Tampilkan postingan dengan label Sirah Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Ulama. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2012

"Tidak Tahu" yang Menunjukkan "Tahu"


IMAM AL BUKHARI adalah seorang hafidz Al Hadits yang cukup masyhur. Sehingga, saat beliau tiba di Bagdad para ulama hadits ingin menguji hafalan beliau. Akhirnya mereka berkumpul dan bersepakat untuk menguji Imam Al Bukhari dengan 100 hadits yang masing-masing sanadanya ditukar satu sama lain. Dan 100 hadits tersebut dibagi untuk sepuluh orang, hingga masing-masing menguji Imam Al Bukhari dengan 10 hadits.

Setelah ada kesepakatan dengan Imam Al Bukhari dalam sebuah majelis hadits para penguji itu pun bergabung. Dalam majelis yang dihadiri oleh ulama Baghdad dan Khurasan itu, masing masing menanyakan kepada Imam Al Bukhari,”Tahukah anda hadits begini dengan sanad begini?”

Imam Al Bukhari pun menjawab,”Saya tidak tahu”. Dan demikian juga jawaban Imam Al Bukhari terhadap seluruh penguji setiap mereka menyampaikan hadits yang sanad yang ditukar satu sama lain. Hingga seluruh hadits selesai ditanyakan.

Jawaban Imam Al Bukhari tersebut membuat para ulama saling memandang satu sama lain dan mengatakan,”Laki-laki ini paham”. Namun, orang yang tidak memahami masalah akan menilai bahwa Imam Al Bukhari tidak memahami. (Lihat, Hadyu As Sari, hal. 652)

Imam Al Bukhari menjawab semua pertanyaan dengan ungkapan “tidak tahu” karena beliau mengetahui benar bahwa hadits-hadits dengan sanad yang ditukar itu tidak pernah beliau jumpai karena memang susunan sanadnya yang benar tidaklah seperti yang disampaikan para penguji. Jawaban Imam Al Bukhari,”tidak tahu” justru menunjukkan beliau adalah orang yang menurut para ulama.

Walhasil, bisa jadi orang jahil menilai para ulama sebagai orang bodoh karena ia tidak mengetahui hakikat ilmu. Dan hal ini tidaklah membahayakan ulama, karena orang yang alim (pandai) tetap saja mengetahui bahwa para ulama itu adalah orang yang pandai meski dituduh sebagai orang-orang bodoh oleh orang yang jahil.


Rep: Thoriq
Red: Cholis Akbar
Readmore »»

Selasa, 27 Maret 2012

Nasihat Pencuri kepada Imam Ahmad Sebelum Disiksa


Hidayatullah.com.IMAM AHMAD BIN HANBAL saat dikurung oleh penguasa yang hendak menyiksa beliau, beliau sempat menyampaikan bahwa yang beliau takuti bukan hukuman bunuh atau penjara, namun hukuman cambukan. Beliau takut tidak sabar menghadapi hukuman jenis ini.

Namun sebelum menghadap para tukang cambuk, ada tahanan lain yang bernama Abu Haitsam Al Haddad yang menasihatinya. Tahanan ini menyampaikan kepada Imam Ahmad,”Saya adalah Abu Al Haitsam yang merupakan seorang pencuri, saya telah divonis hukuman cambuk 18 ribu cambukan dan saya sabar dengan cambukan itu meskipun karena perbutan maksiat dan untuk tujuan dunia. Maka Anda bersabarlah dalam ketaatan karena dien.”

Karena nasihat berharga itulah, Imam Ahmad sering mendoakan dan menyebut-nyebut Abu Haitsam, hingga putra beliau Abdullah menanyakan hal itu. Imam Ahmad pun menceritakan kisah di atas. (lihat, Al Bidayah wa An Nihayah, 10/234)
Readmore »»

Selasa, 31 Januari 2012

Inilah 9 Terapi Warisan Kedokteran Islam (bag-1)


REPUBLIKA.CO.ID, Kontribusi peradaban Islam dalam dunia kedokteran sungguh sangat tak ternilai. Di era keemasannya, peradaban Islam telah melahirkan sederet dokter terkemuka yang telah meletakkan dasar-dasar kedokteran modern. Dunia Islam juga tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki rumah sakit yang dikelola secara profesional.

Dunia kedokteran Islam di zaman kekhalifahan telah mewariskan sederet peninggalan bagi peradaban modern. Salah satu peninggalan terpenting dari kedokteran Islam adalah terapi kedokteran. Para dokter Muslim melalui kitab atau risalah yang ditulisnya telah memperkenalkan aneka terapi untuk mengobati beragam penyakit.

Para dokter Muslim di era kejayaan mencoba membuktikan hadis Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa ''semua penyakit pasti ada obatnya.'' Lewat aneka terapi yang dikembangkannya, para dokter Muslim berhasil menemukan metode penyembuhan penyakit berdasarkan penyebabnya.

Beragam jenis terapi yang dikembangkan kedokteran Islam. Ini adalah sembilan terapi yang dikembangkan para dokter Muslim di era keemasan Islam: aromaterapi, terapi kanker, kemoterapi, kromoterapi, hirudoterapi, psikoterapi, Pitoterapi, urologi, litotomi.


Aromaterapi


Aromaterapi merupakan salah satu jenis pengobatan alternatif yang menggunakan bahan cairan tanaman yang mudah menguap, dikenal sebagai minyak esensial, dan senyawa aromatik lainnya dari tumbuhan yang bertujuan untuk mempengaruhi suasana hati atau kesehatan seseorang.

Stanley Finger dalam karyanya bertajuk Origins of Neuroscience: A History of Explorations Into Brain Function, mengungkapkan, penyulingan uap air pertama kali ditemukan dokter Muslim bernama Ibnu Sina (980 M – 1037 M). Ibnu Sina menggunakan penyulingan uap air itu untuk membuat minyak esensial yang digunakan untuk mengobati pasiennya. Metode pengobatan ini disebut aromaterapi.

''Ibnu Sina pun dijuluki sebagai orang pertama yang mengenalkan aromaterapi,'' ungkap Finger.

Redaktur: Heri Ruslan
Readmore »»