Tampilkan postingan dengan label Harakah dan Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harakah dan Dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Januari 2012

Al-Munthalaq


Min Kutubil Ikhwan
14/1/2012 | 19 Safar 1433 H | 234 views
Oleh: Al-Ikhwan.net

Ikhwan Fillah, dalam rangka menambah wawasan dan menyebar luaskan kutub Ikhwan, kali ini redaksi akan memaparkan kajian tentang Al-Munthalaq yang ditulis oleh salah seorang masyaikh ikhwan yaitu Ust. Ahmad Ar-Rasyid

Mukadimah

Mari Kita Duduk Sebentar… Kita Beriman Sejenak…

Para da’i setiap orang mukmin senantiasa menghadapi dua tarikan: Tarikan keimanan, niat, kesungguhan dan kesadarannya terhadap tanggungjawab. Dengan itu dia berada dalam amal saleh dan azam kebaikan. Yang kedua adalah tarikan syaitan dari sudut yang lain, menghiasi futurnya dan menghiasi cintanya kepada dunia. Hal ini menyebabkan dia berada dalam kelalaian, malas, panjang angan-angan dan berlengah-lengah dalam mempelajari apa yang tidak diketahuinya.

Di antara kedua-dua tarikan ini adalah suatu yang sudah ditentukan oleh Allah, tidak akan berhenti, dan terus berlaku sepanjang hayat masih dikandung badan setiap insan. Oleh karena itulah, orang-orang yang beriman hendaknya mewajibkan kepada diri mereka untuk menghadiri majelis-majelis tafakkur dan saling nasihat-menasihati di antara satu sama lain. Memeriksa diri jika dihinggapi penyakit takabbur atau menolak kebenaran. Memeriksa hati jika dihinggapi diselubungi penyelewengan. Memeriksa ilmu dan iman jika dihinggapi ketergelinciran yang membawa kepada bid’ah atau kecuaian yang membawa kepada meninggalkan perintah Allah dan petunjuk.

Mu’az bin Jabal telah menterjemahkan perasaan ini dengan satu perkataan yang telah menjadi bagian tanda-tandan orang-orang yang beriman. Beliau telah berkata ketika mengingatkan sahabatnya:

إجلس بنا نؤمن ساعة

(Marilah kita duduk untuk beriman sejenak).

Perkataan ini telah diambil oleh Ibnu Rawaahah, lalu ia berkata kepada Abu ad-Darda ra sambil memegang tangannya:

تعال نؤمن ساعة إن القلوب أسرع تقلبا من القدر غليانا

Marilah kita beriman sejenak. Sesungguhnya hati lebih cepat berbolak-balik daripada isi periuk yang sedang menggelegak.

Lalu kita mengambil perkataan ini dari mereka berdua. Nasihat-nasihat ini adalah tentang fiqh ad-da’wah. Kita menyeru para da’i untuk duduk sejenak dengan setiap nasihat untuk ia beriman dan mengkaji diri, ilmu dan kesungguhannya.

Sisa…. Dan Harapan

Bagian dari buku ini ditulis untuk para du’at; mereka yang menunaikan shalat dan merasa bangga dengan agama mereka; yang berakhlak dengan akhlak mukminin. Tidak ditujukan kepada yang lalai, lebih-lebih lagi yang menyeleweng dan menyimpang.

Ini adalah karena untuk menyelesaikan permasalahan dunia Islam saat ini, tidak perlu kepada berpindahnya bilangan yang besar dari mereka yang lalai dan menyeleweng untuk berpegang-teguh dengan Islam. Tetapi yang diperlukan ialah menyadarkan mereka yang sudah berpegang dengan Islam, membangkitkan kesungguhan mereka dan memperkenalkan kepada mereka jalan amal dan fiqh da’wah. Masih banyak dari kalangan orang-orang mukmin, jumlah mereka sudah mencukupi untuk menegakkan kebaikan yang kita cita-citakan, tetapi dengan syarat apabila mereka mengenali tajarrud (menyerahkan diri hanya untuk Islam), zuhud terhadap dunia, menjauhkan diri dari fitnah, sabar atas segala mihnah (ujian) dan memahami seni memimpin umat.

Oleh sebab itu, bagian buku ini tidak akan berbicara dengan orang yang masih mencampur-adukkan antara Islam dan lainnya. Tetapi ia hanya cukup untuk mengajak muslim, yang benar imannya, suci aqidahnya, merasa perih dan sedih dengan realita umat muslimin saat ini.

Buku ini akan mengajarkan kita jalan beramal yang berfaedah dan jalan keselamatan memandu kita kepada kewajiban untuk mementingkatkan tarbiyyah diri dalam memenuhi tuntutan perjalanan dakwah .

Buku ini juga ditujukan kepada para du’at yang sudah mengetahui jalan amal, akan tetapi, mereka masih memerlukan bantuan, peningkatan usaha dan proses melembutkan hati.

Oleh yang demikian, kami telah mengambil segala perhatian kebaikan sebagaimana yang diisyaratkan oleh Yahya bin Mu’ada seorang zuhud ketika beliau berkata:

أحسن شئ كلام رقيق يستخرج من بحر عميق على لسان رجل رفيق

Sebaik-baik perkara ialah: Perkataan yang lembut, yang dikeluarkan dari lautan yang dalam, daripada lidah seorang yang lemah-lembut. (1 Taarikhul Baghdaad: 14/209)

Kamu akan mengetahui betapa kelembutan yang dimiliki oleh hati-hati orang-orang tersebut yang telah menghadiahkan kepada kamu buah hasil pengalaman dan natijah pengamatan mereka. Oleh sebab itu, nama mereka tetap dikenang dan mendapat perhatian umat setelahnya karena ia mempunyai hubungan dengan al-haq (kebenaran).

Suatu perkataan tidak akan kekal di sisi generasi kecuali jika ia berhubung dengan kebenaran dan kebaikan, karena ia senantiasa mendapat pertolongan daripada makhluk Allah mengikut undang-undang-Nya (sunnahNya) dan senantiasa diilhamkan kepada hamba-hamba-Nya.

Berapa banyak cahaya yang dipancarkan oleh raja yang zalim atau berhala yang masyhur mengeluarkan gema seketika, memancarkan cahaya sebentar, kemudian padam dan senyap, seperti bintang yang bertukar menjadi serbuk dan debu setelah terbakar. Ditambah lagi bahwa gemanya adalah bagian dari suara kebatilan, bukan kebenaran dan cahayanya berasal dari hiasan kebatilan bukan kebenaran.

Hanya akal yang faham, hati yang bersih dan orang yang yakin dengan kebenaran terhadap apa yang dibawanya saja yang bisa mengucapkan kebenaran yang kekal. Dia mengeluarkan kata-katanya yang menjadi contoh-contoh yang realitas dan keterangan yang kekal di dalam kehidupan. Tidak tertentu untuk satu waktu saja, bukan untuk perkara tertentu, bukan untuk orang tertentu, tidak juga pada kejadian tertentu, akan tetapi mencakup semua generasi dan masa, negara dan kawasan.

Kamu akan dapati kehebatan kata-kata berdasarkan kehebatan orang yang berkata, sebagaimana katanya, bahwa ia mau menjadikan kata-katanya itu sebagai jalan kehidupan manusia dan cahaya yang menerangi kegelapan hidup.

Syair Menjadikan Perkataan Menarik

Saya mendapati sebagian buku tarbiyyah harakah Islamiah memisahkan antara prosa dan puisi tanpa alasan yang kuat. Menjadikan para murabbi (pendidik) tidak dapat menggunakan beratus-ratus rangkap dan petikan puisi yang dapat melembutkan hati atau membangkitkan semangat atau puisi yang berkaitan dengan aqidah dan fikrah yang merupakan hasil karya para penyair yang tsiqah baik dari para ulama dahulu atau sekarang atau juga para penyair dakwah.

Seseorang berkemungkinan ketika mendengar suatu pemahaman, tetapi sedikitpun tidak menyentuh perasaannya, tetapi apabila digubah dalam bentuk puisi tertentu akan menggembirakan orang yang gundah gelana, menggerakkan orang yang lalai dan mendekatkan cita-cita yang dulunya terasa jauh.

Sebagian syair mempunyai hikmah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullah (saw). (Rentak dalam percakapan seumpama melagukan suara: maksud daripadanya ialah untuk mewujudkan kegembiraan hati dan jiwa yang menyebabkan kegembiraan fikiran)

Oleh yang demikian kami lebih cenderung untuk menggunakan puisi dalam seri buku ini, bertujuan untuk menambah gambaran yang baik oleh seorang da’i terhadap pengertian-pengertian tertentu, supaya merasuk kedalam jiwanya.

Bukti yang paling jelas tentang pentingnya syair dalam menyebarkan aqidah dan mempertahankannya ialah peranan yang telah dimainkannya ketika membantu ahli-ahli bid’ah untuk menyebarkan bid’ah di kalangan masyarakat awam. Usaha-usaha ini dilakukan untuk menentang usaha-usaha Ibnu Taimiyah serta pengikut-pengikutnya ketika mereka berusaha membatalkan segala bid’ah dengan hujjah-hujjah sunnah yang mulia. Tidak dapat dinafikan bahwa hujjah logika yang dibawa oleh Ibnu Taimiyah telah memberikan kesannya, tetapi kekeringan logika tidak dapat mengatasi keabsahan dan keindahan syair (puisi) sebagaimana yang dikatakan oleh penyair Islam Muhammad Iqbaal: Memang itulah yang berlaku. Pembawa-pembawa kesesatan yang telah menyebarkan bid’ah mereka dengan penerangan yang menarik dan keindahan syair (sastera), telah menarik hati manusia awam tanpa disadari dan inilah juga yang menyebabkan segala kata-kata Ibnu Taimiyah tidak mendapat tempat.

Begitu pula tidak ada dari kalangan para penyair yang memihak kepada Ibnu Taimiyah untuk membantunya. Puisi mempunyai kekuatan untuk membantu siapa saja yang menggunakannya baik untuk tujuan kebaikan atau kejahatan, untuk menolong kebenaran atau kebatilan. Dalam setiap perkara yang terkait dengan fikiran atau pun hakikat kehidupan, karena jiwa manusia menyukai keindahan, dan syair adalah keindahan seluruhnya, bisa baginya untuk menambah kejelasan kepada hak dan kebenaran dan bisa juga untuk menutup kekurangan dan penyelewengan yang ada pada kebatilan sehingga menjadikannya baik dan indah. Tidak ada seorang pun yang dapat melepaskan diri dari tawanan dan pengaruh syair melainkan hati yang dimakmurkan dengan iman secukupnya.

Fenomena ini mendorong saya untuk memasukkan puisi-puisi dalam pembahasan buku-buku ini.

Generasi Dahulu dan Setelahnya

Imam Ahmad menjadi pengikut kita dalam menggunakan syair yang melembutkan hati. Dia menghafal sebagian syair yang kemudiannya ditulis oleh Tsa’lab; seorang sastrawan yang masyhur. Murid-muridnya pernah mendengar dia bersyair dan pada hari mihnahnya para penyair telah memujinya. Bahkan dikatakan beliau telah mengucapkan beberapa bait syair karena tidak berpuas hati terhadap ‘Ali bin al Madini yang tidak sabar bersamanya ketika menghadapi penyiksaan.

Pernah pula salah seorang muridnya telah berkata: (Wahai Abu ‘Abdullah: Apakah pendapat kamu terhadap syair yang mengandung ungkapan surga dan neraka? Beliau berkata: Seumpama apakah syair itu? Muridnya menjawab: Mereka berkata: (membacakan syair) Maksudnya:

إذا ما قال لى ربى أما استحييت تعصينى #وتخفى الذنب من خلقى وبالعصيان .. تأتينى

Ketika berkata Tuhan kepadaku Tidakkah malu maksiat terhadapku, # Menyembunyikan dosa dari makhlukku dengan penuh noda, mengadapku?

Lalu beliau berkata: Ulangi sekali lagi. Berkata muridnya: Lalu aku ulangi sekali lagi, lalu ia (Imam Ahmad) bangun dan memasuki rumahnya serta menutup pintu. Ketika itu aku mendengar suara tangisannya dari dalam dan beliau mengulangi syair tadi.

Dengan penjelasan tentang faedah dan keharusan menggunakan syair ini, aku memetik banyak puisi dari antologi penyair terdahulu, kemudian dari antologi Walid al A’zhami, Mahmud Ali Ja’far, al Amiriy, Abdul Wahhaab Azzaam dan lainnya.

Aku juga menambah lagi daripada syair Iqbaal, salah seorang penyair Islam yang agung sebagaimana yang terdapat di dalam antologinya yang bertema (Risalatul Masyriq), (Al Asraar war Rumuuz) dan (Dharbul Kaliim). Inilah kali pertama syairnya memasuki buku peringatan berbahasa Arab setelah diterjemahkan oleh Abdul Wahhaab Azzaam.

Iqbaal adalah seorang penyair yang benar aqidahnya, mendalam perhatiannya dan luas pemikirannya. Beliau telah ditsiqahkan oleh Abul Hasan ‘Ali an Nadawi yang telah membuat satu kajian mengenainya yang dinamakannya sebagai: (Rawaa’i Iqbaal). Beliau juga telah ditsiqahkan oleh al-Maududi di dalam satu makalah penting yang disiarkan oleh al Majallatul Ba’tsil Islaamiyyil Hindiyyah. Di dalamnya beliau menerangkan kelebihan Iqbal dalam memberi arahan kepada generasi yang telah ditawan oleh peradaban Barat dan menjauhkan mereka dari perasaan sempit begitu juga ketika beliau menegaskan bentuk yang hakiki bagi Daulah Islamiyah, sehinggakan al Maududi telah mensifatkan bahwa apa yang dilakukan olehnya adalah suatu yang besar dalam melakukan ishlah (pemulihan) yang memiliki nilai yang tinggi dan tidak bisa dilupakan oleh sejarah. Beliau juga mampu menyelamatkan generasi muslim yang telah diliputi oleh berbagai fitnah dan ragam teori.

Lebih dari itu, Iqbaal telah melakukan satu perkara yang amat penting di akhir hayatnya sesuai dengan neraca Islam, yaitu keterlibatan beliau dalam membongkar kebatilan Al-Qadianiyyah dan al-Ahmadiyyah serta memberi arahan untuk tidak mendekatinya. Anda akan mendapatinya bahwa beliau sangat mengingkari kesesatan wihdatul wujud, kesalahan dengan apa yang difahami oleh sebagian golongan tentang sikapnya.

Bersama Fitrah Keindahan

Majaaz, jinaas dan tasybiih adalah seperti syair. Seseorang yang mempunyai rangsangan sastra mendapati bahwa ucapan yang bersemangat akan lebih berkesan jika dihiasi dengan ilmu-ilmu balaghah (ilmu bahasa dan sastera Arab) seperti yang disebutkan di atas. Oleh karena itu aku memetik sebagiannya dengan menjauhi dari yang sukar. (Majaaz, isti’arah, kinayah dan sebagainya dari uslub balaghah, tidak dapat dielakkan oleh jiwa yang seni, karena ia senantiasa mulian dan merupakan sesuatu yang agung, indah dan halus. Mungkin orang yang tidak berjiwa seni menganggap bahwa ini merupakan suatu yang berat dan meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Hasilnya segala yang dilakukan untuk tujuan itu adalah merupakan pekerjaan sia-sia dan tidak berfaedah. Tetapi sifat kesenian yang ada pada jiwa penyair berpendapat bahwa ia menambahkan lagi pengertian yang memberikan kesan yang lebih merasuk kedalam jiwa dan perasaan. Oleh karena itu penambahan dalam bentuk

- Majaz ialah lafaz yang digunakan bukan untuk maknanya yang sebenarnya karena terdapat qarinah (penunjuk) yang menengah dari maknanya yang sebenarnya.

- Jinaas ialah persamaan dua perkataan dari segi lafaz tetapi berlainan dari segi makna.

- Tasybiih ialah keterangan yang menunjukkan bahwa dua perkara atau lebih, mempunyai kesamaan, baik dalam satu sifat saja atau pun lebih.

- Isti’aarah ialah tasybiih (perbandingan) yang dibuang salah satu rukunnya (baik musyabbah atau pun musyabbahu bihi).

- Kinaayah ialah lafaz yang disebut tetapi yang dikehendaki darinya adalah makna yang berkaitan dengannya, dan dalam waktu yang sama harus juga yang dikehendaki ialah maknanya dari asal perkataan, pengolahan lafaz dan pengulangan makna tidak lain dan tidak bukan hanya bertujuan untuk memberikan penambahan terhadap jiwa dan perasaan)

Semangat pemuda Islam di awal abad baru…

Seterusnya..

Pada abad yang lalu telah menyaksikan akan luka-luka yang membuat peritkan pada seluruh dunia Islam. Serangan musuh Islam telah sampai ke puncaknya. Tetapi walaupun demikian, cobaan untuk menanganinya semula telah dilakukan oleh mereka yang mempertahankannya. Walaupun kemenangan belum diperoleh, tapi sekumpulan pemuda Islam telah terdidik dan sadar untuk bangkit. Azam mereka telah mantap. Ini semua meyakinkan lagi kepada kita bahwa Islam pasti menang dalam kurun ini .. Insya Allah !
Readmore »»

Minggu, 01 Januari 2012

Ats-Tsawabit Wal-Mutaghayyirat


Judul buku: Ats-Tsawabit Wal-Mutaghayyirat
Penulis: Jum`ah Amin Abdul Aziz
Penerbit: Al-I’tishom
Tebal buku: 246 halaman
Ukuran: 14 cm x 21 cm

Oleh: Abu Nida

dakwatuna.com – Ada sebagian kaum muslimin yang menganggap bahwa segala yang telah ada (baca: dilakukan) generasi awal Islam adalah sesuatu yang final dan harus diikuti, hatta dalam model pakaian dan hal lain yang sebenarnya masuk dalam domain “umuriddunya”. Sebagian yang lain, merupakan lawan ekstrim dari golongan pertama, bahwa apapun yang ada dalam Islam bisa diubah seiring dengan perkembangan zaman. Tidak peduli apakah ia masalah muamalah maupun ibadah dan aqidah, semuanya bisa diubah mengikuti “semangat zaman”.

Pandangan seperti di atas bisa saja terjadi ketika seorang muslim tidak mengetahui tsawabit dan mutaghayyirat dalam Islam. Mana hal-hal prinsip yang bersifat permanen, tidak boleh berubah. Dan mana hal-hal yang bersifat fleksibel, yang perlu dikembangkan dan dilakukan inovasi.

Dalam hal dakwah dan harakah juga demikian. Termasuk ketika umat berbicara tentang gerakan dakwah Islam terbesar; Ikhwanul Muslimun. Saat harakah ini di berbagai belahan dunia melakukan transformasi dalam ‘bentuk lain’ yang ‘berbeda’ dari tampilannya pada zaman Hasan Al-Banna, banyak komentar yang menganggap bahwa Ikhwan tidak lagi berada dalam asholahnya. Terlebih ketika harakah ini di beberapa negara sering kali melakukan ‘manuver dakwah’ maka suara-suara itu lebih terdengar. Tidak hanya dari orang umum dan simpatisannya, bahkan sebagian kadernya juga ikut terbawa dalam pandangan ini.

Sementara itu, tantangan dan problematika yang dihadapi harakah Islam sekarang berbeda dengan apa yang pernah dihadapinya dulu. Peluang yang terbuka juga tidak sama persis dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Zaman dan tipologi manusia yang ada sekarang juga berbeda. Dengan argumentasi ini, ada juga kemudian yang mengusulkan bahwa ‘manuver dakwah’ harus lebih kencang dan bahkan menyangkut hal-hal yang sebenarnya prinsip juga menjadi berubah.

Maka, kehadiran buku Ats-Tsawabit Wal-Mutaghayyirat karya Jum’ah Amin ini menjadi cahaya terang yang bisa dijadikan referensi tentang Ikhwan, tidak hanya bagi kadernya tetapi juga bagi simpatisan dan umat Islam secara umum.

Setelah menjelaskan tentang definisi tsawabit dan mutaghayyirat, penulis menjelaskan pula 10 tsawabit dalam dakwah Ikhwanul Muslimun, yaitu:

1. Nama Jamaah tidak boleh berubah sebab ia merupakan cerminan fikrah, aplikasi, sejarah dan loyalitas.

Artinya, ketika disebutkan nama Ikhwanul Muslimun, maka akan segera tergambar sebuah jamaah dakwah dengan berbagai karakternya yang khas. Namun, ke-tsawabit-an nama ini hanya diperuntukkan bagi tanzhim alamy (organisasi pusat). Adapun cabang-cabangnya di berbagai negara diperbolehkan menggunakan nama yang berbeda sesuai dengan kondisi sosial politik dan peluang serta kapasitas internal jamaah.

2. Beramal jama’i adalah kewajiban yang harus selalu menyatu dengan aktivis dakwahnya. Maka kader Ikhwan akan senantiasa bersama dengan jamaah baik keputusan jamaah sesuai dengan pendapatnya atau berbeda. Dan tentu saja karena jamaah ini adalah jamaah Islam maka segala keputusannya harus sesuai dengan konsep Islam dan amal jama’inya pun dalam rangka penegakan Islam.

3. Jalan yang dilalui dalam upaya meraih cita-cita dan tujuannya adalah dengan tarbiyah. Meskipun pada saat yang sama juga ada dakwah struktural, perubahan sosial melalui gerakan massa, dan sebagainya, tarbiyah (pengkaderan) tetap menjadi langkah utama. Hal ini membawa implikasi meskipun suatu saat jamaah ini sudah memasuki ranah politik atau bahkan ranah negara, memiliki massa yang demikian banyak jumlahnya, ia tetap harus melakukan proses tarbiyah. Dengan tarbiyah itu ia menjaga dan mengembangkan kader yang sudah ada, dengan tarbiyah pula ia menambah jumlah kader itu.

4. Usrah adalah tempat asuhan tarbiyah. Meskipun wasailut tarbiyah (sarana-sarana tarbiyah) itu banyak, tetapi usrah tetap menjadi jiwa dari semua sarana yang ada. Meskipun sarana tarbiyah bisa berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi (misalnya dengan telekonferens dan taujih leave), usrah tidak boleh ditinggalkan. Ia menjadi benteng terakhir bagi tarbiyah, otak bagi amal jama’i, dan senjata utama dalam merealisasikan cita-cita.

5. Prinsip-prinsip jamaah, baik mengenai pemahaman aqidah, pemikiran, atau ideologinya bisa dirujuk dalam risalah ta’alim (khususnya ushul isyrin) dan risalah aqaid. Maka, bagi kadernya sangat diperlukan mempelajari risalah tersebut, sebab ia merupakan batasan dan arahan dalam memahami Islam. Jika batasan atau kaidah dalam risalah ini telah benar-benar dikuasai maka baru boleh baginya membaca referensi apapun dan tidak dikhawatirkan akan terkena syubhat dan ghazwul fikr dari pihak yang memusuhi Islam.

6. Bahwa Islam itu bersifat syumul (komprehensif) dan karenanya jamaah dakwah Islam juga harus bersifat komprehensif. Dari sini bisa diketahui kelemahan harakah Islam yang hanya mengkonsentrasikan diri pada salah satu aspek dalam Islam; aqidah saja atau politik saja, misalnya.

7. Syura adalah pengikat bagi setiap ikhwah dalam memecahkan permasalahan dan menyelesaikan perbedaan.

8. Menghormati sistem dan peraturan jamaah adalah moralitas yang selayaknya dijunjung tinggi setiap ikhwah

9. Pilihan fiqih yang telah ditetapkan oleh jamaah harus diikuti oleh anggota

10. Allah menjadi tujuan dalam setiap ucapan dan perbuatan. (Muchlisin/BeDa)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17813/ats-tsawabit-wal-mutaghayyirat/#ixzz1iHE9I3Tu
Readmore »»

Jumat, 24 Juni 2011

WAJIBATUL AKH AL-MUSLIM


“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. Annisaa : 65)

Kewajiban merupakan kebutuhan bagi orang yang telah mengetahui arti pentingnya, bagi orang yang telah merasakan kenikmatannya, dan bagi orang yang telah mendapatkan hikmah di baliknya, sebaliknya kewajiban menjadi beban bila tidak dibarengi dengan jiwa yang lapang, hati yang ikhlas, dan perasaan yang ridho, senang dan gembira menyambut seruan Allah SWT dan Rasulnya. Seperti halnya kewajiban hidup di bawah naungan Al-Qur’an dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya, sesungguhnya merupakan kenikmatan dan rahmat dari Allah SWT, sebagaimana ungkapan As-Syahid Sayyid Qutub dalam muqaddimah tafsir Dzhilalnya :

“Al-Hayaatu fi dzhilali Qur’ani ni’matun, ni’matun laa ya’rifuhaa illaa man dzaaqahaa, tubaarikul ‘umra wa tunmiihaa” ( Kehidupan di bawah naungan al-Qur’an adalah kenikmatan, kenikmatan yang hanya dapat diketahui oleh orang yang mereguk cita rasanya, kenikmatan yang memberkahi usia dan memproduktifkannya).

Imam as-Syahid Hasan Al-Banna merumuskan tujuh butir kewajiban asasi bagi seorang Al-Akh, di mana masing-masing butir terjabarkan sedemikian rupa dengan cukup rinci dan detail. Tentu saja kewajiban tersebut hanya ditekankan taklifnya kepada “Al-Akh” yang telah melampaui proses takwiniyah minimal sampai marhalah intisab, yang dianggap telah bermu’ayasyah dengan kewajiban Al-Akh pada marhalah sebelumnya hingga proses taqwim intisabnya . Sebagaimana ungkapan Imam as-syahid dalam Muqaddimah “Risaalah at-ta’lim wal Usar” :

“Fahaadzihi risaalatii ilal ikhwaanil mujaahidiin, minal Ikhwaanil muslimiin, alladziina aamanuu bisumuwwi da’watihim wa qudsiyyati fikratihim, wa ‘azamuu shadiqiina ‘alaa an ya’iisyuu bihaa, au yamuutuu fii sabiilihaa, ilaa haaulaail ikhwaani faqoth uwajjihu haadzihil kalimaatil muujazah, wa hiya laisat durusan tuhfadzh walaakinnahaa kalimaatun tunfadz, fa ilal ‘amali ayyuhal ikhwatisshadiquun…”. (Inilah risalahku, kutujukan kepada anggota ikhwan yang bersungguh-sungguh, yang mengimani keluhuran da’wahnya, kesucian fikrahnya, keseriusan tekadnya untuk senantiasa hidup bersamanya atau mati di jalannya, hanya kepada seluruh ikhwan saja (A’dho) aku haturkan pesan ringkas ini (Risalah ta’lim wal usar), dan semua ini bukanlah pelajaran untuk dihafal, melainkan ta’limat yang harus dilaksanakan, oleh karena itu bersegeralah kepada ‘amal wahai ikhwah sejati….”)

Kata-kata “minal Ikhwan” dalam ungkapan di atas, ditekankan oleh Imam Hasan al-Banna dalam rangka tawaddhu dan menjauhi sikap ‘ujub dan takabbur, artinya Imam as-syahid tidak menutup kemungkinan bahwa “Al-Ikhwan al-Mujahidiin” juga muncul di luar IM, Oleh karenanya kita tidak boleh “ghurur” hanya dengan kebesaran nama IM, untuk ini kita sering diingatkan oleh taushiah para syuyukh : “Kam fiinaa laisa minnaa wa kam minnaa laisa fiinaa” (Berapa banya orang bersama kita (IM) tapi pada hakekatnya mereka “bukan dari kita” dan sebaliknya berapa banyak orang diluar kita (IM) tapi pada hakekatnya mereka bersama kita).

Kewajiban Al-Akh terhadap Rabb

Di antara kewajiban terhadap Rabb yang dapat mendorong terlaksananya kewajiban-kewajiban lainnya adalah senantiasa merasakan adanya muroqobatulloh, ( As-Syu’ara : 219 – 220, Al-Hadid : 4, Ali Imron : 6, Al-Fajr : 14, Ghafir ; 19 ). Ketika seorang Al-Akh senantiasa merasakan muroqobatulloh maka keikhlasan niat akan mewarnai setiap amal perbuatannya ( Al-Bayyinah : 5, Al-Hajj : 37, Ali Imron : 29). Keikhlasan yang tulus akan menguatkan ingatan tentang akherat dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapinya dengan taqarrub kepada Allah dan dengan memperbanyak amalan sunnah, memperbanyak dzikir dalam segala situasi dan kondisi serta melazimkan do’a matsur dari Rasululloh SAW. Ditambah dengan “Al-aurad Al-Ikhwaaniyah” yang senantiasa dibaca dan tidak meninggalkannya kecuali dalam keadaan yang sangat darurat atau terpaksa.

Hendaknya seorang Al-Akh dalam menyempurnakan kewajibannya kepada Allah SWT senantiasa menjaga dan memelihara “Thaharah hissiyyah dan ma’nawiyyah”, thaharah hissiyyah dengan berwudhu dan mendawamkannya ( Al-maidah : 6 ) sedangkan tharah ma’nawiyyah dengn menjaga hati dan lisan dari dzhon, tajassus dan ghibah ( Al-Hujurat : 12), juga dengan membuang sikap hasad, sebagaiman hadits nabi mengatakan : “Iyyaakum wal hasada fa innal hasada ya’kulul hasanaat kama ta;kulunnarrul khatoba’ ( jauhilah olehmu Hasad karena Hasad itu memakan kebaikan sebagaiman api memakan kayu bakar ).

Kewajiban lainnya adalah membaguskan shalat dengan menunaikannya pada waktunya dan bersungguh-sungguh ke masjid untuk menunaikannya secara berjamaah, Rasululloh SAW memotivasi ummatnya untuk shalat berjamaah dengan 27 derajat dibanding shalat sendirian, bahkan lebih afdhal lagi bila hal itu dilakukan di Masjid sebagaiman hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Al-Hakim : “Idzaa ra’aitumurrajula ya’taadul masjidafasyhaduu lahu bil iiman” (apabila engkau melihat seseorang membiasakan pergi ke Masjid maka saksikanlah oleh kalian keimanannya). Sedangkan shalat yang harus diperhatikan oleh seorang Al-Akh bukan hanya semata-mata dari aspek mengerjakannya, tetapi yang lebih penting dari itu adalah aspek menegakkannya dengan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar. As-Syekh Mutawaali Sya’rawi salah seorang ulama pakar tafsir tematik mengatakan bahwa firman Allah yang menyatakan “Innasshalaata tanha anil fakhsyaa’i wal munkar” itu bisa dibalik pengertiannya menjadi “Innal fakhsya’a wal munkar tanha ‘anisshalaati”, artinya shalat yang sungguh-sungguh dan disertai dengan merenungkan hakekatnya dapat mencegah perbuatan yang keji dan munkar, sebaliknya perbuatan yang keji dan munkar dapat mencegah pelakunya dari kesungguhan dan hakekat shalat yang ditunaikannya.

Setiap bulan Ramadhan ada kewajiban bagi Al-Akh untuk menunaikan ibadah puasa seoptimal dan sebaik mungkin kemudian setiap bulan Dzul Qa’dah dan Dzulhijjah Al-Akh yang mampu dari segi materi berkewajiban menunaikan haji ke Baitulloh atau mempersiapkannya untuk dapat menunaikannya kelak di kemudian hari dengan bersungguh-sungguh bekerja dan mencari maisyah (Ali Imron : 97, Al-hajj : 27).

Hendaknya pula seorang Al-Akh senantiasa memperbaharui taubat dan istighfar, menjauhkan diri dari dosa –dosa kecil apalagi dosa besar ( Annisaa : 17 – 18, Ali Imron : 135 ) Hendaknya pula seorang Al-Akh mengoptimalkan waktunya karena “Al-Waqtu hual hayah”, waktu adalah kehidupan itu sendiri, kemudian bersikap wara’ dari segala syubuhat sehingga tidak jatuh kepada yang haram.

Hendaknya seorang Al-Akh bermujahadah li nafsihi, mengarahkan kecenderungan nafsu senantiasa kepada yang halal dan baik, sehingga terhindar dari segala yang haram dimana saja kapan saja, lebih dari itu hendaknya seorang Al-Akh senantiasa berniat untuk jihad dan mempersiapkan diri semampunya untuk itu (Al-Anfal :60).


Kewajiban terhadap Badan

“Inna lijasadika ‘alaika Haq”, sesungguhnya bagi jasadmu ada hak, itulah nasehat Rosululloh SAW kepada seorang sahabat yang ingin berpuasa terus sepanjang hari. Di antara hak jasad yang menjadi kewajiban seorang Al-Akh adalah menjaga dan memeliharanya dari segala penyakit, “wa sihhataka qobla saqamika” dan sehatmu sebelum sakitmu demikan nasehat Rosululloh SAW untuk senantiasa memelihara kesehatan badan

Untuk menjaga keseimbangan badan hendaknya seorang Al-Akh tidak berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh dan sejenis minuman seperti itu lainnya (Soft drink), sedangkan rokok harus benar-benar dihindari samasekali, selain itu juga menjaga kebersihan badan, tempat, pakaian, makanan dan lain-lainnya, karena “Buniaddinu ‘alannadzhafah” (Dibangun Din itu di atas kebersihan).

Banyak berolah raga walaupun hanya sekedar berjalan kaki, mencegah dari mengkonsumsi khamr dan apa saja yang memabukkan. Semua kewajiban terhadap badan tidak lain dimaksudkan agar Al-Akh senatiasa fit dan prima dalam menjalankan ibadah dan tugas da’wah, karena sesungguhnya Ikhwah adalah SDM yang mahal, sekian lama terbina dan bila pada saat-saat tenaganya dan fikirannya sangat dibutuhkan dalam da’wah kemudian tiba-tiba tidak produktif dan optimal lantaran kesehatan sangatlah disayangkan. “Al-mu’minul Qowiyyu khoirun wa ahabbu ilallahi minal mu’minddhoifi” (Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada Mu’min yang lemah) Hadits Nabi.

Kewajiban Al-Akh dalam memelihara dan menjaga kondisi badannya pada prinsipnya adalah mengatur keseimbangan, agar suplai makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak berlebihan sehingga menimbulkan isyraf dan juga tidak kekurangan sehingga mendzhalimi diri sendiri, terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi makanan, apalagi bukan kategori makanan yang menyehatkan. Melainkan yang hanya sekedar memenuhi standar halal tapi tak baik untuk dikonsumsi, seperti sejenis makanan fast food, mie Instan dll. Padahal kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengkonsumsi makanan yang “Halalan Thayyiban”. Perintah Allah tersebut bukan hanya sekedar sebuah syariat, tetapi terbukti hikmahnya dapat menjamin kesehatan seseorang, karena kesehatan itu pangkalnya di perut yang menjadi tempat segala jenis makanan dan minuman, sebagaimana sabda Rosululloh SAW : “Maa ro’aitu wi-aa’a rajulin sarran min bathnihi” (Tidaklah aku melihat wadah seseorang yang lebih buruk dari perutnya). Oleh karena itu memilih jenis makanan yang sehat juga merupakan kewajiban seorang Al- Akh agar terpelihara badannya dari segala penyakit. Misalnya membatasi makanan yang mengandung lemak dan kadar kolesterol tinggi, karena hal itu lama kelamaan akan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah dan memicu munculnya penyakit jantung koroner. Sebaliknya memperbanyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan sangat bagus untuk pencernaan.

Kesimpulannya adalah Al-Akh harus menjaga keseimbangan tubuh agar sesuai antara suplai dan energi yang dikeluarkan. Insya Allah seorang Al-Akh banyak mengeluarkan energinya untuk da’wah baik energi fisik maupun pikiran, bahkan energi pikiran termasuk hal yang dominan terkuras dari diri Al-Akh. Oleh karenanya menjaga keseimbangan dengan menunaikan kewajiban terhadap badan menjadi sebuah kewajiban yang terkait dengan pelaksanaan kewajiban yang lainnya seperti kewajiban beribadah dan da’wah , sebagaimana kaidah fiqih mengatakan ; “Maa laa yatimmul waajibu illaa bihi fahuwa waajibun”. Di sisi lain Aloh telah memberikan contoh keseimbangan pada struktur ciptaanNya, seperti langit yang ditegakkanNya dan dirancang dengan penuh keseimbangan. Jarak antara matahari dan bumi juga diatur seimbang, tidak terlalu dekat sehingga bumi terancam bahaya oleh radiasinya, juga tidak terlalu jauh sehingga suhu udara di bumi tidak membeku. Demikianlah Allah SWT menggambarkan prinsip-prinsip keseimbangan, dan oleh karenanya kita dilarang untuk menyimpang dari timbangan dan takaran yang semestinya, wabilkhusus untuk badan kita. ( QS Ar-Rahman : 7-10 ).

Kewajiban terhadap akal

Akal merupakan karunia Allah SWTyang sangat berharga. Betapapun terbatasnya kemampuan akal, akan tetapi Allah telah mendisain akal seseorang agar memiliki kemampuan untuk merenungkan nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu seseorang dapat tergolong sebagai penghuni neraka sa’ir lantaran meninggalkan kewajibannya dalam hal menggunakan akalnya. ( QS. Al-Mulk : 10 )

Di antara kewajiban seorang Al-Akh terhadap akalnya adalah dengan banyak membaca dan produktif dalam membuat tulisan. Semangat membaca dan menulis merupakan stimulus dari wahyu pertama yang termaktub dalam rangkaian surat al-‘Alaq. Kemudian syogyanya seorang Al-Akh juga dianjurkan untuk banyak menelaah Risalah-risalah Ikhwan (Risalah Ta’lim, Risalah Jihad dll), surat kabar, tabloid, buletin dan majalah yang diterbitkannya, berusaha sebisa mungkin mengadakan perpustakaan betapapun kecil dan sederhana, sedangkan bagi seorang Al-Akh yang mempunyai peluang, kemampuan dan prospek akademis hendaknya jangan menyia-nyiakan hal itu untuk memperdalam kemampuan akademisnya dan keterampilan ilmiahnya, hal ini ditekankan oleh Allah SWT dalam firmanNya surat at-Taubah : 122.

Dengan segala kemampuan akademis dan wawasan keilmuan yang dimiliki seorang Al-Akh, maka wajiblah baginya untuk memberikan perhatian kepada kegiatan keislaman secara umum. Sehingga dapat segera direspon dengan baik bila ada kegiatan da’wah.

Kewajiban pula bagi seorang Al-Akh untuk mengerahkan pikirannya bagaimana dapat membaguskan tilawah Al-Qur’annya, dan mentadabburkan kandungan ma’nanya ( 4 : 82, 47 : 24, 38 :29 ). Imam Ali Bin Abi Thalib berkata ; “Laa Khaira fii qira’atin laa tadabbura fiihaa” (Tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur’an yang tidak dibarengi dengan mentadabburkannya). Di sisi lain seorang Al-Akh diharuskan banyak mempelajari Sirah Nabawiyah dan sejarah salafussalih, karena hal itu akan memantapkan hati (Tsabat), menjalin hubungan nostalgia dan mempertajam memori (Dzikra) dan nasehat penuntun di jalan da’wah (Mau’idzah). Sebagaiman firman Allah SWT dalam surat Hud : 120. Juga untuk menambah militansi dan semangat dalam berda’wah serta berjihad di jalan Allah, karena sebagaimana perkataan Ulama Salafussalih “Al-Hikayatu jundun min junudillah” (Kisah atau cerita laksana tentara-tentara Allah SWT).

Kewajiban intelektual seorang Al-Akh juga dianjurkan untuk berusaha mempelajari bahasa Arab dan gramatikanya serta disiplin ilmu syari’ah lainnya.


Kewajiban Al-Akh terhadap akhlaknya

Hendaknya seorang Al-Akh bersikap malu dan peka perasaannya. Malu yang dimaksud di sini adalah menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak keimanan dan kehormatan diri. “Al-Hayaa’u satrul Iman” (Malu itu sebagian dari Iman), demikian hadits Rosululloh SAW. Sedangkan yang dimaksud peka perasaannya adalah cepat tanggap terhadap kebaikan-kebaikan, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, misalnya bila seorang Al-Akh kedatangan tamu maka ia cepat-cepat menyambut tamunya dengan senyum dan wajah yang berseri seri, “Tabassumuka li akhika sadaqah” (Senyummu kepada saudaramu adalah sodaqoh), demikian nasehat Rasulullah SAW. Akhlak terpuji lainnya yang menjadi kewajiban seorang Al-Akh adalah sikap tawaddhu, tawaddhu yang dimaksud bukanlah rendah diri tapi rendah hati. Sebab kalau rendah diri pertanda tidak memliki izzah maka tawaddhu yang sebenarnya adalah tidak menyombongkan dan membesarkan diri dihadapan orang-orang beriman, tetapi sebaliknya merasa besar dan mulia di hadapan orang-orang kafir, “ ‘Aizzatin ‘alal kaafiriina, ‘Adzillatin ‘alal mu’minin” (5 : 54), tawaddhu yang dimaksud disini juga bukan “jurus tawaddhu” yang terkadang ditunjukkan oleh seorang Al-Akh untuk menolak satu permintaan kebaikan atau wadzhifah, baik tandzhimiyah maupun da’awiyah.

Seorang Al-Akh berkewajiban menjunjung tinggi kebenaran dan menjauhi sikap dusta, karena bersikap benar itu amanah dan dusta itu khianat. Orang yang konsisten dengan kebenaran biasanya memiliki keinginan yang kuat (quwwatul iradah), istiqomah, tidak plin-plan dan tidak gampang mengingkari janji, bersikap berani karena benar, mengakui kesalahan, menyadari keterbatasan diri sendiri dan mampu menguasai emosi.

Hendaknya pula seorang Al-Akh menjaga kehormatan dan wibawanya, meskipun demikian hal itu bukan berarti menghalanginya untuk sekali-kali bergurau dan melempar senyum, “Arihuu anfusakum fainnahaa lam tushna’ min hadiid” (Rehatkanlah diri kalian karena diri kalian bukan terbuat dari besi, demikian hadits Rasulullah SAW.

Hendaknya seorang Al-Akh menjauhi pergaulan yang jelek dan rusak serta menjauhi tempat maksiat, meskipun tidak melakukan maksiat di tempat tersebut. Namun hal itu akan menimbulkan fitnah dan kurang mendatangkan berkah, oleh karena itu di antara adab-adab rihlah adalah tidak mengunjungi tempat yang nyata-nyata banyak dan penuh dengan kemaksiatan.

Kewajiban Al-Akh terhadap kantongnya

Meskipun kaya seorang Al-Akh tetap berkewajiban untuk bekerja mencari maisyah. Sebab semakin kaya semakin banyak harta yang diinfakkan di jalan da’wah, terutama para suami yang harus bekerja menghidupi anak dan istrinya. Suami adalah qowwam, sehingga meskipun isterinya adalah orang kaya bukan berarti suami lepas dari tanggung jawab mencari maisyah, karena kekayaan isteri tidak menggugurkan kewajiban suami untuk mencari nafkah. (4 :34).

Hendaknya seorang Al-Akh jangan terlalu berambisi untuk duduk di birokrasi, tetapi jangan ditolak bila memang peluang itu ada. Seorang Al-Akh lebih disukai menjadi wiraniaga atau pengajar, karena waktunya lebih fleksibel dan tidak terlalu mengikat, sehingga bebas dan leluasa untuk melakukan manuver-manuver da’wah. Adapun seorang Al-Akh bila menjadi tenaga profesional hendaknya seoptimal mungkin menjaga kualitas, kredibilitas dan tepat janji sesuai kesepakatan, dengan kata lain ithqonul ‘amal. “Innallaha yuhibbu idzaa ‘amila ahadun an yuthqinahu” (Sesungguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang bekerja ia melakukannya dengan ithqon). Jangan menyalah artikan tsiqoh dengan ikhwah lalu bermuamalah seenaknya atau membiasakan manajemen “afwan” untuk menutupi kelalaiannya dan ketidak ithqonannya dalam bekerja.

Dalam mencari Ma’isyah seorang Al-Akh jangan coba-coba bermain riba, karena selain tidak berkah hal itu berarti melanggar sesuatu yang jelas-jelas diharamkan Allah SWT, juga menjauhi perjudian dengan segala unsurnya, sebaliknya seorang Al-Akh berkewajiban menghemat dengan menabung dan menyimpan uangnya agar sewaktu-waktu bila ada emergency bisa digunakannya tanpa harus meminta atau meminjam kepada yang lain. Bila dari hasil ma’isyah menghasilkan uang cukup banyak janganlah berlebihan dan berfoya-foya sehingga cenderung mengarah kepada perbuatan yang mubadzir, dan yang terakhir sedapat mungkin mencintai produk dalam negri wabil khusus produk sesama ikhwah untuk menggairahkan produktifitas ma’isyah di kalangan ikhwah.

Kewajiban Al-Akh terhadap da’wah

Kewajiban seorang Al-Akh terhadap da’wahnya adalah menjaga konsistensi dan soliditas hubungan terhadap jama’ah, kalaupun seorang Al-Akh menjalin hubungan dengan institusi dan organisasi lainnya, seperti perusahaan, ormas dll, maka hal itu dibenarkan sepanjang ada maslahat berkecimpung di dalamnya, terlebih lagi bila hal itu memang dilakukan atas perintah dan rekomendasi jama’ah sebagai on mission misalnya. Sebaliknya memutuskan hubungan sama sekali dengan lembaga atau institusi baik hukum, pemerintahan maupun pendidikan yang nyata-nyata berlawanan dengan fikrah Islam.

Juga menjadi kewajiban seorang Al-Akh untuk mengenali anggotanya satu persatu dengan baik, menunaikan hak-hak ukhuwwah mereka, mengutamakan dan membantu mereka serta menunjukkan rasa cinta dan empati kepada mereka karena Allah SWT.

Hendaknya seorang Al-Akh berpartisipasi aktif dalam da’wahnya dengan menyumbangkan sebagian hartanya, menyebarluaskan da’wah ke mana saja, mulai dari keluarga dan siapa saja yang berhubungan dengannya. Dan seorang Al-Akh senantiasa merasakan nuansa keqiadahan meliputi dirinya, sehingga terus menerus terasa berhubungan dengan qiadah baik secara ruh maupun amal, misalnya meminta idzin jika hendak melakukan kebijakan dan manuver da’wah yang dirasakan penting dan sensitif. Ala kulli hal hendaknya seorang Al-Akh laksana tentara yang bersiap siaga di pos dan baraknya untuk menunggu komando dan perintah.

Kewajiban Al -Akh kepada masyarakat umum.

Kepada orang lain meskipun dia bukan ikhwah hendaknya seorang Al-Akh bersikap adil, objektif dalam mengambil keputusan di setiap keadaan ( 5 : 8 ), jangan melupakan kebaikan orang lain hanya karena marah dan sebaliknya jangan menutup mata terhadap kejahatan dan keburukannya karena terlalu senang kepadanya.

Seorang Al-Akh hendaknya bersungguh-sungguh berkhidmat demi kepentingan orang lain, dan merasakan adanya kegembiraaan dan kepuasan batin bila dapat berbakti kepada orang lain, seperti menengok orang sakit atau menghibur seseorang dalam kesedihannya walaupun hanya dengan satu kalimat. “Khairunnaasi anfa’uhum linnaasi” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain), demikian hadits Rasulullah SAW.

Kepada orang lain Al-Akh hendaknya menebar kasih sayang, bersikap toleran, mudah mema’afkan dan lapang dada, bersikap lembut walaupun kepada binatang, bergaul dengan akhlak yang baik kepda semua orang dan menjaga adab dalam hidup bermasyarakat. Menyayangi yang kecil, menghormati yang besar, melapangkan majlis dan memberi tempat duduk kepada orang lain. Kemudian tidak melakukan tajasssus, ghibah, dan tidak lupa meminta idzin bila hendak masuk atau keluar dari ruangan ( 49 : 9 – 13 ).

Wallohua ‘lam bisshawab
Readmore »»

Dongeng Jama’ah


Artikel Lepas
16/6/2011 | 15 Rajab 1432 H | Hits: 4.500
Oleh: Maidani dakwatuna.com – Suatu waktu ketika hari pembalasan tiba, Malaikat menanti para manusia yang akan digilirkan dalam penghisaban untuk masuk ke surga atau neraka. Mereka datang dengan sendiri-sendiri dan ada juga yang berkelompok-kelompok sesuai dengan jamaahnya. Sebelum mereka masuk untuk dihisab Malaikat bertanya kepada setiap manusia, “hai Kamu dari jama’ah mana?” saya jamaah A pak Malaikat, jawab manusia. “ya silahkan masuk lewat pintu sini…” kata malaikat.

Malaikat terus mengabsen para manusia, ada dari jamaah A, B, C dan sebagainya, hingga sampailah pada seseorang manusia yg datang seorang diri.

Malaikat kemudian bertanya, “hai manusia, kamu dari jamaah mana?”

Manusia itu menjawab :”saya tidak dari jamaah mana-mana pak malaikat, saya seorang diri saja”

Malaikat :”loh?? kenapa begitu? kenapa kamu tidak masuk jamaah A, B, C atau lainnya??

Manusia : “Tadinya aku berada di jamaah A, Aku diberikan pendidikan keislaman dari jamaah A, tapi aku merasa ada yang tidak cocok dengan jamaah A. para qiyadah di jamaah A, sudah tidak berada pada jalan dakwah yang benar. Sangat berbeda dengan Rasulullah. dan akhirnya saya keluar deh dari jamaah A yang membesarkan saya”

Malaikat : “terus kenapa kamu tidak masuk jamaah B?”

Manusia : “saya kurang suka dengan jamaah B, cara berdakwahnya kurang saya minati, orang-orangnya juga saya tidak suka”

Malaikat : “jamaah C?”

manusia : “walaupun mengikuti Al qur’an dan hadits tapi ga seluruhnya.. anggotanya juga banyak yg mengecewakan saya”

Malaikat : “(bergumam : set dah ini manusia, dia pikir jamaah-jamaah itu jamaah malaikat kali ya?”)

Malaikat : “Terus apa yang kamu lakukan seorang diri? bagaimana amal-amal harian kamu dengan seorang diri? bagaimana dakwah yang kamu lakukan dengan seorang diri? Ada berapa orang yang kamu dapati kemudian kamu menyeru kebaikan kepada mereka dan mereka mengikuti? Sadarkah ketika Engkau berada seorang diri kemudian dihadapkan kepada perbuatan maksiat? sadarkah kau bahwa srigala lebih leluasa dan lebih berani memakan domba yang sendirian?”. “Hai Manusia… kalian itu Jamaah Manusia, bukan jamaah malaikat seperti kami yang tidak ada khilaf, salah dan dosa. Jangan engkau banding-bandingkan apalagi disama-samakan qiyadah dalam jamaah kalian dengan Rasulullah SAW. Jangankan menyamai Rasulullah SAW, mendekati amalan-amalan para sahabat saja mungkin belum bisa.”

Malaikat :”kalian itu jamaah manusia, bukan jamaah malaikat. kalian itu jamaah manusia, salah sedikit tidak mengapa karena kalian itu manusia bukan malaikat. Allah saja Maha Pemaaf, masa kamu tidak bisa memaafkan saudara-saudara kalian?? kemudian apakah amal-amal mu lebih baik dari saudara-saudara kalian? kemudian apakah ketika kamu yg memimpin bisa lebih baik dari saudara-saudara kalian”

Manusia : “gitu ya pak malai?!?!?! hiks…hiks…hiks… iya saya sangat menyesal pak malai… ;(”

***

Al Wafa secara bahasa bisa diartikan kesetiaan, loyalitas, keikhlasan, amanah. Namun, jika diartikan secara sederhana adalah “Kacang Tidak Lupa Kulitnya”

Makna Al Wafa yang lain adalah menepati janji. Semisal akad jual beli, akad nikah, akad dengan saudara kita, akad dijalan dakwah dan sebagainya.

itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.; sesungguhnya Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah (Al Isro : 34)

Salah satu ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang memenuhi janjinya. Orang yang wafa dan orang yang bertakwa sudah pasti orang yang mukmin (arkanul iman), muslim (arkanul islam) dan muhsin (selalu berbuat baik).

Ingat-ingatlah janji kita :

* Kepada Allah SWT
* Kepada Rasulullah SAW
* Sudahkah kita selalu memenuhi janji kita kepada Allah, yang sederhana saja, apakah ketika panggilan Allah berkumandang apakah kita selalu tepat waktu berjamaah di masjid?
* janji kepada gerakan da’wah yang kita aktif didalamnya.
* dimanapun kita berada, dalam jamaah apapun kesetiaan harus tetap di munculkan. Jangan bandingkan Rasulullah dengan Ikhwah-ikhwah kita.
* janji kepada teman sejawat
* dan sebagainya..

“Ya Allah Kuatkanlah Gantunganku hanya pada-Mu saja, tidak dengan Manusia”

Wallahualam..
Readmore »»

Jumat, 25 Maret 2011

Pelajaran dari Ikhwanul Muslimin


Islamedia.web.id - Berikut adalah ringkasan yg dinukil dr Tarikh Ikhwan 2 (1928-1938), halaman 562-578 terbitan Intermedia.

Fitnah Kedua (1937-1938)

Sebab: semangat yang meledak-ledak, ingin mencapai tujuan sebelum sempurna prinsip-prinsipnya.

Tokoh:
1. Muhamamd Izzat Hasan Mu'awin
2. Ahmad Rif'at
3. Shadiq Affandi Amin
4. Hasan As Sayyid Ustman

Keempatnya adalah anggota kantor pusat dan memiliki sejumlah pengikut.

Kebijakan yg dikritisi adalah:
1. Ikhwan terlalu basa-basi dan hanya melakukan manuver politik
2. Masalah perempuan dan keharusan mentaati hukum islam tentang larangan berdandan dan berpenampilan seronok (tidak tegas)
3. Dlm masalah Palestina, tak cukup hanya kampanye dan dana

Akh muhammad izzat menulis artikel di majalah "Jaridah Al-Ikhwan Al-Muslimin, diantaranya: 'Ikhwan untuk meraih tujuannya dan mengemban amanahnya pada terakhir ini bukan tindakan yg dekat dengan Allah, bukan jalan yg digariskan Allah dan bukan tindakan yg dilakukan Rasulullah Saw, tidak sejalan dengan sunnatullah terhadap hamba-hambanya dan tindakan yg tidak tepat.'

Al-Banna kemudian menulis artikel bantahan yang sangat panjang di majalah yg sama, yang intinya menegaskan kebijakan yg diambil Ikhwan adalah yg terdekat dg Islam dan sunnah rasul-Nya, Ikhwan tidak membuat permusuhan dengan masyarakat apalagi menyingkirkannya. Terkait palestina, Albanna menyurati mufti Palestina, yg kemudian merespon: 'yg dilakukan Ikhwan untuk mengkampanyekan Palestina sdh tepat dan kami tidak memerulakan sukerelawan.'

Perlawanan Ahmad Rif'at makin keras, dan didukung Isa Abduh, intelektual Ikhwan pada saat itu. Pengikutnya makin banyak, makin nekat dan menentang Al-Banna secara langsung dan melontarkan kata-kata pedas, memanggil dengan panggilan tak pantas. Ia dan kelompoknya melangkah lebih jauh dengan mencaci maki Al-Banna yang membuat hampir semua anggota jamaan marah dan tak kuasa menahan diri. Pengkut setia Al-Banna ingin menghadang dengan sedikit keras, tapi Al-Banna mengetahui sikap itu dan menghalangi maksud pengikut beliau.

Al-Banna kemudian melarang merespon Rif'at dkk, meski dengan kata-kata yg bisa menyinggung perasaan mereka. meski demikian Rif'at dkk tdk merasa malu, tidak mengalah dan makin menampakkan kebodohannya.

Berakhirnya Fitnah

Akh Mahmud Abdul Halim dan rekan-rekannya mengusulkan kepada Al-Banna:
1. Al-Banna menjauhi kantor pusat
2. Menugaskan sejumlah anggota yg konsisten dan setia dengan bai'atnya utk di kantor pusat tiap malam
3. Para anggota yang msh komit dg baiat dihimbau untuk memboikot para pemicu fitnah dan pengikutnya. Tak usah berucap salam dan menjawab salam mereka dan tak perlu mendengarkan omongan mereka
4. Para anggota yg masih komit harus berjanji tidak akan menyinggung penebar fitnah dan dan menyakitinya, apapun bentuknya
5. Membentuk komisi untuk melaksankan keputusan di atas
6. Memperbarui ikrar dan janji kebersamaan atas dasar prinsip-prinsip dakwah, taat dalam senang atau duka.

Anggota ikhwan melaksanakan dan mensosialisasikan usulan tersebut, dan terlihat jelas mana yg masih komit dg Al-Banna dan mana pendukung fitnah. Lama-kelamaan pengikut fitnah makin berkurang tinggal provokator dan beberpa gelintir orang.

Akibat Fitnah

Dampak buruk fitnah tsb adalah:
1. Terhentinya aktivitas ikhwan dan terkurasnya energi kurang lebih satu setengah tahun
2. Keluarnya anggota senior Ikhwan, diantaranya Mahmud Izzat, padahal ia adalah perekrut Musryid 'Am ketiga, Umar Tilmisani.
3. Ahmad Rif'at berinisiatif sendiri ke Palestina dan tewas oleh mujahidin palestina karena dicurigai sbg mata-mata.
4. Lepasnya majalah (jaridah) Al-Ikhwan Al-Muslimin dari kontrol jamaah.

Majalah An-Nadzir, Juni 1938 memuat keputusan kantor pusat:

1. Kantor pusat memutuskan pemecatan thd Muhammad Affandi Izzat, Hasan Affandi As Sayyidi, Shadiq Affandi Amin, Ahmad Affandi Rif'at karena menyalahi pemikiran Ikhwan. Dg demikian mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri dan tidak merepresentasikan jamaah sampai ada keputusan lain yg meninjau setatus mereka.

Penjelasan kantor pusat:

- Pimpinan pusat telah berkali-kali melakukan nasihat santun dan persuasif, tp mereka malah menentang dan sesumbar. akhirnya kantor pusat mengumumkan pemecatan mereka disebabkan menyalahi pilihan sikap/pemikiran yg diambil jamaah.
- Kantor pusat tdk menyerang mereka, dan tidak mengaggap mereka krn sdh diluar jamaah.
- Kantor pusat akan memberi dukungan manakala sejalan dg misi Ikhwan
- Diingatkan bhw setiap gerakan dakwah memiliki musuh, baik dr keluarganya sendiri maupun selian mereka, yg tidak memahami hakikat dakwah, mengejar kepentingan pribadi, atau merasa tergoda olehnya- hati manusia di tangan allah, bahkan dakwah islam pertama di masa Rasul yg ma'shum pun tidak terlepas dr pembangkangan.
- Karenanya setiap anggota ikhwan diingatkan untuk- menyiapkan hati, krn pembangkangan mungkin sj terjadi di kemudian hari, dakwah makin berkembang makin banyak musuh.- bersegeralah terjun untuk melakukan amal-amal dakwah, tak ada waktu utk debat dan membincangkan fitnah.
- Kantor pusat tidak akan segan mengambil tindakan tegas thd anggota yg melanggar aturan dan platform/konsep berfikir yg dipilih jamaah apapun jabatan, kedudukan, posisinya.
- Hak Allah di atas semua hak, pemecatan bukan berarti perpecahan dlm jamaah bukan pula kelemahan dakwah namun merupakan upaya tarbawi yg harus dilakukan untuk pembelajaran yang benar serta pembersihan terhadap pembangkangan dan sangsi yang lazim.
- Dalam setiap gerakan dakwah selalu ada yg tidak jera kecuali kepada hukuman.

Wahai ikhwan, melaju berlarilah dengan berkah Allah, Rasulullah pemimpin kalian, dan Mursyid 'Am adalah komandan kalian. Allah tidak menginginkan kecuali menyempurnakan cahaya petunjuk-Nya.

Abdul Hakim Abidin
(Sekretaris Kantor Pusat)
Readmore »»

Minggu, 23 Januari 2011

Pesan Untuk Kader Da'wah

1/23/2011 08:24:00 AM | Posted by islamedia


Islamedia - Dakwah merupakan risalah mulia untuk melanjutkan tugas para nabi dan rosul, seorang kader dakwah sudah seharusnya mempunyai sesuatu yang terpatri dalam diri. Berikut ada 5 pesan yang harus dimiliki oleh seorang kader dakwah ;
1. Merasakan dan menghayati bahwa da'wah merupakan amanah ilahiyah.
Da'wah merupakan tanggung jawab kita sebagi junudud da'wah. Menghindar dan lari dari amanah da'wah berarti telah khianat dalam amanah. " Wahai orang-orang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada kamu, sedang kamu mengetahuinya " (QS. Al Anfal : 27)

2. Yakin akan janji Allah swt.
Yakin adalah pengendali hati, kesempurnaan iman berawal darinya. Kita beramal karenanya, berjuang dengannya, sukses karenanya. Jika yakin tertanam dalam hati, ia akan berbuah cahaya dan kemuliaan, membersihkannya dari keragu-raguan, kemarahan, kekhawatiran, dan kesedihan. Rasa khauf, ridha, syukur, dan tawakkal disandarkan padanya. Yakin adalah inti materi dari semua kedudukan. " Apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakkallah kepada Allah " (QS. Ali Imran : 159)

3. Berpegang teguh kepada Islam secara syamil wal kaamil.
Ikhwah fillah, Islam yang syamil dan kaamil akan terealisir ketika mazhahir mahawir wal marhaliyah berjalan secara progresif. Semakin besar mihwar da'wah kita maka semakin besar pula peluang Al Islam menjadi minhajul hayah. Kalau kita merasa nyaman dengan kondisi sekarang, apalagi merasa bahwa proses tarbawiyah kita dimasa lalu adalah yang terbaik, maka hakikatnya kita menjadi salah satu faktor penyebab terhambatnya kemajuan da'wah bagi terealisasinya syumuliyatul Islam. " Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam islam secara Kaafah ..... " (QS. Al Baqarah : 208)

4. Memelihara dan menjaga kebertahapan da'wah secara seimbang dalam pertumbuhannya.
Kebertahapan dalam da'wah adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Pada periode makkah, Rasulullah saw meletakkan dasar-dasar pemahaman yang utuh kepada para shahabatnya pada tataran konsepsi (Al Iman), dan pada priode madinah, proses aktualisasi nilai terlihat jelas dengan banyaknya ayat Allah swt yang berkenaan dengan hukum dan praktik 'ubudiyah pada tataran operasional (Al Islam). Setelah internalisasi nilai dan kristalisasi struktur (tanzhim), barulah pada tahap akhir Rasulullah saw melakukan tahapan invasi/ nasrul fikrah ke berbagai wilayah.

5. Meri'ayah hasil-hasil da'wah
Ikhwah fillah, seringkali kita terpesona oleh bilangan atau angka capaian da'wah kita dan lupa untuk meningkatkan kapasitas diri untuk mampu membina dan mengembangkan capaian-capaian da'wah kita. Tarbiyah Islamiyah adalah solusi terbaik yang pernah ada dan layak menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kader da'wah kader da'wah. Allahu Ma'akum
Readmore »»

Jumat, 21 Januari 2011

Militansi dan Semangat Jihad

1/21/2011 08:00:00 AM | Posted by Ghiroh Tsaqofy


Islamedia : Semangat jihad memiliki wahana realisasi yg sangat luas mulai dari jihad hati, jihad lisan, jihad pemikiran hingga jihad fisik. Realisasi semangat jihad harus sesuai dengan tantangan yg dihadapi kaum muslimin, baik individual maupun jamaah.

Pendahuluan : Proporsionalitas Jihad

Militansi secara harfiah berarti sikap agresif untuk berkelahi atau berperang. Sebuatan militan kerap dilayangkan Barat kepada kelompok-kelompok muslim yg melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan dan kezaliman secara fisik. Dari sudut pandang Islam, bicara mengenai militansi berarti bicara ttg kekuatan fisik di dlm cakupan jihad, karena militansi di dlm Islam tidak bisa dipisahkan dari semangat jihad.

Semangat jihad memiliki wahana realisasi yg sangat luas mulai dari jihad hati, jihad lisan, jihad pemikiran hingga jihad fisik. Realisasi semangat jihad harus sesuai dengan tantangan yg dihadapi kaum muslimin, baik individual maupun jamaah. Karena bila tidak ditakar secara proporsional maka akan melahirkan tindakan yg justru membawa mudharat, bukan mengikis dan menghilangkan kebathilan. Ketika menghadapi tantangan pemikiran maka jihad dilakukan dengan mengerahkan segenap kebenaran Islam (Al Quran dan Sunnah) untuk membendung pemikiran-pemikiran menyimpang. Saat kaum muslimin mengahadpi tekanan destruksi moral maka jihad pun dilakukan menurut proporsinya, yaitu dengan menegakkan syi’ar-syi’ar Islam yang telah diajarkan Rasullullah SAW. Begitu pula, bila tantangan yang dihadapi adalah tantangan militer maka kaum muslimin juga harus menghadapinya dengan kekuatan militer. Dengan demikian, semangat militansi dapat ditempatkan secara tepat menurut konteksnya dan sesuai dengan tuntutannya.

Jihad Ruhiyah

Hal pertama yg dilakukan di dalam jihad adalah jihad ruhiyyah. Kerena jihad ruhiyah adalah pangkal jihad dalam berbagai bentuk dan tingkatan. Ibnu Taimiyyah (Zaadul Ma’ad : 3/9) membagi jihad ruhiyyah ini menjadi empat jenjang.

Pertama, jihad ruhiyyah untuk mempelajari petunjuk dan agama Allah yang tanpanya kebahagiaan dunia dan akhirat tdk tercapai. Kedua, jihad ruhiyyah untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatkan. Ketiga, jihad ruhiyyah untuk mendakwahkannya dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetauhinya. Bila tidak, maka ia termasuk orang yang menyembunyikan petunjuk Allah SWT, ilmunya tidak bermanfaat baginya dan tidak menyelamatkannya dari siksa Allah. Keempat, jihad ruhiyyah untuk sabar menghadapi beratnya dakwah kepada Allah dan gangguan makhluk.

Jihad Maddiyah

Jihad Fisik

Jihad maddiyah ‘materi’ adalah jihad dengan kuatan fisik dan ekonomi. Dalam kesempatan ini, penulis hanya membahas kondisi pra jihad fisik yaitu yang berkaitan dengan persiapan baik dari segi keahlian atau peralatan. Dalam hal ini Allah berfirman :

“Dan siapkanlah untuk mengahadapi mereka (musuh) kekuatan yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang tidak kamu ketahui, sedangkan Allah mengetahuinya.” (Al Anfal [8] : 60)

Mengenai makna kekuatan dalam ayat diatas, ada sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir RA, ia berkata :

“Aku mendengar Rasullullah SAW bersabda di atas mimbar. “dan siapkanlah untuk menghadapimereka (musuh) kekuatan yang kamu sanggupi.” Ketauhilah sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar.”

Melempar yang dimaksud adalah memanah dan melempar tombak. Secara kontekstual, alat ‘melempar’ pada saat itu adalah senapan, mortar, dan alat-alat perang modern lain. Kuda-kuda yang ditambat untuk berperang bisa dipahami dengan mempersiapkan berbagai jenis alat perang. Bila kekuatan yang dimaksud –berdasarkan penafsiran Nabi SAW- menitikberatkan keahlian perang, maka kuda-kuda yang ditambat untuk berperang cenderung menunjukkan kepada peralatan perang.

Ayat ini secara gamblang memerintahkan kaum muslimin untuk mengasah keahlian perang dan mempersiapkan alat perang guna menghadapi kemungkinan penghancuran orang-orang kafir terhadap kaum muslimin, sekaligus menteror musuh-musuh Islam secara mental. Inilah batasan terror yang dibolehkan Islam. Tanpa mempersiapkan kekuatan dan peralatan perang, sama saja dengn menjerumuskan diri ke arah kehancuran. Karena itu Allah berfirman :

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al baqarah [2] : 195).

Jihad Ekonomi

Jihad ekonomi adalah jihad untuk menguatkan ekonomi kaum muslimin dan mengentaskan mereka dari kemiskinan dan kefakiran dengan cara-cara yang telah digariskan oleh syariat Islam. Tujuan utamanya adalah agar kaum muslimin mampu memenuhi kebutuhan dasar dan membelanjakan harta di jalan Allah. Allah SWT beerfirman :

“Hai orang-orang yang berfirman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketauhilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Al Baqarah [2] : 267)

Kefakiran sangat membahayakan kaum muslimin akrena kefakiran mengakibatkan kelemahan baik lemah fisik, lemah pengetahuan, bahkan lemah iman. Lemah fisik diakibatkan kebutuhan gizi tidak terpenuhi dengan cukup. Lemah pengetahuan karena kesempatan belajar tidak terbuka dengan baik akibat kesulitan ekonomi. Nabi SAW bersabda :

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari orang mukmin yang lemah.” (riwayat Muslim)

Yang paling berbahaya dari kefakiran adalah lemahnya iman. Kefakiran bisa membawa seseorang kepada hasud terhadap orang-orang kaya, hasud dapat memakan kebaikan-kebaikan, melemahkan posisinya di hadapan mereka, dan membawanya kepada sikap tidak rela kepada qadha Allah SWT. Karena itu, nabi SAW memohon perlindungan kepada Allah SWT dari kefakiran.

Jihad Ilmiah

Perang sengit terjadi pula di bidang pemikiran dan ideologi. Sepanjang sejarah, begitu banyak Islam menghadapi tantangan ideologi dan pemikiran yang menyimpang. Ideologi dan pemikiran ini sangat riskan bagi orang yang awam akan manhaj Islami. Karena itu, di samping usaha-usaha meningkatkan pengetahuan dan memberantas kebodohan, tujuan jihad ilmiah yang tidak kalah pentingnya adalah membendung berbagai pemikiran dan ideologi yang tidak sejalan dengan manhaj Islami, agar tidak mencemari fitrah manusia, demi tegaknya hukum Allah di muka bumi. Karena itu, penegakan syariat Islam di Indonesia harus tetap kita jihadkan dengan segenap tenaga dan kemampuan. Allah SWT berfirman :

“Apakah hukum jahilliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (Al Maidah [5] : 50)

*) HR. Muslim di dalam kitab ‘Keamiran’, bab ‘Keutamaan melempar dan anjuran melempar, dan celaan terhadap orang yang tahu melempar kemudian melupakannya.’

Oleh KH. Dr. Muslih Abdul Karim, MA
Readmore »»

Minggu, 16 Januari 2011

KERJA KITA BELUM TUNTAS!

“Sungguh akan terurai ikatan (agama) Islam itu satu demi satu! Apabila terurai satu ikatan, orang-orang pun bergantung pada ikatan berikutnya. Ikatan yang pertama kali lepas ialah hukum, sedangkan yang terakhir kali lepas ialah shalat.” (HR. Ahmad).

Sabda Nabi saw diatas mengandung dua informasi. Pertama, informasi negatif tentang akan terjadinya degradasi pengamalan ajaran Islam. Kedua, informasi positif tentang karakteristik ajaran Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan, meliputi urusan dunia dan urusan akhirat. Urusan hukum dan urusan peribadahan.[1]

Dalam persfektif gerakan dakwah, dua informasi tersebut mengingatkan kita bahwa kerja gerakan dakwah dalam melakukan ishlah wa taghyir harus menyentuh seluruh aspek kehidupan. Gerakan dakwah berkewajiban terus bekerja dengan penuh kesabaran, menjalin kembali ikatan Islam yang telah terurai itu satu demi satu. Mulai dari ikatan shalat hingga ikatan hukum/pemerintahan.

Untuk itu diperlukan gerakan dakwah yang menyeluruh (dakwah syamilah). Maksudnya, gerakan dakwah harus mampu melakukan ta’biah al-afaqiyah (mobilitas horizontal) berupa gerakan kultural dan ta’biah al-amudiyah (mobilitas vertical) berupa gerakan structural. Ta’biah al-afaqiyah (mobilitas horizontal) adalah penyebaran kader dakwah ke berbagai kalangan dan lapisan masyarakat untuk menyiapkan masyarakat agar mereka menerima manhaj Islam serta produk kebijakan yang islami. Sedangkan ta’biah al-amudiyah (mobilitas vertical) adalah penyebaran kader dakwah ke berbagai lembaga yang menjadi mashadirul qarar (pusat-pusat kebijakan), agar mereka dapat menterjemahkan konsep dan nilai-nilai Islam ke dalam kebijakan publik.

Inilah khuthuth ‘aridhah (grand strategy) dakwah yang harus kita jalankan. Pekerjaan yang sangat berat memang. Namun kita yakin, keikhlasan dan kesungguhan kerja, akan mendatangkan ta’yid (dukungan) dan pertolongan Allah SWT.

“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut, 29: 69).

Kerja Dakwah

Mobilitas secara horizontal dan vertical akan berjalan efektif dan mencapai target apabila didukung kerja dakwah yang prima:

Pertama, nasyrul hidayah, menyebarluaskan hidayah Allah SWT. Apakah secara qoulan (lisan), amalan (amal), atau qudwatan (keteladanan). Sehingga benih-benih kebaikan dapat tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat.

Seorang muslim, wabil khusus aktivis gerakan Islam, harus menjadi teladan tentang nilai-nilai Islam dalam dirinya, yaitu saat bekerja, berbicara, makan, minum, akhlak dan tarbiyah, simpatik kepada orang lain, menjaga lisan dan jujur dalam berucap, tolong-menolong, dan sebagainya. Apabila ia melakukan semua itu karena Allah, ia akan menjadi pribadi yang bagaikan batu bata dalam membangun masyarakat Islam.

Sadarilah wahai para da’i, sesungguhnya masyarakat tidak akan berubah menjadi islami jika tidak mengenal hidayah Allah, dan bagaimanakah mereka dapat mengenal hidayah Allah tanpa teladan dan bimbingan dari para ulama dan para da’i. Oleh karena itu, setiap kita harus mengambil peranan. Kita harus bekerjasama menciptakan situasi yang kondusif bagi tumbuhnya kultur keislaman di tengah masyarakat.

Para jurnalis harus berperan menjadi pelopor dalam melakukan kebaikan dan meluruskan pemikiran masyarakat melalui media informasi, misalnya melalui koran atau majalah yang mereka miliki. Media-media tersebut harus mengeluarkan masyarakat dari kebobrokan moral, lebih peduli pada pembinaan akhlak, dan berupaya membentuk opini umum.

Yayasan-yayasan kebajikan harus menjalankan perannya dalam membantu fakir miskin, menutupi kebutuhan orang-orang yang kekurangan, memberikan tunjangan untuk pelajar, dan menyebarkan sifat kedermawanan di tengah masyarakat.

Partai-partai politik harus menjaga kesatuan bangsa dan kehormatannya serta memperjuangkan kemerdekaan negeri dengan harta, jiwa, dan usaha.

Organisasi-organisasi keislaman dengan berbagai macam corak aktivitasnya harus berupaya mewarnai masyarakat dengan niali-nilai Islam yang universal.

Para menteri yang shalih harus melakukan perbaikan dalam departemen yang mereka tangani. Setiap muslim harus membela, melindungi, dan mempertahankan kebaikan dalam semua segi kehidupan di masyarakat.

Drama dan sinetron islami harus menjadi alternative di tengah-tengah gempuran film-film cabul, sinetron picisan, dan acara-acara televisi yang merusak lainnya.

Bank-bank Islam harus menyadarkan umat dari bahaya riba yang telah menjerumuskan mereka dalam ekonomi ribawi.

Para wakil rakyat dan anggota parlemen harus menjadi perisai dalam menjaga nilai-nilai moral.

Institusi pendidikan Islam harus mencetak dan membina para siswanya dengan menjadikan Islam sebagai prinsip.

Seluruh elemen masyarakat harus didorong untuk melakukan kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan serta melakukan islamisasi dalam kehidupan mereka. Dengan begitu akan terwujudlah masyarakat yang berwibawa.

Kedua, nasyrul fikrah, menyebarluaskan idealisme agar masyarakat memiliki semangat perjuangan dan dukungan kepada kehidupan yang lebih islami. Kegiatan ini dilakukan dengan mentarbiyah umat, mengingatkan masyarakat, mengubah opini umum, menyucikan jiwa, membersihkan ruhani, menyebarkan prinsip kebenaran, jihad, bekerja, dan menyebarkan nilai-nilai keutamaan di tengah umat manusia.

Diantara sarana yang dapat digunakan oleh para aktivis dakwah adalah: majelis ta’lim, seminar, ceramah, khutbah, kunjungan dakwah, dan lembaga kajian. Selain itu sangat baik jika gerakan Islam mampu memunculkan media informasi (cetak/elektronik) yang dapat merebut opini umum untuk mendukung fikrah Islam.

Selain itu, aktivis Islam hendaknya tidak enggan melakukan nasyrul fikrah secara langsung kepada lingkungan terdekatnya. Bukankah di sekitar rumah kita ada masjid yang dapat mempertemukan kita sebanyak lima kali dalam sehari dengan tetangga-tetangga kita? Sudahkah kita menyampaikan kepada mereka apa yang seharusnya kita sampaikan?

Ada hal unik yang patut kita teladani dari para aktivis Partai Refah di Turki. Mereka memiliki petugas yang bertanggung jawab mengurusi setiap bagian jalan. Setiap petugas mengetahui dan mengenal betul seluruh yang ada di sekitar dan di sepanjang jalan tersebut. Setiap mereka menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah-rumah yang ada di sisi jalan yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka mengucapkan rasa gembira pada saat bergembira dan memberikan ucapan bela sungkawa jika sedang ditimpa musibah. Dari sepanjang jalan inilah mereka menyampaikan fikrah dan sikap partai mereka. Pertanyaan buat kita: Apakah kita pernah berkunjung dan berbicara dengan tetangga kita di rumahnya? Sebenarnya pekerjaan ini sangat mudah untuk dilakukan bagi mereka yang mau mencobanya.

Islam adalah agama untuk semua manusia. Jika kita lalai menyampaikan informasi tentang keislaman, kita termasuk orang yang berdosa. Gerakan Islam yang hakiki adalah gerakan yang melakukan dakwah dan tabligh. Dengan mengajak itulah kita akan dapat membentuk opini umum pada masyarakat. Dengan cara seperti itu saja, kita akan dapat mewarnai masyarakat dengan warna Islam untuk menuju perubahan.

Ketiga, menggiatkan aktivitas amar bil ma’ruf dan nahyi ‘anil munkar, yakni berupaya melakukan konsolidasi, koordinasi, dan mobilisasi seluruh potensi positif konstruktif di tengah-tengah masyarakat agar memberikan kemaslahatan bagi umat, bangsa, negara, kemanusiaan, dakwah, dan lain sebagainya. Serta melakukan langkah-langkah minimalisasi atau mempersempit ruang gerak kemungkaran.

Jika dikaitkan dengan hadits di atas, yang mengilhami kita tentang visi dakwah syamilah, maka aktivitas dakwah dan amar ma’ruf nahyi munkar yang kita lakukan harus menyentuh seluruh aspek: (1) Aspek ibadah, mulai dari bagaimana mengajak shalat ke masjid, berpuasa, zakat, infaq, sedekah, haji, memberantas judi, miras, prostitusi, dan sebagainya. (2) Aspek keadilan, hukum, dan pemerintahan, mulai dari memberantas korupsi dan mafia peradilan, mengentaskan kemiskinan dan pengangguran, membela nasib buruh, tani, dan nelayan, menegakkan HAM, menegakkan pemusyawaratan dan pembangunan ekonomi umat, mengurangi diskriminasi di hadapan hukum, melestarikan lingkungan hidup, membangun ilmu pengetahuan dan teknologi, dan seterusnya.

عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان



Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Keempat, memelihara ruwiyah islamiyah (identitas masyarakat Islam) dan al-mazhar al-islami (penampilan Islam). Simbol-simbol keislaman harus dimunculkan, apakah yang bersifat fisik (bangunan masjid, mushola, madrasah, dll) atau aktivitas (pendidikan Islam, majelis ta’lim, dll).

Identitas dan penampilan ini juga hendaknya muncul dalam dandanan, pakaian, perhiasan, simbol-simbol, hiburan, dan berbagai bentuk penampilan fisik masyarakat. Termasuk pula dalam perilaku dan ucapan. Masyarakat harus senantiasa diarahkan untuk memiliki penampilkan yang islami dalam kehidupan keseharian, serta berbangga dengannya. Para muslimah berbangga dengan busana muslimah yang mereka kenakan. Anak-anak muda bangga dengan kesenian islami.

Idealnya simbol-simbol yang yang dimunculkan itu selaras pula dengan ‘urfil mujtama (tradisi masyarakat) yang tidak bertentangan dengan syariah Islam. Simbol mungkin bukan perkara yang harus dinomor satukan. Tapi ia penting untuk memelihara substansi, terlebih lagi jika simbol tersebut merupakan tuntutan syar’i.

Tiga Cita-cita Besar

Jadi, kita harus bekerja lebih keras lagi, karena di hadapan kita ada tiga cita-cita besar yang harus kita wujudkan:

1. Cita-cita Dakwah

Kita mencita-citakan terwujudnya kehidupan islami yang menjadi rahmatan lil ‘alamin, yaitu kehidupan yang merujuk kepada nilai-nilai alqur’an dan sunnah. Kita pun mencita-citakan terwujudnya masyarakat yang islami, yaitu masyarakat yang berafiliasi secara ideologi kepada Islam; melakukan semua fardhu ‘ain di dalam keseharian mereka; dan menjaga diri dari dosa-dosa besar.

Untuk mencapai tujuan tersebut kita harus terus bekerja, menyampaikan dakwah dan tarbiyah islamiyah kepada masyarakat secara benar, jelas, utuh, dan menyeluruh; mendorong kebajikan di berbagai bidang kehidupan; memberantas kebodohan, kemiskinan, dan kerusakan moral; menghimpun jiwa dan menyatukan hati manusia di bawah naungan prinsip-prinsip kebenaran; mendekatkan persepsi antara madzhab-madzhab di kalangan umat Islam; memberi alternative solusi terhadap berbagai persoalan umat dan bangsa serta pembangunannya; membangun peradaban manusia atas dasar keseimbangan iman dan materi; memantapkan prinsip-prinsip Islam; mengokohkan arti beragama yang sebenarnya pada setiap pribadi dan keluarga, baik dalam ucapan maupun perbuatan; membina dengan cara yang benar sesuai dengan Alqur’an dan Assunah dalam hal aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, ruhiyah, aqliyah dan jasmaniyah; meneguhkan arti ukhuwah yang sebenarnya, saling melindungi secara utuh, saling menolong secara penuh, hingga tercipta solidaritas social; melahirkan generasi baru yang memahami dan melaksanakan Islam secara baik, serta berperan di berbagai sector kehidupan.

2. Cita-cita Politik

Cita-cita dakwah yang luhur tersebut membutuhkan penjaga, yaitu kekuatan politik. Dengan kekuatan inilah kita dapat mengaktualisasikan ajaran Islam secara maksimal. Mewujudkan rasa aman; melaksanakan undang-undang, meratakan pendidikan; menyiapkan kekuatan; memelihara kesehatan; menjaga kepentingan dan fasilitas umum; menjaga sumber daya alam dan mengelola kekayaan negara; mengokohkan moralitas; menebarkan dakwah.

Untuk mencapainya, gerakan dakwah harus melakukan musyarakah siyasiyah (partisipasi politik) dalam pemerintahan, dan diawali dengan upaya itsbatul wujud assiyasi (mengokohkan eksistensi politik). Dari waktu ke waktu eksistensi politik ini harus terus dikembangkan. Jika meneropong sejarah politik Islam di Indonesia, rekor terbesar yang pernah dicapai oleh partai-partai Islam adalah rekor Masyumi sebesar 20%. Ini merupakan tantangan besar bagi kita.

3. Cita-cita Peradaban

Ini adalah implementasi dari apa yang disebut oleh Hasan Al-Banna sebagai ustadziyatul alam, yakni penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. “Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah”. (QS. Al-Baqarah, 2: 193). Maksud ayat ini adalah akan menjadi sangat hinanya kemusyrikan di muka bumi dan peribadatan kepada Allah semakin tinggi dan mulia. Tidak ada lagi kekhawatiran pada kita dalam menjalankan agama, tidak ada lagi basa-basi dan sembunyi-sembunyi dalam urusan agama. Karena dunia telah diwarnai dengan warna Islam, setelah sebelumnya dikotori filsafat materialisme yang didukung dua kekuatan utama untuk mempertahankan hegemoninya: senjata dan uang.

Marilah mengingat kembali janji Rasulullah saw kepada umat Islam. Abdullah bin Amru bin Ash mencatat hadits dari Rasulullah yang ditanya, “Kota mana yang akan lebih dahulu dibebaskan Islam, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Herakliuslah (Konstantinopel / Istambul) yang akan dibebaskan terlebih dahulu!”

Nubuwwah tersebut terbukti pada Abad ke-9 Hijriyah, bertepatan dengan abad ke-15 Masehi. Tepatnya pada hari Selasa, 20 Jumadil Ula 857 H / 29 Mei 1453 M. Pembebasan Konstantinopel pada saat itu dipimpin oleh seorang Komandan muda Utsmani berusia 23 tahun yang bernama Muhammad bin Murad atau dikenal juga dengan sebutan Muhammad Al-Fatih.

Saat ini kita masih menunggu nubuwwah kedua yaitu dibebaskannya Roma (Italia). Insya Allah di negeri ini pun sinar ajaran Islam akan memancar sempurna. Syaikh Yusuf Qaradhawy menduga pembebasan Roma ini akan terjadi dengan perantaraan pena dan diplomasi.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah, 9: 32 – 33)

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. At-Taubah, 9: 105)

Wahai para da’i, kerja kita belum tuntas!

Wallahu a’lam.



Maraji:

Memperjuangkan Masyarakat Madani, MPP PKS

Bingkai Dakwah di Jalur Politik, KH. Hilmi Aminuddin

Al-Fikr Al-Islamiy Al-Mu’ashir, DR. Musthafa Muhammad Thahhan

Menyongsong Mihwar Daulah, Cahyadi Takariawan

Dari Qiyadah untuk Para Kader, Anis Matta

Terjemah Tafsir Al-Maraghi Juz 2, Ahmad Mushthafa Al-Maraqhi


[1] Penjelasan mengenai makna kata al-hukmu: Menurut makna bahasa, kata al hukmu bermakna al qadla’ (keputusan). Sedangkan kata al haakim bermakna munaffidzul hukmi (pelaksana keputusan atau pemerintahan).


Adapun menurut istilah, kata al hukmu maknanya adalah sama dengan kata al mulku dan as sulthan. Yaitu, kekuasaan yang melaksanakan hukum dan aturan. Juga bisa disebut dengan aktifitas kepemimpinan yang telah diwajibkan oleh syara’ atas kaum muslimin.


Aktifitas kepemimpinan ini merupakan kekuasaan yang dipergunakan untuk menjaga terjadinya tindak kedzaliman serta memutuskan masalah-masalah yang dipersengketakan.


(Lihat: http://ahmadnaufa.wordpress.com/2010/04/18/struktur-pemerintahan-dalam-islam/)
Readmore »»

Sabtu, 15 Januari 2011

Wajah Lelaki Akhirat


1/14/2011 11:43:00 PM | Posted by Indra


Islamedia - Brigade al-Qassam sangat ditakuti israel. Tak mudah memang menjadi anggota brigade ini, benar-benar mujahid pilihan. Tangguh, skill tempur yang tinggi, mental membaja, tekad yang kuat, dan semangat jihad yang senantiasa menggelora, bergemuruh di jiwa mereka, tak pernah padam, dilandasi keimanan yang kokoh dan keikhlasan dalam berjuang. Jika belum hafizh al-Qur’an (30 juz), tak bisa masuk dalam pasukan elit ini. Wajar jika israel gentar nyalinya, meski dipersenjatai dengan tank baja, senjata mutakhir dan pesawat tempur canggih pasokan amerika serikat. Tentara langit tentu berbeda dengan tentara bumi. Lelaki akhirat pasti berbeda dengan lelaki bumi. Prajurit fikroh dan aqidah pasti berbeda dengan prajurit dengan ambisi duniawi dan polutannya.

Suatu ketika seorang ikhwah diizinkan masuk ke terowongan bawah tanah milik Hamas. Disitu ia bertemu dengan satu katibah al-Qassam. Semua memakai penutup wajah, sehingga ikhwah ini tak bisa melihat wajah dan tak kenal siapa lelaki-lelaki akhirat ini. Berkali-kali ia membujuk agar diizinkan melihat wajah pasukan khusus ini, tak seorangpun yang membukanya. Melihat keinginan kuatnya, akhirnya satu persatu mujahid membuka penutup wajahnya, semuanya, kecuali satu orang. Ikhwah ini kembali membujuk, hingga menyebut nama Allah, barulah ia mau menampakkan wajahnya. Betapa terkejutnya ikhwah ini, termasuk sebagian mujahidin al-Qassam, karena lelaki terakhir yang membuka penutup wajah itu, yang tak ingin orang-orang mengenalnya, yang sering terjun langsung berjihad melalui terowongan bawah tanah itu, yang menggentarkan tentara israel la’natullah, ternyata adalah orang nomor satu di Pemerintahan Palestina, pejabat tertinggi negara, perdana menteri, Ustadz Ismail Hanniyah. Allaahu Akbar…Allaahu Akbar.

Ikhwah fillah,

Sesungguhnya banyak kisah menakjubkan dari mujahid-mujahid ikhwan yang patut menjadi contoh dan penumbuh semangat kita untuk bergerak di jalan dakwah ini. Beliau yang di satu sisi berpenampilan rapi, berjas berdasi, memimpin rapat-rapat kenegaraan bersama menteri-menteri, menerima tamu-tamu negara, tapi di saat lain ia al-hafizh berada di dalam terowongan bersama lelaki-lelaki akhirat, ia adalah anggota brigade super khusus yang siap menggempur israel la’natullah. Begitu sulit merangkai kata menjelaskannya.

Ikhwah fillah,

Sementara kita disini merangkai amal demi amal, berharap dengan amal yang sedikit ini mampu membuat kita dipilih oleh Allah menjadi lelaki dan wanita akhirat, lelaki dan wanita surga. Maka kita malu jika lalai dalam ibadah, malu jika lalai menghadiri usroh dan liqo-liqo apapun termasuk atas keterlambatan hadir, malu jika amanah dakwah tidak sempurna kita tunaikan, malu jika tidak memiliki semangat dalam harokah ini, malu untuk menyusun kata atas seringnya udzur, malu jika masih memiliki prasangka negatif kepada ikhwah, qiyadah dan jamaah ini, malu jika kita masih memiliki lintasan harapan keduniaaan dalam dakwah ini, berupa ambisi jabatan, popularitas, maupun kepentingan-kepentingan pribadi. Lindungi kami ya Allah.

Ikhwah fillah, yakinilah bahwa setiap apapun yang kita lakukan untuk dakwah ini, perjalanan kita menghadiri liqo di siang dan malam hari, ataupun rapat, aksi, silaturahim, maupun program dakwah lainnya, pasti dicatat oleh Allah SWT. Bahkan atsar atau bekas-bekas amal yang kita tinggalkan pun akan dikumpulkan Allah dalam Kitab-Nya. Ilmu dan nasihat yang kita sampaikan dalam halaqoh, ide-ide hasanah yang kita sampaikan dalam rapat-rapat…semua amal dan bekas-bekasnya itu, akan dikumpulkan lagi oleh Allah SWT. Allaahu Akbar.

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang telah mati dan Kami mencatat apa-apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata (QS Yasin:12)

Oleh karena itu ikhwah fillah, berikan yang terbaik dalam setiap amal kita, berikan yang terbaik dalam setiap liqo’ kita, landasi setiap amal dan pembicaraan dengan keikhlashan, pasti Allah mencatat itu semua.

Sumber : indratri.blogspot.com
Readmore »»

Kamis, 06 Januari 2011

Wahai Para Da'i, Kerja Kita Belum Tuntas

Posted by islamedia



“Sungguh akan terurai ikatan (agama) Islam itu satu demi satu! Apabila terurai satu ikatan, orang-orang pun bergantung pada ikatan berikutnya. Ikatan yang pertama kali lepas ialah hukum, sedangkan yang terakhir kali lepas ialah shalat.” (HR. Ahmad).

Sabda Nabi saw diatas mengandung dua informasi. Pertama, informasi negatif tentang akan terjadinya degradasi pengamalan ajaran Islam. Kedua, informasi positif tentang karakteristik ajaran Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan, meliputi urusan dunia dan urusan akhirat. Urusan hukum dan urusan peribadahan.[1]
Dalam persfektif gerakan dakwah, dua informasi tersebut mengingatkan kita bahwa kerja gerakan dakwah dalam melakukan ishlah wa taghyir harus menyentuh seluruh aspek kehidupan. Gerakan dakwah berkewajiban terus bekerja dengan penuh kesabaran, menjalin kembali ikatan Islam yang telah terurai itu satu demi satu. Mulai dari ikatan shalat hingga ikatan hukum/pemerintahan.

Untuk itu diperlukan gerakan dakwah yang menyeluruh (dakwah syamilah). Maksudnya, gerakan dakwah harus mampu melakukan ta’biah al-afaqiyah (mobilitas horizontal) berupa gerakan kultural dan ta’biah al-amudiyah (mobilitas vertical) berupa gerakan structural. Ta’biah al-afaqiyah (mobilitas horizontal) adalah penyebaran kader dakwah ke berbagai kalangan dan lapisan masyarakat untuk menyiapkan masyarakat agar mereka menerima manhaj Islam serta produk kebijakan yang islami. Sedangkan ta’biah al-amudiyah (mobilitas vertical) adalah penyebaran kader dakwah ke berbagai lembaga yang menjadi mashadirul qarar (pusat-pusat kebijakan), agar mereka dapat menterjemahkan konsep dan nilai-nilai Islam ke dalam kebijakan publik.

Inilah khuthuth ‘aridhah (grand strategy) dakwah yang harus kita jalankan. Pekerjaan yang sangat berat memang. Namun kita yakin, keikhlasan dan kesungguhan kerja, akan mendatangkan ta’yid (dukungan) dan pertolongan Allah SWT.

“Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut, 29: 69).

Kerja Dakwah
Mobilitas secara horizontal dan vertical akan berjalan efektif dan mencapai target apabila didukung kerja dakwah yang prima:

Pertama, nasyrul hidayah, menyebarluaskan hidayah Allah SWT. Apakah secara qoulan (lisan), amalan (amal), atau qudwatan (keteladanan). Sehingga benih-benih kebaikan dapat tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat.

Seorang muslim, wabil khusus aktivis gerakan Islam, harus menjadi teladan tentang nilai-nilai Islam dalam dirinya, yaitu saat bekerja, berbicara, makan, minum, akhlak dan tarbiyah, simpatik kepada orang lain, menjaga lisan dan jujur dalam berucap, tolong-menolong, dan sebagainya. Apabila ia melakukan semua itu karena Allah, ia akan menjadi pribadi yang bagaikan batu bata dalam membangun masyarakat Islam.

Sadarilah wahai para da’i, sesungguhnya masyarakat tidak akan berubah menjadi islami jika tidak mengenal hidayah Allah, dan bagaimanakah mereka dapat mengenal hidayah Allah tanpa teladan dan bimbingan dari para ulama dan para da’i. Oleh karena itu, setiap kita harus mengambil peranan. Kita harus bekerjasama menciptakan situasi yang kondusif bagi tumbuhnya kultur keislaman di tengah masyarakat.

Para jurnalis harus berperan menjadi pelopor dalam melakukan kebaikan dan meluruskan pemikiran masyarakat melalui media informasi, misalnya melalui koran atau majalah yang mereka miliki. Media-media tersebut harus mengeluarkan masyarakat dari kebobrokan moral, lebih peduli pada pembinaan akhlak, dan berupaya membentuk opini umum.

Yayasan-yayasan kebajikan harus menjalankan perannya dalam membantu fakir miskin, menutupi kebutuhan orang-orang yang kekurangan, memberikan tunjangan untuk pelajar, dan menyebarkan sifat kedermawanan di tengah masyarakat.

Partai-partai politik harus menjaga kesatuan bangsa dan kehormatannya serta memperjuangkan kemerdekaan negeri dengan harta, jiwa, dan usaha.

Organisasi-organisasi keislaman dengan berbagai macam corak aktivitasnya harus berupaya mewarnai masyarakat dengan niali-nilai Islam yang universal.

Para menteri yang shalih harus melakukan perbaikan dalam departemen yang mereka tangani. Setiap muslim harus membela, melindungi, dan mempertahankan kebaikan dalam semua segi kehidupan di masyarakat.
Drama dan sinetron islami harus menjadi alternative di tengah-tengah gempuran film-film cabul, sinetron picisan, dan acara-acara televisi yang merusak lainnya.

Bank-bank Islam harus menyadarkan umat dari bahaya riba yang telah menjerumuskan mereka dalam ekonomi ribawi.

Para wakil rakyat dan anggota parlemen harus menjadi perisai dalam menjaga nilai-nilai moral.
Institusi pendidikan Islam harus mencetak dan membina para siswanya dengan menjadikan Islam sebagai prinsip.

Seluruh elemen masyarakat harus didorong untuk melakukan kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan serta melakukan islamisasi dalam kehidupan mereka. Dengan begitu akan terwujudlah masyarakat yang berwibawa.

Kedua, nasyrul fikrah, menyebarluaskan idealisme agar masyarakat memiliki semangat perjuangan dan dukungan kepada kehidupan yang lebih islami. Kegiatan ini dilakukan dengan mentarbiyah umat, mengingatkan masyarakat, mengubah opini umum, menyucikan jiwa, membersihkan ruhani, menyebarkan prinsip kebenaran, jihad, bekerja, dan menyebarkan nilai-nilai keutamaan di tengah umat manusia.
Diantara sarana yang dapat digunakan oleh para aktivis dakwah adalah: majelis ta’lim, seminar, ceramah, khutbah, kunjungan dakwah, dan lembaga kajian. Selain itu sangat baik jika gerakan Islam mampu memunculkan media informasi (cetak/elektronik) yang dapat merebut opini umum untuk mendukung fikrah Islam.

Selain itu, aktivis Islam hendaknya tidak enggan melakukan nasyrul fikrah secara langsung kepada lingkungan terdekatnya. Bukankah di sekitar rumah kita ada masjid yang dapat mempertemukan kita sebanyak lima kali dalam sehari dengan tetangga-tetangga kita? Sudahkah kita menyampaikan kepada mereka apa yang seharusnya kita sampaikan?

Ada hal unik yang patut kita teladani dari para aktivis Partai Refah di Turki. Mereka memiliki petugas yang bertanggung jawab mengurusi setiap bagian jalan. Setiap petugas mengetahui dan mengenal betul seluruh yang ada di sekitar dan di sepanjang jalan tersebut. Setiap mereka menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah-rumah yang ada di sisi jalan yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka mengucapkan rasa gembira pada saat bergembira dan memberikan ucapan bela sungkawa jika sedang ditimpa musibah. Dari sepanjang jalan inilah mereka menyampaikan fikrah dan sikap partai mereka. Pertanyaan buat kita: Apakah kita pernah berkunjung dan berbicara dengan tetangga kita di rumahnya? Sebenarnya pekerjaan ini sangat mudah untuk dilakukan bagi mereka yang mau mencobanya.

Islam adalah agama untuk semua manusia. Jika kita lalai menyampaikan informasi tentang keislaman, kita termasuk orang yang berdosa. Gerakan Islam yang hakiki adalah gerakan yang melakukan dakwah dan tabligh. Dengan mengajak itulah kita akan dapat membentuk opini umum pada masyarakat. Dengan cara seperti itu saja, kita akan dapat mewarnai masyarakat dengan warna Islam untuk menuju perubahan.

Ketiga, menggiatkan aktivitas amar bil ma’ruf dan nahyi ‘anil munkar, yakni berupaya melakukan konsolidasi, koordinasi, dan mobilisasi seluruh potensi positif konstruktif di tengah-tengah masyarakat agar memberikan kemaslahatan bagi umat, bangsa, negara, kemanusiaan, dakwah, dan lain sebagainya. Serta melakukan langkah-langkah minimalisasi atau mempersempit ruang gerak kemungkaran.

Jika dikaitkan dengan hadits di atas, yang mengilhami kita tentang visi dakwah syamilah, maka aktivitas dakwah dan amar ma’ruf nahyi munkar yang kita lakukan harus menyentuh seluruh aspek: (1) Aspek ibadah, mulai dari bagaimana mengajak shalat ke masjid, berpuasa, zakat, infaq, sedekah, haji, memberantas judi, miras, prostitusi, dan sebagainya. (2) Aspek keadilan, hukum, dan pemerintahan, mulai dari memberantas korupsi dan mafia peradilan, mengentaskan kemiskinan dan pengangguran, membela nasib buruh, tani, dan nelayan, menegakkan HAM, menegakkan pemusyawaratan dan pembangunan ekonomi umat, mengurangi diskriminasi di hadapan hukum, melestarikan lingkungan hidup, membangun ilmu pengetahuan dan teknologi, dan seterusnya.
عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان

Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Keempat, memelihara ruwiyah islamiyah (identitas masyarakat Islam) dan al-mazhar al-islami (penampilan Islam). Simbol-simbol keislaman harus dimunculkan, apakah yang bersifat fisik (bangunan masjid, mushola, madrasah, dll) atau aktivitas (pendidikan Islam, majelis ta’lim, dll).

Identitas dan penampilan ini juga hendaknya muncul dalam dandanan, pakaian, perhiasan, simbol-simbol, hiburan, dan berbagai bentuk penampilan fisik masyarakat. Termasuk pula dalam perilaku dan ucapan. Masyarakat harus senantiasa diarahkan untuk memiliki penampilkan yang islami dalam kehidupan keseharian, serta berbangga dengannya. Para muslimah berbangga dengan busana muslimah yang mereka kenakan. Anak-anak muda bangga dengan kesenian islami.

Idealnya simbol-simbol yang yang dimunculkan itu selaras pula dengan ‘urfil mujtama (tradisi masyarakat) yang tidak bertentangan dengan syariah Islam. Simbol mungkin bukan perkara yang harus dinomor satukan. Tapi ia penting untuk memelihara substansi, terlebih lagi jika simbol tersebut merupakan tuntutan syar’i.

Tiga Cita-cita Besar
Jadi, kita harus bekerja lebih keras lagi, karena di hadapan kita ada tiga cita-cita besar yang harus kita wujudkan:
1. Cita-cita Dakwah
Kita mencita-citakan terwujudnya kehidupan islami yang menjadi rahmatan lil ‘alamin, yaitu kehidupan yang merujuk kepada nilai-nilai alqur’an dan sunnah. Kita pun mencita-citakan terwujudnya masyarakat yang islami, yaitu masyarakat yang berafiliasi secara ideologi kepada Islam; melakukan semua fardhu ‘ain di dalam keseharian mereka; dan menjaga diri dari dosa-dosa besar.
Untuk mencapai tujuan tersebut kita harus terus bekerja, menyampaikan dakwah dan tarbiyah islamiyah kepada masyarakat secara benar, jelas, utuh, dan menyeluruh; mendorong kebajikan di berbagai bidang kehidupan; memberantas kebodohan, kemiskinan, dan kerusakan moral; menghimpun jiwa dan menyatukan hati manusia di bawah naungan prinsip-prinsip kebenaran; mendekatkan persepsi antara madzhab-madzhab di kalangan umat Islam; memberi alternative solusi terhadap berbagai persoalan umat dan bangsa serta pembangunannya; membangun peradaban manusia atas dasar keseimbangan iman dan materi; memantapkan prinsip-prinsip Islam; mengokohkan arti beragama yang sebenarnya pada setiap pribadi dan keluarga, baik dalam ucapan maupun perbuatan; membina dengan cara yang benar sesuai dengan Alqur’an dan Assunah dalam hal aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, ruhiyah, aqliyah dan jasmaniyah; meneguhkan arti ukhuwah yang sebenarnya, saling melindungi secara utuh, saling menolong secara penuh, hingga tercipta solidaritas social; melahirkan generasi baru yang memahami dan melaksanakan Islam secara baik, serta berperan di berbagai sector kehidupan.
2. Cita-cita Politik
Cita-cita dakwah yang luhur tersebut membutuhkan penjaga, yaitu kekuatan politik. Dengan kekuatan inilah kita dapat mengaktualisasikan ajaran Islam secara maksimal. Mewujudkan rasa aman; melaksanakan undang-undang, meratakan pendidikan; menyiapkan kekuatan; memelihara kesehatan; menjaga kepentingan dan fasilitas umum; menjaga sumber daya alam dan mengelola kekayaan negara; mengokohkan moralitas; menebarkan dakwah.
Untuk mencapainya, gerakan dakwah harus melakukan musyarakah siyasiyah (partisipasi politik) dalam pemerintahan, dan diawali dengan upaya itsbatul wujud assiyasi (mengokohkan eksistensi politik). Dari waktu ke waktu eksistensi politik ini harus terus dikembangkan. Jika meneropong sejarah politik Islam di Indonesia, rekor terbesar yang pernah dicapai oleh partai-partai Islam adalah rekor Masyumi sebesar 20%. Ini merupakan tantangan besar bagi kita.
3. Cita-cita Peradaban

Ini adalah implementasi dari apa yang disebut oleh Hasan Al-Banna sebagai ustadziyatul alam, yakni penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. “Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah”. (QS. Al-Baqarah, 2: 193). Maksud ayat ini adalah akan menjadi sangat hinanya kemusyrikan di muka bumi dan peribadatan kepada Allah semakin tinggi dan mulia. Tidak ada lagi kekhawatiran pada kita dalam menjalankan agama, tidak ada lagi basa-basi dan sembunyi-sembunyi dalam urusan agama. Karena dunia telah diwarnai dengan warna Islam, setelah sebelumnya dikotori filsafat materialisme yang didukung dua kekuatan utama untuk mempertahankan hegemoninya: senjata dan uang.
Marilah mengingat kembali janji Rasulullah saw kepada umat Islam. Abdullah bin Amru bin Ash mencatat hadits dari Rasulullah yang ditanya, “Kota mana yang akan lebih dahulu dibebaskan Islam, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Herakliuslah (Konstantinopel / Istambul) yang akan dibebaskan terlebih dahulu!”

Nubuwwah tersebut terbukti pada Abad ke-9 Hijriyah, bertepatan dengan abad ke-15 Masehi. Tepatnya pada hari Selasa, 20 Jumadil Ula 857 H / 29 Mei 1453 M. Pembebasan Konstantinopel pada saat itu dipimpin oleh seorang Komandan muda Utsmani berusia 23 tahun yang bernama Muhammad bin Murad atau dikenal juga dengan sebutan Muhammad Al-Fatih.

Saat ini kita masih menunggu nubuwwah kedua yaitu dibebaskannya Roma (Italia). Insya Allah di negeri ini pun sinar ajaran Islam akan memancar sempurna. Syaikh Yusuf Qaradhawy menduga pembebasan Roma ini akan terjadi dengan perantaraan pena dan diplomasi.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah, 9: 32 – 33)

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. At-Taubah, 9: 105)

Wahai para da’i, kerja kita belum tuntas!


Wallahu a’lam.

Maraji:
Memperjuangkan Masyarakat Madani, MPP PKS
Bingkai Dakwah di Jalur Politik, KH. Hilmi Aminuddin
Al-Fikr Al-Islamiy Al-Mu’ashir, DR. Musthafa Muhammad Thahhan
Menyongsong Mihwar Daulah, Cahyadi Takariawan
Dari Qiyadah untuk Para Kader, Anis Matta
Terjemah Tafsir Al-Maraghi Juz 2, Ahmad Mushthafa Al-Maraqhi

intimagazine.wordpress.com
Readmore »»