Tampilkan postingan dengan label Info Palestina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Palestina. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juli 2012

Jazeera: Arafat Wafat Diracun

[ 04/07/2012 - 03:58 ]

PIP: Hasil penyelidikan yang dilakukan stasiun televise Aljazeera yang berlangsung selama sembilan bulan menyebutkan, terdapat polonium yang sangat tinggi dalam sampel darah yang diambil dari jasad mantan presiden Palestina, Yaser Arafat, sesaat sebelum ia dikebumikan. Zat tersebut sangat beracun dan termasuk radioaktif, menurut penelitian yang dilakukan laboratorium bergengsi di Swiss.

Hasil penyeledikan yang didukung berbagai bukti dan menarik perhatian dunia, selama beberapa pecan. Arafat sebelumnya dikepung tank-tank Israel di Ramallah sebelum ia diterbangkan ke Paris. Ia menghabiskan hari-hari terakhirnya, dibawah rentetan pemeriksaan tes medis di sebuah rumah sakit militer di Paris.

Setelah lebih dari tujuh tahun kematian pemimpin Palestina, Yasir Arafat masih manjadi teka-teki, tentang penyebab kematiannya. Analisis yang dilakukan Paris menyebutkan, efek dari racun tersebut tidak menimbulkan efek pada tubuh Arafat. Tapi menyebutkan, penyebab kematian Arafat adalah, kanker, sirosis hati, bahkan tuduhan terkena AIDS sempat berkembang.

Investigasi dilakukan Aljazeera selama sembilan bulan menunjukkan, semua rumor tersebut tidak benar. Arafat dalam kesehatan yang prima. Tidak mungkin ia tiba-tiba sakit secara mendadak hingga mengembuskan napas terakhirnya pada pada tanggal 12 / Oktober 2004.

Tapi yang terpenting dari analisis ini adalah, barang-barang pribadi terakhir Arafat (pakaiannya, sikap gigi dan topi) menunjukanj ada jumlah polonium yang tidak normal kemudian zat langka dan sangat reaktif. Analisis yang dilakukan Institut Radiasi Fisika di Lausanne, Swiss menunjukan adanya bintik-bintik pada darah Arafat, keringat dan urinnya. Pengujian juga dilakukan pada sampel-sampel yang ada pada tubuh Arafat sebelum kematianya, dimana terdapat zat polonium yang mematikan.

Direktur Institut Fisika Swiss, Francois Boutcd mengatakan, "Saya dapat meyakinkan dengan mengukur jumlah polonium dan 210 jenis cairan biologis dari tubuh Arafat."

Sementara itu, tim dokter mengatakan, mereka perlu analisis yang lebih dan khusus dari tulang-tulang Yasser Arafat atau tanah sekitarnya makamnya. Dan jika tes ini terbukti persentase tinggi dari polonium buatan, akan menjadi argumen yang kuat bahwa ia telah diracuni. (asy)
Readmore »»

Senin, 25 Juni 2012

Puluhan Tentara Israel Serbu Al-Aqsha Senin Pagi

[ 25/06/2012 - 02:02 ].infopalestina.com


Al-Quds-PIP: Kepolisian Israel, Senin pagi (25/6) mengijinkan puluhan marinir Israel berseragam militer bersama satuan pengaman bukit Haikal “Gharson Salmon” memasuki Masjidil Aqsha dan berkeliling di halamannya.

Sumber lokal di Al-Quds menyatakan, sekitar 70 tentara menyerbu halaman Masjidil Aqsha kira-kira jam 9 pagi menggunakan seragam militer.

Pasukan Israel terus mengijinkan bagi segerombolan pemukim zionis untuk mengotori halaman Masjidil Aqsha, sebagai langkah provokatif terhadap perasan warga yang hendak shalat, pada saat yang sama pasukan Israel melarang sekitar 150 tokoh Al-Quds dan Palestina, baik tokoh agama maupun tokoh politik serta keamanan Masjidil Aqsha memasuki masjid, di samping larangan juga berlaku bagi warga yang tinggal di sekitar Masjidil Aqsha. (qm)
Readmore »»

Kamis, 31 Mei 2012

Shabri: Masjidil Aqsha Dalam Bahaya Besar

Al-Quds-PIP: Ketua Lembaga Tinggi Islam di Al-Quds yang juga Khatib Masjidil Aqsha, Syeikh Ikrimah Shabri menyebutkan, pemasangan bendera Israel di halaman Masjidil Aqsha merupakan acaman terbaru yang belum pernah terjadi sebelumnya, hal ini ditujukan sebagai upaya Israel menguasai Masjidil Aqsha. Dalam wawancara dengan Quds Press, Shabri menyatakan, tindakan Israel ini bersamaan dengan serbuan pasukan Israel ke Masjidil Aqsha dengan pakaian militer yang menegaskan bahwa Masjidil Aqsha memasuki fase yang sangat berbahaya. Menurut Shabri, kami katakan ini bukan sesuatu yang berlebihan, sebab kami melihat kemenangan di masa depan dengan ijin Allah, di tengah eskalasi Israel mengincar Masjidil Aqsha yang setiap orang mengetahuinya. Shabri merasa heran mengapa tidak ada reaksi dari dunia Arab dan Islam terhadap langkah yahudisasi berbahaya ini. Syeikh Shabri mengingatkan bahwa lonceng yahudi tengah mengancam Masjidil Aqsha, tujuannya adalah mencabut kewenangan departemen Wakaf Islam memenej Masjidil Aqsha. Disebutkan bahwa kondisi umum di Palestina, Arab dan internasional justru mendorong penjajah Israel mengulangi kejahatannya terhadap Masjidil Aqsha. Shabri menegaskan bahwa Masjidil Aqsha adalah urusan dunia Islam dan milik kaum muslimin, sementara penjajah Israel tidak ingin mengakui realitas ini. Shabri menuding penjajah Israel bertanggung jawab penuh atas pelanggaran yang dilakukannya terhadap Masjidil Aqsha. Saat ini tindakan penjajah Israel menanam kuburan palsu di sekitar Masjidil Aqsha bertujuan mengepung dan menyita area sekitar Masjidil Aqsha dalam jumlah lebih besar lagi. Sehingga kawasan Al-Aqsha terlihat sebagai kota yahudi dan warga Palestina tidak bisa lagi memilikinya, inilah serangan baru Israel terhadap kota Al-Quds dengan sasaran menjadikannya kota yahudi. Syeikh Shabri menyatakan, penjajah Israel setelah mengalami kegagalan menetapkan klaim eksistensinya di kota Al-Quds, mereka melakukan langkah pemalsuan dan menghapus realitas lewat penanaman kuburan palsu. Disebutkan bahwa kota Al-Quds saat ini menjadi area bagi proyek pemukiman dan yahudisasi secara besar-besaran hampir setiap harinya. Penjajah Israel berupaya memanfaatkan pertikaian yang terjadi di dunia Arab dan perubahan musim semi Arab untuk merealisir tujuan mereka menjadikan kota Al-Quds sebagai kota yahudi. (qm
Readmore »»

Senin, 16 April 2012

Seruan Menculik Serdadu Israel untuk Membebaskan Tawanan Palestina

[ 15/04/2012 - 11:38 ]


Gaza – PIP: Mantan tawanan Palestina yang dibebaskan dari penjara Zionis Israel, Ruhi Mushtaha, menyerukan faksi-faksi perlawanan Palestina untuk lebih meningkatkan upayanya dan kerjanya dalam menculik dan menyandera serdadu Israel untuk melakukan pertukaran dengan para tawanan Palestina yang mendekam di dalam penjara Zionis Israel.

Hal tersebut disampaikan Mushtaha dalam festival untuk membela tawanan di Universitas al Aqsha, Khan Yunis, Ahad (15/4). Dia mengatakan bahwa para tawanan di penjara-penjara Zionis Israel mengalami kerasnya penyiksaan. Penjara merupakan terminal pelecehan dan penghinaan dan cara-cara itulah yang digunakan para sipir penjara Zionis Israel untuk menundukkan para tawanan.

Dia menyerukan kepada semua pihak di dalam dan di luar Palestina, khususnya perlawanan Palestina untuk lebih meningkatkan upaya dan kerjanya serta menculik serdadu Zionis Israel guna membebaskan para tawanan dengan segera.

Sementara itu Rektor Universitas al Aqsha Khan Yunis, Dr. Salam al Aga menyatakan sangat bahagia dengan festival ini dan adanya para mantan tawanan dalam acara ini. Dia menjelaskan bahwa persoalan tawanan merupakan pesoalan yang tidak mungkin diabaikan. Dia menyerukan untuk mendukumentasikan sejuta tanda tangan warga Gaza untuk membebaskan para tawanan dan tanah mereka. (asw)
Readmore »»

Minggu, 01 Januari 2012

Erdogan: Pembebasan Blokade Syarat Normalisasi Hubungan Turki-Israel


Istanbul – PIP: PM Turki Thayyib Receb Erdogan, Ahad (1/1) menyambut kunjungan PM Palestina Ismail Haniyah di Istanbul. Erdogan menegaskan dukungan negaranya pada rakyat Palestina dan memuji rekonsiliasi Palestina. Demikian seperti dikutip surat kabar Turki Anatolia.

Usai pertemuan dengan Erdogan, Haniyah mengungkapkan adanya rncana Turki untuk mengembangkan Jalur Gaza dan dia menjelaskan bahwa proyek ini berkaitan dengan infrastruktur dan keunggulan. “Haniyah menegaskan usai pertemuan bahwa Turki memiliki rencana kerja konprehensif bagi Jalur Gaza dengan nama proyek pengembangan Gaza,” jelas Jurubicara Pemerintah Palestina Thaher Nunu kepada media, Ahad malam.

Nunu menambahkan, PM Turki menegaskan bahwa gerakan Hamas bukan teroris, namun gerakan yang dipilih rakyat Palestina karena itu harus dihormati kehendak rakyat ini. Erdogan juga menegaskan bahwa pembebasan blokade atas Jalur Gaza asalah salah satu dari 3 syarat normalisasi hubungan Turki dengan entitas Zionis Israel.

Dalam pertemuan tersebut juga dibahas secara detail tentang serangan brutal, yahudisasi dan pengusiran warga Palestina di al Quds, juga tentang cara-cara untuk mendukung warga al Quds dan langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi tempat-tempat suci Islam dan Kristen di sana.

Haniyah menyampaian terima kasih atas sikap Turki yang mendukung isu Palestina secara politik dan ekonomi, juga perasaan tulus yang ditunjukkan Erdogan dalam solidaritasnya terhadap Jalur Gaza usai perang yang dilancarkan Zionis Israel akhir tahun 2008, ketika Erdogan menarik diri dari pertemuan yang dihadiri Presiden Israel Shimon Perez dalam konferensi ekonomi Davos. (asw)
Readmore »»

Selasa, 22 November 2011

Pemerintah Mesir Mundur Bersamaan Dengan Ajakan Aksi Sejuta Ummat



[ 22/11/2011 - 07:03 ]
Kairo – PIP: Pemerintah Mesir yang dipimpin Isham Syaraf kemarin mengajukan surat pengunduran dirinya,, kemarin Senin (21/11). Pada saat sama Dewan Militer Mesir menggelar rapat khusus untuk menyikapi surat pengunduran diri pemerintahan saat ini, setelah menyetujui penunukan presiden baru.

Surat pengunduran pememrintah ini muncul ditengah berlanjutnya aksi demo yang menuntut pembentukan susunan pemerintahan penyelamat nasional menyusul gugurnya 35 demonstran selama tiga hari kemarin oleh pasukan keamanan Kairo dan di berbagai tempat lainya.

Sebelumnya pemerintah menggelar pertemuan darurat untuk membahas krisis demonstrasi di Kairo dan beberapa kota lainya yang terus berlanjut. Pertemuan dipimpin perdana menteri Mesir dan sejumlah pimpinan militer. Sementara itu, dewan militer dan pemerintah menampik berniat menunda pemilu. Mereka tetap berkomitmen untuk melangsungkan pemilu tepat waktu.

Sementara itu, menurut sumber medis Mesir menyebutkan, minimal 35 orang meninggal saat bentrokan dengan aparat keamanan di alun-alun Tahrir, sejak Sabtu hingga Senin kemarin. Sementara deputi umum telah membebaskan 64 tersangka kerusuhan setelah ditangkap menyusul aksi tersebut yang ditangkap pada acara tersebut mencapai 200 orang.

Deputi umum menuding ke 200 orang tersebut sebagai dalang kerusuhan yang mengakibat demonstran anarkis dan merusak sejumlah kendaraan milik kepolisian. Pada saat yang sama, sejumlah elemen Mesir baik politik maupun kepemudaan meminta aksi serupa hari ini dengan tema aksi sejuta ummat selamatkan nasional. Tujuannya, untuk meminta dihentikanya kekerasan terhadap para demonstran dan pemerintah harus bertanggung jawab penuh atas peristiwa tersebut. Mereka juga meminta pentingnya menyerahkan pemerintahan pada saatnya minimal maksimal April tahun depan. Semua elemen menuntut pemerintahan Isham Syaraf menyerahkan pemerintahanya serta menyusun pemerintahan penyelemat nasional yang diberikan kewenanganya secara utuh.

Di sisi lain, dewan militer tinggi telah menyusun rancangan dekrit yang dikenal dengan undang-undang “kerusakan hidup berpolitik”. Keputusan tersebut berlaku untuk membuktikan bahwa kondisi ini telah merusak kehidupan politik di Mesir.

Permintaan ini sebenarnya telah gulirkan para demonstran sejak penggulingan Presiden Hosni Mubarak di para Revolusi Rakyat Februari lalu.
Untuk itu, Mayor Jenderal Saeed Abbas, asisten komandan konferensi pers Militer Pusat dalam pernyataan persnya menegaskan, komitmen Dewan Militer untuk tetap pada peda jalan menuju penyerahan kekuasaan kepada pemerintah sipil terpilih.
Dia juga menyerukan kepada semua kekuatan politik untuk bersatu dan bekerja untuk menghindari dampak negatif. Dewan menekankan agar memenuhi janji kepada masyarakat untuk menyerahkan tampuk kekuasaan kepada otoritas sipil terpilih, dan menegaskan bahwa dia tidak berusaha untuk memperpanjang masa transisi dan tidak akan memungkinkan orang untuk mengganggu proses transformasi demokrasi, ungkapnya. (asy)
Readmore »»

Selasa, 15 November 2011

Petinggi Hamas Ungkap Beberapa Detail Pendirian Gerakan

[ 14/11/2011 - 10:28 ]


Gaza – PIP: Pemimpin Hamas Syaikh Abdul Fatah Dukhan mengungkap beberapa detail tentang pendirian gerakan Hamas pada akhir tahun 80-an. Hal tersebut dia sampaikan dalam pertemuan khusus dengan biro penerangan gerakan Hamas di Khan Yunis beberapa waktu setelah wafatnya pendiri Hamas Syaikh Muhammad Najjar, dan dalam wawancara dengan biro penerangan gerakan untuk menulis biografi Syaikh Najjar.

Dukhan mengatakan, “Kami merasa terhormat bisa mendiskusikan piagam gerakan Hamas di rumah Syaikh Muhammad Najjar di Khan Yunis. Disepakati semua poin dan teksnya dalam pertemuan yang berlangsung berjam-jam lamanya, tergabung dalam pertemuan ini sejumlah pendiri seperti Syaikh Yasin dan yang lainnya. Kemudian piagam tersebut kami kirim ke rekan-rekan kami di Tepi Barat untuk diberikan catatan atau perbaikan. Hasilnya mereka setuju semua poin dan teksnya.”

Dukhan menambahkan, “Awalnya nama gerakan terdiri dari 3 huruf (ha mim sin) dalam pernyataan awal pendirian gerakan. Kala itu saya pergi ke kota al Quds, saat itu bepergian sangat mudah, di sana saya bertemu saudara Husain Qaiq, orang asli al Quds, dan saya katakan padanya tentang nama tersebut dan dia mengajukan nama Hamas (dengan 4 huruf ha-mim-alif-sin). Kami berdua kemudian membika kamus untuk mengetahui artinya secara bahasa, kami menemukan bahwa arti kata tersebut adalah ‘keras’, ‘berani’ dan ‘maju pantang mundur’.”

Dia melanjutkan, “Kemudian nama tersebut saya sampaikan kepada rekan-rekan di rumah saya di Jalur Gaza, mereka setuju tanpa mendiskusikan lagi nama tersebut. Mereka mengira nama itu dari saya dan tidak menanyakan kepada saya sumbernya dari siapa, sama sekali saya tidak menyebutnya demi menjaga sisi keamanan saudara Qaiq, di mana dia tinggal di al Quds, saya menyembunyikan namanya karena mengkhawatirkan dirinya dari tindakan Zionis Israel. Hari ini nama itu saya sebut, saat kita melepas kepergian salah seorang pendiri jamaah Ikhwanul Muslimin dan gerakan Hamas di Palestina, saudara Qaiq meninggal dunia sekitar satu stengah tahun yang lalu.”

Dia menyebutkan bahwa Syaikh Najjar merupakan tokoh penting dakwah islam, pekerja social dan jihad di Palestina. Dia adalah pendiri jamaah Ikhwanul Muslimin di Palestina. Dia sempat bertemu dengan Mursyid Ikhwan pertama Hasan al Bana pada tahun 1947 dan meninggal pada Jum’at (11/11/2011) setelah perjalanan panjang jihad dan pengorbanan. (asw)
http://www.infopalestina.com/ms/
Readmore »»

18 Tokoh Palestina Tuntut Abbas Mundur

[ 15/11/2011 - 03:01 ]

Amman-PIP: 18 Tokoh Palestina menuntut Ketua Otoritas Ramallah, Mahmud Abbas untuk mundur. Abbas pernah menyatakan, jika ada dua orang yang menuntutnya mundur ditambah satu orang lagi maka ia akan mundur.

Para penandatangan dokumen tuntutan mundur yang bertema, “Menuju agenda nasional sebagai solusi Palestina,” menyatakan, Mahmud Abbas telah berani mencederai kebenaran, ia menyatakan, jika ada dua orang Palestina menuntutnya mundur, maka ia menjadi yang ketiganya.!!.

Para penandatangan menyebutkan, dengan pernyataannya itu Abbas telah mengungguli para pemimpin dunia ketiga yang telah menetapkan dirinya sebagai pemimpin dengan suara 99,999 %, ia ingin menyampaikan bahwa tidak ada dua orang yang tidak percaya kepadanya, statmen ini merupakan klaim yang salah tanpa dapat diragukan.

Ribhi Halum, mantan Dubes Palestina dan Anggota Dewan Revolusi Fatah yang juga salah seorang penandatangan dokumen dalam wawancaranya dengan koran Sabil Yordania, “Abbas hendaknya mundur dan istirahat, ia telah menimbulkan bencana bagi Palestina lebih dari 40 tahun dengan hanya menuntut bagian 18 % dari wilayah Palestina.

Para penandatangan dokumen terdiri dari: Basam Sa’kah, Dr. Abdul Sattar Qasim, Adil Samarah, Ghazi Abdul Qadir Husaini, Dr. Ribhi Halum, Dr. Abdul Rahim Katanah, Sa’adah Arshid, Khalol Nakhlah, Abdullah Hamudah, Abdul Qadir Yasin, Adil Salim, Dr. Ibrahim Hamami, Hilmi Balbisi, Aiman Labidi, Usamah Aliyan, Nidhal Hamad, Ahmad Dabas, dan Yusra Kurdi. (qm)
Readmore »»

Selasa, 25 Oktober 2011

Haneya Sampaikan Selamat Kepada Rakyat Libia Atas Kemenangan Revolusinya


[ 25/10/2011 - 02:01 ]

Gaza-PIP: PM Ismail Haneya, Selasa (25/10) menyampaikan selamat kepada Ketua Dewan Transisi Nasional Libia, Mushtafa Abdul Jalil, dan rakyat Libia serta kelompok revolusi, atas nama pemerintah dan rakyat Palestina atas kemenangan besar yang diraih revolusi Libia menumbangkan kedzaliman dan tirani.

Dalam surat yang dikirimkan kepada Ketua Dewan Transisi Nasional Libia, Haneya menyatakan, “Kami bersama rakyat Palestina memantau perkembangan revolusi Libia, sebab Libia memiliki kedudukan yang kokoh di hati rakyat Palestina, juga revolusi ini meraih kesuksesan yang memiliki dampak positif bagi persoalan Palestina dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina untuk menentukan kedaulatannya.”

Haneya menambahkan, “Kemenangan revolusi Libia merupakan kemenangan bagi revolusi Palestina atas penjajah.” Haneya menyebutkan bahwa penderitaan yang dialami rakyat Libia disebabkan kedzaliman dan tirani dari dekat, sementara penderitaan yang dialami rakyat Palestina berasal dari penjajah asing.” Karena itu kami merasakan kegembiraan pada hari kemenangan dan deklarasi kemerdekaan seluruh Libia, kami merasakan bahwa harapan baru mulai terkuak bagi Palestina dari Tripoli dan Benghazi.” (qm)
Readmore »»

Kamis, 07 Juli 2011

Detik-detik Akhir Israel (2)


[ 06/07/2011 - 09:18 ]


Bagian 2 dari 1 Tulisan

Shamil Sultanov


Militer atau Zionisme, Siapa Menang?
Langsung setelah setahun setengah perang Amerika ke Irak tahun 2003, Israel menjadi penyebab konfrontasi baru di internal lembaga politik tingkat tinggi Amerika; antara poros militer dan poros pendukung loyal Israel.

Hingga awal tahun 2005, Departemen Pertahanan Amerika menyimpulkan bahwa mengalahkan “kelompok pemberontak” dan mengendalikan Irak secara efektif adalah hal mustahil. Perang Irak secara esensial telah menjadi kesyirikan geopolitik Amerika sebab Irak yang terjajah menjadi titik pengguncang stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah sebagai lumbung kepentingan Amerika. Perang Irak menyebabkan ketergantungan Amerika kepada Iran semakin besar.

Akibatnya, muncul polemik panas di kalangan elit politik Amerika soal siapa yang bertanggungjawab atas spekulasi perang Irak yang merugikan ini? Digelar puluhan sidang, workshop khusus, ratusan artikel ditulis dan sejumlah buku dikarang untuk menganalisis kekalahan ini.

Poros militer AS itu menudukung politik neo konservatif dan pemerintahan Bush junior telah membuang cuma-cuma aset termahal Amerika dalam perang Afganistan dan Irak. Kesimpulan akhirnya, pemeran utama dalam memicu perang adalah lembaga-lembaga Israel dan lobi yahudi pendukung Israel.

Desember 2006, Menhan baru Amerika dipilih, Robert Gets, seorang elit Amerika dan ketua lobi militer Amerika. Pemilihannya diperkirakan akan merevisi banyak kebijakan politik luar negeri Amerika. Pemilihannya ditentang oleh wakil presiden Dick Cheney, pimpinan sesungguhnya dari aliran Neo Konservatif.

Tahun 2008, di kota Philadelpia di bulan Juni digelar sidang rahasia perwakilan elit Amerika dengan Barack Obama dan Hillary Clinton. Dengan tekanan lobi militer, mereka sepakat presiden mendatang adalah Barack Obama. Namun Hillary Clinton yang diandalkan oleh zionisme internasional harus mendapat gantinya sebagai Menlu AS.

Pasca Pilpres, konflik di level elit tinggi Amerika tidak berhenti. Lobi Israel tidak akan memberikan peluang kepada Obama dan orang di belakangnya dari elit militer AS untuk memilih kandidat mereka yang dituding memiliki gaya pemikiran anti Israel.

Konfrontasi dingin di internal elit AS semakin panas bersamaan dengan meningkatnya program nuklir Iran. Pihak poros militer Amerika menuding Israel bersama penggembalanya dari organisasi-organsasi zionis internasional berusaha menyulut perang langsung antara Amerika dan Iran. Militer manapun yang berakal dan berfikir logis akan menyadari bahwa perang semacam ini akan mengakibat kondisi yang berada di luar kendali dan akan menyulut perang besar di kawasan bahkan menjadi perang internasional.

Pertanyaan penting; kenapa elit Israel yang hegemoni sekarang, terutama gerakan zionisme internasional membutuhkan perang antara Iran dan Amerika yang bisa menyebabkan akibat sangat buruk, bahkan bagi bangsa yahudi sendiri?

Masalahnya sangat krusial hingga Zbigniew Brzezinsk yang terkenal itu terpaksa mengumumkan bahwa jika pesawat tempur Israel menggempur Iran, maka Amerika akan terpaksa menghalanginya di atas udara Irak agar Israel kembali ke pangkalan mereka.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Badan Intelijen Amerika merilis prediksinya yang meragukan peluang Israel bisa bertahan hingga tahun 2025.

Setelah itu jenderal David Petraeus sebagai panglima pasukan angkatan darat Pusat Amerika mengeluarkan statemen resmi soal prediksi ini dan menyusul komandan pasukan Amerika di Afganistan. Statemen ini menjadi pertanda meningkatnya ketegangan dalam hubungan militer Amerika dan lobi loyalis Israel.

Di balik format diplomasi realita, tersembunyi pesan tegas kepada elit Israel bahwa politik Israel akan menciptakan masalah-masalah baru bagi Amerika di dunia Islam. Amerika akan membayar harga ketidaklogisan langkah Israel dengan darah pasukan Amerika bahkan kerugian dana yang amat besar serta melemahkan sikapnya di Timteng. Ini terjadi pada saat kemampuan politik dan ekonomi Amerika di seluruh dunia menurun dan Cina berubah menjadi penantang serius bagi strategi Washington.

Berbeda dengan sikap Amerika dan Eropa, mayoritas elit Israel sekarang ini tidak ingin kesepakatan hakiki dengan Palestina. Mereka tidak akan pernah sepakat dalam kondisi apapun dengan berdirinya negara Palestina merdeka. Negara Israel saat ini berdiri di atas prinsip yang tidak mungkin hidup (bertahan) kecuali dalam kondisi “tidak perang dan tidak damai”, dan Israel tidak akan melepaskan wilayah jajahannya.

Kesimpulannya, Israel tidak akan mampu (tidak sudi) masuk (berbaur) dalam rezim kawasan Timteng. Padahal sejarah membutikan bahwa negara-negara yang tidak mampu membaur di kawasan sekitar (misalnya imperium kaum Salib) pasti akan hilang dari peta dunia.

Konfrontasi antara poros militer Amerika dan Lobi loyalis Israel menyebabkan semakin tajamnya perbedaan di internal gerakan zionisme internasional. Kedua poros ini berada dalam Israel sendiri.

Pertama; poros “zionis nasionalis” pendukung fanatik tanpa syarat kepada Israel sebagai negara yahudi kebangsaan, apapun harga dan risikonya. Mereka saat ini masih menguasai internal gerakan zionisme internasional, namun sikap-sikap mereka banyak mengalami kemunduran secara bertahap. Ada banyak faktor di antaranya karena daya tarik image Israel sebagai negeri bangsa yahudis seluruh dunia sudah terkoyak dengan keras. Antara masyarakat Israel dan elit sendiri terurai.

Tidak rahasia, runtuhnya moral politik dan sosial di kalangan Israel sudah menjadi fenomena seperti gunung es terutama sejak 20 tahun terakhir. Sebagai contoh Menlu Israel Avigdor Lieberman dicurigai melakukan korupsi, skandal cuci uang dan lain-lain.

Sudah bukan asing bahwa jumlah yahudi yang eksodus ke luar negeri lebih banyak di banding eksodus yang datang ke “tanah yang dijanjikan”.

Poros kedua; di gerakan zionisme internasional yang dikenal dengan imperialisme zionisme yang berkeyakinan bahwa masa depan zionisme bukanlah di Israel namun masa depan ada pada koalisi strategi dengan salah satu sentra kekuatan dunia. Karenanya, mereka menganggap bahwa tidak wajib mengorbankan masa depan masyarakat yahudi dan modal yahudi di Amerika untuk Israel, tapi juga bukan Cina atau Eropa karena sejumlah sebab, yang bisa menjadi koalisi jangka panjang bagi zionisme internasional. Maka yang tersisa hanya dua pilihan: Amerika atau Rusia. Tidak spontan ketika Netanyahu, Lieberman dan pimpinan-pimpinan organisasi zionisme Rusia bertemu dan berbicara secara intens soal koalisi strategi jangka panjang antara Israel dan Rusia.

Sejarah Israel secara formal saat ini secara obyektif harus dikatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju kehancuran dan redup. Masalahnya bukan karena pasukan Arab yang secara mengagetkan menguasai wilayah yang dijajah Israel atau karena sebagian kelompok ‘ekstrim’ Palestina mampu secara mendadak melumpuhkan kehidupan ekonomi dan politik secara utuh di negara yahudi. Ini tidak akan terjadi.

Israel adalah negara boneka oleh kekuatan asing untuk menyelesaikan sejumlah masalah dan problema. Tugas Israel sebagai negara boneka ini tidak lagi mampu dijalankan. Sehingga Israel tidak lagi dibutuhkan. (bsyr)
Readmore »»

Detik-detik Akhir Israel (1)


[ 05/07/2011 - 07:46 ]


Satu dari dua tulisan

Dr. Shamel Sultanov*

Stalin dan Truman

Negara bernama Israel muncul pada Mei 1948 sesuai dengan keputusan Majlis Umum PBB pada November 1987. Resolusi ini sangat berbau formalitas belaka. Sebab pendirian negara yahudi buatan di jantung dunia Arab hanya mungkin dilakukan dengan niat-niat strategis elit Amerika Serikat dan Uni Soviet saat itu yang merupakan negara terkuat pasca perang dunia.

Faktor spirit dan emosi terkait nasib yahudi di Eropa setelah penjajahan Nazi beperan dalam diri Stalin dan Truman. Tujuan terpentingnya berbeda. Uni Soviet dan Amerika melihat bahwa negara yahudi ke depan bersifat sebagai alat efektif merealisasikan kepentingan mereka jangka panjang di Timteng.

Usai perang dunia II, mulai dilakukan pembagian wilayah-wilayah kekuasaan antara dua kekuatan baru di dunia. Wilayah terpenting bagi para politisi adalah di Timur Tengah. Tak spontan bila Stalin ingin Libia di bawah penjagaan Uni Soviet.

Namun kawasan Timteng sekitarnya masih dalam kekuasaan negara-negara imperialisme saat itu Inggris dan Perancis. Padahal Paris dan London saat keluar dari perang dunia II dalam kondisi lemah namun melepaskan kawasan Timteng yang kaya minyak adalah hal yang tidak pernah mereka diprediksi.

Rencananya, Israel akan menjadi buldoser dengan remot control yang bisa membantu membuka jalan ke kawasan baik bagi Uni Soviet (seperti yang diinginkan Stalin) atau Amerika (seperti yang diinginkan Truman). Namun yang salah perkiraan adalah Stalin. Ia mengirim ke Palestina (saat wilayah ini masih dikuasai oleh mandat Inggris) ribuan komandan pasukan dan intel yang dia yakini masih dipercaya dari kalangan yahudi komunis yang akan membantu Israel “sosialis”. Namun buktinya “seruan darah yahudi” lebih kuat ketimbang idelogi komunis. Dalam waktu cepat Stalin dibuang keluar.

Kegagalan bersahabat dengan Israel inilah yang membuat Stalin benci bukan kepalang kepada Israel dalam kehidupan politiknya. Suatu ketika di tahun 1917, Stalin mengusulkan agar melakukan aksi “pembersihan” besar-besaran di kalangan partainya dari kekuasaan unsur yahudi. Akhirnya Stalin pun terbunuh. Namun kecenderungan memusuhi Israel masih kuat mengakar di kalangan penerusnya bahkan hingga Gorbacev.

Namun situasi itu tidak bersih dari hubungan Amerika dan negara yahudi. Pemimpin Israel generasi awal lebih memilih bergantung kepada hubungan tradisional dengan Eropa, tempat pusat-pusat zionisme dunia. Apalagi pasca perang dunia II Amerika ramai gerakan anti semit, bukan hanya di kalangan rakyat namun juga elit politik.

Karenanya, Israel bersanding dengan Inggris dan Perancis dalam perang segitiga terhadap Mesir tahun 1956 setelah Jamal Abdul Nasher menguasai terusan Suez. Ini pertama kalinya negara Israel ikut perang dengan tetangga Arabnya tanpa persetujuan dari Washington.

Moskow mendukung Mesir saat itu. Elit Uni Soviet menegaskan bahwa jika perang tidak dihentikan langsung, 300 ribu kaum muslim Soviet akan berbondong membantu saaudara mereka di Mesir. London dan Paris minta tolong Amerika. Koalisi segitiga pun bubar dan sejak itu Israel sadar pentingnya fokus bersahabat dengan Mesir.

Koalisi jangka panjang Amerika dan Israel, selain untuk kepentingan Amerika juga untuk kepentingan struktur zionisme dunia yang berkembang cepat.

Kelompok kanan ekstrim Amerika melihat bahwa operasi yang berujung pembentukan sistem penjajahan zionis sementara di Amerika mulai menguat di pertengahan tahun 50an, terutama ketika Partai Demokrat berkuasa. Para pendukung zionisme di Amerika menggunakan trend Israel saat itu untuk menatukan masyarakat yahudi dan modal mereka untuk menguatkan sikap politiknya di sana.

Maka dibentuklah ratusan ribu organisasi dan lembaga pendudukung – mobilisasi - Israel dari semua lini. Di antara lobi yahudi, desain politik SDM untuk bidang keuangan dan media, dukungan fasilitas untuk penentu kebijakan politik Amerika. SDM media dan politik digerakkan secara massiv untuk mendukung koalisi Amerika Israel dan dibuat kampanye ideologi dan propagandis khusus.

Periode tahun 1967 – 2006 adalah era keemasan koalisi Amerika Israel. Sampai-sampai Iran Syah dan Turki bergabung dalam anggota NATO.

Israel mengkoordinir operasi militer terhadap Arab dengan Pantagon langsung. Bahwa Washington membekali Israel dengan senjata nuklir. Amerika pun menjadi hegemonis di era tahun 1990an di dunia Arab pasca hancurnya Uni Soviet.

Ini berlangsung hingga era Bush senior dan junior. Di masyarakat Amerika terbentuk koalisi-koalisi sosial politik yang luas antara zionis dan zionis protestan (kristen) hingga membentuk satu poros “neo konservatif” yang memiliki pandangan; apa yang baik bagi Amerika baik pula bagi Israel, dan sebaliknya. Sebagian elit Amerika juga yang merancang aksi 11 September sebagai alasan perang atas dunia Islam, kompetitor utama Israel, menurut pandangan zionisme internasional.

Dialegtik Polemik

Namun sejarah ibarat jiwa berwatak ganda. Sejarah bergerak tanpa diprediksi manusia. Pada saat Israel menjadi alat penting bagi politik Amerika di Timteng, pada saat itu pula, negara zionis ini berubah menjadi faktor utama tumbuhnya radikalisme di Timteng.

Disaat Israel ia menjadi pangkalang kuat bagi peradaban barat di kawasan Timteng, demokrasi dan sekularisme. Namun keberadaan Israel sendiri menjadi pemicu utama kebangkitan Islam yang di dunia. Lebih dari itu, kalau bukan karena Israel, maka tidak akan terjadi kemunduran cepat bagi ideologi liberal sekuler dan partai yang mengusungnya di dunia Arab.

Israel Amerika kini menjadi simbol kezhaliman mutlak bagi jutaan kaum muslimin. Israel dan Amerika menjadi simbol kezhaliman amoral, imperialis, dan musuh tanpa rasa kasih sayang yang tidak pahak kecuali dengan bahasa kekuatan. Israel menjajah tanah milik Palestina yang sudah dihuni ribuan tahun dengan alasan bodoh; bahwa yahudi pernah tinggal di sana dan kemudian mereka diusir. Seakan dengan faktor ini saja mereka memiliki hak historis menguasai tanah Palestina. Namun hari ini bahkan pakar Israel sendiri membuktikan bahwa yahudi sebenarnya tidak pernah diusir oleh Romawi dari tanah Yahuda saat itu.

Namun yang menentukan sebenarnya juga adalah cita-cita politik Stalin dan Truman.

Perjuangan bangsa Palestina selama tujuh dekade melawan Israel membuahkan hasil berkembangnya kesadaran nasional, sosial dan politik Palestina. Bangsa Palestina kini menjadi bangsa paling “maju” dan pemberani di dunia. Misalnya, prosentase jumlah pelajar Palestina dari 1000 penduduk melebihi prosentase pelajar di Rusia. Jumlah syuhada Palestina selalu menjadi kebanggaan bagi setiap penduduk Palestina. Sementara Israel justru menyebutkan kematian sebagai hal yang menakutkan.

Kalau tidak ada Israel, barangkali Jalur Gaza sudah digabungkan dengan Mesir dan Tepi Barat digabungkan ke Jordania.

Anda perlu tahu, perjuangan melawan Israel pulalah yang menjadi motivasi munculnya revolusi Iran tahun 1979-1978. Sebab Shah Iran adalah teman dekat Israel. Keberadaan Israel di Timur Tengah pulalah yang menjadi penyebab penting naiknya kekuatan Islam fundamental moderat ke kekuasaan di Iran dan Turki. Akibatnya, kini terjadi perubahan mengakar dalam perimbangan kekuatan di Timur Tengah. Belakangan, revolusi Arab yang meletus sangat terasa aroma kebencian terhadap Israel. Politik yang diterapkan Israel secara alami akan meningkatkan gelombang anti semit dunia. Bahkan inilah yang ditengarai oleh pusat-pusat studi yahudi termasuk konferensi yahudi Rusia.

Militer atau Zionisme, Siapa Menang?

Langsung setelah setahun setengah perang Amerika ke Irak tahun 2003, Israel menjadi penyebab konfrontasi baru di internal lembaga politik tingkat tinggi Amerika; antara poros militer dan poros pendukung loyal Israel.

Hingga awal tahun 2005, Departemen Pertahanan Amerika menyimpulkan bahwa mengalahkan “kelompok pemberontak” dan mengendalikan Irak secara efektif adalah hal mustahil. Perang Irak secara esensial telah menjadi kesyirikan geopolitik Amerika sebab Irak yang terjajah menjadi titik pengguncang stabilitas seluruh kawasan Timur Tengah sebagai lumbung kepentingan Amerika. Perang Irak menyebabkan ketergantungan Amerika kepada Iran semakin besar.

Akibatnya, muncul polemik panas di kalangan elit politik Amerika soal siapa yang bertanggungjawab atas spekulasi perang Irak yang merugikan ini? Digelar puluhan sidang, workshop khusus, ratusan artikel ditulis dan sejumlah buku dikarang untuk menganalisis kekalahan ini.
Poros militer AS itu menudukung politik neo konservatif dan pemerintahan Bush junior telah membuang Cuma-Cuma aset termahal Amerika dalam perang Afganistan dan Irak. Kesimpulan akhirnya, pemeran utama dalam memicu perang adalah lembaga-lembaga Israel dan lobi yahudi pendukung Israel.

*Ketua Pusat Kajian Strategi Rusia dan Dunia Islam

Dimuat di harian Zavtara Rusia, edisi 29 Juni 2011
Readmore »»