat ke arah yang berbeda dan saling berbenturan, bahkan kepada usaha untuk memecah belah barisan yang satu; kepada para pemuda, orang-orang tua, laki-laki dan wanita, umat Islam dan Kristen, mazhab dan sekte-sekte; kita membutuhkan kepada semua energi dan potensi umat dan pengalaman-pengalamannya, kita membutuhkan semangat para pemuda dan kekuatan yang dimilikinya, kita membutuhkan kebijaksanaan para orang tua dan pengalaman mereka dalam jihad yang telah mereka lakukan, yang menyatukan mereka semua dalam suasana cinta sejati, ketulusan, kepercayaan dan tujuan bersama.

ولنستمع إلى إمامنا الشهيد في خطابه للمخلصين العاملين من الشباب والشيوخ: “ألجموا نزوات العواطف بنظرات العقول، وأنيروا أشعة العقول بلهب العواطف، وألزموا الخيال صدق الحقيقة والواقع، واكتشفوا الحقائق في أضواء الخيال الزاهية البرَّاقة، ولا تميلو كل الميل فتذروها كالمُعَلَّقة، ولا تصادموا نواميس الكون فإنها غلاّبة، ولكن غالبوها واستخدموها وحولوا تيارها، واستعينوا ببعضها على بعض”.

Marilah kita simak ucapan Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam sambutannya dihadapan para aktivis yang ikhlas dari kalangan orang tua dan muda: ”Marilah kita membungkam keinginan emosi dengan tatapan akal yang jernih, marilah kita sinari pikiran dengan tetupan emosi yang berapi-api, berkomitmenlah dengan impian dalam bentuk yang nyata dan realitas, marilah kita temukan fakta-fakta yang ada dalam imajinasi yang cerah dan cemerlang, janganlah kamu terlalu cenderung (kepada apa yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung, dan jangan melakukan bentrokan dengan hukum alam karena pasti dia yang akan memenangkannya namun berusahalah untuk mengendalikannya, memanfaatkannya dan menyetir haluan dan arusnya, dan berusahalah untuk saling memberikan bantuan satu sama lain. ”

Karena itu selamat bekerja dan berjuang dengan gigih dalam rangka menyatukan barisan dan mewujukan tujuan yang jelas, sambil memohon pertolongan kepada Allah SWT dan bertawakkal kepada-Nya

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (At-Thalaq:3)

Shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Allah Maha Besar dan Segala puji hanya milik Allah semata.
Readmore »»

Kamis, 12 Januari 2012

Kebangkitan Umat Dalam Membangun Kesatuannya


Risalah dari Prof. DR. Muhammad Badi’, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 22-11-2011

Penerjemah:

Abu ANaS MA

__________

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat dan salam atas Rasulullah saw dan orang-orang yang mendukungnya, selanjutnya..

Kebangkitan Umat dan Kesatuan Generasi Umatnya

Persatuan umat dan bangsa merupakan batu bata pertama dan titik tolak akan kebangkitan yang hakiki. seperti firman Allah:

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku”. (Al-Mu’minun:52)

Sebagaimana kebangkitan setiap umat atau bangsa selalu berada pada kesatuan anak bangsanya meskipun terdapat di dalamnya keragaman jenis dan warna kulit, secara khusus mereka harus berusaha untuk bekerja sama dan saling bergotong royong demi pembangunan negeri dan kemajuannya. Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (Ali Imran:103)

Dan kesucian darah, kehormatan dan harta, dan diberlakukannya qishash bagi siapa yang melakukan pelanggaran dan kejahatan terhadap merupakan keniscayaan, karena itu Allah berfirman:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”. (Al-Baqarah:179)

Karena itu pula, akan terdapat banyak halangan dan rintangan yang dihadapi umat ini, dikepung oleh kekuatan jahat yang ingin melemahkan potensinya, menghalangi realisasi kebangkitannya sehingga dapat menikmati hidup dengan penuh kehormatan, kemuliaan dan kesejahteraan, yang mana hal tersebut merupakan hak alami dan pundamental dalam meniti kehidupan di dunia ini.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui”. (Al-A’raf:32)

Ayat diatas memperlihatkan kepada kita tentang masa yang akan berlalu hari demi hari, seakan dia berkata: Bahwa kebangkitan telah Allah jadikan di muka bumi ini kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki semangat dan aktif, kerja keras dan memiliki kesadaran yang tinggi, dengan iman mampu memuliakan kedudukannya pada hari kiamat nanti jika dilakukan dengan penuh keikhlasan, memberikan keistimewaan dan perbedaan dari yang lain. Karena itu apakah setelah adanya janji Rabbani ini kita lewatkan peluang kebangkitan begitu saja, memberikannya kepada selain kita dalam menentukan kehendak tempat kembali dan masa depan kita?!

Kita adalah satu-satunya umat yang ditakdirkan membawa kebaikan, telah diciptakan untuk membawa misi kebaikan; diawali dengan memberikan kebaikan kepada seluruh umat manusia, sebagaimana Allah berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (Ali Imran:110)

Karena itu, mempersiapkan umat untuk mengemban risalah Islam harus didahului dengan melakukan perbaikan dan perubahan, lalu setelah itu, menggunakan berbagai pilar-pilar kebangkitan yang akan membuat pilihannya benar dan tujuannya tepat, yaitu meraih kebebasan dan kemuliaannya, kekuatan dan kebangkitannya, dan kemakmurannya dalam kehidupan yang sejahtera dan adil pembangunannya.

Langkah pertama menuju kebangkitan

Rukun pertama kebangkitan -jika suatu bangsa menginginkan kehidupan yang mulia- adalah bersatunya kekuatan yang mumpuni, anak bangsa yang saling berpegang teguh pada kasatauan nasional, melebihi dari kemaslahatan pribadi dan jauh dari kepentingan sesaat, sehingga jika demikian adanya, maka niscaya mampu melegalisasikan langkah pertama menuju kebangkitan yang penuh optimis, kesejahteraan yang diidamkan, mewujudkan impian orang-orang yang tertindas, terzhalimi dan kaum lemah, menuju botol obat, bahtera penyelamat dan kehidupan yang mulia.

Kesehatan Umat terletak pada Norma-norma Akhlaknya

Bahwa persatuan yang diidamkan dan diimpikan oleh suatu umat tidaklah akan terwujud kecuali jika memiliki norma-norma akhlak yang mulia di seluruh aspek kehidupannya; terutama akhlak kebangkitan umat dalam rangka mengalahkan kediktatoran, kekerasan dan kezhaliman, sehingga mampu menjatuhkan rezim diktator yang batil, dan inilah yang kita diharapkan agar tidak hilang dalam kehidupan umat; akhlak yang moderat, realistis, mutawazin (seimbang) dan syamilah (komprehensip) sehingga mampu menyehatkan kehidupan umat, memberikan tenaga spiritual dalam rangka menghadapi berbagai tantangan, sungguh kita saat ini sangat membutuhkan hal tersebut. sebagaimana Nabi saw bersabda:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”

Akhlak juga merupakan agama, sebagaimana nabi ketika ditanya tentang makna agama, maka beliau bersabda: “Akhlak yang baik”. (Muslim)

Karena itu, bahwa norma-norma akhlak dan nilai-nilai yang kokoh pada setiap kebangkitan, pada saat membutuhkan adanya jenis, waktu, tempat dan kualitas, dan pada saat nilai-nilai yang tidak bersumber dari yang lain kecuali dari wahyu Allah yang mampu memberikan perbaikan fitrah yang lurus dan memeliharanya seperti dalam firman Allah:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad:11)

Lalu hilang dari kehidupan umat, maka akan terjadi kehancuran dan perpecahan di tengah anak bangsa, mereka akan saling betikai dan mengedepankan kepentingan masing-masing. Allah SWT berfriman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Jumu’ah:2)

Kewajiban Hari Ini

Diantara nilai-nilai yang dapat menyatukan umat dalam satu tubuh adalah kejujuran dan amanah, keduanyalah yang dapat melekatkan dalam kehidupan dan interaksi, perilaku dalam pergaulan dan dalam berbagai tingkatan umat; pemimpin dan rakyat, pemerintah dan bangsa, pejabat negara dan para pegawainya, cendekiawan dan wartawan, tentara dan polisi, keluarga dan masyarakat, umat Islam dan non muslim, karena kejujuran dan amanah merupakan dua sifat yang menjadi pokok utama dalam setiap risalah samawiyah, dan inilah yang dikenal dari sifat Nabi saw sebelum beliau diangkat menjadi seorang Rasul, mereka telah menjuluki nabi dengan orang yang jujur lagi amanah, dan ini pula yang menjadi pintu masuk akan keberhasilan dakwah beliau, terbukanya hati dan tersebarnya ideologi.

يذكر ابن هشام في سيرته: لما نزل قوله تعالى: (وأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ) ، جمع أهله وسألهم عن مدى تصديقهم له إذ أخبرهم بأمر من الأمور، فأجابوا بما عرفوا عنه قائلين: ما جربنا عليك إلا صدقًا، قال: فإني نذير لكم بين يدى عذاب أليم

Ibnu Hisyam dalam sirahnya pernah berkata: ketika Allah menurunkan ayat “Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” maka nabi mengumpulkan keluarganya dan bertanya kepada mereka akan tingkat kepercayaan mereka kepadanya jika diberitahukan sesuatu kepada mereka , maka mereka menjawab seperti yang dikenal dengan berkata: kami tidak mendapatkan darimu sedikitpun kecuali kejujuran. maka saat itu pula nabi berkata: “Sesungguhnya aku datang memberikan peringatan kepada kalian bahwa dihadapan saya ada azab yang pedih”.

Inilah kewajiban bagi setiap individu meskipun memiliki perbedaan orientasi dan kerja, begitupula kewajiban bagi setiap umat meskipun memiliki perbedaan partai dan aliran.

فعن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: “أربع إذا كن فيك فلا عليك ما فاتك في الدنيا: حفظ أمانة، وصدق حديث، وحسن خليقة، وعفة في طعمة“

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, bahwa Rasulullah saw bersabda: ada empat perkara yang jika ada pada dirimu maka engkau tidak akan luput dari kehidupan dunia: Menjaga amanah, jujur dalam berbicara, akhlak yang baik dan makanan yang suci (halal)”. (Musnad Ahmad)

Inilah Jalan Menuju Kebangkitan Umat

Setelah Nabi saw wafat, para khulafa menanggung beban dan tanggungjawab dengan penuh ketenangan dan amanah, tanpa ada kerancuan, kelemahan atau ancaman keamanan, karena ideologi yang telah diajarkan oleh Nabi saw adalah memerdekakan manusia, ideologi inilah yang mampu menjaga manusia dari tindakan penyimpangan dengan dakwah Islam kepada sesuatu yang menjadi tujuan dan objeknya; karena Allah menghendaki agama ini kekal, dan dengannya memuliakan umat melalui revolusi ilmiah, kematangan akal dan tranformasi kepada asholah, sehingga secara cepat menampakkan kecerdasan dalam rangka memimpin dunia menuju peradaban Islam, memberikan keteladanan kepada seluruh umat manusia, dan untuk pertama kalinya terjadi peralihan kepemimpinan secara damai melalui baiat, menjadikan landasan akan sistem pemerintahan yang berlandaskan musyawarah dan legislasi kerakyatan, sehingga sampai kepada kesadaran mereka yang matang, ilmu yang cemerlang, amal yang berkesinambungan, pembinaan yang kontinyu, produktivitas yang berkelanjutan, sehingga mereka berhak menjadi pemimpin dunia, guru dunia tidak seperti yang telah kita saksikan dan sedang kita saksikan, dari berbagai realita yang memilukan: kediktaroran, penindasan, penjajahan, dan peristiwa yang mengerikan: isu perpecahan dan disintegrasi ditengah anak bangsa guna menghancurkan umat, membunuh daya tahan tubuhnya dan menggagalkan kebangkitannya.

Jadi kita berada pada wakut yang tepat untuk bekerja dengan sungguh-sungguh guna membangun kembali negeri kita. As-Syahid Sayyid Qutb berkata:

إنَّ الذي يعيش لنفسه قد يعيش مستريحًا، ولكنه يعيش صغيرًا ويموت صغيرًا، فأما الكبير الذي يحمل هذا العبء الكبير.. فماله والنوم؟ وما له والراحة؟ وماله والفراش الدافئ والعيش الهادئ والمنام المريح؟!

“Bahwa siapa saja yang hidup dengan sendirinya bisa jadi dapat hidup dengan tenang, namun tetap dalam posisi yang kecil dan akan mati dengan skala kecil, adapun yang dianggap besar adalah yang mampu membawa beban yang besar ini …. jadi untuk apa tidur? untuk apa istirahat? untuk apa dipan yang empuk, hidup yang tenang dan menyenangkan?!

Rasulullah saw telah memahami akan hakikat ini dan ukurannya; sehingga beliau berkata kepada Khadijah saat Khadijah mengajaknya untuk tenang dan tidur:

مضى عهد النوم يا خديجة

“Telah lewat waktu untuk tidur wahai Khadijah”

Tentu telah berlalu waktu untuk tidur, dan tidak akan kembali sejak hari ini kecuali bangun malam, menikmati rasa letih dan jihad yang panjang dan berat! dan jangan lupa pula nasihat syaikh As-Sya’rawi:

“إن الثائر الحق الذي يقوم ليهدم الفساد، ثم يهدأ ليبني الأمجاد“

“Bahwa orang yang membawa kebenaran akan senantiasa berdiri tegak untuk menghancurkan kerusakan kemudian menenangkan diri (duduk) untuk membangun eksistensi”.

Munculnya Cahaya Harapan

Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Risalah “Nahwan Nur” yaitu khutbah yang disampaikan untuk para pemimpin dan penguasa umat:

تحتاج الأمة الناهضة إلى الأمل الواسع الفسيح، والقرآن يبين لنا أن اليأس سبيل إلى الكفر، والقنوط من مظاهر الضلال

“Sungguh Umat ini membutuhkan akan harapan yang luas dan lapang, karena Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita bahwa putus asa adalah jalan kekufuran, dan berpangku tangan adalah merupakan fenomena kesesatan, Allah berfirman:

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)”. (Al-Qashash:5)

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”. (Ali Imran:140)

Karena harapan telah bersinar cahayanya dengan adanya azimah umat yang kuat, perasaannya juga mengatakannya keinginannya, dan memiliki kemampuan untu merealisasikan apa yang telah masuk kepadanya, melalui jalan persatuannya yaitu jalan yang lurus menuju kebangkitannya, kenapa tidak? padahal problema yang dihadapi adalah sama, obsesinya sama dan impiannya juga sama…

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain”. (Al-Baqarah:71)

Bahwa persatuan sudah menjadi tuntutan umat setelah sebelumnya berusaha dimarjinalisasi oleh rezim penindas, dan setelah runtuhnya berbagai bentuk penjajahan dan kekuasaan, sehingga kesadaran yang menghilangkan perasaan takut yang dibuat-buat kembali bersinar, manipulasi untuk menguasai potensi umat, menghancurkan kekuatannya yang kokoh dan penyebaran rezim palsu.

Dan guna mewujukan harapan ini tentunya sangat membutuhkan kesadaran terhadap berbagai permasalahan, kerja sungguh-sunguh, keinginan yang jujur, azimah yang kuat terhadap persatuan, eksplorasi seluruh potensi; baik ilmu, ide, politik, ekonomi untuk sebuah proyek persatuan umat, dan inilah yang diperintahkan Allah untuk kebangkitan dini. Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ. وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran:104)

Dan akhir dari seruan kami adalah bahwa segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat dan salam atas Rasulullah saw pemimpin tercinta kita, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah.
Readmore »»