Tampilkan postingan dengan label Sirah Tabi'in. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Tabi'in. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2012

Ulama Besar Baru Belajar Saat 30 Tahun

Kamis, 31 Mei 2012 IMAM AL QAFFAL AS SAGHIR adalah seorang ulama As Syafi'yah yang baru memulai belajar saat berumur 30 tahun. Suatu saat beliau pernah mengatakan,"Saya mulai belajar sedangkan saya belum bisa membedakan 'ikhtshartu' dengan 'ikhtsharta'". Namun walau demikian karena keberkahan dari Allah Ta'la, beliau menjadi seorang yang paling faqih di zamannya. (lihat, Thabaqat As Syafi'yah Al Kubra, 5/45) Walhasil, tidak ada kata terlambat dalam belajar memahami dien ini. Rep: Thoriq Red: Cholis Akbar
Readmore »»

Minggu, 18 Maret 2012

Ulama Zuhud Kok Gemuk?

Senin, 19 Maret 2012


IMAM WAQI’ BIN AL JARAH adalah seorang ulama zuhud dari Iraq. Ulama mujtahid yang berfatwa dengan pendapat Imam Abu Hanifah ini rajin berpuasa dan qiyam lail. Suatu saat beliau mengunjungi Makkah dan kala itu tubuh beliau tambun, hingga Fudhail bin Iyadh bertanya,”Bagaimana anda gemuk, sedangkan anda adalah “rahib” Irak?”

Imam Waqi’ pun menjawab,”Ini karena saya bahagia dengan Islam.” Memperoleh jawaban demikian, Fudhail bin Iyadh pun diam. (lihat, Tadzkirah Al Huffadz, 1/306-309)/Hidayatullah.com
Readmore »»

Senin, 18 Januari 2010

Mutiara Kehidupan Para Tabi’in: Al-Hasan Al-Bashriy

Oleh: Aba AbduLLAAH

Datanglah seseorang utusan kepada Ummu Salamah ra (salah seorang di antara istri RasuluLLAH SAW, namanya Hind binti Suhailin) yang mengkabarkan bahwa salah seorang sahaya wanitanya telah melahirkan seorang putra, maka bayi itu ditimang dan didoakan oleh wanita yang mulia tersebut dan diberi nama al-Hasan. Kelahiran anak tersebut juga menjadi kegembiraan bagi keluarga seorang sahabat terkemuka yang lain yaitu Zaid bin Tsabbit ra (salah seorang diantara 7 orang ahli Qur’an dan penulis mushaf al-Qur’an di zaman Nabi SAW, Abubakar ra dan Umar ra), karena ayah dari bayi itu adalah bekas hamba sahayanya.

Ummu Salamah ra adalah seorang wanita yang sangat taqwa kepada ALLAH SWT, ia meriwayatkan 387 hadits dari suaminya penghulu para nabi SAW, ia wanita yang cerdas dan juga pandai baca-tulis. Sehingga bayi itu hidup dan dibesarkan dalam pangkuan keluarga yang harum semerbak dengan suasana keluarga nabi SAW (walaupun saat itu nabi SAW telah wafat). Ketika besar kelak ia tinggal di Bashrah (sekarang di wilayah Iraq), sehingga ia digelari al-Hasan al-Bashri.

Selama hidupnya al-Hasan banyak belajar dari Utsman ra, Ali ra, Ibnu Abbas ra, Abu Musa al-Asy’ari ra, Ibnu Umar ra, dll. Diantara mereka semua ia sangat dekat dengan Amirul Mu’minin Ali ra, ia mewarisi ibadah-ibadah dan berbagai ilmu seperti fashahah dan balaghah. Setelah usia 14 tahun ia pindah ke Bashrah bersama keluarganya. Saat di Bashrah, Hasan sering mengikuti kuliah-kuliah Ibnu Abbas ra dan ia mempelajari semua ilmunya seperti tafsir, hadits, qira’at al-Qur’an, fiqh, lughah, adab, dll.

Ia dikenal konsisten, lugas dan berani. Khalid bin Maslamah berkata tentangnya : “Ia adalah orang yang perbuatannya selalu sama dengan niatnya, jika ia menyatakan sesuatu yang ma’ruf maka ialah yang pertama melakukannya dan jika ia menyerukan yang munkar maka ialah yang pertama meninggalkannya.” Ketika al-Hajjaj, penguasa yang kejam di Bashrah ketika itu berbuat sewenang-wenang, maka hanya Hasan yang berani mengingatkannya dengan terang-terangan.

Saat itu Hajjaj membangun rumah yang indah antara Kufah dan Bashrah, lalu ia mengundang rakyatnya untuk mendoakannya, Hasan datang dan ketika diminta bicara ia berkata : “Kita telah menyaksikan disini sebuah rumah yang didirikan oleh orang yang terburuk di zaman kita ini, sungguh Fir’aun dulupun telah membangun bangunan yang lebih besar dari ini tapi kemudian ia dibinasakan oleh ALLAH SWT. Semoga Hajjaj mengetahui bahwa ahlus-sama’ (penduduk langit) telah mengutuknya atas perbuatannya ini dan ahlul-ardh (penduduk bumi) telah menipunya dengan meridhai perbuatannya ini!…” Sampai orang-orang berkata : “Hasbuk, hasbuka ya aba Sa’id..” (Cukup, cukup wahai abu Sa’id…)

Maka Hasan menukas dengan tajam : “Demi ALLAH, ALLAH SWT telah mengambil janji dari kami ahli ilmu untuk menyampaikan kebenaran dan tidak menyembunyikannya!” Maka berteriaklah Hajjaj dengan gusarnya : “Demi ALLAH! Akan aku minumkan darahnya pada kalian wahai penduduk Bashrah!” Maka dipanggillah 100 orang algojo dengan pedang terhunus dan Hasan diminta maju melewati mereka semua, tapi Hasan berjalan melewati semua pedang itu dengan sama sekali tidak bergeming, dengan ‘izzah seorang mu’min dan tsabat (ketegaran) seorang ulama yang shadiq (benar).

Tiba-tiba Hajjaj merasa gentar, sehingga didudukkannya Hasan di singgasananya, lalu ia berkata : “INNAKA ANTA SAYYIDIL ‘ULAMA YA ABA SA’ID!” (Sungguh engkau ini adalah pemimpinnya para ulama wahai abu Sa’id), maka diberinya ia minyak wangi dan ia meminta nasihatnya, maka berkatalah al-Hasan : “Takutlah engkau pada ALLAH wahai Ibnu Hubairah dan janganlah kau takut pada Yazid bin Abdul Malik (khalifah kaum muslimin ketika itu). Ingatlah, bahwa ALLAH dapat berbuat kepada Yazid, tapi Yazid sama sekali tidak dapat berbuat kepada ALLAH. Aku takut bahwa ALLAH akan memindahkanmu dari gemerlapnya istanamu ini ke gelapnya kuburanmu nanti, dan disana kau hanya ditemani oleh amalmu dan RABB-nya Yazid, sungguh tidak ada ketaatan kepada makhluq jika ia tidak taat kepd ALLAH.” Sehingga Hajjaj menangis terisak-isak sampai basah janggutnya.

Ia sering menasihati orang-orang dengan kata-katanya : “Hati-hatilah kalian, dunia ini awalnya fana’ dan kesusahan dan akan berakhir dengan fana’ dan kesusahan pula, ingatlah bahwa dunia ini halalnya akan menjadi hisab dan haramnya akan menjadi azab.” Ketika akan wafatnya Hasan berkata : “Dimanakan tetangga yang telah meminta bantuanmu, dimanakah keluarga yang selama ini bersamamu, dimanakah teman yang selama ini mendekatimu. Sungguh diri kita ini adalah angka, setiap terbit matahari maka berkuranglah angkamu dan juga sebagian dari dirimu.”

Hasan wafat di usia 80 tahun pada hari Jum’at di Bashrah, dan ribuan orang datang melayat, sehingga baru terjadi dalam sejarah Islam ketika itu shalat Ashar menjadi tertunda di Bashrah karena ramainya orang yang ikut mengantar jenazah dan menguburkan jasad al-Hasan al-Bashri
Readmore »»

Mutiara Kehidupan Para Tabi’in: ‘Atha’ bin Abi Rabah

Oleh: Aba AbduLLAAH

Berkata Imam al-Haramain : “Tidak kutemui orang yang paling alim diantara orang yang alim, kecuali 3 orang : ‘Atha, Thawus dan Mujahid..”

Kalau kita menerawang jauh ke empat belas abad yang lampau, maka akan nampak oleh kita sebuah majlis ta’lim di Makkah yang selalu dihadiri oleh ribuan orang, diantara mereka ada para sahabat-sahabat nabi SAW dan juga para tabi’in, sang penceramah adalah seorang tua yang sederhana namun kharismatik, dialah AbduLLAH bin Abbas ra (Ibnu Abbas) salah seorang diantara para tokoh ulama sahabat, dan dia pula yang didoakan oleh RasuluLLAH SAW dengan doanya yang khusus: “ALLAHUMMA FAQQIHHU FIDDIN WA ‘ALLIMHU TA’WIL” (Ya ALLAH dalamkanlah pengetahuannya dalam agama dan ajarilah ia ta’wil Qur’an…)

Ibnu Abbas ra memiliki seorang budak hitam yang kurus, demikian hitamnya kulit budak ini sehingga jika ia berdiri bagaikan seekor burung gagak hitam (ghurabil-aswad) yang menakutkan. Namun hitamnya kulit tidak membuatnya merasa rendah, karena Islam telah membebaskan manusia dari perbudakan manusia atas manusia menjadi perbudakan manusia hanya oleh dan untuk ALLAH SWT saja. Hanya Islam sajalah peradaban yang mampu menempatkan seorang budak hitam Afrika bernama Bilal al Habasyi, budak bangsa Persia Salman al Farisi, dan budak dari Rumawi Shuhaib bin Sinan ar Rumi sederajat dan bahkan lebih tinggi dari para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb.

Selama hidupnya ‘Atha membagi waktunya untuk 2 hal : Pertama, khusus untuk Tuhannya dengan melakukan ibadah yang terbaik, terikhlas dan semurni-murninya; sehingga setiap malam ia sedikit sekali tidur karena melakukan qiyam, zikir dan doa. Kedua, untuk menuntut ilmu kepada para ulama, tercatat diantara nama guru-gurunya yaitu para shahabat besar seperti Ibnu Abbas ra, Ibnu Umar ra, Abu Hurairah ra, Ibnu Zubair ra, dll. Ia selalu berkata : “Orang sebelum kalian membenci omong-kosong, yaitu segala sesuatu selain al-Qur’an yang dibaca dan dipelajari, atau Hadits yang diriwayatkan dan diamalkan, atau amar ma’ruf dan nahi munkar, atau ilmu untuk mendekatkan diri kepada ALLAH, atau bekerja mencari nafkahmu. Bacalah oleh kalian kalau mau : Dan orang-orang yang menjauhi perkataan yang tidak bermanfaat (QS al-Mu’minun, 23:3).”

Dibandingkan dengan manusia lainnya, ‘Atha adalah termasuk manusia pilihan yang sangat jarang orang yang mampu berdisiplin sepertinya. Ia mendisiplin dirinya sehingga selama hidupnya tidak pernah sekalipun melakukan hal yang tidak bermanfaat sebagaimana yang dilakukan oleh pemuda-pemuda kebanyakan, dan selama hidupnya ia tidak pernah ngobrol dan bercanda. Pernah dalam suatu perjalanan ia melihat sebuah kota yang telah ditinggalkan penghuninya, lalu ia berfikir : Kapan kota ini didirikan? Kemudian ia menyesali diri karena memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat dan karenanya ia menghukum dirinya untuk berpuasa selang-sehari selama setahun penuh. Waktunya seumur hidupnya selalu dihabiskan untuk belajar, berfikir dan beribadah, ia sangat serius dalam hidupnya dan agar ia tidak terganggu maka selama 20 tahun ia hanya tinggal di dalam masjidil Haram.

Pernah suatu hari ia ditegur oleh orang-orang tentang keseriusannya yang dianggap berlebihan oleh mereka, maka ia menjawab : “Aku bersaksi bahwa aku sangat percaya pada adanya malaikat yang mulia lagi mencatat seluruh amalku, lalu tidak malukah jika nanti diumumkan di depan orang-orang di hari Kiamat nanti lalu banyak ditemukan hal-hal yang bukan ibadah kepada-NYA?!” Karena disiplin dan keseriusannya yang luar biasa dalam belajar inilah ia mencapai derajat tertinggi dikalangan para ulama, sehingga banyak orang yang mengambil manfaat dari keluasan ilmunya. Salah satu contohnya, Imam Abu Hanifah suatu kali pernah bercerita : “Aku pernah salah dalam 5 fiqh Manasik (Hajji) dan aku diingatkan oleh seorang tukang cukur! Yaitu ketika aku duduk untuk tahallul (bercukur setelah selesai hajji) aku bertanya pada tukang cukur itu berapa ongkos cukurnya? Maka ia menjawab bagi orang yang hajji tidak ditetapkan ongkos, maka aku merasa sangat malu dan berfikir siapa tukang cukur ini, lalu aku duduk, maka kata tukang cukur itu : Hendaklah anda menghadap qiblat, maka aku menjadi semakin malu, lalu aku langsung berikan kepalaku untuk dicukur, lalu ia berkata lagi : Hendaknya yang kanan dulu, lalu kuberikan yang sebelah kanan sambil terus berfikir, lalu ia berkata lagi : Perbanyaklah takbir! Maka akupun bertakbir lalu ketika selesai segera kusodorkan uang dan ingin terus berlalu, lau ia berkata lagi : Jangan lupa shalat 2 raka’at. Maka dengan penasaran kutanya darimana dia tahu tentang semua hukum fiqh tersebut? Maka jawabnya : Dulu aku pernah mencukur ‘Atha bin Abi Ribah dan kupelajari semua yang diperbuatnya ketika itu dan kuamalkan.”

Dan selama hidupnya tidak ada orang yang berani berfatwa di masjidil Haram karena hormat akan kedalaman dan keluasan ilmu agama yang dimilikinya, sehingga ia dijuluki SAYYIDUL FUQAHA AL HIJAZ (Pemimpin para ahli Fiqh di Makkah dan Madinah…) Semua orang sangat hormat pada dirinya bahkan ia lebih dihormati dari Khalifah sendiri, kendatipun demikian ‘Atha adalah seorang yang sangat tawadhu’ (rendah hati) dan ia sangat membenci kesombongan dan orang yang sombong, selama hidupnya ia hanya memakai pakaian yang termurah (5 dirham saja). Pernah suatu hari Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik datang dan melakukan hajji dan ketika Thawaf di Baitul Haram orang-orang berusaha minggir menghormatinya, maka ‘Atha marah dan berkata : DA’HU YATA’ALLAMA BI MAWQIF ALLADZI TAQTULU KIBRIYA’UHU! (Biarkan ia disakiti dengan kondisi yang dapat membunuh kesombongannya…)

Maka setelah itu khalifah memanggilnya untuk bertanya tentang beberapa hukum agama, maka ia berkata kepada utusan khalifah tersebut : AL ‘ILMU YU’TA ‘ALAIHI WALAM YA’TI! (Ilmu itu didatangi dan bukan mendatangi…), maka khalifahpun datang kepadanya dan meminta nasihat, maka kata ‘Atha : “Takutlah pada ALLAH wahai Amirul Mu’minin, ingatlah bahwa engkau diciptakan sendiri, dilahirkan sendiri, dimatikan sendiri, dibangkitkan sendiri dan akan dihisab sendiri pula, maka tak ada yang dapat membantumu untuk dunia dan akhiratmu kecuali ALLAH SWT.” Maka khalifah menangis mendengar taushiyyah (nasihat) tersebut dan memberinya hadiah dari emas dan perak, tapi ditolak dengan halus oleh ‘Atha sambil berkata : “Katakanlah : Kami tidak menginginkan balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terimakasih, karena sesungguhnya kami takut akan suatu hari dimana manusia saat itu gelap wajah-wajahnya (ayat)..”

Ketika wafatnya, ribuan orang menshalatkan sampai-sampai di masjidil Haram dilaksanakan shalat janazah berkali-kali karena banyaknya yang ingin menshalatkan. Dan ketika mereka mengangkat jenazahnya, maka mereka semua terheran-heran karena mayatnya sangat ringan seperti bulu, sebab tidak sedikitpun membawa keduniaan serta dipenuhi oleh berbagai bekal untuk akhirat yang banyak…
Readmore »»