Tampilkan postingan dengan label Taujihat Tarbawiyah Para Ustadz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujihat Tarbawiyah Para Ustadz. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2011

Mengekspresikan Nilai Islam

Taujih Tarbawi
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Ashshalatu was salamu ala rusulillah shallahu ‘alaihi wa sallam. 
Ikhwati Fillah… 
Dakwah yang sedang kita lakoni sekarang bukanlah dakwah yang baru. Gerakan dakwah yang mempunyai akar sejarah panjang. Karenanya, kita tidak kekurangan referensi dan pengalaman. Referensi dan pengalaman yang ada pun bukan hanya pada keberhasilan dan kesuksesannya saja, tetapi juga disisipi dengan kasus-kasus kegagalan dan ketergelinciran pelakunya di sepanjang zaman. Memang, kegagalan dan ketergelinciran pelakunya tidaklah harus menjadi kebanggaan generasi penerusnya. Tetapi semua itu merupakan kekayaan dakwah yang menjadi modal untuk bekerja lebih baik dan lebih berhasil di masa-masa mendatang. Sejak dulu hingga sekarang, izzatud du’at (kebanggaan para pelaku dakwah) akan kebenaran dakwah selalu menjadi sumber kekuatannya dalam berdakwah dan berjuang. Kekuatan karena yakin dan tsiqah dengan janji Allah, kemenangan di dunia atau gugur syahid di jalan-Nya. Menang dengan tegaknya syariat dan nilai Islam atau gugur syahid di tengah jalan mulia menuju cita-cita. 
Ikhwati Fillah… 
 Tarbiyah yang kita lakukan selama ini harus mampu meningkatkan kualitas iman dan amal kita. Izzah (kebanggaan) kita akan Islam juga harus semakin besar. Dengan keizzahan tersebut, seseorang diharapkan tidak terbuai dengan kesenangan dunia, meskipun halal. Dan dengan keizzahan pula seseorang terus bekerja dan berjuang untuk cita-cita, tidak tergoda untuk istirahat atau izin beberapa saat untuk mengejar target duniawi tertentu atau sedih memikirkan kondisi keluarga, istri dan anak. Ikhwati Fillah… Sekali lagi kita harus mengaca dengan keteguhan dan ketsabatan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, seorang ahli hadits, ahli fiqih (Imam Mazhab Hambali) dan seorang dai. Dalam kitab Thabaqat Al-Hanabilah disebutkan bahwa ketika Ahmad bin Daud, Abu Sa’id Al-Wasithi menemui Imam Ahmad di penjara sebelum dicambuk ia berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdullah (Imam Ahmad), Anda punya tanggungan keluarga yang harus Anda urus, Anda juga punya anak serta Anda sudah beruzur (karena usia).” Dengan mantap dan izzah imaniyah, beliau menjawab, “Jika demikian cara berpikir Anda wahai Abu Sa’id, maka sebenarnya Anda sudah istirahat dari perjuangan.” Pemikiran dan perkataan semacam ini sudah banyak terlontar dari para dai. Dai yang ingin pensiun, ingin menghabiskan sisa usianya untuk karir, untuk keluarga, untuk penghidupan, untuk cita-citanya pribadi. Mereka sibuk dengan usaha mereka, dengan perusahaan mereka, dengan keluarga mereka dan dengan ambisi-ambisi mereka. Mereka beranggapan, mereka sudah selesai melaksanakan kewajibannya ketika mereka masih muda dulu dan ketika mereka masih sangat dibutuhkan dakwah. Dalam pandangan mereka, sekarang dakwah sudah mempunyai kader-kader baru yang segar dan siap untuk menghabiskan waktunya di dakwah sama sepertinya dulu. Pada hakikatnya ucapan-ucapan mereka itu adalah ucapan peristirahatan dari segala tugas dakwah. Ucapan orang yang tertipu dengan pemahaman keislamannya yang sempit. Pemahaman yang tidak membuat mereka merasa sedih dan pilu dengan nasib dan kondisi umat Islam saat ini. Perjuangan Islam tidak mengenal kata istirahat sampai ketentuan Allah datang kepada kita, menang atau gugur syahid. 
Ikhwati Fillah… 
Buat apa sukses di karir kalau hanya di dunia, buat apa keluarga mapan materi jika hanya di dunia, buat apa usaha maju pesat jika tidak menambah ketsabatan dan pengorbanan di jalan dakwah. Buat apa menjadi konglomerat jika tidak bisa mencontoh Utsman bin Affan r.a. atau Abdurrahman bin Auf r.a. atau Abu Bakar Siddiq r.a. atau sahabat lainnya yang berhasil dalam usaha tapi tidak meninggalkan dakwah, bahkan menjadi pilar utama dakwah di masa Rasulullah saw. Ikhwati Fillah… Keletihan dan kecapekan kita dalam dakwah dan tarbiyah tidaklah membuat ajal kita menjadi cepat atau memendekkan usia atau membuat tubuh kita menjadi aus. Tetapi semua itu justru akan meninggikan derajat para dai dan membuat usianya menjadi lebih bermanfaat dan penuh dengan keberkahan. Coba kita lihat apa yang dirasakan Abu Nashr Bisyr bin Al-Harits Al-Hafi (151-227 H), seorang zahid dan ahli hadits yang tepercaya pada masa Imam Ahmad yang lepas dari incaran penguasa karena ketenarannya dalam zuhud dan kecintaan masyarakat kepadanya. Ia terkenal dengan kecintaannya kepada Imam Ahmad dan di hari Imam Ahmad disiksa oleh algojo pemerintahan Al-Mu’tashim Billah, ia berkata, “Sampai saat ini Imam Ahmad telah disiksa cambuk sebanyak 17 cambukan (dari 30 cambukan).” Kemudian Bisyr menjulurkan kakinya, sambil melihat betis kakinya ia berkata, “Alangkah buruknya betis (kaki) ini yang tidak terbelenggu apapun, tapi tidak dapat membela lelaki ini (Imam Ahmad).” Ia menyayangkan tubuhnya yang tidak dapat menambah pengorbanannya untuk Islam sebagaimana Imam Ahmad. Dengan izzah imaniyah, Imam Ahmad tegar menghadapi fitnah dan cobaan atas dirinya. Kalaulah bukan karena keimanan dan tsiqah kepada Allah, niscaya beliau tidak akan tsabat dan istiqamah di jalan kebenaran, mengakui dan mengimani bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai petunjuk manusia. Buah izzah imaniyah yang dapat dirasakan seorang dai adalah kesadaran bahwa dalam Islam terdapat kekuatan yang hakiki yang terefleksi dalam diri seseorang untuk mengekspresikan Islam yang utuh. Kepalsuan yang terdapat dalam teori, prinsip, gaya hidup dan pandangan jahiliyah senantiasa mengajak orang banyak untuk mengekspresikannya. Dengan izzah imaniyah, meskipun kebanyakan orang tertipu dan terbawa fitnah dunia atau godaan dunia, ia mampu bertahan dan dapat mengekspresikan Islam dalam dirinya agar umat dan generasi penerusnya tidak ikut terjebak dengan doktrin dan godaan yang ada. Sebelum Imam Ahmad memerankan pribadinya sebagai umat, jauh sebelum itu nabi Ibrahim a.s. pernah mengekspresikan dirinya sebagai imam (umat). Penegasan Allah dalam Al-Qur'an tentang hal itu merupakan catatan yang harus dipahami agar tidak muncul pesimistis dalam diri dai ketika ia hanya seorang diri harus memerankan dan mengekspresikan nilai-nilai Islam. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (umat) yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan). (Q.S. An-Nahl: 120) Ibnu Taimiyah mengomentari bahwa saat itu Nabi Ibrahim a.s. hanya seorang diri saja yang beriman, sementara masyarakat masih dalam kekafiran dan kejahiliyahan. Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan bahwa Nabi Ibrahim berkata kepada istrinya, Sarah, “Wahai Sarah, tidak ada seorang pun di muka bumi saat ini yang beriman kecuali aku dan engkau.” Dari kejadian ini dapat disimpulkan bahwa rasa keterasingan pada diri seorang mukmin bukanlah katerasingan yang hakiki. Justru masyarakat yang sesat dan kafir itulah sebenarnya yang asing dan tersesat di dunia yang luas ini. Sehingga ketika sebagian orang menyangka bahwa Abdul Wahab ‘Azzam berada dalam katerasingan dengan cepat ia meluruskan pandangan tersebut dengan mengatakan, “Salah seorang temanku berkata bahwa ia melihatku sebagai orang asing di tengah manusia, tanpa kawan seorang pun. Aku katakan kepadanya, “Penilaian Anda tidak benar, justru merekalah yang asing (dalam dunia masing-masing yang sempit dan gelap). Saya berada di duniaku yang luas dan inilah jalanku (yang jelas dan terang).” Adapun keterasingan ghuraba yang disebutkan dalam hadits Nabi (thuuba lil ghurabaa’) adalah keterasingan dalam realita. Artinya asing karena jarangnya dan sedikitnya jumlah mereka dibandingkan dengan masyarakat banyak. Sedangkan di alam hati dan perasaan, sesungguhnya seorang mukmin dekat dan akrab dengan nilai-nilai keimanan, jauh dari katerasingan nilai rabbani. Kalaulah para dai selalu yaqzhah (sadar) bahwa dirinya memang memiliki perbedaan dibandingkan dengan orang lain, maka seharusnya ia harus siap berbeda dengan orang lain ketika menghadapi masalah dan problem, rayuan dan godaan dunia. Jangan sampai ketika dunia belum didatangkan kepada kita, kita dapat istiqamah dan tsabat di jalan dakwah dengan kerja dan pengorbanan. Tetapi kemudian ketika dunia berada di hadapan kita, ternyata kita tak ubahnya seperti kebanyakan masyarakat. Kerja dan pengorbanan dakwah kita berkurang. Akhlaq dan gaya hidup kita berubah seperti kebanyakan orang. Atau mungkin kita justru memerankan seorang pribadi yang seolah tidak pernah tersentuh oleh tarbiyah. Kita menjadi apriori dengan orang yang dulu dekat dengan kita, ketika ia datang ke kita atau menghubungi kita, kita curiga bahwa ia akan meminta bantuan atau minta dana untuk dakwah atau keperluan saudara kita yang memerlukan bantuan. Atau kita takut ia akan mengingatkan kita akan nilai-nilai ilahi dan ukhuwah. Kita takut diingatkan bahwa kejayaan dan kemapanan dunia yang kita dapat adalah hasil dari dakwah. Sekali lagi, jangan sampai kita takut akan nasihat dan teguran yang baik. Jangan sampai kita takut kepada kebenaran yang datang kepada kita. Kita takut untuk diluruskan, takut dikoreksi. Atau ikhwati fillah…., Allah yang akan menegur dan memberi pelajaran kepada kita. Sesuatu yang tidak kita inginkan. Karena itulah marilah kita kembali kepada nilai ilahi yang senantiasa membuat hati dan langkah kita menjadi tenang. Semoga gejala yang ada tidak sampai menjadi fenomena dan mudah-mudahan kita ditsabatkan oleh Allah Taala untuk menjadi penerus risalah ilahi, menebar nilai rabbani di tengah masyarakat. Amien. (SMN)
Readmore »»

Hakikat Perjuangan

Taujih Tarbawi
Ikhwati fillah…. 
Kehidupan adalah sebuah perjuangan, perjuangan yang tak boleh mengenal kata lelah dan bosan. Fardhiyatul hayat wa inti’asyuhaa (keniscayaan dan kesegaran hidup) harus ditandai dengan gerakan-gerakan dan langkah-langkah kebugaran dalam menyemai kebaikan-kebaikan. Dan ketika dalam kehidupan seorang manusia sudah tidak nampak lagi tanda-tanda adanya gerakan dan langkah-langkah kebaikan, maka manusia itu akan menjadi sakit-sakitan untuk selanjutnya menuju kematiannya. Oleh sebab itu, hidup identik dengan pergerakan dan pergerakan adalah kehidupan yang sebenarnya, sementara kematian adalah kemandegan dan kemandegan adalah kematian itu sendiri. Begitu juga dalam kehidupan dakwah dan tarbiyah. Dakwah dan tarbiyah baru akan hidup apabila diwarnai langkah-langkah dan gerakan-gerakan yang dinamis dalam memperjuangkan dan menjaga fikrah da’wiyah serta panji-panji tarbawiyah. Apabila kita masih ingin dianggap sebagai kader yang hidup dalam bingkai dakwah, maka kita harus terus berjuang bersama kader-kader lain dengan penuh keikhlasan dan pengorbanan. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berperang karena keberanian, fanatisme kesukuan dan riya, yang mana dari mereka (yang berperang) di jalan Allah? Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berperang karena meninggikan kalimat Allah, dialah yang berperang di jalan Allah.” (Muttafaqun Alaih) Karena tanpa adanya keikhlasan dalam pergerakan, perjuangan dan langkah-langkah dakwah kita, maka semua yang kita lakukan akan sia-sia. Oleh karena itu dalam berjuang, disyaratkan adanya bekal-bekal ta’abudy. Paling tidak harus ada tiga kebugaran sebelum melangkah ke medan perjuangan; kebugaran ruhy, kebugaran ilmy dan kebugaran jasadi. Dan kebugaran-kebugaran yang kita miliki ini, kita gunakan sebagai modal untuk mendukung perjuangan yang telah digariskan oleh lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi dakwah tanpa adanya kecurigaan, penolakan dan malas-malasan. Hendaknya kita hanya mengatakan; “sami’naa wa ‘atha’naa” selama keputusan dan kebijakan yang digariskan tidak menyalahi aturan dan hukum Allah SWT. Ikhwati fillah…. 
Perjuangan dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran da’wiyah dan tarbawiyah sangatlah beragam dan berjenjang-jenjang. Imam Asy-Syahid berkata dalam salah satu rukun baiat; “Tingkat pertama adalah inkarul qalb (mengingkari kemaksiatan dan kezhaliman dengan menolak) dan yang paling tinggi adalah qital (perang fisik) di jalan Allah. Dan di antara keduanya ada jihad lisan, jihad qalam, jihad bilyad dan kalimatulhaq di hadapan penguasa yang zhalim….” Termasuk ke dalam kategori perjuangan dan jihad –wahai saudaraku- adalah bekerja untuk menegakkan keadilan, memperbaiki tatanan masyarakat, menolong rakyat yang terzhalimi dan menolak pemerintahan yang berlaku lalim. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik jihad adalah kalimat adil (haq) di hadapan sultan atau amir yang lalim. (HR Al-Bukhari dan Abu Daud). “Tuan para syuhada adalah Hamzah bin Abdil Muthalib dan seorang laki-laki yang berdiri (berjalan) menuju pemimpin yang lalim, ia berseru, melarang dan kemudian terbunuh.” (HR Al-Haitsamy). 
Ikhwati fillah…. 
Akhirnya, mari kita renungkan beberapa firman Allah berikut ini; Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, "Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat?, padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudaratan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS 9: 38-39) Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S. 9:41) Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang, sementara mereka tidak mempunyai uzur) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya di atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S 4:95-96) Saudaraku fillah, apakah kita hanya akan berdiam diri, tidak berbuat sesuatu apapun sementara saudara-saudara kita semuanya menghambur ke medan jihad dengan suka cita karena pilihannya ihdal husnayain, satu di antara dua kebaikan; isy azizan aw mut syahidan.( hidup mulia atau mati syahid ). Kita tentunya tak ingin disifatkan seperti Bani Israel, kaumnya nabi Musa as yang berkata kepada nabinya, “idzhab anta warabbuka,pergilah Anda dan Tuhan Anda. Kami di sini saja duduk-duduk menunggu”. Bahkan sebaliknya, kita bertekad mengikuti jejak para sahabat Rasulullah saw. yang senantiasa mengikuti perjuangan Rasulullah di dalam peperangan yang sesulit apapun. Kita mengenang dalam sirah, kisah sahabat-sahabat yang dijuluki Al Bakaain (orang-orang yang menangis ) karena tidak memiliki kuda dan perbekalan untuk mengikuti perang Tabuk, sementara hati mereka sangat ingin. Saat itu pasukan muslimin sampai dijuluki jaisyul usrah( pasukan sulit ). Sampai Rasulullah membesarkan hati mereka dengan mengatakan bahwa pahala mereka yang tertinggal tetap mengikuti kemanapun pasukan itu bergerak menaiki bukit dan menuruni lembah. Begitu pula dengan Abu Thalhah yang bermunajat sampai menangis tatkala menghadapi dilema, apakah ikut perang bersama Rasulullah ataukah tinggal dan menunggui istrinya Ummu Sulaim yang sedang hamil tua dan akan melahirkan.” Ya Allah, tak ada satu perjuangan pun bersama Rasulullah yang tidak kuikuti. Aku selalu merindukan untuk berjuang di sisinya. Dan kini sementara panggilan jihad tengah berkumandang, aku bimbang karena istriku tengah hamil tua dan menunggu saat melahirkan.” Munajat lirih Abu Thalhah itu terdengar oleh sang istri yang shalihah. Ia juga memiliki militansi, ruhul jihad yang tak kalah dengan suaminya. Ia bisa memahami kebimbangan dan kegalauan hati suaminya, karena itu ia segera menyemangati suaminya, “Ya suamiku, janganlah engkau bimbang karena berat memikirkan diriku. Aku akan ikut berangkat ke medan perang menemani dirimu!”. Subhanallah. Atau kisah heroik Hamzholah yang meninggalkan ranjang pengantinnya karena mendengar panggilan jihad. Jenazahnya yang syahid ternyata bersimbah air. Rasulullah tersenyum dan berkata, “Memandikan jenazah Hamzholah karena ia dalam keadaan junub ketika syahid”. Bayangkan sebagai pengantin baru ia rela meninggalkan istrinya sementara mereka dalam keadaan jima’. Paling tidak, kita ingat kalimat-kalimat Hassan Al Banna yang lugas dan tegas kepada anggota-anggota Ikhwanul Muslimin, “Kini saatnya tuk berjuang dan bergerak, bila di antara kalian ada yang ragu, maka tempatnya di antara barisan mutaqooidin masih luas!” Digertak seperti itu bukannya surut atau mundur, melainkan semakin bersemangat untuk terus berjuang. 
Ikhwati fillah, 
tidakkah kita tergerak untuk menghayati hakikat perjuangan ini dan mengikuti jejak langkah perjuangan mereka semua. Ayolah saudaraku fillah, marilah kita bergerak dan terus berjuang. Allah bersama kita. Allahu Akbar
Readmore »»

Yang Tetap Dan Yang Dapat Berubah

Seorang syeikh mengingatkan muridnya bahwa dakwah harus terus berlangsung dan tidak boleh berhenti sedikit pun meski wadahnya sebagai media aspirasi perjuangannya dibubarkan pemerintah setempat. “Sekalipun wadah kita bubar, aktivitas dakwah kita tidak boleh bubar dan tidak bisa dibubarkan”, demikian penegasan syeikh tersebut. Kalimat itu menghentakkan kesadaran muridnya akan kewajiban mereka untuk senantiasa berdakwah dengan berbagai kondisi dan keadaan. Bukan malah bingung untuk melakukan sesuatu lantaran wadahnya sudah dibubarkan. Karena hakikat asasiyat bagi aktivis adalah berdakwah untuk memberikan kontribusi amal shalih dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. 
Ayyuhal ikhwah rahimakumullah. 
Suatu keadaan pahit sering kali membuat orang sock dan berat menerimanya. Meski pun kenyataan berat seperti itu sangat manusiawi. Akan tetapi sebagai aktivis dakwah selayaknya tidak berada pada titik keadaan tersebut. Namun hendaknya menyikapi situasi tersebut dengan berpegang pada dhawabith (patokan-patokan) yang jelas dalam amal dakwah ini. Sehingga tidak kehilangan keseimbangan ketika berada di dalamnya. Melalui patokan itu kita dapat melangkahkan kaki bersama dakwah dengan gegap tanpa ragu dan bingung. Dhawabit ini akan memandu ke arah mana jalan yang harus ditempuh dan menjadi rambu yang akan memberitahu apa yang mesti dilakukannya. 
Ayyuhal ikhwah rahimakumullah. 
Keterikatan aktivis terhadap dakwah tidak boleh mengalami penurunan dalam situasi yang terjepit sekalipun. Akan tetapi peningkatan dan pengokohanlah yang mesti dilakukan mereka. Bersama dakwah prinsip hidup mukmin terus terjaga, komitmen kepada Islam semakin kuat. Sebaliknya tanpa bersama dakwah jurang menganga selalu di hadapan dan bahaya senantiasa mengancam. Bahkan yang perlu kita camkan adalah tanpa kesertaan dakwah eksistensi kita dalam barisan itu akan tergantikan oleh mereka yang lebih baik kesertaannya daripada diri kita. Dalam keadaan bahaya sekalipun keterlibatan diri terhadap dakwah harus langgeng apalagi dalam keadaan tenang. Rasulullah SAW. Mengatakan bahwa Islam adalah roda yang berputar maka berputarlah bersama Islam bagaimanapun putarannya. Ucapan beliau ini menegaskan bahwa aktivis dakwah harus selalu menyertainya dalam setiap keadaan karena kesertaan yang lemah menjadi sebab untuk diganti dengan orang lain yang lebih baik. “………jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti kamu dengan kaum yang lain dan mereka tidak seperti (kualitas) kamu ini”. (QS. Muhammad: 38) Ayyuhal ikhwah rahimakumullah. Tarbiyah sebagai sarana pembentukan diri bagi aktivis tidak boleh kendur dan macet dalam kondisi apapun. Dan mereka yang berada dalam barisan dakwah mentarbiyah diri menjadi aktivitas yang mesti berjalan tidak mandeg dan berhenti sejenak pun. Karena tarbiyah merupakan titik tolak bagi aktivis dalam membina diri menuju kepribadian muslim shalih mushlih. Apalagi iklim yang terjadi di sekitarnya sangat berperan menjadi penghalang untuk mencapai cita-cita mulia tersebut. Tikungan-tikungan tajam yang berbahaya berada di kiri dan kanan jalan yang akan menjerumuskannya ke dalam jurang terjal. Maka tarbiyah sebagai jawaban untuk membina diri bagi aktivis dalam menghadapi keadaan tersebut harus tetap berjalan. Kemandegan tarbiyah dapat berpengaruh pada ketahanan mental dan ma’nawiyah aktivis yang melemah. Kelemahan ini terkadang menjadi sebab dari berbagai problematika aktivis baik skala personal maupun sosial. Oleh sebab itu tarbiyah dalam situasi apapun harus terus berjalan. Bila ia mendapatkan rintangan dari kiri ia harus memutar haluan dengan cepat ke kanan. Begitu juga bila ada gangguan dari sebelah kanan ia pun harus menyikapinya dengan cepat berbelok ke kiri. Artinya meskipun banyak yang menghalangi, tarbiyah harus terus bergulir dari berbagai arah sehingga ia selalu mengalir dengan lancar. 
Ayyuhal ikhwah rahimakumullah. 
Banyak kita temukan keterangan dalam Al Qur’an dan Hadits yang menjelaskan bahwa berjamaah merupakan suatu keharusan untuk setiap muslim. Dengan berjamaah kita dapat keberkahan yang melimpah. Yang lemah akan kuat, yang kurang akan mendapatkan tambahan, yang menyimpang akan terluruskan dan kebaikan lainnya. Karena itu berjamaah menjadi kebutuhan yang asasi bagi aktivis. Ia akan mampu menghadapi segala keadaan dengan berjamaah. Keberadaannya dalam jamaah ini tentu bukan sekadar hadir di dalamnya melainkan ia aktif dan terlibat penuh dengan berbagai aktivitasnya. Dengan sikap begitu ia akan merasakan keberadaan jamaah pada dirinya. Allah SWT. memandang orang mukmin selalu berjamaah sebagaimana shighat dalam nash qur’an. Hal ini sekaligus untuk menyuruh orang-orang mukmin dalam keadaan berjamaah. Orang yang infiradi berpeluang mendapatkan mara bahaya. Apalagi dalam situasi yang terjepit dan sulit. Bukankah Rasulullah SAW. telah bersabda agar kita terikat pada jamaah meskipun harus menggenggam bara api. 
Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.
Peran Qiyadah dalam hal ini adalah menetapkan suatu kebijakan yang akan menjadi arahan dan patokan yang jelas bagi prajuritnya. Kebijakan tersebut untuk dilaksanakan oleh bawahannya secara cepat dan tepat. Dalam situasi yang pelik seorang pemimpin tidak boleh lambat dalam mengambil suatu keputusan. Keputusan yang lambat dapat membawa kekeliruan dalam menyikapinya. Keliru dalam menyikapi suatu keadaan akan berakibat fatal bagi perjalanan dakwah. Namun keputusan yang cepat tidak berarti asal ditetapkan sebagai sebuah keputusan melainkan berasal dari pemikiran dan perhitungan yang tajam akan keputusan tersebut. Di samping itu, peran qiyadah adalah untuk memberikan arahan dan taujihat yang sangat dibutuhkan prajuritnya. Taujihat yang tepat dan mengena dari qiyadah menjadi cucuran air hujan di musim kemarau. Prajurit yang aktif memerlukan arahan apalagi setelah letih melakukan operasional kerja besar. “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga diri”. (QS At Taubah: 122) Sedangkan peran jundiyah maksudnya ialah bersikap sigap dan patuh dalam menjalani tugas dan kewajibannya. Sikap yang selalu melekat pada setiap prajurit. Bukan sikap ngambek, mutung, apalagi patah semangat dalam menjalani tugas dan kewajibannya. Prajurit yang baik adalah mereka yang selalu berusaha maksimal dalam menjalani tugasnya. Ditugaskan di barisan terdepan ia akan berada pada posisinya. Ditempatkan di bagian belakang ia selalu menunaikannya. Diperintahkan ia laksanakan dengan segera. Sebaliknya prajurit yang diam terpaku dan termenung menghadapi tugasnya akan memperlambat kerja dan tugasnya. Bahkan akan berakibat buruk bagi keseluruhannya.
Ayyuhal ikhwah rahimakumullah
Dalam perjalanan dakwah dan harakah ada hal-hal yang dapat berubah. Perubahan ini dapat terjadi karena situasi dan kondisi yang berkembang di sekitarnya. Perubahan tersebut asal tidak merubah prinsip dan arah harakah dakwah ini melainkan sebagai upaya untuk tetap melanggengkan perjalanannya. Perubahan itu dapat meliputi perubahan nama, bentuk, mekanisme dan prosedural. Perubahan nama merupakan sesuatu yang biasa dalam dinamika dakwah dan pergerakannya. Perubahan nama dapat terjadi beberapa kali. Hal ini terjadi karena faktor yang tidak dapat memunculkan nama lamanya sehingga perlu menampilkan diri dengan nama barunya. Perubahan bentuk juga mungkin dapat terjadi hingga beberapa kali untuk dapat diterima masyarakat luas sehingga perjalanannya tetap berkesinambungan. Semua perubahan itu sangat mungkin dapat terjadi, karenanya aktivis dakwah tidak boleh mengalami sock yang berkepanjangan lantaran hal itu. Perubahan-perubahan itu adalah bahagian dari dinamika perjalanan sunnah dakwah dari masa ke masa.(DHY)
Readmore »»

Memperkokoh Tarbiyah Dzatiyah

Mukadimah 
Setelah seseorang memproklamirkan dirinya sebagai muslim niscaya ia akan terus meniti tangga-tangga keislaman tanpa merasa lelah dan bosan sampai benar-benar ia mencapai mercusuar keimanan dan puncak ketaqwaannya. Tidak hanya sekadar memiliki kemampuan bisa sampai di puncak keimanan dan ketaqwaan itu saja, namun ia dituntut untuk mampu bertahan di atasnya sampai akhir hayatnya. Begitu juga setelah kita mengikat janji setia dengan dakwah, tentunya kita harus terus bergerak bersama irama liku-liku dakwah, meniti tangga-tangga dakwah dengan seluruh potensi yang kita miliki dan menyusuri belantara dakwah dengan bekal muwashafat yang kita dapatkan dari iltizam kita dalam melakukan tarbiyah dzatiyah. Sehingga, akhirnya kita mendapatkan salah satu kebaikan yang dijanjikan Allah yaitu berupa kemenangan atau syahadat (mati syahid) di jalan-Nya. Imam al-Banna berkata: “Dan yang saya inginkan dengan tsabat (dalam dakwah) adalah apabila seorang al-Akh selalu beramal dan berjuang sampai menggapai tujuannya. Meskipun nun jauh masanya dan panjang tahun-tahunnya sampai bertemu Allah dan mendapatkan salah satu dua kebaikan yaitu tujuan (ustadziyatul alam) dan syahadat. Setiap kita tidak boleh mengalami stagnan dalam membangun citra diri, pasif dalam merespon peluang-peluang masa depan dakwah, defensif dalam melakukan manuver-manuver serta infiltrasi dalam barisan lawan dan bahkan tidak boleh ada yang terkena penyakit degradasi, demoralisasi, futurisasi, wahn, dha’f dan istikanah dalam jalan dakwah ini. Setiap kita harus melakukan perubahan-perubahan menuju kebaikan, mengembangkan potensi diri dan optimis menatap masa depan dakwah. Perubahan ini tentunya tidak lepas dari kehendak “taghyirullah” dan kemampuan “taghyirunnafs” yang ada dalam diri kita sendiri. Karena seorang muslim yang diinginkan dalam gerbong dakwah ini tidak lain adalah manusia yang memiliki thaqat dzatiyah (energi diri) yang mampu mendorong untuk bergerak secara kontinyu, selalu melakukan pencarian dan terus meniti tangga-tangga keluhuran. Tidak pernah menunggu dorongan orang lain untuk bergerak dan berbenah diri, akan tetapi senantiasa memperbaiki dirinya melalui tarbiyah dzatiyah. Seperti yang kita pahami bersama, bahwa dakwah ini hanya menginginkan jiwa-jiwa yang senantiasa hidup, selalu kuat dan senantiasa berjiwa muda. Hanya menginginkan manusia-manusia yang siap memikul beban dakwah ini; manusia yang memiliki hati nan baru dan selalu berkibar-kibar serta memiliki emosi pencemburu, menyala-nyala dan meronta-ronta di saat melihat kelemahan, stagnan dan kemunduran umat. Dan dakwah ini hanya bisa berharap kepada ruh-ruh yang memiliki obsesi yang kuat, cita-cita yang tinggi, visi yang tajam dan lompatan yang besar untuk merindukan teladan luhur dan tujuan-tujuan mulia dalam hidup serta kehidupan dakwah. Inilah kader dakwah yang hanya diinginkan oleh Asy-Syahid dalam membawa obor estafet dakwah. Kader yang memiliki kehendak kuat dan hamasah yang membara untuk mampu melalui tahapan-tahapan amal da’wiyah. Oleh karenanya, setiap kader dakwah harus melakukan tarbiyah dzatiyah dalam situasi dan kondisi apapun. Tarbiyah dzatiyah yang mampu membangun kekuatan “taghyiirunnafs” dan mampu mendatangkan pertolongan dari Allah berupa realisasi “taghyiirullah” seiring adanya kekuatan dan keinginan kuat untuk melakukan “taghyiirunnafs”. 
URGENSI TARBIYAH DZATIYAH
Sebelum melakukan langkah-langkah kontribusi lebih jauh dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sosial, seseorang harus berbenah diri dan meningkatkan kualitas dirinya dengan melakukan tarbiyah dzatiyah. Karena dengan memperkokoh dimensi ruhiyah imaniyah, dimensi fikriyah tsaqafiyah dan dimensi khuluqiyah melalui tarbiyah dzatiyah, ia akan mampu bergerak dan terus bergerak di tengah-tengah masyarakatnya dengan berbagai macam kontribusi. Hal ini merupakan sesuatu yang harus dilakukan bagi setiap muslim dalam memakmurkan sisi-sisi kehidupannya. Apalagi kader dakwah yang senantiasa bergerak dan berkiprah di tengah masyarakat yang sedang meraba-raba penggerak kebenaran atau reformis sejati yang mampu membimbing mereka kepada jalan kebenaran dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam pengokohan dan penguatan dimensi ruhiyah imaniyah ini, Allah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. 66:6) Dan yang dimaksud menjaga diri dari api neraka dalam ayat ini, Imam Ibnu Sa’dy –rahimahullah- berkata; “Harus dengan menjalankan seluruh perintah, menjauhi segala larangannya dan bertaubat dari hal-hal yang mengakibatkan kemarahan dan siksaan Allah.” Inilah yang dimaksud dengan tarbiyah dzatiyah yang berkaitan dengan sisi imaniyah yang harus dilakukan oleh setiap individu muslim sebelum mentarbiyah orang lain. 
Dan ada beberapa faktor lagi selain di atas yang melatarbelakangi seseorang muslim melakukan tarbiyah dzatiyah dalam hidup dan kehidupannya yaitu;  Hisab itu bersifat individual  Lebih mampu melahirkan perubahan  Sarana tsabat dan istiqamah  Sarana dakwah yang paling kuat  Cara yang benar untuk memperbaiki realitas yang ada RUANG LINGKUP TARBIAH DZATIAH Dalam mihwar muassasi, di saat gerakan dakwah masuk pada salah satu komponen atau variabel syumuliatud da’wah, maka pelaku dakwah tidak hanya berperan menganalisa gerakan-gerakan dakwah dan masyarakat pada umumnya, akan tetapi pelaku dakwah akan berada dalam bingkai lampu sorot mereka. Sejauh mana peranan gerakan ini dalam mihwar yang baru, berapa besar ta’tsir yang dimiliki gerakan dakwah ini dalam setiap kebijakan dan keputusan tiga lembaga tinggi pemerintah dan mampukah mereka istiqamah dalam menyuarakan nilai-nilai kebenaran atau sebaliknya mereka terseret dalam kubangan jahiliatus siasat atau bahkan mereka mengalami idzabatu as-sakhsiah islamiyah selama berada dalam panggung perpolitikan? Jawaban pertanyaan di atas tidak semudah membalikkan tangan; ya atau tidak? Akan tetapi kembali kepada kekokohan ma’nawiyah yang ada dalam diri setiap kader, kepiawaian rekayasa yang dimiliki setiap kader dan sangat bergantung terhadap ta’shil, taf’il dan tathwir fikrah da’wiyah yang dimiliki setiap kader dalam bermanuver di lapangan. Pertanyaan ini tentunya berpulang kepada sejauh mana kualitas tarbawiyah yang kita bangun dalam diri kita dan sejauh mana tarbiyah dzatiyah ada dalam diri seorang kader dakwah. Adapun ruang lingkup tarbiyah dzatiyah yang kita maksudkan di sini adalah pengembangan diri atau belajar mandiri dalam meningkatkan tiga dimensi yang ada dalam ruang kepribadian kita sebagai kader. Tiga dimensi yang meliputi; Tarbiyah ruhiyah imaniyah, tarbiyah tsaqafiyah ilmiah dan tarbiyah khuluqiah. Tarbiyah Ruhiyah Imaniyah Tarbiyah Tsaqafiyah Ilmiah Tarbiyah sulukiyah khuluqiyah BUAH TARBIYAH DZATIYAH PENUTUP Belum selesai Jakarta, 2003 Ust. Thalhah Nuhin (dgn beberapa editing)
Readmore »»

Bekal Taqwa

Setiap kali Rasulullah SAW. melepas tentara Islam yang akan perang berhadapan dengan tentara kafir setiap kali itu pula pesan pertama yang beliau sampaikan adalah wasiat taqwa ittaqulloh (takutlah kalian pada Allah), sehingga menjadi sunnah yang diikuti oleh para sahabat. Khalifah Umar bin Khatthab ketika melepas pasukan yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqash untuk menghadapi kekuatan Persia di Qodisiah Iraq pun berwasiat diawali dengan perintah untuk bertaqwa, “Bertaqwalah kalian kepada Allah! Aku tidak khawatir pada jumlah kalian yang sedikit manakala berhadapan dengan mereka yang jumlahnya jauh lebih banyak, perlengkapan senjata kalian yang jauh di bawah perlengkapan senjata mereka, dana kalian yang tidak memadai dibandingkan dengan dana yang mereka miliki, tapi yang paling kukhawatirkan dan kutakuti …. . adalah kalian berbuat maksiat kepada Allah seperti mereka, karena dengan demikian kalian tidak memiliki kelebihan apa –apa…… ’’  
Berbagai futuhat (kemenangan) yang diraih oleh kaum muslimin sepanjang sejarah bukan karena jumlah tentara dan dana kaum muslimin lebih banyak atau karena persenjataannya lebih canggih(sekalipun semua itu juga sangat dibutuhkan) melainkan lebih karena keunggulan ma’nawiyah, ruhiyah dan kualitas ketaqwaan kepada Allah SWT. Bekal taqwa dengan taqarrub ilallah sangat besar pengaruhnya bagi kader dan jamaah dalam mengemban tugas yang berat, juga untuk menghadapi berbagai ancaman, tantangan dan rintangan sehingga pada akhirnya meraih kemenangan. Generasi terbaik umat ini (as-salaf as-shalih) dikenal dengan panggilan; ruhbanun billail fursanun binnahar, (menjadi rahib di malam hari karena berada di mihrab menghadap Allah dengan khusyu dan di waktu siang menjadi penunggang kuda alias mujahid yang berada di medan perang dengan gagah berani). Di malam hari mereka sujud di atas sajadah yang basah dengan air mata karena menangis mengingat dosa dan takut neraka kemudian di siang harinya mereka berada di atas punggung kuda dan di bawah kilatan pedang. Tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali falah atau syahadah (menang atau mati syahid). 
Ikhwah dan akhwat fillah 
Shalat sunnah terutama qiamullail adalah bekal para dai, oleh karena itu Allah sempat mewajibkan qiyamulail kepada Rasulullah dan para sahabat di Mekah di saat awal mereka mendapat tugas dakwah dengan tantangan, ancaman dan rintangan yang begitu berat sebagai mana perintah-Nya di awal surat al-Muzammil. Qiyamullail menjadi ciri orang-orang yang bertaqwa terutama bagi para kader dakwah dan perjuangan; mereka sedikit tidur di malam hari (karena beribadah kepada Allah), [Azzariyat:17]. Para dai harus dapat menjadikan shalat sebagai bekal dalam menjalankan tugas dan menghadapi berbagai ancaman(al-Baqoroh:45). Rasulullah setiap kali menghadapi kesulitan segera melakukan shalat karena dengan shalat itu akan segera lahir ketenangan, ketenteraman dan keteguhan hati serta keyakinan di hati beliau bahwa pertolongan Allah akan segera tiba. Agar dapat menghadapi kondisi sulit atau di saat-saat kita membutuhkan pertolongan Allah, kita dianjurkan untuk bertaqarrub kepadanya, seperti shalat istikharah, shalat hajat, shalat istisqo, shalat gerhana dan shalat-shalat yang lainnya. Ikhwah dan akhwat fillah Tilawatul qur’an mutlak merupakan kebutuhan para dai, karena shalat dan tilawah merupakan satu paket yang tidak bisa dipisahkan; warottilil qur’ana tartila (dan bacalah Qur’an dengan tartil). Dalam kondisi apapun kader dakwah tidak boleh luput dari membaca al-Qur’an misalnya dengan dalih tidak sempat karena terlalu sibuk dlsb(lihat QS. Al-Muzammil:20). Dan sudah menjadi sunnah hasanah ketika kaum muslimin sedang menghadapi musuh di medan perang dianjurkan memperbanyak membaca ayat-ayat al-Qur’an terutama surat al-Anfal . Dengan al-Qur’an Allah akan mengangkat suatu kaum dan merendahkan kaum yang lain. Ikhwah dan akhwat fillah Shaum sunnah adalah perisai bagi para aktivis dakwah dan benteng bagi bangunan jama’ah; as-shaumu junnah (puasa itu perisai). Dengan berpuasa, kader akan mampu melawan dan mengalahkan musuh yang ada di dalam dirinya yaitu hawa nafsu serta mampu juga menghadapi dan mengalahkan musuh eksternal. Tidaklah heran jika kemenangan-kemenangan besar dalam sejarah Islam itu terjadi di bulan Ramadhan di saat tentara Islam sedang berpuasa. Pertolongan Allah semakin dekat dan bukankah doa pun akan dikabulkan di saat kita sedang puasa; doa orang yang sedang berpuasa tidak akan pernah ditolak, pasti dikabulkan. Sebagai contoh ketika masyararakat di musim kemarau sangat berhajatkan air hujan dengan usaha melaksanakan shalat istisqo(meminta hujan), maka dianjurkan berpuasa sunnah tiga hari agar kebutuhan terhadap air terpenuhi dengan segera diturunkannya hujan. Demikian halnya pula dengan hajat-hajat besar yang lainnya kita dianjurkan melakukan puasa sunnah seperti shaum Senin- Kamis dan Ayamul biidh agar cita-cita kita tercapai. Ikhwah dan akhwat fillah Dzikrullah, taubat, istighfar dan doa kesemuanya adalah energi dan vitamin yang dapat menyehatkan dan menguatkan kader dalam menjalankan tugas, mengemban amanah serta menghadapi kesulitan dalam berjuang menegakkan dinul Islam; ingatlah pada-Ku, pasti Aku akan mengingatmu [QS. al-Baqoroh:152] mohonlah ampunan kepada Rabbmu, sesungguhnya Allah Maha pengampun, dan Ia akan menurunkan hujan yang deras kepadamu dari langit dan memberikan kepadamu harta dan anak dan menjadikan buat kamu kebun yang banyak dan menjadikan buat kamu sungai yang banyak [QS. Nuh:10-12] bermohonlah kepada-Ku pasti Aku akan memenuhi permohonanmu. (QS. Ghofir:60] jika kamu meminta, mintalah kepada Allah dan jika kamu memohon perlindungan bermohonlah kepada Allah. [HR . Bukhari] doa adalah senjata orang yang beriman. [HR. Abu Daud] Ikhwah dan Akhwat fillah Perjalanan dakwah ini sangat panjang dan tantangannya pun sangat berat, oleh karenanya kita membutuhkan bekal yang sangat banyak pula. Maka jadikanlah taqwa sebagai bekal utama dan mari kita tingkatkan ketaqwaan kita dengan upaya taqarrub ilallah melalui ibadah-ibadah sunnah. Selamat berjuang! dan raih kemenangan dengan usaha maksimal kita semua sambil senantiasa mengharapkan dan menantikan pertolongan Allah! Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd
Readmore »»

Menanam pohon amal dengan pondasi yang kokoh

Taujihat Tarbawiyah
Wahai mujahid muda atau Kepada siapa saja yang selalu merasa masih muda Semua orang ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana doa kita: Ya Allah berikan keberkahan di dunia dan di akhirat kepada kami. Bahagia adalah buah dari sebuah amal dan keridhaan Allah, namun sebelum memetik buah atau hasil kebahagiaan tersebut orang harus mulai menanam. Tanam itu adalah tanaman amal kebaikan. Tanaman yang baik akan menghasilkan buah yang baik, tanaman yang memiliki akar yang kuat maka akan membuat tanaman lebih subur. Setiap amal memiliki motif 
Akhi fillah, Semua petani amal dapat memetik buah yang sama, yaitu seperti setiap akhir bulan orang mendapatkan gaji. Namun kalau kita lihat lebih jauh, maka motif kenapa seseorang mau bekerja dan berusaha untuk mendapatkan gaji memiliki motif, alasan dan nilai-nilai keyakinan yang berbeda-beda. Ada orang ingin mendapatkan gaji dengan berbagai motif. Kemungkinan motif kenapa orang bekerja, pertama karena untuk mencari makan semata, kedua ada yang ingin membeli HP baru setelah mendapatkan uang lebih, ketiga ada yang ingin membeli sesuatu, keempat ada yang lain untuk berfoya-foya mengumbar nafsu, tetapi ada orang yang rela bekerja dan berkorban karena penuh kepahaman, kesadaran dan tumbuhnya tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga yang harus bekerja untuk menghidupi keluarga sebagaimana diperintahkan Allah. 
Akhi fillah,
camkan: ‘innam al ‘amalu bin niyati’. Ini pentingnya dalam beramal memiliki sihhatun niyah dan sihatul ghoyah. Kekokohan niat Akhi fillah, Dalam kondisi tidak ada halangan dan cuaca baik, maka pohon tidak memiliki akar yang kuat pun akan tetap tumbuh dengan baik. Namun jika dalam kondisi lingkungan buruk dan banyak angin maka hanya pohon yang kuat akan tetap tumbuh. 
Akhi fillah.
Semakin kuat akan motivasi seseorang dalam bekerja, maka bagaikan pohon yang semakin kokoh akarnya. Memang akar dalam pohon, atau motif dalam beramal tidak terlihat. Namun kita akan dapat menerka bagaimana niat dari kondisi pohon atau ketika pohon itu harus beradaptasi dengan cobaan. Ketika ada angin besar datang, maka kita baru melihat apakah akan pohon kuat atau tidak. Jika akarnya kuat maka pohon tidak akan tumbang apalagi tercabut akarnya. Jika akar pohon kuat, sementara ujian dari luar sangat kuat, maka sering pohon akan patah rantingnya dan tidak sampai pohon roboh karena tercabut akarnya. Dalam kondisi yang sulit dan antum masih dapat bekerja dan terus tumbuh dengan amal kebaikan, itu menunjukkan kekuatan niat antum dan kekokohan akar antum. Pada umumnya jika orang beramal kurang kuat niat dan prinsipnya, maka dalam kondisi sulit cenderung orang akan pasif dan hanya menunggu. Mari kita kuatkan niat kita untuk mencari keridhaan Allah. Menguatkan akar pohon Akhi fillah Pohon tidak tiba-tiba kuat akarnya, itu merupakan suatu proses. Untuk itu dalam rangka menguatkan akar tersebut, maka pohon harus mendapatkan nutrisi dari dalam tanah yang sangat mengandalkan pohon itu sendiri untuk terus mencari makanan baru dan bantuan dari pihak eksternal berupa cahaya matahari sebagai fungsi control. 
Akhi fillah,
untuk menguatkan motivasi amal kita, maka kita membutuhkan keterbukaan diri, selalu belajar dari pengalaman pribadi, menajamkan kecerdasan fitrah diri, kecerdasan spiritual melalui penelusuran sumber nilai-nilai kebenaran yang abadi kitab Allah dan sunah Rasul. Nilai ini dapat kita cari melalui apa yang telah bertebaran di muka bumi sebagai ayat kauniyah maupun ceramah para alim ulama atau kita dapat membukanya sendiri dari buku sumbernya. Ini mengandalkan mutabaah dakhiliyah kita kepada hati nurani dan kekuatan hubungan kita dengan Allah. Namun cahaya matahari adalah bagian dari control yang sangat kita butuhkan untuk menguatkan akar. Ini merupakan kekuatan mutabaah kharijiyah kita dari ikhwah yang lain untuk mengontrol aktivitas amal kita. Pesan ikatan amal dan amal Akhi fillah, 
jangan biarkan jika antum melihat ikhwah kita bagaikan pohon yang tidak tumbuh amalannya, tidak berbuah pohonnya. Jadilah antum seperti sinar matahari yang selalu memberikan kebaikan kepadanya sebagai fungsi control. Ikatan kita adalah ikatan kebaikan yang saling menutup kekurangan dan bukan mencari kekurangan. Untuk sukses kerja pribadi, maka camkan berikut ini • Bekerjalah dengan kekuatan spiritual kita dengan penuh kerja ikhlas (miliki kekuatan aqidah –salimul aqidah (arkanul Islam), kekuatan ibadah – shahihul ibadah (arkanul Islam) dan kekuatan diri (mati’nul khuluq) • Bekerjalah dengan kekuatan emosional kita dengan penuh kerja mawas (serius, sungguh-sungguh – munazham fii syu’nihi) • Bekerjalah dengan kekuatan intelektual dan skill kita dengan penuh kerja cerdas (kreatif, cerdik dan mampu memecahkan kesulitan hidup – mustaqoful fikr, qodirun ‘ala kasbi) • Bekerjalah dengan penuh kekuatan fisik kita dengan penuh kerja keras (qowiyul jism) • Bekerjalah dengan penuh kekuatan idari dan teknologi yang dibutuhkan (manajerial) kita dengan penuh kerja tuntas (munazham fii syu’nihi –manajemen aktifitas, harisun ‘ala waqtihi – manejemen waktu). 
SEMOGA ANDA MENJADI POHON YANG BANYAK BERMANFAAT DAN MEMBERIKAN KEBERKAHAN BAGI ORANG LAIN (nafi’un li ghoirihi). 
Selamat beramal agar dapat membuahkan hasil yang diridhai oleh Allah SWT. Sukses selalu. Dan kepada Allah kita semua dikembalikan.
Readmore »»

Al Wajibatu Aktsar Minal Awqat

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (العصر:1-3) “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman dan beramal shalih dan mereka yang saling menasehati untuk menjalankan kebenaran dan saling berwasiat untuk menetapi kesabaran” (QS. Al Ashr 1-3). Ikhwan dan akhwat fillah,
pemahaman akan pentingnya menghargai waktu tentunya telah kita miliki, mengingat begitu banyak nash-nash baik Al qur-an dan Hadits serta literatur-literatur yang membahas tentang hal itu. Tinggal kini bagaimana pemahaman yang telah kita punyai itu mewujud dalam aktivitas kita sehari-hari. Sejarah telah mencatat bahwa orang-orang yang berhasil adalah mereka yang benar-benar mengisi waktunya dengan baik. Sebaliknya mereka yang gagal pada umumnya adalah orang-orang yang seringkali manyianyiakan waktu. Betapa perlakuan yang tepat dan benar terhadap waktu secara otomatis membawa keuntungan bagi sipelaku. Maka wajarlah bila pemuliaan terhadap waktu digaungkan di mana-mana: waktu adalah uang. Waktu adalah pedang. Waktu adalah aktivitas. Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan bahwa waktu adalah kehidupan. Bahkan beliau tambahkan lagi bahwa kewajiban yang mesti kita tunaikan lebih banyak dari waktu tersedia yang kita miliki. Ungkapan ini dapat kita buktikan kebenarannya dengan menginventarisir seluruh kewajiban kita lalu membandingkannya dengan jumlah waktu rata-rata yang kita miliki, sejak kita memasuki usia balighhingga berpulang ke rahmatullah (50-60 th). Dapatkah kita menjamin bahwa durasi 60 th itu bisa kita gunakan untuk mengisi ratusan tugas-tugas kerja, ribuan amanah dan jutaan kewajiban-kewajiban lainnya. Yakinkah kita bahwa akan masih ada waktu kosong kita miliki. Benarkah 24 jam penuh telah kita tata secara efektif dan effisien guna mengisi kewajiban harian kita. Benarkah masih ada waktu luang. Ikhwan dan akhwat fillah, betapa sempitnya sebenarnya ruang gerak yang kita punya dan alangkah terbatasnya waktu yang kita miliki. Kita sebenarnya hampir-hampir tidak memiliki kesempatan selain harus menunaikan lebih dulu kewajiban-kewajiban. Bahkan istirahat, refreshing dan acara keluarga kitapun pada hakikatnya adalah kewajiban. Bahwa pada tubuhmu ada hak dan pada keluargamu ada hak. Maka adalah kewajiban kita memberi hak istirahat serta makanan bagi tubuh dan hak diperhatikan serta dibimbing bagi keluarga. Ikhwan dan akhwat fillah, pernah mungkin suatu saat kita dihadapkan pada suasana yang begitu ekstrim. Semua serba padat. Semua membutuhkan perhatian kita. Semua mendesak kita untuk segera. Sementara semua yang dituntut itu belum rampung, waktu begitu sempit, kemampuan kita terbatas dan bahkan kita belum siap sama sekali.. walaupun akhirnya semua itu dapat kita atasi dan selesaikan, paling tidak suasana seperti itu akan menjadi masa yang tak terlupakan dalam sejarah kesibukan kita. 
Ikhwan dan akhwat fillah, 
sesungguhnya seperti itulah idealnya suasana harian kita. Bahwa sepantasnya perlakuan istimewa juga mesti kita berikan bagi kewajiban-kewajiban lain yang begitu banyak (misalnya membaca, memahami, mengamalkandan mendakwahkan Al Qur-an) yang sering kita anggap tidak begitu mendesak sehingga terkesan kita agak bersantai menjalankannya. Akibatnya waktu kita lebih sering dihiasi dengan kewajiban mengistirahatkan badan dan bercengkrama dengan keluarga. Ikhwan dan akhwat fillah, lewat taujih singkat ini kami ingin mengajak semua kita untuk benar-benar menyadari betapa pentingnya pemamfaatan waktu dan lantas berusaha sungguh-sungguh untuk merealisasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk itu, tips berikut ini insya Allah dapat lebih mengokohkan langkah kita untuk menuju kesana: 1. Jadwalah kewajiban rutin seperti shalat, makan, istirahat, krja dan menuntut ilmu. 2. Lalu isilah waktu luang dengan kewajiban-kewajiban lain seperti tilawah atau tahfizh Qur-an, meningkatkan kualitas diri dengan membaca atau pelatihan. 3. Jangan tunda sampai esok apa yang bisa dituntaskan sekarang. Dan bila nampaknya kita tidak mampu manunaikan sendiri kewajiban itu, jangan sungkan untuk meminta bantuan orang lain. 4. Tunda dulu menerima amnah bila memang masih disibukkan oleh kewajiban lain da tidak yakin sanggup menuntaskannya dalam waktu yang disediakan. 5. Hindari sedapat mungkin kegiatan yang dapat melenakan dan melalaikan kita dari tumpukan kewajiban yang mesti dituntaskan segera dan kalahkan rasa malas dengan kerja keras dan kesungguhan. 6. Evaluasi terus keberhasilan dan kegagalan dalam menunaikan kewajiban serta inventarisir faktor-faktor penyebabnya. 7. Belajarlah dari keberhasilan dan kegagalan masa lalu untuk dapat memamfaatkan waktu secara lebih efektik dan effisien di masa depan serta jangan pernah berhenti berdoa dan berharap pada Allah agar diberikanNya kita ilmu untuk menyikapi waktu secara benar dan kesanggupan mengisinya degan kewajiban. ... وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (البقرة:282) “… dan bertaqwalah kalian kepada Allah, pasti allah akan ajarkan kalian” (QS. 2:282)
Readmore »»