Tampilkan postingan dengan label Berita PKS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita PKS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Februari 2013

Analisa Hukum Penetapan Tersangka Luthfi Hasan Ishaaq oleh KPK



Kontributor: Mohamad Aulia Syifa - 02/02/13


dakwatuna.com - Rabu 30 Januari 2013 Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), di tetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas tuduhan dugaan kasus Suap Impor Daging. Ia dijemput penyidik di kantor DPP PKS dan tiba di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Kuningan, Jakarta, Kamis (31/1/2013) sekitar pukul 00.00 WIB. KPK menetapkan Luthfi sebagai tersangka atas dugaan bersama-sama menerima suap dari PT Indoguna Utama terkait kebijakan impor daging sapi. Selain Luthfi, KPK menetapkan Ahmad Fathani sebagai tersangka atas dugaan perbuatan yang sama. KPK juga menetapkan dua Direktur PT Indoguna, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi sebagai tersangka pemberian suap. Penetapan Luthfi sebagai tersangka ini berawal dari operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK, Selasa (29/1/2013) malam di Hotel Le Meridien dan di kawasan Cawang, Jakarta.


Dari situ, KPK menahan empat orang, yakni Ahmad, Arya, Juard, dan seorang perempuan bernama Maharani. Bersamaan dengan penangkapan tersebut, KPK menyita uang Rp 1 miliar yang disimpan dalam kantung plastik dan koper. Keempatnya lalu diperiksa seharian di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta. Sedangkan, Maharani sendiri telah dibebaskan Kamis, pukul 02.10, karena tidak terbukti terlibat kasus suap .Melalui proses gelar perkara, KPK menyimpulkan ada dua alat bukti yang cukup untuk menetapkan Luthfi sebagai tersangka. Informasi dari KPK menyebutkan, uang yang dijanjikan PT Indoguna terkait kebijakan impor daging sapi ini mencapai Rp 40 miliar. Adapun uang Rp 1 miliar yang ditemukan saat penggeledahan tersebut, diduga hanya uang muka. (Kompas.com)

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjajanto mengatakan pihaknya sudah mengantongi bukti penggunaan pengaruh oleh Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq dalam proses penerbitan izin impor daging sapi.

Meski bukan anggota Komisi Pertanian Dewan Perwakilan Rakyat, Luthfi memanfaatkan pengaruhnya di Kementerian Pertanian untuk menggolkan izin impor daging. “Saya lupa istilahnya, tapi semacam menjual otoritas,” ujarnya, di KPK, Kamis, 31 Januari 2013.

Menurut Bambang, untuk memanfaatkan pengaruh tidak harus punya kewenangan. Namun, pengaruh bisa dipakai untuk mempengaruhi. Dia menegaskan, “Ini tidak menduga-duga, kami mempunyai buktinya.”

Bambang memastikan uang suap Rp 1 miliar yang disita KPK pada Selasa lalu terkait dengan izin impor.

Bambang enggan mengatakan kepada siapa sebenarnya uang ini akan diarahkan. “Itu kan berkaitan dengan impor. Jadi pasti ke arah sana. Cuma kan saya enggak bisa bilang detailnya. Kira-kira ke arah mana, berkaitan dengan perizinan,” katanya. (Tempo.Co/Apa Bukti Luthfi Hasan Terlibat ini jawaban KPK)

Analisa Hukum


Tersangka adalah se4orang yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana. (Pasal 1 butir 14 UU No 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP)

Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidik menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini. (Pasal 1 butir 5 UU No 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP)

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya (Pasal 1 butir 2 UU No 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP)

Penetapan tersangka yang dilakukan kurang dari satu hari alias 1 X 24 Jam oleh KPK, jelas Cacat Hukum dan tidak beralasan. Karena sebelum ditetapkan seseorang sebagai tersangka seharusnya dilakukan penyelidikan terlebih dahulu yakni mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana baru kemudian bisa meningkat ke penyidikan baru ke penetapan tersangka setelahnya.

Ditetapkannya Ahmad Fathoni (AF) bersama dengan Gadis yang bernama Maharani sebagai bentuk Gratifikasi Sex Ujarnya. Juga ditetapkannnya dua Direktur PT Indoguna, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi sebagai tersangka pemberian suap. Sebagai salah satu alat bukti untuk menetapkan LHI sebagai tersangka.

Sebelumnya mari kita definisikan dulu apa yang dimaksud dengan Gratifikasi. Pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. (Pengertian Gratifikasi menurut penjelasan Pasal 12B UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi). Menurut Pasal 12 UU TIPIKOR Gratifikasi berlaku untuk pegawai negeri, Penyelenggara Negara atau Advokat yang ditunjuk untuk mewakili dalam siding pengadilan.

Apakah dalam hal ini AF sebagai Pegawai Negeri, Penyelenggara Negara atau Advokat yang ditunjuk untuk mewakili dalam persidangan dalam pengadilan. Jika tidak jelas bukanlah ini termasuk dalam kategori gratifikasi

Dalam Proses Penetapan tersangka di Penyidikan seharusnya ditentukan terlebih dahulu minimal dua alat bukti yang ada sebagaimana yang disebut dalam Pasal 184 UU No 8 Tahun 1981 Tentang KUHAP. Alat bukti yang sah;

a. Keterangan Saksi;

b. Keterangan ahli;

c. Surat;

d. Petunjuk;

e. Keterangan terdakwa.


Jika uang satu milyar, bisa dikatakan sebagai bukti petunjuk, maka untuk AF dan direktur PT. Indraguna dikatakan sebagai saksi, maka alangkah mudahnya seseorang nantinya dalam menuduh atau menyangka kepada seseorang yang tidak tahu apa-apa terlibat didalamnya.

Kemudian sebelum dikatakan uang satu milyar tersebut dikatakan untuk digunakan dalam suap Impor daging dengan tertuju LHI, adakah buktinya bahwa memang itu ditujukan untuk LHI? Bukti berupa informasi yang terkait, baik berupa SMS, telephone, atau yang lainnya mengingat KPK diberikan kewenangan untuk melakukan sebuah penyadapan sesuai dengan pasal 12 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK, ini dulu yang dibuktikan apakah benar uang ini ditujukan kepada LHI sebagai Suap. Jika ini terbukti benar maka dapat dikatakan sebagai satu alat bukti.

Jika dikatakan bahwa AF adalah orang terdekat atau bisa dikatakan Asisten dari LHI adakah bukti berupa bukti surat, dokumen elektronik (Foto), atau rekaman yang menyatakan bahwa AF adalah orang dekat dari LHI. Jika tidak maka siapapun bisa mengatakan bahwa saya adalah orang dekat LHI dengan tujuan memfitnah atau melakukan pembunuhan karakter orang lain untuk tujuan tertentu.

LHI berada di komisi pertahanan keamanan, sedangkan masalah Impor sapi berada dalam lingkungan komisi pertanian, menurut Wakil ketua KPK yang berinisial BW menyatakan bahwa LHI memang tidak memiliki kewenangan, tapi dia Luthfi memanfaatkan pengaruhnya di Kementerian Pertanian untuk menggolkan izin impor daging. Dalam UU TIPIKOR tidak dikatakan istilah pengaruh, yang dikatakan korupsi adalah menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya dirinya atau orang lain. Jelas hal ini bertentangan dengan Pasal 1 ayat 1 KUHP “Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana, dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan dilakukan.” Atau yang disebut sebagai asas legalitas dalam hukum pidana yang dalam bahasa latin disebut “nulla poena sine lege.” (tidak ada pidana tanpa ketentuan pidana menurut undang-undang). (Scahfmaster, Hukum Pidana, hal.5)

Bambang memastikan uang suap Rp 1 miliar yang disita KPK pada Selasa lalu terkait dengan izin impor. “Itu kan berkaitan dengan impor. Jadi pasti ke arah sana. Cuma kan saya enggak bisa bilang detailnya. Kira-kira ke arah mana, berkaitan dengan perizinan,”

Sebuah pertanyaan, pasti kearah sana, kearah mana? Apa yang dilakukan oleh KPK ini jelas merupakan sebuah asumsi yang belum tentu benar, tidak bersandar pada asas praduga tak bersalah (“Presumption of Innocence”)


Kesimpulan:

1. Apa yang dilakukan oleh KPK dengan menetapkan tersangka sebelum dilakukan sebuah penyelidikan, yang kemudian meningkat ke penyidikan jelas salah, KPK dalam mengambil Prosedur tak sesuai dengan langkah hukum yang ada berdasarkan KUHAP.

2. Apa yang dinyatakan KPK sebagai alat bukti untuk menetapkan LHI sebagai tersangka, jelas tidak bisa dikatakan alat bukti. Pertama KPK harus memastikan uang satu milyar yang berada dalam plastic bersamaan dengan ditangkap tangan tersangka AF adalah benar-benar ditujukan kepada LHI.

3. Apa yang disampaikan oleh wakil ketua KPK mengenai LHI memiliki pengaruh meskipun tidak memiliki kewenangan jelas ini cacat hukum. Sebesar apapun pengaruh jika yang dipengaruhi tidak menyalahgunaan kewenangannya pasti tidak akan terjadi, karena yang disebut dalam UU TIPIKOR adalah penyalahgunaan kewenangan bukan penyalahgunaan pengaruh

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/02/27517/analisa-hukum-penetapan-tersangka-luthfi-hasan-ishaaq-oleh-kpk/#ixzz2JiY8kwFN
Readmore »»

Senin, 16 April 2012

1000 Pemuda Siap Sukseskan Hidayat-Didik untuk Pimpin Jakarta

Minggu, 15 April 2012'


JAKARTA, Lebih dari seribu pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Mahasiswa Peduli Ibukota (PMPI) berkumpul di Buperta Ragunan. Mereka berhimpun untuk menyatakan dukungan atas Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini memimpin Jakarta.

“Pemimpin yang punya visi, misi dan program yang jelas untuk Jakarta. Kami siap mendukung dan memenangkan Hidayat Didik untuk Gubernur dan Wagub Jakarta,” teriak Ketua PMPI, Aditia dalam orasi depan ribuan mahasiswa dalam Apel Siaga PMPI di Buperta Ragunan, Sabtu (14/4/2012).

Aditia mengatakan bahwa untuk Jakarta dibutuhkan pemimpin yang cerdas, bertanggung jawab serta memiliki track record yang tak diragukan lagi. Pemimpin yang dapat mengajak dan menggugah masyarakat untuk beresin jakarta secara bersama.

Para mahasiswa terus menyanyikan yel-yel dukungan terhadap Hidayat.

"Ku disini hanya untukmu, Ku bernyanyi tuk mendukungmu, Ku luangkan semua waktu dayat didik i love u. Maju terus ayo bang dayat, Pantang mundur ayo bang didik, Jangan ragu ayo dayat didik. Jadilah gubernur!" teriak gemuruh massa PMPI.

Sementara Hidayat Nurwahid, yang akrab disapa Bang Dayat, dalam orasinya kembali menegaskan keinginannya untuk menjadikan Jakarta lebih baik dari ibukota negara negara lain di ASEAN.

“Jakarta ibukota ASEAN, seharusnya Jakarta lebih baik dari semua ibukota di ASEAN. Namun kenyataannya (Jakarta) kalah dari Bangkok, Kuala Lumpur dan Singapura,” cetus Hidayat.

Bang Dayat mencontohkan Bangkok yang bisa keluar dari masalah banjir. Selain itu, Malaysia mampu menjadikan lubang-lubang bekas tambang timah menjadi tempat rekreasi. Seharusnya Jakarta juga bisa.

Berbicara dihadapan para mahasiswa yang penuh semangat, Hidayat mengatakan bahwa kehadiran kita adalah untuk membuat sejarah. Untuk jakarta yg lebih bermartabat. Kembali kepada jati dirinya, yakni kota yang dulu bernama Jayakarta. Kota yang mampu menghadapi penjajah. Hanya saja penjajahan saat ini bukanlah berupa penjajahan fisik melainkan tantangan lainnya.

“Masing masing kita berperan untuk mewujudkan sejarah di Jakarta,” tegasnya.


Jaga Stamina dan Kesehatan

Bang Dayat juga mengajak para peserta Apel Siaga untuk menjaga stamina dan kesehatan.

“Kerja keras kita jangka panjang. Butuh stamina jangka panjang. Jaga kesehatan,” nasehatnya.

Hidayat pada akhir orasinya mengingatkan bahwa kita bekerja untuk dakwah. Untuk mejadikan Jakartabaldatun toyibatun wa robbun ghofur.

"Saya bangga dengan kerja keras dan keteguhan hati. Semoga dicatat oleh Allah sebagai amal baik saudara. Ayo beresin jakarta..! Ayo Beresin Jakarta…!" teriaknya.
*http://www.pks.or.id/content/1000-pemuda-siap-sukseskan-hidayat-didik-untuk-pimpin-jakarta



___________ *posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia
Readmore »»

Selasa, 27 Maret 2012

PKS Memilih Bersama Rakyat Tolak Menaikkan Harga BBM


dakwatuna.com – Medan. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah memberikan berbagai pertimbangan dan opsi terkait harga bahan bakar minyak (BBM) kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai mitra koalisi yang baik. Akan tetapi apabila PKS harus memilih satu diantara dua, tidak mungkin PKS akan meninggalkan rakyat miskin yang telah membesarkan PKS. Jika opsi yang dipilih pada akahirnya akan menyengsarakan rakyat, maka PKS akan berdiri bersama rakyat.

Demikian pidato politik Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq pada acara pembukaan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PKS tahun 2012 di Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (27/3). Pidato tersebut menegaskan kembali sikap PKS mengenai rencana kenaikkan harga BBM yang akan diambil pemerintah.

PKS berusaha bersikap konsisten dalam mengawal seluruh kebijakan yang sudah disepakati bersama mitra koalisi sejak lebih dari 15 bulan yang lalu untuk tidak menaikkan harga BBM. Disepakati untuk mengemabangkan energi alternatif, mengembangkan infrastruktur bahan bakar gas, dan mencari beragam alternatif solusi tanpa menaikkan harga BBM.

“Kami sudah memberikan lebih dari lima opsi untuk menghindari kenaikkan harga BBM tanpa mengancam keselamatan APBN kita. Dan itu semua sudah disampaikan sejak 1,5 tahun yang lalu,” ujar Lutfhi.

Menurut Luthfi, PKS sudah melakukan berbagai simulasi (exercise) terhadap skenario APBN untuk menghindari kenaikkan harga BBM. Dan semua itu kami sajikan untuk bangsa ini dimana persoalan kenaikkan harga BBM akan menyangkut nasib 1/3 penduduk negeri ini.

“Kami yakin Presiden SBY yang berhati lembut dan santun tidak akan membiarkan rakyatnya menderita akibat kenaikkan harga BBM,” ujar Lutfhi.

Lebih lanjut Lutfhi mengatakan, jika pada akhirnya pemerintah, para menteri yang pro kenaikkan harga BBN itu bersikukuh menaikkan harga BBM, maka kami terpaksa akan berseberangan. Kami lebih memilih berdiri bersama penderitaan rakyat, merasakan jeritan hati rakyat yang makin menderita oleh berbagai himpitan kehidupan yang kian menyulitkan.

PKS, ujar Luthfi lagi, menyampaikan usulan alternatif yaitu pertama, besaran subsidi energi sebesar Rp 225 triliun pada APBN-Perubahan 2012. Adapun rincian subsidi tersebut untuk subsidi BBM, LPG, BBN (Rp 137,4 triliun) , listrik (Rp 65 triliun) dan alokasi cadangan risiko energi (Rp 23 triliun). Kedua, memberi ruang gerak pemerintah untuk membuat kebijakan terkait harga BBM dengan mencabut pasal 7 ayat 6 UU No. 22 tahun 2011 serta upaya penanggulangan dampaknya.

“Jika hal ini terealisasi, angka defisit APBN-P sebesar 2,23% tercapai seperti dalam usulan pemerintah,” ujar Luthfi.Akan halnya demonstrasi yang marak belakangan ini, Luthfi meminta agar semua pihak menahan diri untuk tidak terjebak dalam aksi-aksi yang kehilangan substansi. Luthfi meminta kader-kader PKS untuk tertib dan tidak turun ke jalan karena saat ini pembahasan intensif terus dilakukan. (ist)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19609/pks-memilih-bersama-rakyat-tolak-menaikkan-harga-bbm/#ixzz1qKfIJ38u
Readmore »»

Senin, 19 Maret 2012

1000-an Massa Pendukung Hidayat Padati KPUD DKI

Senin, 19 Maret 2012 21:44 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, KEBON SIRIH -- Sekitar 1000 Pendukung Hidayat Nur Wahid -Didik J Rachbini (HNW-DJR) memadati KPUD DKI di Kebon Sirih Jakarta. Massa yang kebanyakan beratribut PKS ini mulai memadati KPUD pada pukul 21.00 WIB. Massa yang berangkat dari kantor DPW PKS Jakarta di Jl Letjen Suprapto ini kebanyakan menggunakan sepeda motor. Menurut sumber Republika, saat ini HNW-DJR sendiri belum tampak di area KPUD DKI.

Sementara itu massa pendukung HNW-DJR ini juga bertemu dengan massa Foke-Nara yang juga memadati area KPUD DKI. mereka saling adu yel-yel menunjukkan dukungan masing-masing. Pendukung Foke-Nara terlihat membawa bendera Demokrat, PKB dan PDS, disamping ormas-ormas yang mendukungnya. Hingga berita ini diturunkan, Pasangan Foke-Nara baru saja tiba dan langsung melakukan pendaftaran di KPUD DKI.

HNW-DJR sendiri adalah pasangan yang diresmikan terakhir dari pasangan lainnya yang maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2012-2017. Sebelumnya PKS gagal berkoalisi dengan Foke dengan mengajukan Wakil Ketua DPRD DKI Triwisaksana (Bang Sani).
Redaktur: Hafidz Muftisany
Readmore »»

Senin, 23 Januari 2012

Pengamat Politik Jateng: Kader Perempuan PKS Militan


SEMARANG - Kader perempuan PKS mempunyai militansi yang kuat dalam penggalangan massa. Mereka dikenal ulet dan tangguh dalam mengenalkan misi dan program partai di masyarakat.

Hal tersebut disampaikan pengamat politik Jateng, Muh Yulianto ketika memaparkan riset Peluang dan Tantangan PKS dalam Menghadapi Pemilu 2014 dalam rangkaian kegiatan Pra Muskerwil DPW PKS Jateng, Minggu (22/1).

"Untuk itu, kader perempuan PKS dapat diusulkan untuk menjadi tim sukses di lapangan," tegas Yulianto.

Hal ini sejalan dengan program yang dipaparkan oleh Ketua Bidang Perempuan DPW PKS Jateng, dr. Marijati bahwa setiap kader diharapkan mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar. Untuk itu, setiap kader perempuan di PKS harus mampu melakukan pendekatan pada minimal 10 tetangga yang ada di sekitarnya dyang selaras dengan program Khusnul Jiwar (Berbuat baik pada tetangga).

Selain itu, program terkait yang digarap oleh Deputy Ketahanan Keluarga adalah pemberian bibit sayuran dan benih ikan untuk dapat dikembangkan dirumahnya sendiri. "Dengan adanya hal tersebut, diharapkan membantu ekonomi keluarga yaitu tidak mengeluarkan dana untuk membeli lauk pauk, sehingga setiap keluarga hanya tinggal menyiapkan beras saja," ujar Marijati.

Kegiatan Pra Muskerwil digelar PKS Jateng selama dua hari penuh untuk membahas program kerja tahun 2012. Fokus program tahun ini PKS mencanangkan sebagai tahun mobilisasi bagi pemenangan Pemilu 2014 mendatang.
http://www.pk-sejahtera.org/content/pengamat-politik-jateng-kader-perempuan-pks-militan
Readmore »»

Sabtu, 24 Desember 2011

Saksi PKS Bacakan Surat dan Alasan Pemecatan Yusuf Supendi


jalanpanjang.web.id - Sidang lanjutan perkara gugatan Yusuf Supendi (YS) kepada pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (13/12) mendengarkan keterangan dua orang saksi dari PKS. Saksi pertama adalah Muhammad Syauqi, Sekretaris Dewan Syariah Pusat (DSP) periode 2004-2006, dan Iman Nugraha, Sekretaris Badan Penegak Disiplin Organisasi (BPDO).

Di hadapan majelis hakim yang diketuai oleh Subiantoro, Syauqi membacakan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPS) PKS tentang pemberhentian YS dari keanggotaan PKS. Menurut Syauqi, dalam surat bertanggal 29 Oktober 2009 yang ditandatangani oleh Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dan Anis Matta selaku Sekretaris Jenderal PKS, alasan pemberhentian YS ada tiga. Pertama, sebagai anggota partai YS telah melakukan pelanggaran di bidang keuangan, yakni mengabaikan kewajiban kepada partai sebagaimana diatur dalam Peraturan Partai tentang Keuangan Nomor 005/D/SKEP/DPP-PKS/1427 tentang infaq wajib anggota Dewan, Pejabat Tinggi, dan pejabat lainnya yang berasal dari PKS.

Kedua, YS tidak melakukan pemeliharaan citra partai dan pimpinan partai sebagaimana mestinya sebagai anggota partai. Dan ketiga, yang bersangkutan tidak mengindahkan surat teguran yang dikeluarkan oleh BPDO. BPDO sendiri sudah mengeluarkan dua kali surat peringatan untuk YS masing-masing No. 01/D/PRT/BPDO-PKS/1428 tertanggal 07 Juni 2007 dan No. 03/D/PRT/BPDO-PKS/1429 tertanggal 27 Oktober 2008.

Pengacara PKS Zainuddin Paru menyatakan, keterangan saksi Syauqi menjawab persoalan yang selama ini ditanyakan oleh pihak penggugat bahwa pemecatan YS tidak ada suratnya.

Dalam kesempatan tersebut Syauqi juga menjelaskan mengenai proses pemberhentian YS. Proses dimulai ketika Majelis Syuro PKS mengeluarkan surat No. 01/MS-VII/1426 tertanggal 26 Mei 2005. Pertimbangan Majelis Syuro PKS mengeluarkan surat tersebut adalah yang bersangkutan terbukti melakukan pelanggaran syar’i dan amanah maaliyah (amanah pengelolaan keuangan). Atas dasar pertimbangan itu Majelis Syuro kemudian memutuskan; pertama, mewajibkan YS mengembalikan dana aitam (anak yatim) selambat-lambatnya tanggal 30 Juni 2005. Kedua, mengembalikan segala tanggungan maaliyah (keuangan) selambat-lambatnya tanggal 26 Agustus 2005.

Ketiga, memerintahkan kepada YS untuk menunaikan infaq wajib anggota dewan sebagaimana SK DPP No. 24/SKEP/DPP-PKS/IV/1425. Keempat membayar denda sebesar Rp. 3.000.000 kepada Dewan Syariah Pusat selambat-lambatnya tanggal 26 Agustus 2005.

Kelima, menjatuhkan skorsing kepada Yusuf Supendi dari kegiatan partai selama tiga bulan. Dan selama masa skorsing yang bersangkutan wajib meminta nasehat kepada Ketua DSP periode 2005-2010.

Saksi kedua adalah Iman Nugraha, sekretaris BPDO. Selain menjelaskan soal proses pemberhentian YS, Iman juga memaparkan fitnah-fitnah yang disebarkan oleh YS, baik melalui buku putih maupun pesan singkat melalui ponsel (sms). Di antaranya, Iman mengungkapkan ihwal pernyataan YS yang menyebutkan Ketua Majelis Syuro PKS menyimpang dari putusan Majelis Syuro yang merekomendasikan dukungan kepada pasangan Amin Rais dan Siswono Yudohusodo pada Pilpres 2004. “Tidak ada rekomendasi lain dari Majelis Syuro selain dukungan pada Amin Rais dan Siswono,” kata Iman.

Fitnah lainnya adalah terkait apa yang disebut oleh YS sebagai ancaman kepada dirinya dari Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Menurut Iman, kalau dibaca lengkap isi sms pimpinan PKS adalah sebuah nasehat. Namun yang disebarkan YS isinya dipenggal sehingga maknanya berbeda.

Iman pun membacakan transkrip sms dimaksud. “Selama ini ikhwah yg marah pd antum dan ingin merespon secara fisik dan hukum selalu kami tahan, ihtiromanli fadllikum ‘alaina …. Sekarang sulit menahannya karena antum sdh melangkah terlalu jauh!! Kalau boleh ana kasih saran, baiknya antum mulai mengosongkan rumah…khawatir ada yg tdk dapat menahan diri”

Namun yang disebarluaskan, lanjut Iman, hanya bagian akhirnya saja, ‘…kalau boleh ana kasih saran, baiknya antum mulai mengosongkan rumah …khawatir ada yg tdk dapat menahan diri’, sehingga maknanya berbeda. (pk-sejahtera.org)
Readmore »»

Rabu, 16 November 2011

Ini Komposisi Baru Anggota F-PKS di Seluruh Alat Kelengkapan DPR


Senayan - Rotasi yang dilakukan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) tak hanya terjadi di level pimpinan komisi. Sejumlah anggota komisi dan alat kelengkapan DPR lainnya juga digeser. Hal itu juga berlaku bagi anggota F-PKS yang dilantik pada 19 Oktober 2011 yakni Mardani (pengganti Arifinto), Indra (pengganti Yoyoh Yusroh), dan M Firdaus (pengganti Mukhamad Misbakhun).

Sebelumnya, Mardani ditempatkan di Komisi V. Bahkan, saat reses lalu dia mengikuti kunker Komisi V ke Sumatera Barat. Kini, Mardani ditempatkan di Komisi VII. Sementara, Indra yang sebelumnya ada di Komisi I, kini ditempatkan di Komisi III, menggantikan Fahri Hamzah yang digeser ke Komisi VI. Sedangkan M Firdaus yang sebelumnya di Komisi X, kini ditempatkan di Komisi XI.

Berikut komposisi baru anggota F-PKS di seluruh alat kelengkapan DPR, seperti yang disampaikan humas F-PKS DPR RI dalam rilis yang diterima Jurnalparlemen.com, Selasa (15/11).

KOMISI I:
1. Al Muzammil Yusuf (Kapoksi)
2. Muhammad Hidayat Nurwahid
3. Luthfi Hasan Ishaq
4. M. Syahfan Badri Sampurno (Banggar)
5. Mahfudz Abdurrahman
6. Mahfudz Siddiq (Ketua Komisi)

KOMISI II:
1. Gamari Sutrisno
2. Agus Poernomo (Kapoksi)
3. Yan Herizal
4. Aus Hidayat Nur
5. Rahman Amin

KOMISI III:
1. M Nasir Djamil (Waka Komisi)
2. Indra
3. Bukhori Yusuf
4. Aboe Bakar (Kapoksi)
5. Adang Daradjatun

KOMISI IV:
1. Nabiel Fuad Al Musawwa
2. Ma'mur Hasanuddin
3. Memed Sosiawan (Banggar)
4. Rofi' Munawar (Kapoksi)
5. Hermanto

KOMISI V:
1. Sigit Sosiantomo
2. Iskan Qalba Lubis
3. Akbar Zulfakar (Kapoksi)
4. Yudi Widiana Adia (Banggar)
5. Chairul Anwar

KOMISI VI:
1. M. Sohibul Iman (Kapoksi)
2. Ecky Awal Mucharam (Banggar)
3. Abdul Aziz Suseno
4. Fahri Hamzah
5. Refrizal

KOMISI VII:
1. M. Idris Luthfi (Kapoksi)
2. Mardani Ali Sera
3. Sugihono
4. Mustafa Kamal
5. Ahmad Rilyadi (Banggar)

KOMISI VIII:
1. Surahman Hidayat (Waka Komisi)
2. Abdul Hakim
3. Ledia Hanifa A. (Kapoksi)
4. Jazuli Juwaini (Banggar)
5. Nur Hasan Zaidi

KOMISI IX:
1. Herlini Amran
2. Ansory Siregar (Kapoksi)
3. Zuber Safawi
4. Martri Agoeng (Banggar)
5. Arief Minardi

KOMISI X:
1. Raihan Iskandar (Kapoksi)
2. Ahmad Zainuddin
3. TB. Soenmandjaja SD
4. Tamsil Linrung (Banggar)
5. Rohmani

KOMISI XI:
1. Kemal Azis Stamboel (Kapoksi)
2. M. Firdaus
3. Tossy Aryanto
4. Andi Rahmat (Banggar)
5. Zulkieflimansyah (Wakil Ketua Komisi)

Badan Musyawarah (Bamus):
1. Mustafa Kamal
2. Abdul Hakim
3. M. Shohibul Iman
4. Al Muzzammil Yusuf
5. Ecky Awal Mucharam
6. Ledia Hanifa

Badan Legislasi (Baleg):
1. TB. Soenmandjaja
2. Agus Poernomo
3. Aus Hidayat Nur
4. Mardani Ali Sera
5. Abdul Hakim

Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP):
1. Ma’mur Hasanuddin
2. Muhammad Hidayat Nur Wahid (Ketua BKSAP)
3. Al Muzammil Yusuf
4. Luthfi Hasan Ishaaq
5. Bukhori Yusuf

Badan Anggaran (Banggar):
1. M.Syahfan Badri S.
2. Memed Sosiawan
3. Yudi Widiana Adia
4. Ecky Awal M.
5. Ahmad Rilyadi
6. Jazuli Juwaini
7. Martri Agoeng
8. Tamsil Linrung (Waka Banggar)
9. Andi Rahmat

Badan Urusan Rumah Tangga (BURT):
1. Rohmani
2. Refrizal (Waka BURT)
3. Hermanto
4. Nabiel Al Musawa
5. Ledia Hanifa

Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN):
M Sohibul Iman

Badan Kehormatan (BK):
Fahri Hamzah


(sumber: http://www.jurnalparlemen.com/news/2011/11/ini-komposisi-baru-anggota-f-pks-di-seluruh-alat-kelengkapan-dpr#.TsIlzUskpHY.twitter)
Readmore »»

Rabu, 27 Juli 2011

Surat Terbuka Dr.Arief Munandar terhadap Eramuslim


7/28/2011 10:17:00 AM | Posted by islamedia
Islamedia - Pemotongan kalimat-kalimat yang dilakukan oleh redaksi eramuslim.com terhadap Disertasi Dr.Arief Munandar dengan tanpa izin mulai mendapatkan respon. Respon keberatan yang di lakukan oleh penulis langsung dengan mengirimkan surat terbuka.

Dr. Arief menegaskan pula bahwa : "apa yang disajikan oleh Eramuslim pada tanggal 5 Juli 2011 di bawah judul-judul, “Arif Munandar: Faksionalisasi dalam PKS”, “Disertasi PKS Kembali ke Asholah”, “PKS Berubah menjadi Partai Pengejar Jabatan Publik”, dan “Ada Problem di dalam Tubuh PKS” sepenuhnya adalah persepsi redaksi Eramuslim terhadap Disertasi saya, dan bukan Disertasi itu sendiri".

Berikut versi lengkap surat Dr. Arief Munandar atas Eramuslim

Depok, 26 Juli 2011

Kepada Yth.
Redaksi www.eramuslim.com
di Jakarta

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas diri Rasulullah SAW.

Melalui surat ini saya menyampaikan pernyataan keberatan atas pemuatan potongan-potongan Disertasi untuk memperoleh gelar Doktor di bidang Sosiologi yang saya pertahankan dalam Sidang Akademik Terbuka Universitas Indonesia pada tanggal 5 Juli 2011 yang lalu di www.eramuslim.com. Sejauh yang saya ingat, setelah sidang berlangsung saya diwawancarai oleh seorang wartawan eramuslim, namun saya tidak pernah dimintai ijin, maupun konfirmasi, untuk memuat Disertasi saya di Eramuslim. Beberapa hari kemudian saya memang dihubungi via SMS oleh Bapak Mashadi (Pemred Eramuslim) untuk meminta soft-copy ringkasan Disertasi saya untuk Eramuslim. Dan saya merespon dengan menanyakan alamat email untuk mengirimkan soft-copy tersebut. Namun sampai saat ini saya belum pernah mengrimkan soft-copy yang dimaksud karena saya berniat untuk melakukan konfirmasi terlebih dahulu tentang tujuan dan teknis pemuatannya. Namun hal tersebut tertunda, dan belum saya lakukan hingga saat ini, karena saya mendapatkan kabar bahwa beliau mengalami kecelakaan lalu lintas dan dirawat di Rumah Sakit. Yang lebih fatal lagi, sesungguhnya hingga saat ini pihak Eramuslim belum memiliki versi lengkap dari Disertasi saya. Dengan demikian, besar kemungkinan bahan-bahan tersebut diambil dari Ringkasan Disertasi saya yang dibagikan pada saat Sidang Akademik.

Surat pernyataan keberatan ini terhitung terlambat saya sampaikan karena saya bukan pembaca setia Eramuslim. Saya hanya sempat membaca selintas wawancara saya. Itu tidak saya persoalkan, karena memang yang dimuat adalah jawaban-jawaban saya atas pertanyaan wartawan Eramuslim. Walaupun sesungguhnya saya keberatan dengan judul wawancara tersebut, “Arif Munandar: PKS Bingung dengan Identitasnya Sendiri”, karena tanpa penjelasan yang memadai judul itu sangat mungkin dipersepsikan negatif oleh pembaca. Namun kembali, yang lebih serius bagi saya adalah pemuatan potongan-potongan Disertasi saya di bawah beberapa judul, seperti “Arif Munandar: Faksionalisasi dalam PKS”, “Disertasi PKS Kembali ke Asholah”, “PKS Berubah menjadi Partai Pengejar Jabatan Publik”, dan “Ada Problem di dalam Tubuh PKS”. Saya baru mengetahui hal itu malam hari tanggal 26 Juli 2011 ketika ada seorang teman menelpon dan mengatakan bahwa yang ada di Eramuslim bukan hanya wawancara, namun juga potongan-potongan Disertasi saya.

Sebagaimana kita pahami bersama bahwa Disertasi adalah karya akademik yang tidak dipublikasikan. Hak pemublikasiannya sepenuhnya berada di tangan penulis. Sejauh ini saya hanya memberikan ijin tertulis pemublikasian Disertasi saya kepada Universitas Indonesia, sebagaimana layaknya karya akhir yang ditulis oleh mahasiswa UI. Sementara itu, “produk turunan” Disertasi saya, seperti Ringkasan Disertasi, baik berupa buku yang dibagikan kepada audiens Sidang Akademik Promosi Doktor saya, maupun berupa orasi ilmiah yang saya sampaikan pada sidang tersebut adalah naskah akademik yang diperuntukkan bagi forum akademik dimaksud. Dengan demikian, saya berkeyakinan bahwa Eramuslim tidak selayaknya mempublikasikan bagian-bagian dari Disertasi maupun Ringkasan Disertasi saya tanpa seizin saya sebagai penulis.

Lebih lanjut, pemahaman pembaca terhadap karya akademik seperti Disertasi hanya akan diperoleh ketika permasalahan dan pertanyaan penelitian, kerangka teoretik, data temuan, analisis, implikasi teoretik, kesimpulan, dan rekomendasi tersaji secara utuh. Sebaliknya, penyajian sebagian-sebagian, apalagi ditempatkan dalam kerangka tertentu dan disandingkan dengan opini wartawan/redaksi Eramuslim, akan mengundang persepsi dan pemahaman yang salah, menyimpang dari tujuan penelitian Disertasi saya, dan membawa dampak yang merugikan saya sebagai peneliti. Sebagai contoh, judul “PKS Berubah menjadi Partai Pengejar Jabatan Publik” sangat tendensius, dan saya sangat memahami jika hal tersebut menyinggung sebagian kader PKS. Padahal sesungguhnya dalam Disertasi saya hal tersebut adalah bagian kecil di mana saya sedang berupaya menempatkan PKS dalam tipologi partai politik berdasarkan orientasinya, yaitu the policy seeking party, the vote seeking party, dan the office seeking party (Wolinetz, 2002). Dengan kata lain, saya sedang mengkontekstualisasikan teori Wolinetz tersebut untuk membaca dinamika PK/PKS dari Pemilu 1999 ke 2004 dan 2009.

Oleh karenanya, melalui surat ini saya ingin menegaskan kepada para pembaca Eramuslim bahwa apa yang disajikan oleh Eramuslim pada tanggal 5 Juli 2011 di bawah judul-judul, “Arif Munandar: Faksionalisasi dalam PKS”, “Disertasi PKS Kembali ke Asholah”, “PKS Berubah menjadi Partai Pengejar Jabatan Publik”, dan “Ada Problem di dalam Tubuh PKS” sepenuhnya adalah persepsi redaksi Eramuslim terhadap Disertasi saya, dan bukan Disertasi itu sendiri. Di samping itu, saya meminta Eramuslim menghapus artikel-artikel tersebut dari arsip yang terdapat di website www.eramuslim.com. Selain itu, saya juga menyampaikan permohonan maaf kepada institusi PKS dan para kader PKS yang terganggu oleh artikel-artikel tersebut.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Atas perhatian redaksi dan pembaca Eramuslim, saya ucapkan terimakasih.

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Dr. Arief Munandar, ME.
Readmore »»

Minggu, 05 Juni 2011

Ta'limat Kaderisasi DPP PKS: SYIAR BULAN RAJAB 1432 H


Minggu, 05 Juni 2011
Diposkan olehadmindi07:19

SYIAR BULAN RAJAB 1432 H


(OPTIMALISASI AYYAMUL BIDH DAN PERINGATAN ISRA’ MI’RAJ)

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami di bulan Ramadhan”

Permohonan kepada Allah untuk diberkahi di bulan Rajab dan Sya’ban serta dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan adalah salah satu doa orang shalih. Doa orang yang menangkap setiap kesempatan adalah peluang kebaikan. Dengan ini Bidang Kaderisasi DPP mengingatkan kepada seluruh kader dan simpatisan untuk memanfaatkan momentum tiga bulan ini (Rajab-Sya’ban-Ramadhan) sebagai kesempatan terbaik dalam memperluas geografis dan demografis dakwah serta meningkatkan kualitas hubungan ubudiyah kepada Allah SWT, dengan melakukan kegiatan sebagai berikut:

1. Pembuatan dan pemasangan spanduk syi’ar bulan Rajab sekaligus penyambutan bulan Ramadhan di tempat-tempat strategis yang terlihat publik oleh seluruh level struktur (DPP, DPW, DPD, DPC, DPRa)

2. Memperbanyak puasa sunnah pada bulan Rajab, dan separuh pertama bulan Sya’ban. Terutama pada ayyamul bidh (rabu-kamis-jum’at/15-16-17 Juni 2011)

3. Meningkatkan amal yaumiyah (shalat berjamaah, tilawah, dzikir pagi dan sore/wazhifah kubra, shalat rawatib, qiyamullail, witir, dan dhuha)

4. Berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ma’ruf dan berguna

5. Memperbanyak silaturrahim dengan sanak kerabat, teman, dan tetangga

6. Mempersiapkan diri secara fisik dan finansial untuk menerima tugas-tugas dakwah, sebagai kesempatan untuk beramal shalih dan meraih berkah

Demikian syiar ini kami sampaikan, agar menjadi perhatian seluruh kader maupun simpatisan. Mohon Bidang Kaderisasi di semua level struktur, para nuqaba, serta murabbi untuk mensupport dan memutaba’ah kegiatan ini. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami haturkan jazakumullah khairan jaza wabarakallahu fiikum.

*)Sumber: email kaderisasi dpp pks

*posted: pkspiyungan.blogspot.com
Readmore »»

Rabu, 01 Juni 2011

PKS, Pancasila, dan Maqasid Syariah


6/01/2011 07:10:00 PM | Posted by islamedia

Islamedia - Pada Munas II di Jakarta tahun 2010 lalu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sebagai satu-satunya partai yang secara eksplisit menjadikan Tauhid sebagai falsafah organisasi, resmi memproklamirkan finalisasi Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila, merupakan dasar negara yang difungsikan sebagai sumber dasar hukum negara dan sumber tertib tata hukum dan urutan perundang-undangan Indonesia yang ditegaskan dalam TAP MPR II/MPR/2000.

Hal ini tentu tak lepas dari pro dan kontra yang terjadi di kalangan kader dan simpatisan ataupun masyarakat umum, karena saat itu banyak yang menilai PKS telah berubah ‘warna’nya atas keputusan ini. Ada pihak yang menilai PKS telah ‘berbalik arah’ karena ketika masa orde baru kalangan aktivis tarbiyah, sebagai under-bow PKS, sangat ‘mengharamkan’ Pancasila. Hal ini dikarenakan Pancasila dianggap sebagai thaghut (setiap sesuatu yang melampui batasannya, baik yang disembah (selain Allah SWT), atau diikuti atau ditaati (jika dia ridha diperlakukan demikian)), dan ketika PKS telah masuk ke dalam tubuh pemerintahan, anggota PKS yang notabene adalah kalangan tarbiyah pada akhirnya telah menyetujui thaghut Pancasila.

Hal ini telah dijawab oleh ketua Majelis Syuro PKS, Ust Hilmi Aminuddin, bahwa yang ditolak di zaman orde baru itu yakni masalah tafsir tunggal soal Pancasila, karena pada saat itu Pancasila didominasi suatu kelompok untuk menafsirkan secara nasional. Diharapkan tanpa adanya tafsiran tunggal, orang Islam dapat menafsirkan Pancasila menurut versi Islam. Orang Kristen, Hindu, Katolik sesuai tafsirnya sendiri-sendiri, biarkan PKS menafsirkan sendiri.

Senada dengan jawaban ketua Majelis Syuro PKS, keputusan PKS untuk mengakui sebagai Pancasila juga sesuai dengan salah satu cabang ilmu syariah dalam Islam, yaitu Maqasid Syariah.

Pancasila dari perspektif Maqasid Syariah (Tujuan Syariah)

Secara terminologi, menurut Imam as-Syatibi, Maqasid Syariah merupakan tujuan hukum yang diturunkan Allah SWT, atau penjabarannya adalah tujuan yang ingin dicapai dalam hukum Islam yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Untuk dapat mengetahui tujuan hukum tersebut dapat ditelusuri lewat teks-teks al-Qur’an dan as-sunnah sebagai alasan logis bagi rumusan suatu hukum yang berorientasi pada kemaslahatan umat manusia.

Maqasid Syariah ini, juga merupakan metode yang dikembangkan untuk mencapai dari dilaksanakannya syari’ah yaitu kemaslahatan umat manusia, bagi Imam as-Syatibi kemaslahatan yang hendak diwujudkan itu terbagi kepada tiga tingkatan,yaitu kebutuhan daruriyyah, kebutuhan hajiyyah dan kebutuhan tahsiniyyah.

Kebutuhan Daruriyyah adalah tingkatan kebutuhan yang harus ada atau disebut sebagai kebutuhan primer. Bila dalam tingkatan kebutuhan ini tidak terpenuhi maka akan terancam kemaslahatan seluruh umat manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Menurut Imam as-Syatibi, ada lima hal yang termasuk dalam kategori ini, yaitu; memelihara agama (hifd al-din), memelihara jiwa (hifd al-nafs), memelihara akal (hifd al-aql), memelihara keturunan (hifd al-nasl), dan yang terakhir adalah memelihara harta benda (hifd al-mal).

Dalam Pancasila, termaktub sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dari perspektif Maqasid Syariah jelas sila pertama dalam Pancasila merupakan sila yang mendukung seluruh warga negara khususnya Ummat Islam dalam memeluk agama Islam, yaitu memelihara agama (hifd al-din). Bahkan, dapat ditafsirkan sila pertama dalam Pancasila merupakan sila yang sesuai dengan nilai Ketauhidan dalam Islam, karena Maha Esa adalah Maha Tunggal (Ahad) yang berarti hanya dapat ditujukan kepada Allah.

Sedangkan dalam sila kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab), ketiga (Persatuan Indonesia), keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan,Dalam Permusyawaratan Perwakilan) dapat merangkum atas kebutuhan jiwa (hifd al-nafs), akal (hifd al-aql), dan keturunan (hifd al-nasl), kemudian memelihara harta benda (hifd al-mal) dapat tercapai dari sila kelima (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia).

Kebutuhan Hajiyyah adalah ialah kebutuhan sekunder, dimana dalam tingkatan ini bila kebutuhan tersebut tidak dapat diwujudkan tidak sampai mengancam keselamatannya, namun akan mengalami hambatan dan kesulitan. Misalnya untuk melaksanakan ibadah shalat sebagai tujuan primer maka dibutuhkan berbagai fasilitas misalnya masjid, tanpa adanya masjid tujuan untuk memelihara agama (hifd al-din) tidaklah gagal atau rusak secara total tetapi akan mengalami berbagai kesulitan. Dari sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, maka pemerintah wajib mengusahakan dan membuat kebijakan untuk pembangunan rumah-rumah ibadah.

Kebutuhan Takhsiniyyah, ialah tingkatan kebutuhan yang apabila tidak dipenuhi tidak akan mengancam eksistensi salah satu dari lima hal pokok tadi dan tidak menimbulkan kesulitan. Tingkatan kebutuhan ini berupa kebutuhan pelengkap atau tertier.Menurut Imam as-Syatibi pada tingkatan ini yang menjadi ukuran adalah hal-hal yang merupakan kepatutan menurut adat istiadat. Sebagai contoh dalam tingkatan kebutuhan ini adalah apakah masjid yang dibutuhkan dalam rangka mewujudkan kebutuhan daruriyyah yakni memelihara agama melalui ibadah shalat, dalam bentuk arsitekturnya baik dalam design eksterior atau interior itu akan diperindah sesuai dengan taraf perkembagan kebudayaan lokal.

Dalam hal ini, jelaslah bahwa dengan prinsip Maqasid Syariah, bagaimana nilai-nilai yang terkandung (substansi) dari Pancasila sejalan dengan syariat islam dengan mengutamakan azas kemaslahatan yang merangkul seluruh warga negara.

Konsep Musyarakah (Partisipasi Politik) dalam Bernegara

Dalam Platform Pembangunan PKS, Partai ini mempunyai visi yang jelas dalam Mewujudkan masyarakat madani yang adil, sejahtera, dan bermartabat yaitu dengan menerjemahkan dan melaksanakan nilai-nilai Islam dalam kebijakan publik yang ada dalam rangka Islamisasi kehidupan dan menegakkan nilai-nilai Islam.

Inilah yang kita kenal dengan Musyarakah (partisipasi politik) dengan mengikuti koridor Hukum dan tata negara yang berlaku di Republik Negara Indonesia, yaitu dengan menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kenegeraan di negara yang mayoritas warga negaranya menganut agama islam baik dalam mimbar parlemen maupun pemerintahan

Sejalan dengan hal ini, Bung Hatta, proklamator Indonesia. Dalam pandangannya, beliau lebih mengedepankan isi atau substansi daripada format atau bentuk. Jadi tak perlu digemborkan judul ‘Negara Islam’ yang lebih terpenting adalah substansi kenegaraan sudah sesuai dengan syariat islam.

Visi PKS, jelas diwujudkan tanpa ‘melabrak’ konstitusi yang berlaku di NKRI, karena seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, konstitusi dasar NKRI yaitu Pancasila sudah sesuai dengan nilai syariah Islam (Maqasid Syariah). Sesuai dengan apa yang diutarakan oleh Ustd Hilmi Aminuddin, jelaslah bahwa posisi Pancasila sebagai common platform atau rujukan bersama dalam lingkup kebangsaan di Indonesia yang memiliki berbagai macam suku, agama, golongan dan ras, sesuai dengan Maqasid Syariah sebagai salah satu cabang dalam ilmu Syariah islam.

Jikalau PKS dengan serta merta menolak Pancasila sebagai dasar negara RI yang sudah lahir sejak hampir 66 tahun yang lalu, dapat dipastikan gelombang perlawanan yang sangat kencang akan lahir dari segala penjuru negeri. Bahkan bukan tidak mustahil, dengan kekuatan yang ‘belum memadai’ bagi PKS, penolakan terhadap Pancasila hanya akan membuahkan ‘kehancuran’ dalam partisipasi politik di RI.

Anjuran untuk Ummat Islam di Indonesia

Dengan berbagai pertimbangan yang ada, pertimbangan Maqasid Syariah, sudah jelas bagi kita untuk meninggalkan pro – kontra atas sikap terhadap Pancasila. Mari kita berlomba - berlomba – lomba dalam kebaikan (Fastabiqul Khairat) dengan bekerja sebaik mungkin dengan kapabiltas yang kita punya demi terwujudnya bangsa Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur.

Dalam menyikapi perbedaan kelompok – kelompok atau partai Islam yang ada di Indonesia, wajiblah bagi kita selaku ummat Islam mengedepankan persatuan Ummat, bukan memecah belah. Jika kita sejalan dengan prinsip ‘Musyarakah-nya PKS’ yang mendukung Panc maka dukunglah, dengan tenaga, pikiran, baik moril ataupun materil. Jika kita tidak setuju dengan cara (metode) ini, maka cukuplah bagi kita berlapang dada atas perbedaan yang ada.

Wassalam

Aji Teguh Prihatno

Daftar Pustaka

Isa anshori (2009). Maqasid Syariah Sebagai Landasan Global. Surabaya : Universitas Muhammadiyah Surabaya.
MPP PKS. Platform Pembangunan PKS. (2008)


Anwar Abbas. Bung Hatta dan Ekonomi Islam. (2010)


Link Referensi


http://pk-sejahtera.org/tentang/Falsafah-Dasar-PKS.pdf
http://www.eramuslim.com/suara-langit/penetrasi-ideologi/mengapa-tidak-mau-ingkar-kepada-thaghut.htm
http://pkskotamalang.org/ustadz-hilmi-aminuddin-sebuah-penjelasan-lengkap.html
http://www.pks-bekasi.com/edisi01/index.php/component/user/index.php?option=com_content&view=article&id=341:musyarakah-&catid=34:taujih&Itemid=104
http://islampeace.clubdiscussion.net/ushul-fiqih-f1/diskursus-maqashid-al-syariah-dalam-perspektif-ibnu-taimiya-t22.html
http://eprints.undip.ac.id/5886/1/retno.pdf
Readmore »»

Selasa, 31 Mei 2011

PKS: Anti NKRI dan Pancasila?


5/31/2011 08:16:00 PM | Posted by islamedia
Islamedia - Apa yang Anda simpulkan jika ada orang bercirikan berikut ini? Dia seorang ustadz; lulusan pesantren; pernah kuliah di Timur Tengah; kerap berceramah agama; berjenggot; istrinya berjilbab lebar. Dan terakhir: memiliki nama Islami.

Kita menyebutnya anti Pancasila; tidak nasionalis; anti NKRI; anti kebhinekaan. Itulah yang dialami oleh umat Islam selama ini. Dan salah satu korbannya, seingat saya ialah Ustadz Hidayat Nur Wahid. Saat public ramai membicarakan nama beliau sebagai kandidat cawapres mendampingi SBY, banyak fitnah meghampirinya. Fitnah itu disebar melalui SMS ke berbagai pihak, termasuk menyebar di kalangan wartawan. Bunyi fitnah itu adalah agar SBY tidak memilih HNW sebagai cawapres karena dirinya adalah tokoh Wahabi dan Anti NKRI. Menurut Ustadz Hidayat, , fitnah seperti ini bukan sekali ini saja dihembuskan, tapi sering terjadi dalam setiap pemilihan kepala daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Bahkan, jika kita masih ingat, saat ingin kembali maju sebagai ketua MPR periode 2009-2014, isu tak sedap tersebut juga kembali berhembus. “Kita harus memilih ketua MPR yang bisa menyelamatkan NKRI,” kata salah seorang calon.

Hingga akhirnya, PKS pun mengurungkan niat mencalonkan Ustadz Hidayat sebagai ketua MPR. Sesaat setelah ketua MPR terpilih, Tifatul Sembiring yang saat itu masih sebagai presiden PKS, menegaskan bahwa paket HNW yang dirancang sejak awal tetap dalam komitmen NKRI.


"Tidak benar Pak Hidayat itu ancaman terhadap NKRI. Justru di masa kepemimpinan beliau lah sosialisasi UUD intensif disampaikan," kata Tifatul membantah opini yang berkembang seolah HNW dan PKS anti NKRI.
Selama ini memang masih saja ada pihak yang coba membenturkan antara Islam dan Pancasila. PKS, yang kental dengan warna Islam, menjadi korban dari propaganda tersebut. Isu terorisme adalah salah satu pintu masuk bagi mereka untuk terus mengkampanyekan ini. Tapi, sebuah fakta sangat menarik saya peroleh di Bangka Barat. Disana, secara otentik saya melihat seorang ustadz yang tak sesuai dengan propaganda busuk di atas. Bukan Ustadz anti NKRI, tapi Pancasilais sekaligus nasionalis. Ustadz tersebut ialah Zuhri Muhammad Syazali, Lc, MA, kader PKS, yang sekarang menjadi bupati Bangka Barat.

Selama 3 hari saya menemani beliau berkunjung ke berbagai pelosok. Salah satu yang paling berkesan adalah saat kami mengunjungi komunitas Cina di Jebus. Untuk sampai disana, kami harus menyusuri hutan karet dan sawit. Hampir dua jam kami menempuh perjalanan. Sebagian besar warga Cina disana belum menikmati listrik. Selama ini, mereka mengandalkan diesel atau genset agar gelap tak menyelimuti mereka di malam hari.

Sambutan hangat mereka berikan ketika kami tiba, tepat pukul 20.30 WIB. Ramah tamah segera digelar. Ustadz Zuhri mendengar begitu banyak keluhan. “Belum ada pejabat yang datang kesini selain ustadz,” kata mereka. Antusiasme mereka begitu kentara. Keakraban tampak nyata diantara ustadz Zuhri dan mereka, ditingkahi kepulan asap rokok yang membubung di sekitar ruangan. Mereka pun tampil seadanya, tak dibuat-buat. Ada yang bercelana pajang, berkaos oblong, bahkan ada yang hanya bercelana pendek.

Di antara mereka ada yang bertato di tangannya dan memakai kalung di lehernya. Tapi sama sekali tak ada kecanggungan. Mereka begitu dekat, tak terpisahkan sekat ideologi dan status.

Mereka tak ragu berkeluh kesah kepada Ustadz Zuhri karena telah lama mendengar kepribadian sang ustadz. Masyarakat Bangka Barat mengenal ustadz Zuhri sebaga sosok yang sederhana, jujur, merakyat dan peduli kepada semua lapisan masyarakat. Tak pilih kasih dalam memberikan perhatian dan bantuan. Sosok yang mau merangkul semua etnis kelompok dan agama. “Kami percaya Ustadz,” kata mereka.

Berbeda dengan gambaran media massa bahwa ustadz itu antipluralitas, “radikal”, “fundamentalis”; ternyata saya sama sekali tak menemukan itu semua pada sosok Ustadz Zuhri. Dan saya ulang sekali lagi, sesungguhnya teramat banyak pribadi semacam ustadz Zuhri di negeri ini. Ustadz yang toleran, merangkul semua kelompok, ramah, lemah lembut, jujur dan merakyat. Bukan seperti opini yang coba dibentuk oleh media massa bahwa ustadz itu anti NKRI, anti Pancasila, , antipluralitas, dan sebagainya.

Selama ini, mohon maaf, seolah tokoh Islam yang pluralis, nasionalis, demokratis dan Pancasilais hanya dimiliki almarhum Gus Dur. Hingga Presiden SBY pun harus menggelarinya Bapak Pluralisme. Cucu KH Hasyim Asy’ari itu tentu saja tidak salah karena ia hanya “korban” dari kelompok yang berkepentingan dengan agenda pluralisme, liberalisme dan sekularisme.

Fenomena Ustadz Zuhri juga membuat saya teringat dengan lontaran pernyataan Mohammad Natsir tentang keterkaitan Islam dan Pancasila.”Di mata seorang muslim, perumusan Pancasila bukan kelihatan sebagai satu ‘barang asing’ yang berlawanan dengan ajaran Qur’an. Ia melihat didalamnya satu pencerminan dari sebagian yang ada pada sisinya,” tulis Natsir dalam buknya Capita Selecta.
Dengan nada retoris, Natsir bertanya saat berpidato pada acara Nuzulul Qur’an di Istana Negara, Mei 1973. Tanya Natsir:

1. Bagaimana mungkin ajaran al-Qur’an yang memancarkan tauhid dapat apriori (bertentangan) dengan ide Ketuhanan Yang Maha Esa?
2. Bagaimana mungkin ajaran al-Qur’an yang ajaran-ajarannya penuh dengan kewajiban menegakkan ‘ijtima’iyah bisa apriori (bertentangan) dengan keadilan sosial?
3. Bagaimanana mungkin ajaran al-Qur’an yang justru memberantas feodal dan pemerintahan sewenang-wenang, serta meletakkan dasar musyawarah dalam susunan pemerintahan, dapat apriori (bertentangan) dengan apa yang dinamakan Kedaulatan Rakyat?
4. Bagaimana mungkin ajaran al-Qur’an yang menegakkan istilah islahu bainan naas sebagai dasar-dasar pokok yang harus ditegakkan umat Islam, dapat apriori (bertentangan) dengan apa yang disebut Perikemanusiaan?
5. Bagaimana mungkin ajaran al-Qur’an yang mengakui adanya bangsa-bangsa dan meletakkan dasar yang sehat bagi kebangsaan, dapat apriori (bertentangan) dengan Kebangsaan?

Pertanyaan retoris Natsir telah dijawab oleh Ustadz Zuhri dan ustadz-ustadz lainnya di pelosok nusantara. Mereka beraqidah kuat sesuai sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Mereka menghormati Hak Asasi Manusia sesuai dengan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Mereka menghargai kemajemukan sesuai sila Persatuan Indonesia. Mereka juga mampu berdemokrasi sesuai sila keempat Pancasila. Terakhir, mereka besikap jujur dan amanah; tidak korupsi agar keadilan sosial terwujud bagi seluruh rakyat Indonesia. Mereka inilah ustadz Pancasilais sekaligus nasionalis.

Bertolak belakang dengan mereka, para tokoh yang mengaku nasionalis dan Pancasilais. Mereka berkoar-koar peduli dengan rakyat dan menjaga keutuhan NKRI. Tapi korupsi jalan terus; kolusi tak pernah berhenti.

Pendapat M. Natsir berkelindan dengan Adian Husaini. Menurut Adian, Usaha untuk membenturkan Islam vis a vis Pancasila memang akan terus terjadi. Penafsiran Pancasila banyak diselewengkan seolah bertentangan dengan Islam. Padahal, keduanya tak saling bertentangan. Justru ideologi negara itu memberikan ruang bagi pelaksanaan syariat Islam.

Pada masa Orde Lama, kata Adian, Pancasila disalahtafsirkan dengan konsep nasional, agama, dan komunisme (Nasakom). "Lantaran mengakomodasi komunisme, konsep ini ditentang oleh umat Islam," katanya. Sementara pada era Orde Baru, rezim yang berkuasa menempatkan Pancasila sebagai pandangan alam (world of view). Konsep ini berlawanan dengan agama.

Adian berpendapat, umat dituntut merumuskan penafsiran yang sesuai dengan konsep yang ditawarkan para perumus Pancasila. Garis besarnya, antara lain, penafsiran yang tidak bias sekularisme dan liberalisme. "Jangan sampai Pancasila malah jadi penindas Islam."

Pernyataan M. Natsir dan Adian, juga sangat ekuivalen dengan Ustadz Hilmi Aminuddin. Suatu saat, Ustadz Hilmi ditanya tentang pandangannya terhadap Pancasila. Beliau menjawab:

“Saya ingat benar yang bertanya waktu itu Jenderal Kiki Syachnakri, Ustadz bagaimana sikap PKS soal Pancasila? Saya bilang begini, pertanyaan Bapak ini dilatarbelakangi oleh Orde Baru, dimasa itu yang ditolak sebenarnya bukan Pancasilanya, bahkan non muslim pun menolak, yakni masalah tafsir tunggal soal Pancasila. Apalagi BP7 itu tafsirnya kejawen, kan gak boleh ada yang menafsirkan kesundaan, kejawen kek, tidak boleh seperti itu.

Biar saja Pancasila sebagai ideologi terbuka menjadi kesepakatan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Biarkan orang Islam menafsirkan Pancasila menurut versi Islam, biar orang Kristen, Hindu, Katolik sesuai tafsirnya sendiri-sendiri, biarkan PKS menafsirkan sendiri.

Tidak boleh ada penafsiran tunggal daerah tertentu atau agama tertentu, ini semacam common platform, rujukan bersama. Jadi yang ditentang waktu itu adalah soal tafsir tunggal Pancasila, dan Alhamdulillah sudah dihapus. Jadi Pancasila sekarang milik bersama, dulu Pancasila ada semacam dominasi suatu kelompok untuk menafsirkannya secara nasional. Sekarang sudah tidak ada lagi penafsiran sempit seperti itu. Ini penting, sehingga kerangka kebersamaan itu bisa ditopang oleh Pancasila.

Kalau ada tafsir tunggal lagi soal Pancasila dikemudian hari, saya jamin bakal ribut, pasti ribut. Wah para Jenderal itu mengacungkan jempol, benar Ustadz.”

Jika demikian, apakah masih ada diantara kita yang mengatakan bahwa umat Islam, PKS, dan Ustadz adalah sosok yang anti NKRI dan tidak Pancasilais? Semoga di hari lahir Pancasila ini, tak ada lagi propaganda sesat semacam itu.



Erwyn Kurniawan
Readmore »»

PKS Raih 39,06%, Jika Saat Ini Pemilu


5/31/2011 12:27:00 PM | Posted by islamedia
Islamedia - Seandainya pemilu legislatif dilakasanakan pada 2011 ini, siapakah Partai Politik yang akan menang? Republika punya jawaban sendiri, yaitu PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Menurut catatan Republika bahwa PKS akan mendapatkan 39,06 % berdasarkan hasil Polling yang diselenggarakan Republika Online pada Selasa (24/5) hingga Kamis (26/5) dan dilanjutkan dengan proses jajak pendapat kedua yang diselenggarakan pada Jumat (27/5) sampai Ahad (29/5) pukul 17:00 WIB.

Alasan utama mengapa memilih PKS, sebagian besar responden menyampaikan bahwa PKS adalah parpol yang paling Amanah dibanding dengan parpol lainya. Perhatian publik Indonesia yang menjatuhkan pilihan ke PKS nampaknya tidak terpengaruh meskipun belakangan ini parpol yang berlogo bulan sabit kembar ini sedang diserang oleh berbagai Fitnah.
Hal yang sangat mengejutkan nampak terlihat dari turun drastisnya dominasi partai Demokrat. Raihan suara yang diperoleh Partai pimpinan Anas Urbaningrum ini hanya seperlima dari PKS yaitu hanya memeperoleh 7.08%.

Berikut adalah perolehan suara masing-masing parpol apabila Pemilu dilaksanakan pada 2011:

PKS : 39.06%
Demokrat : 7,08 %
PAN : 3,26%
PDIP : 1,44%
Golkar : 2,25%
Gerindra : 1,96%
PPP : 1.77%
PKB : 0,81 %
Hanura : 0,29%

Dengan beberapa alasan:

Amanah : 40%
Visi dan misi parpol : 26,67%
Janji parpol : 1,21 %
Uang : 3,64 %
Ikut-ikutan : 1,21 %
Bukan karena semuanya : 14,55
Citra parpol : 5,45%
Figur atau tokoh parpol : 7,27%


Naiknya dukungan terhadap PKS dimata publik Indonesia sekaligus menepis anggapan dari berbagai pengamat bahwa parpol Islam tidak mempunyai masa depan di Indonesia. [republika/ismed]
Readmore »»

Selasa, 24 Mei 2011

WS Rendra: "Satu-satunya harapan bangsa ini adalah PKS"


Diposkan olehadmindi13:35

WS Rendra (Willibrordus Surendra Bawana Rendra) seorang penyair dan budayawan terbesar negeri ini sebelum meninggal dunia beliau menyampaikan pesan kepada sahabatnya, Chaerul Umam, seorang sutradara kawakan:


"Satu-satunya harapan bangsa ini adalah PKS"

Pesan singkat ini disampaikan kembali oleh Chaerul Umam sebelum membaca puisi pada acara Malam Seni dan Budaya Nasional PKS, Hotel Sahid 21 Mei 2011 lalu.

...


Dan hari ini (Senin 23/5), seperti diberitakan rakyatmerdekaonline, Sydney Jones seorang pengamat peneliti dan aktivis dari International Crisis Group (ICG), secara terbuka di forum Lecture Series on Democracy di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat mengutarakan kekagumannya juga pada PKS.

"Saya baru dari Aceh, dan mampir ke kantor partai lokal maupun nasional. Saya juga berbicara dengan wakil-wakil PKS di DPRD di Aceh," ujar Sydney.

"Mereka paling cerdas dan paling peduli pada rakyat, juga paling punya gagasan tentang public services," demikian Sydney Jones.

Dalam pembicaraan itu, Sydney Jones menyimpulkan bahwa wakil-wakil PKS adalah yang paling memahami persoalan rakyat. PKS juga bukan partai radikal justru mereka partai yang paling memahami prinsip demokrasi. (rakyatmerdekaonline.com)

...


Pekan lalu, Senin (16/5) koran KOMPAS memuat headline "Parpol Tersandera Korupsi" dilengkapi dengan gambar (tabel) tentang kasus-kasus korupsi yg melanda parpol. Disebut semua parpol KECUALI PKS. Headline KOMPAS ini mengukuhkan PKS adalah satu-satunya partai yang masih bersih.

...


Sebelumnya juga, dalam kasus tegas dan cepatnya PKS mengambil tindakan terhadap penyimpangan kadernya, pengamat politik Zaim Uchrowi menyatakan, "PKS menunjukkan beda dengan partai lainnya. PKS melakukan hal yang hampir tak mungkin dilakukan partai lain. Dengan segala kekurangannya, partai ini relatif masih paling mengusung moralitas di kancah politik nasional." (Republika, 15/4)

...

Penilaian dan kekaguman akan PKS sebagai 'Harapan Bangsa' bukan saja diberikan oleh para pengamat, tapi juga oleh rakyat yang mendambakan perbaikan negeri ini. Buktinya, di bulan Mei ini di beberapa pilkada calon yang diusung PKS meraih dukungan rakyat dan mendapat kemenangan. Pilkada Salatiga (8/5) pasangan Yuliyanto-Haris (Yaris), Pilkada Pekanbaru (18/5) pasangan Firdaus MT-Ayat Cahyadi, dan bahkan pilkada Jayapura (18/5) pasangan Benhur Tomi Mano–Nuralam meraih kepercayaan rakyat.

Ini semua membuktikan bahwa rakyat sangat mengharap akan perbaikan negeri ini, dan harapan itu ada pada PKS. Mari kita sambut 'Harapan Rakyat' dengan meningkatkan kerja dan kiprah kita di semua level, semua lini, sesuai potensi dan amanah masing-masing bersinergi sambil bertawakkal hanya kepada NYA. Kata Pak Cahyadi Takariawan "terus bekerja, terus berkarya, hingga akhir usia".

Faidza 'azamta fatawakkal 'alaLlah....


*)penulis: admin pkspiyungan


*posted: pkspiyungan.blogspot.com
Readmore »»

Minggu, 22 Mei 2011

Sydney Jones: PKS Bukan Partai Radikal


Diposkan olehadmindi11:27

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang merupakan partai terbesar keempat di Indonesia pasca Pemilu 2009 seringkali dituding memiliki hidden agenda untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. PKS juga kerap dikaitkan dengan gerakan Islam radikal di luar negeri, wabil khusus Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Tetapi, di mata Sydney Jones dari International Crisis Group (ICG), PKS bukanlah partai radikal. Terlebih PKS mengikuti aturan main demokrasi di Indonesia.

Sydney Jones menyampaikan hal itu ketika berbicara dalam Lecture Series on Democracy di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang, Senin pagi (23/5).

"Saya baru dari Aceh, dan mampir ke kantor partai lokal maupun nasional. Saya juga berbicara dengan wakil-wakil PKS di DPRD di Aceh," ujar Sydney.

Dalam berbagai pembicaraan itu, Sydney Jones menyimpulkan bahwa wakil-wakil PKS adalah yang paling memahami persoalan rakyat dan paling memahami prinsip demokrasi.

"Mereka paling cerdas dan paling peduli pada rakyat, juga paling punya gagasan tentang public services," demikian Sydney Jones. [guh]

*)sumber: http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=27922

*posted: pkspiyungan.blogspot.com
Readmore »»

Perempuan Pilihan Itu Telah Pergi: Selamat Jalan, Saudariku Yoyoh Yusroh...


Diposkan olehadmindi17:28
Oleh: Pipiet Senja*

Obituari

Tokoh nasional yang memiliki buah hati 13 orang ini sungguh figur yang patut diteladani oleh kita. Meskipun supersibuk sebagai anggota legislatif, ia tetap dapat merancang kebersamaan bersama suami dan semua anak demi memelihara cinta kasih, dan keharmonisan keluarga besarnya.

....

Kemarin, 21 Mei 2011, kita tersentak mendengar kabar dukacita, beliau pergi mendahului kita. Yoyoh Yusroh meninggal dalam kecelakaan mobil bersama dengan suami dan anak-anaknya yang saat itu sedang dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Jakarta setelah menghadiri acara wisuda anaknya di UGM. Mobil Inova hitam yang ditumpanginya terguling saat melaju dengan kecepatan tinggi. Diduga karena sopir yang mengendarainya mengantuk dan slip hingga mobil hilang kendali saat melintas di tikungan jalan tol Tegal Karang, Cirebon. Yoyoh Yusroh yang juga ibu dari 13 anak tersebut sudah tidak tertolong lagi, Yoyoh Yusroh tewas dalam kecelakaan tersebut, sedangkan suami dan anak-anaknya saat ini masih sedang dalam perawatan.

Jenazah Yoyoh Yusroh tiba dari rumah duka di Kompleks perumahan DPR di Kalibata, Jakarta Selatan, sekitar pukul 14.30 WIB. Jenazah tiba di RT 1/RW 1 No 54, Kelurahan Belendung, Kecamatan Benda, Kota Tangerang.

....

Saya dan keluarga sedang dalam perjalanan menuju Sumedang. Sungguh nyaris tak percaya, hingga saya beberapa kali melakukan cek-ricek kepada beberapa sahabat dekatnya di kalangan liqo. Sepanjang perjalanan, seperti orang bodoh, saya berharap kabar itu hanya isu belaka. Rasanya baru kemarin saya bicara dengan salah seorang asistennya, minta dibuatkan janji untuk jumpa. Biasanya saya bisa langsung berhubungan melalui ponsel, hanya ponselku dicuri orang jadi banyak nomer yang lenyap.

Dan jam berapapun, jika saya SMS, biasanya pula senantiasa dijawab seketika. Yoyoh Yusroh, bagiku bukan sekadar sosok legislatif, aktivis parpol yang supersibuk, melainkan sebagai sosok ibu umahat, ibu dari ibu-ibu taklim yang sangat peduli, terutama terhadap perkembangan kaum perempuan dan anak-anak.

Secara pribadi saya sempat begitu dekat dengan sosok muslimah yang satu ini, sejak 2006. Kepadanyalah saya sering curharatan mengenai berbagai hal, karya, bahkan urusan perkawinan. Ketika kondisi saya terpuruk, baik secara finansial maupun fisik, hingga saya dan anak-anak terdepak dari rumah yang selama itu kami huni. Maka, hanya dialah, Saudariku inilah yang berkenan mengulurkan tangan dengan ikhlas dan tulusnya.

“Silakan, Teteh, tempati saja rumah kami di Depok Timur itu, terserah sampai kapan saja,” ujarnya dalam nada yang sangat ikhlas, bahkan dia langsung mengantarkanku sampai kawasan Pasar Minggu.

Suaminya, Pak Budi Darmawan bersikeras mencegatkan dulu sebuah taksi untuk saya, serta telah diberikan ongkosnya sampai rumah mereka di Depok Timur. Subhanallah, sungguh pasangan suami-istri yang luar biasa!


***

Berikut adalah hasil bincang penulis dengan Umi Umar, demikian teman-teman di taklim biasa menyebutnya, suatu siang di kawasan Mampang Prapatan. Tulisan ini telah dibukukan dengan judul 30 Perempuan Pilihan Wanita Penulis Indonesia, 2010, Penerbit Zikrul Hakim, Jakarta.

“Alhamdulillah, saya bersyukur dilahirkan dalam keluarga yang sangat concern dengan pengamalan syariat Islam. Ayah saya namanya Abdul Somad, seorang guru mengaji, penceramah pada hari-hari besar Islam, dari surau ke surau, mesjid ke mesjid dan taklim ke taklim di sekitar kampung halaman saya, Batuceper Tangerang. Ayah mengajak saya untuk aktif, kemudian melatih saya pidato dengan teks terjemahan dari Arab Melayu, itu terjadi sejak saya duduk di bangku SD. Ayah sering melatih saya bagaimana caranya menyampaikan ceramah dengan baik, memikat, berkomunikasi dengan massa.” Demikian ustazah Yoyoh Yusroh mengawali perbincangan kami yang akrab, ada makanan dan minuman segar di hadapan kami.

Waktu itu saya belum berjilbab, masih pakai rok biasa dan kerudung. Saya berdiri di hadapan ibu-ibu dan bapak-bapak di majlis taklim besar, banyak sekali tuh orangnya. Kebanyakan teman saya itu murid-murid dan rekan-rekan Ayah mengaji, bahkan guru-gurunya. Ya, saya jadi akrab dengan mereka kalangan pengajian, dan mereka mengenal saya sebagai mubalig cilik.

Sedangkan peran Ibu, Aminah, sebagai guru mengaji sangat mendukung. Ibu selalu menekankan saya untuk sering-sering mengaji Al Quran. Ketika bulan Ramadhan, saat saya ingin membantunya di dapur membuat penganan. Ibu akan mengatakan; “Sudahlah, Nak, sana pergi saja mengaji. Bikin kue sih nanti juga bisa, gampang dipelajari.” Logikanya kan, kalau saya membaca Al Quran, Ibu juga yang akan mendapat pahalanya. Kalau bulan suci Ramadhan kita targetkan khatam lima sampai enam kali. Gemar dan cinta membaca Al Quran sejak kecil. Meskipun belum paham artinya, seperti Al Kahfi, Al Muluk, Al Waqiyyah saya sudah hafal sejak kecil. Ibu menekankannya, karena itu adalah sunah Rasulullah Saw.

Peran Ibu dan Ayah sangat besar dan berpengaruh untuk perkembangan pribadi, pendidikan dan kondisi saya hingga sekarang. Saya berharap dapat menyempurnakan dan meningkatkan kualitas keimanan serta ketakwaan hingga akhir hayat. Iman, amal dan ketakwaan itu kan tidak berlaku surut, melainkan harus terus berkembang, dan meningkat ke taraf lebih tinggi. Demikian bila kita ingin akhir hayat kita dalam khusnul khatimah.

“Saya tidak hafal seluruh Al Quran, tapi insya Allah, banyaklah,” ujarnya merendah, meskipun di kalangan tarbiyah beliau dikenal sebagai hafidzoh.

Cita-cita Waktu Kecil

Saya senang baca. Ayah saya juga suka membacakan tentang kisah Nabi dan para sahabat. Waktu SD saya ingin menjadi sejarahwan. Makanya, waktu masuk Fakultas Adab IAIN saya ambil jurusan Sejarah Islam. Saya bersekolah di sekolah-sekolah umum bukan di pesantren. SD dan SMP Negeri, lalu ke PGA pertama di Tangerang, dan ke PGA lanjutannya di Pondok Pinang, kemudian ke IAIN Ciputat.

Peran Sebagai Pendidik

Sejak sebelum mengenal tarbiyah, saya sudah aktif di organisasi-organisasi Islam seperti Pelajar Islam. Banyak sekali untungnya dalam berorganisasi, antara lain peningkatan wawasan dan banyak teman. Sangat positif memiliki banyak teman bagi saya yang tak pernah memilih-milih siapa teman. Memang ada plus-minusnya dalam pergaulan. Tapi ada saja kelebihan seseorang itu meskipun umpamanya dia memiliki sifat negatif. Demikian pula saya mungkin punya sikap negatif. Jadi kalau berteman kita bisa saling mengingatkan, saling meluruskan dan saling menguatkan. Insya Allah lebih banyak plusnya kalau kita banyak teman.

Kalau ada teman-teman yang ingin diajari mengaji oleh saya. Yah, insya Allah saya tidak menolak, kecuali kalau saya memang betul-betul tidak ada waktu, atau jadwalnya bentrok. Kalau saya tidak cukup waktu untuk mutabaah atau evaluasinya, biasanya akan saya alihkan kepada teman-teman lain.

Peran Sebagai Ummahat

Alhamdulillah sebagai ibu Allah telah mengaruniai saya 13 orang anak yang saya syukuri semua. Anak pertama laki-laki, kuliah di UGM, Fakultas Ekonomi semester 9. Umurnya hampir 22 bulan Desember nanti. Anak ke-2 laki-laki, awalnya kuliah di FE UGM juga, terus mendapat tawaran beasiswa dari televisi Turki untuk belajar pada Internasional Of University di Sarajevo, Bosnia. Sekarang belum ada jurusan, tapi dia cenderung ambil Hubungan Internasional. Dia bisa menghemat program studi bahasa Inggris yang seharusnya 8 bulan menjadi hanya 2 bulan, alhamdulillah.

Anak ke-3 perempuan, semester 5 di Fakultas Pertanian, UGM. Anak ke-4 laki-laki, diterima di program studi tingkat SMA atau Mahad, program Al Azhar di Mesir. Anak ke-5 laki-laki, di SMKN Yogyakarta. Anak ke-6 laki-laki, di pondok pesantren Gontor. Anak ke-7 perempuan, di As-Syifa Al Hairiyah, SMIT sekolah punya Qatar. Anak ke-8 laki-laki, di Al Hikmah Citayam yang belum lama ini hafidz Al Quran 30 juz. Anak ke-9 laki-laki, SDIT Al Hikmah Citayam, baru 5 juz hafal Al Quran. Anak ke-10 laki-laki, di Al Hikmah juga, ya, tiga orang sekolah di boardingschool Citayam itu. Anak ke-11 laki-laki, kelas 2 di SDIT Insan Mandiri. Anak ke-12 perempuan, kelas 1 di Jakarta Islamicshool. Si bungsu perempuan 4,5 tahun di TK Kecil. Anak laki-laki 9 anak perempuan 4 orang. Di semua tingkatan SD itu ada mulai kelas enam sampai kelas satu.

“Suka lupa gak ya Umi dengan nama anak-anaknya?”

“Alhamdulillah, gaklah, Teh,” sahutnya sambil tertawa tersipu. “Yah, yang anak perempuan kadang suka manggilnya salah. Keempatnya namanya kan sama lima suku kata. Jadi, Mamamamima…” lanjutnya dengan derai tawa, perpaduan antara rasa syukur nikmat dengan keharuan, dan kebahagiaan seorang ibu.

Peran Sebagai Istri

Menikah l985, alhamdulillah, suami sangat mendukung saya dalam semua kegiatan dakwah. Waktu itu kami sama-sama masih sarjana muda. Suami dari Fakultas Psikologi Unversitas Indonesia. Oya, tentang poligami itu… Seperti sudah sering saya sampaikan ke media, bahwa poligami itu sudah ada sejak zaman Rasulullah. Allah menciptakan kaum lelaki itu bervariasi. Memang ada yang berkapasitas memiliki istri lebih dari satu. Kalau kita paham bahwa suami mempunyai kapasitas lebih dari satu istri, dan kalau madu kita itu bisa diajak sebagai mitra dakwah, yah, mengapa tidak kita tak saling berbagi? Saya tidak keberatan sebagai satu solusi social. Dan poligami sebagai satu nilai itu tidak boleh membantah. Adapun mampu atau tidak dia melaksanakannya itu adalah lain hal. Yang diekspos kan kebanyakan poligami yang menimbulkan ekses. Padahal kan banyak sekali yang berpoligami yang tidak menimbulkan ekses, tapi tidak diekspos. Saya pribadi dari awal sudah setuju kalau suami akan berpoligami, itu sudah bukan masalah.

Kiprah Dalam Dunia Politik

Kalau politik praktis, dulu ayah saya PPP. Saya sering diajak kampanye di panggung-panggung untuk kemenangan PPP. Ayah saya sering dipanggil pihak berwajib, bahkan keluar-masuk tahanan karena vokalnya. Misalnya bicara lantang tentang Keluarga Berencana. “Walaupun Pemerintah menyuruh kita ber-KB, tapi Al Quran tidak!” Dan itu disuarakannya di taklim-taklim, dengan menerapkan langsung dalam kenyataan. Padahal masa-masa itu Pemerintah Orba sangat represif. Masih segar dalam benak saya, malam-malam pihak keamanan mengetuk pintu.

“Anda semua siapa?” tanya Ayah dengan gagah berani.

“Kami keamanan akan mengambil Bapak untuk ditahan!”

“Oh, kalau dari keamanan seharusnya tidak malam-malam begini datang menangkap orang. Lihat, anak-anak saya ketakutan. Besok saja saya akan datang sendiri!” ujar Ayah tegas, pihak keamanan pun berlalu. Ayah orangnya konsisten, meskipun dilarang oleh Ibu, Ayah tetap datang dengan bersepeda ke Polsek Batuceper, Tangerang. Ada beberapa kali begitu saja, keluar-masuk tahanan. Saya sangat terpengaruh dengan perjuangannya. Dari kecil sudah terbayang bagaimana dunia politik itu. Eee, tapi tak pernah terbayang loh, kalau sekarang menjadi anggota DPR.

Di Partai Keadilan Sejahtera, saya termasuk salah satu dari 50 orang Dewan Pendiri. Saya pikir, politik adalah suatu keniscayaan sebagai seorang Muslim. Ketika kita menyerahkan pemerintahan kepada orang-orang yang tidak kuat untuk mensejahterakan rakyat, memperjuangkan keadilan, maka demikianlah kondisi negeri ini. Kita berharap kekayaan Indonesia yang begitu besar dapat dikelola dengan, didistribusikan secara merata. Negeri ini sudah kaya raya, tapi salah urus, sehingga kesenjangan antara si kaya dengan si miskin sangat tinggi. Sebelum menjadi anggota Dewan saya tidak tahu tidak sejauh ini, tapi setelah tahu suka prihatin sekali melihat kondisi umat, kondisi bangsa yang tidak mendapatkan hak-haknya. Karena terhalang oleh kedzaliman orang-orang tertentu yang memperkaya diri dan kelompoknya.

Dalam parlemen yang tidak homogen, semua punya kepentingan. Kita juga tidak menafikan masih ada orang-orang yang baik di partai lain. Mereka yang bisa diajak kerjasama, tapi lebih banyak lagi (dalam banyak hal) yang tidak sependapat dengan keinginan kita. Kadang-kadang dalam posisi tertentu, umpamanya dalam pengesahan undang-undang, kita tidak sependapat tapi memberikan catatan-catatan. Misalnya tentang undang-undang sumber daya air, undang-undang APBN 2006-2007. Kita ikut kaukus antikorupsi, anggaran pendidikan 26 %, perempuan parlemen.

Kita menganggap parlemen itu bukan saja sebagai mimbar politik, melainkan juga mimbar dakwah. Kita bisa menyampaikan apa yang kita inginkan. Kita bisa belajar banyak di sana, semacam universitas. Ternyata keberadaan kita di DPR itu banyak mendengar, banyak melihat, kemudian bersama teman-teman menganalisa misalnya. Itu bisa mengasah kecerdasan intelektual dan emosional. Jabatan saya sebagai ketua komisi 8 di DPR. Di PKS sebagai anggota Majelis Syuro.

Bila Banyak Tekanan

Kalau kita merasa tidak suka, tapi itu harus terjadi juga. Hiburannya, yah, di luar gedung DPR. Melihat wajah-wajah yang baik di taklim-taklim, bersosialisasi dan berkumpul dengan orang-orang baiklah. Mereka yang satupemahaman dan satu pemikiran dengan kita. Jadi, kalau berada di dalam gedung DPR terus, memang rasanya sulit sekali untuk bisa menerima kenyataan. Kalau tidak ada tugas dari partai atau sebagai anggota DPR, saya masih aktif dakwah-dakwah di perkantoran, mengisi taklim-taklim, ceramah di lembaga-lembaga strategis. Termasuk sebagai pengurus Yayasan Ibu Harapan di Depok.

Membagi Waktu

Tentang memanaj waktu, seperti saya baca dari buku-bukunya Yusuf Qordhowi, terutama tentang waktu dalam kehdupan Muslim. Yang paling efektif manakala kita bisa tepat waktu, dan waktu kita menjadi produktif. Mengikuti cara Rasulullah, bangun sebelum subuh, kita berinfak, solat tepat waktu, dan merencanakan rencana siang hari sejak malamnya. Kalau waktu itu kita rencanakan dengan baik semuanya, insya Allah akan menjadi berkah.

Tarbiyatul Awlad atau Pendidikan Anak

Di rumah ada orang-orang dekat, saudara, adik-adik yang ikut mengawasi anak-anak. Untuk hal-hal yang bersifat penting, tidak diserahkan kepada hadimat. Saya berpikir bagaimana menjadikan mereka sebagai anak-anak yang sehat, intelektual yang memadai. Kemudian, benar bahwa anak-anak itu adalah hamba Allah yang taat. Suami sangat mendukung dalam melaksanakan konsep mendidik anak. Intinya, kita mendidik anak-anak mengikuti cara Rasulullah.

Sejak mulai hamil, mengandung, melahirkan, menyusui sampai saat anak bisa bicara, dan mengikuti apa-apa yang kita lakukan. Yah, dengan panduan buku Tarbiyatul Awlad. Sekuat tenaga, sebaik mungkin kita praktekkan. Ternyata ketika kita praktekkan nilai-nilai Islam dalam mendidik anak sangat beruntung. Misalnya, melatih anak berpuasa, solat, beraktivitas sosial, bersedekah sejak dini. Anak usia 2,5 tahun mulai diajak untuk berpuasa, begitu usia 3,5 tahun dia sudah terbiasa melakukan shaum di bulan Ramadhan.

Saya sangat terharu ketika ada anakku yang lulus SMA, kemudian diterima di PTN favorit. Waktu saya ajak untuk makan bersama, dia bilang; “Gak Mi, saya lagi shaum Daud.” Ternyata bagi dia shaum Daud itu sudah merupakan kebutuhan dan kenikmatan. Semuanya bila kita ajarkan sejak kecil, sungguh sangat bermanfaat. Umpamanya dalam berjilbab, walaupun anak itu masih kecil, tapi karena telah dibiasakan berkerudung, nah kalau dia mau keluar rumah selalu berkerudung.

Saya melihat anak-anak yang mampu menghafal Al Quran, ternyata sangat cerdas secara intelektual dan emosional. Alhamdulillah, anak-anak yang saya didik menghafal Al Quran, mereka dapat lulus SPMB, sekolah di PTN favorit. Mendidik anak secara Rasulullah itu bagi saya sangat tepat. Boleh saja kita mengambil teori-teori dari luar, tapi itu hanya sebagai pengayaan.

Tanggung jawab orang tua dalam pendidikan keimanan, mengarahkan mereka mempunyai keimanan yang kuat. Saat anak mengeluh, kita bandingkan keadaannya dengan yang lebih tak beruntung. Sehingga dia tetap bisa kembali mensyukuri nikmat-Nya. Bagaimana mencintai Allah, mencintai Nabi, bukan mengidolakan ibu-ayah yang bisa saja berbuat kekhilafan. Mencintai Al Quran dan para pejuang Islam. Kita juga mendidik anak-anak tentang makanan yang halal.

Pendidikan akhlak; akhlak kepada orang tua, kepada sesama, kepada tetangga. Bagaimana anak bersikap terhadap orang tua, misalnya, saya mendidik mereka secara realis. Jika ada anak yang mengatakan hal-hal jelek, misalnya, saya tidak akan memarahinya, tapi mengusut dulu dari mana sumbernya. Intinya kita tidak boleh panik dalam mendidik anak.

Suatu saat saya cerita kepada anak-anak, bagaimana tentang perjuangan para mujahid. Anak-anak kemudian sama ingin mati syahid. Nah, kalau ingin mati syahid itu kita harus cerdas. Karena musuh akan menembak komandan duluan bukan prajurit. Jadi komandan itu bukan orang bodoh. Kalau mau cerdas harus belajar. Kalau mau belajar enak ya harus makan, sehat. Sudah solat? Belum. Nah, katanya mau menjadi anak yang benar. Intinya kita mengajak dengan bahasa yang sederhana dan bisa dipahami anak-anak. Dengan bahasa yang positif. Tidak perlu kita menatakan; “Kamu anak yang nakal!” Tapi bisa dengan; “Kamu anak yang soleh, tapi perbuatanmu tadi tidak benar, ya Nak” Atau; “Umi sayang sama Abang, tapi perbuatan Abang tadi seperti anak yang tak mau disayang…” Di rumah kami kata-kata penghakiman, hujatan, sesalan atau cemoohan diharamkan.

Keseimbangan Dunia dengan Ukhrowi

Intinya kita menikmati semua karunia Allah. Kapan saatnya kita harus menikmatinya, dan kapan pula harus menahan. Saya beri pengertian kepada anak-anak, meskipun mereka anak anggota DPR, tapi tidak harus selalu pergi sekolah diantar-jemput mobil pribadi. Makan tidak harus selalu di restoran, umpamanya. Saya sering perlihatkan isi tas; “Nah, ini amplop untuk Palestina, ini untuk infak, ini untuk yatim-piatu. Uang Umi tinggal segini. Kalau menuntut seperti keinginan kalian, mau gak kita pakai uang riba?” Akhirnya mereka bisa menerima kenyataan. Yah, kita harus realistislah, mengatakan apa adanya.

Misalkan, ada anak yang kepingin ponsel, ini biasanya setelah SMP. Itu juga pakai proposal; apa manfaatnya, apa mudharatnya. Ketika kecil anak-anak tidak dibiasakan menonton televisi. Nah, setelah besar, tiga anak mewakili dan bikin proposal bagaimana pentingnya televisi. Tapi itupun untuk acara-acara tententu saja, tidak yang membuang-buang waktu.

“Intimya saya masih terus belajar, baik sebagai ibu, sebagai politikus, sebagai wanita solehah,” pungkasnya merendah.

...


Kini, perempuan pilihan itu telah mendahuluiku, mendahului kit asemua. Semua kebaikan dan keikhlasannya dalam berbagi, baik ilmu maupun finansial, semoga menjadi pahala dan memudahkannya dalam perjalanan menemui Sang Khalik.

Selamat Jalan, Saudariku Cinta, Yoyoh Yusroh, sampai jumpa, bila waktuku tiba. (Pipiet Senja)


*)sumber dari blognya Pipiet Senja http://pipietsenjaa.blogspot.com/2011/05/perempuan-pilihan-itu-telah-pergi.html?spref=tw


*posted: pkspiyungan.blogspot.com
Readmore »»

Kesaksian-Kesaksian..... dari ust Hilmi hingga detik.com (in memoriam, Yoyoh Yusroh)

(Senyum bahagia Da'iyah Syahidah alm. Yoyoh Yusroh)

Diposkan olehadmindi09:05
Usai mensholatkan jenazah (alm) Yoyoh Yusroh, Ust. Hilmi Aminuddin (Ketua Majlis Syuro DPP PKS) menceritakan kisah hidup bunda Yoyoh. Terbata-bata. Sembab. Ust Hilmi bertutur:

“Saya kenal sejak pertengahan 80-an, saat beliau masih mahasiswi IAIN Ciputat. Tak hanya mendengarkan ceramah, Yoyoh komitmen untuk ikut dalam gerakan dakwah. Dia tak hanya mendengar tapi berbuat.”

“Ketika saya dipenjara Soeharto Orba 2 tahun, dia sabar terus dakwah. Keluar penjara, saya dilapori perkembangan dakwah dari beliau.”

"Suatu saat ketika sudah siap untuk menikah Yoyoh meminta dicarikan. Yoyoh bilang "yang menjadi suami saya adalah yang dipilih oleh jama'ah dan da'wah."

“Kehilangan Yoyoh adalah kehilangan bagi dakwah internasional. Saya dapat ucapan takziah dari seluruh dunia. Dari jalur Gaza, mujahidin Palestina semua berdoa utk almarhumah. Pasukan perdamaian TNI di Darfur Sudan juga kirim takziah.”

(Yoyoh menjadi anggota dewan 3 periode sejak 1999. Pernah di komisi pendidikan, agama, terakhir di Komisi I (militer dan internasonal). Yoyoh berhasil menembus blokade Israel dan membawa bantuan masyarakat Indonesia ke jalur Gaza dan membantu buat rumah sakit di Gaza. Begitu pula di Sudan dengan misi perdamaian.)


....

Tak hanya anggota fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saja yang merasa kehilangan sosok almarhumah Yoyoh Yusroh. Anggota Partai Demokrat Ruhut Sitompul juga mengatakan sangat kehilangan atas kepergian wanita yang dikenal bersahaja tersebut.

“Orang baik memang selalu cepat dipanggil,” ujarnya saat ditemui di rumah duka, di Komplek DPR, Kalibata, Sabtu (21/5).

Menurutnya, Yoyoh adalah sosok yang sangat bersahaja. Ia juga dikenal mudah bergaul dengan siapa saja. Tak hanya kerap memperhatikan kinerja anggota fraksinya saja, Yoyoh juga sering memberikan motivasi pada fraksi lain.

“Orangnya sangat familiar. Di DPR juga ia bergaul dengan semua,” tambah Ruhut.

Pria kelahiran Medan tersebut juga menuturkan Yoyoh yang memiliki 13 anak juga berhasil dalam mendidikan putra putrinya. Ia menilai, semua anak dari Yoyoh merupakan sosok yang berhasil. (Republika)

....

Cerdas, Santun dan Rendag Hati. Inilah penilaian Tantowi Yahya ketika menggambarkan sosok Yoyoh Yusroh. Sebagai sesama anggota komisi I DPR RI yang membidangi masalah internasional, anggota dari fraksi Golkar itu sangat mengagumi Yoyoh.

Ditemui di lokasi persemayaman almarhumah, di komplek perumahan DPR, Kalibata, Jakarta Selatan, Tantowi mengaku sangat terkesan dengan sosok almarhumah. “Beliau adalah sosok yang sederhana, bersahaja, dan cerdas.”

Menurut Tantowi tidak ada sifat–sifat sirik dan benci yang biasa dimiliki oleh seorang politisi terhadap temannya dalam satu komisi. “Bagi bu Yoyoh, tidak ada kompetisi dalam teman sesama anggota satu komisi,” Hal ini diketahui Tantowi setelah bergaul dan bekerja cukup lama dengan ibu tiga belas anak tersebut. “Selain itu, beliau juga bukan orang yang pelit pujian. Kalau ada orang yang bertanya dan pertanyaan tersebut bagus, maka beliau langsung memujinya.”

Tantowi juga menambahkan, sebagai orang yang terhitung baru di dalam komisi I DPR RI, Yoyoh termasuk orang yang mudah beradaptasi dengan tugas pokok dan teman sesama anggota komis. “Padahal tugas pokok komisi I dan komisi VIII tempat beliau semula sangat berbeda,” ujarnya.

Menurut Tantowi, tidak hanya PKS saja yang kehilangan sosok wanita yang meninggal pada usia 49 tahun itu, tapi juga seluruh bangsa Indonesia. Almarhumah juga dinilai sebagai sosok yang sangat fokus terhadap isu Timur Tengah dan ketenagakerjaan. “Kalau untuk Timur Tengah, beliau sangat fokus terutama pada isu Palestina,”. Sedangkan untuk isu ketenagakerjaan, Tantowi menilai kepedulian Yoyoh disebabkan karena banyaknya jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. (Republika)

....

"Kalau kita pernah ngobrol dg ustadzah Yoyoh Yusroh mk pasti kita akan merasakan semangat dakwah yg begitu menyala-nyala. insya Allah nyala semangat beliau akan terus diwarisi oleh mujahidah2 dakwah lain, termasuk yg blm lahir. selamat jalan, mujahidah yg istiqamah.. (Abdul Wahid Surhim, Kaderisasi DPP)

...

48 jam sebelum wafat, Ustadzah Yoyoh Yusroh sms pada seorang sahabatnya:
"Ya Rabb, aku sedang memikirkan bagaimana posisiku kelak di akhirat.... Mungkinkah aku brdampingan dg Khadijah ummul mukminin, atau Aisyah yang hafal 3500 hadits atau Ummu Sulaim yang sabar, atau Asma’ yg pandai menyiapkan kendaraan perang suami dan menyemangati putranya utk jihad. Ya rabb, tolong beri kekuatan agar bs berbincang dg mereka kelak di taman firdaus."

Ini sms #Bunda Yoyoh 48 jam sblm wafat.

"Dan saya bersaksi, ia adalah salah satu hambaMu yang paling hamba, ya Rabb. Sungguh, saya tak pernah mengenal muslimah lain di negeri ini yang hidupnya lebih produktif dan efektif daripada beliau. Semoga Engkau memberi beliau tempat terbaik dan terindah di sisiNya. Amin." (Helvy Tiana Rosa)

....

"Ya Allah ya Rabb, Sy aboebakar alhabsyi bersaksi bahwa ustadzah yoyoh yusroh adalah min ahlilkhoir dan seorang mujahidah daiyah." (Aboe Bakar Al-Habsy, aleg PKS DPR RI)

....

"Ya ALLAAH dg segala kelemahanku aku bersaksi bhw ustzh Yoyoh adalah Da'I n Mujahidah, ikhlas berjuang, rendah hati n jauh dari riya n sum'ah." (Nabiel Al-Musawa, aleg PKS DPR RI)

....

Enam tahun yang lalu saya dan istri bertemu seorang ibu yang baik hati dalam penerbangan b.aceh-medan, beliau menyapa kami "kalian pengantin baru kan?" Saya dan istri mengangguk tersenyum malu tidak menyangka ada yang mengenal kami berdua sebagai pengantin baru. Beliau bertanya lagi "kalian relawan tsunami Aceh kan?". "Betul Bu". Saya pun semakin bingung kok beliau banyak tahu tentang kami. Beliau memperkanalkan diri "Saya Ibu Yoyoh". Masya Allah seorang tokoh muslimah dari PKS begitu akrab menyapa kami. Itulah awal kami mengenal beliau. Hari ini Bu Yoyoh sudah kembali ke pangkuan ilahi, Innalillahi wa inna ilaihi Rajiun. (Wahyu de Mattawang)

....


Salim A Fillah (twit):

• Hanya berkesempatan beberapa kali jumpa Bunda Yoyoh, saya selalu berada dalam perasaan antara takjub & malu. Satu saat, sebelum suatu acara di mana #Bunda #Yoyoh & P' Budi Dharmawan menjadi pembicara serta saya sebagai moderatornya;

• Di belakang panggung tersaksikan suami-isteri itu bergandengtangan, saling bertatap sambil tersenyum, & saling menyimak-ulang hafalan Al Quran! MasyaaLlh.

• Saya bertanya, berapa Juz masing-masing mereka membaca Al Quran seharinya? Kata Bunda Yoyoh, "Sangat kurang dibanding apa yang harus kami penuhi selayaknya. Hanya 3 Juz."

• Saya: "Bukannya P' Budi & Bunda Yoyoh sibuk sekali, bagaimana bisa menyempatkan sebanyak itu?"

• "Justru karena sibuk & banyak hadapi aneka persoalan serta begitu beragam manusia, maka HARUS memperbanyak Al Quran", kata Bunda Yoyoh.

• Saya juga ingat, P' Budi kalau memanggil Bunda Yoyoh, "Istriku, Cintaku, Kasihku, Sayangku, Yoyoh yang Shalihah!", pun di forum itu.

• Saya bertanya, bagaimana kiat mendidik 13 putra dengan kesibukan seperti Bunda Yoyoh? Jawab beliau; "Mereka milik Allah, kami hanya dititipi. Kami selalu mohon bantuan Pemiliknya untuk menjaga mereka, mendoakan kebaikan di manapun berada. Selebihnya seperti dalam QS An Nisaa' ayat 9, cara membesarkan anak adalah dengan mewujudkan taqwa dalam 'amal & jujur dalam kata."

....

"Sungguh elok Allah berikan kematian beliau. Tdk saja dalam ta'at dlm ibadah, tetapi ta'at kpd manhaj dan jama'ah. Sungguh beruntunglah duhai Bunda." (Irwan Dahlan)

....

"ya ALLAH...jadikan anakku mewarisi keperibadiannya...(ibu yoyoh) amiiin....semoga ALLAH mengganti1000 orang seperti beliau untuk PKS....AMIIN." (Akhmad Kholil)

....

Kesaksian wartawan detik.com (Ramadhian Fadillah) sbgmn dimuat di detik.com:

Dalam tes uji kelayakan calon Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, seorang anggota FPKS meminta agar Panglima TNI memperbolehkan wanita TNI boleh berjilbab. Hal ini sudah diterapkan di Aceh, dan tidak menjadi masalah.

"Kalau bisa wanita bisa berpakaian sesuai aturan agama. Ini tidak akan mengganggu tugasnya," katanya saat itu.

Wanita itu anggota FPKS, Yoyoh Yusroh.

Penulis ingat itu pertama kali penulis berkenalan dengan beliau. Beberapa hari kemudian penulis ditugaskan kantor untuk meliput rombongan Viva Palestina yang akan tergabung dalam Lifeline 5. Kebetulan Ibu Yoyoh memimpin rombongan Viva Palestina dari Indonesia. (Bu Yoyoh berhasil menembus Gaza, sedang penulis tidak berhasil dan kembali ke Jkt)

Penulis bertemu terakhir dengan Ibu Yoyoh saat diundang harian Republika. Beliau mengajak seluruh rombongan untuk bertemu. Dia bercerita bagaimana kondisi di Gaza, semangat orang-orangnya dan optimisme mereka menjalani hidup. Beliau juga bercerita pria-pria berwajah teduh yang menyerahkan hidupnya untuk mempertahankan Palestina. Menjadi Jundullah atau tentara Allah.

Penulis duduk di pojok. Menunduk, menahan air mata mendengar beliau dengan semangat menceritakan itu semua.

Ibu Yoyoh bilang, dia masih ingin kembali ke Palestina. Melakukan tindakan kemanusiaan di sana. Tapi Allah rupanya berkehendak lain. Beliau meninggal saat kecelakaan dini hari tadi.

Hari ini, PKS kehilangan tokoh terbaiknya. Umat Islam di Indonesia juga kehilangan seorang pejuangnya.

Dan samar, entah dari mana penulis mendengar sebuah lagu.. We will not go down in the night without the fight, we will not go down in Gaza tonight..

Selamat jalan Ibu Yoyoh..

*)dihimpun oleh admin pkspiyungan dari twit @ridlwanjogja, @dianyaa, fb, republika, detik.com, dll. keterbatasan kami hingga banyak yg blum terkliping.


*posted: pkspiyungan.blogspot.com
Readmore »»