Tampilkan postingan dengan label Taujih Ust musyaffa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih Ust musyaffa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 November 2011

Bagaimana Bersikap Terhadap Senior Bermasalah?

Oleh: ust. Musyaffa Ahmad Rohim, Lc

Assalamu’alaikum wr. wb. Ustadz yang saya hormati, saya bersyukur bisa terus aktif dalam kegiatan dakwah. Terutama kegiatan penggalangan masyarakat di sekitar rumah saya untuk tetap aktif mengikuti majelis taklim. Namun, ada masalah yang saya anggap kurang mengenakkan perasaan saya. Di antara penggerak majelis taklim tersebut, ada teman saya yang bisa dibilang senior. Tapi, akhir-akhir ini ia kurang aktif dalam penggalangan.

Masalahnya, kalau sedang rapat koordinasi ia begitu dominan. Sering perdebatan yang tidak perlu menjadi panjang. Bahkan, ketua panitia pun merasa sulit mengendalikan senior saya itu. Padahal, secara status, ia juga seorang anggota panitia seperti saya.
Ustadz, bagaimana sikap saya menghadapi senior tersebut. Terus terang, kami sungkan menegur. Tapi, kalau tidak ditegur, akan jadi masalah yang menghambat kegiatan dakwah di lingkungan kami. Atas perhatian dan jawaban Ustadz, saya ucapkan jazakumullah khairan katsira.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Abdurrahman, Jawa Timur
Assalamu’alaikum wr. wb.
Saudara Abdurrahman yang dimuliakan Allah, pertama, saya berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala semoga Dia senantiasa menjaga semangat, amal, dan aktivitas yang kami dan Anda lakukan, dan juga dilakukan oleh orang-orang semisal Anda.
Kedua, saya berdoa semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufiq, hidayah, kekuatan, ketabahan, dan jalan yang benar dalam menghadapi berbagai tantangan dan masalah dakwah. Marilah kita bersama-sama mengingat surat Al-Insyirah [94]: 5 – 6.
Dalam dua ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menyebut kata al-‘usr (kesulitan) dua kali, dan dua-duanya dalam bentuk ma’rifat (menggunakan hamzah dan laam). Juga menyebut kata yusran (kemudahan) dua kali pula, dan kedua-duanya dalam bentuk nakirah (tidak menggunakan hamzah dan laam).
Para ulama tafsir mengatakan, hakikat al-‘usr dalam dua ayat itu adalah satu, sedangkan hakikat yusran adalah dua, sehingga ada riwayat menyatakan, “Betapapun ada kesulitan yang menimpa seseorang, niscaya setelah itu Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan jalan keluar dan kemudahan darinya. Sebab, sesungguhnya satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Imam Al-Hakim berkata, riwayat ini adalah riwayat yang shahih dari perkataan Umar bin Al Khaththab dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma).
Yang ingin saya katakan adalah betapapun Anda menghadapi berbagai kesulitan, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan berikan kepada Anda jalan keluar dan kemudahan darinya.
Saudara Abdurrahman dan para netters di mana pun berada, perlu kita ketahui bahwa dalam Islam yang menentukan bukanlah senioritas semata, atau istilahnya as-sabaqiyah. Akan tetapi, as-sabaqiyah itu akan sangat berarti di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan dalam pandangan Islam, manakala dibarengi oleh ash-shidqiyyah (sejauh mana seseorang membuktikan kebenaran keimanan, ke-islam-an dan ke-senior-annya dengan amal-amal nyata.
Dalam surat At-Taubah [9]: 100, Allah subhanahu wa ta’ala menyanjung sisi as-sabaqiyah (senioritas) ini dan menjanjikan keberuntungan dan surga bagi mereka yang mengikutinya. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang telah banyak berjasa dan berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala dengan segala macam pengorbanannya. Hal ini bisa kita simak dari keterangan ayat lain yang berbicara tentang kaum Muhajirin dan Anshar, yaitu di surat Al-Hasyr [59]: 8–9. Dan pada surat Al-Hasyr [59]: 8 ini, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa hal itu terkait dengan sifat shidiq yang ada pada mereka: “ulaika humush-shadiqun”, mereka itulah orang-orang yang benar. Jadi, as-sabaqiyah semata tidaklah cukup jika tidak dibarengi oleh ash-shidqiyyah.
Hal ini sangat penting untuk kita ingat, agar kita semua tidak terkecoh dan terkena ghurur atau ‘ujub atas kesenioran kita, na’udzu billah min dzalik. Yang harus selalu menjadi perhatian kita adalah sejauh mana kita merealisasikan sifat ash-shidqiyyah kita.
Tentang hubungan antara senior dan junior secara umum, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membuat kaidah yang sangat indah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk dari kami seseorang yang tidak menyayangi yang kecil dan tidak mengenali kemuliaan yang besar.” Dalam riwayat lain: “dan tidak menghormati yang besar”. Dalam riwayat lain: “dan tidak mengenali hak yang besar” (hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi dan Al Hakim).
Oleh karena itu, saya sarankan kepada para senior, hendaklah kita menyayangi para kunior. Kita harus memandang dan menyikapi mereka dengan sikap rahmah dan kasih sayang, sebagaimana rahmah dan kasih sayang seorang ayah dan ibu kepada anak-anaknya.
Sebaliknya, kita para junior haruslah menempatkan para senior sebagai orang-orang yang mempunyai hak untuk kita muliakan dan kita hormati. Segala bentuk diskusi, syura (penyaluran aspirasi dan gagasan formal) dan istisyarah (penyaluran aspirasi, gagasan informal) haruslah selalu dijiwai oleh spirit rahmah (kasih sayang) terhadap si kecil (baca: junior) dan tauqir (penghormatan) kepada si besar (baca: senior). Dua sifat ini harus kita usahakan agar selalu ada dan terwujud, kalau kita menginginkan tetap diakui sebagai bagian dan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Satu hal lagi yang perlu kita ingat adalah tentang bahaya perdebatan, yang dalam bahasa Islam disebut jidal atau jadal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah, kecuali karena kaum itu mendapatkan kemampuan jadal atau jidal”. (Hadits hasan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Saudara Abdurrahman dan para netters di mana pun berada, perlu kita ingat (baik kita sebagai senior maupun junior) bahwa berorganisasi, rapat, berkoordinasi bukanlah untuk berdebat dan adu “otot” ilmu dan kepiawaian kita dalam mengolah kata. Akan tetapi, organisasi, rapat dan koordinasi itu dimaksudkan untuk menghimpun berbagai pendapat, menyaringnya, dan memilih yang terbaik, baik menurut sudut pandang syar’i maupun menurut sudut pandang waqi’ (realita) serta sejauh mana pendapat dan pandangan yang terbaik itu qabil lit-tanfiidz (bisa dilaksanakan).
Oleh karena itu, saya menyarankan kepada diri saya sendiri dan kepada Anda, agar saat kita melakukan syura, kita selalu mengingat surat Ali Imran [3]: 159 yang menjelaskan bahwa sebelum perintah syura (wa syawirhum fil amri), terlebih dahulu harus tercipta suasana dan iklim lembut, tidak kasar, tidak keras hati, sifat pemaaf dan memperbanyak istighfar (meminta pengampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala).
Sebagai penutup tanggapan saya, dan sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan Anda, saya ceritakan kisah berikut ini: Suatu kali, Hasan dan Husain, dua orang putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, melihat seorang tua yang tidak baik dalam berwudhu. Keduanya ingin menasihati orang tua itu. Akan tetapi keduanya masih kecil, sedangkan yang akan dinasihati adalah orang tua. Akhirnya keduanya bersepakat untuk mendekati orang tua itu, lalu berkata, “Paman, saya dan adik saya berbeda pendapat tentang cara berwudhu yang baik dan benar, dan kami tidak menemukan kata sepakat, oleh karena itu, kami meminta paman untuk melihat cara kami berwudhu, lalu paman memberikan penilaian.”
Lalu keduanya berwudhu dengan pengawasan orang tua tadi. Selesai keduanya berwudhu, orang tua itu mengatakan, “Wudhu kalian berdua itulah yang benar dan baik, dan wudhu saya-lah yang salah dan tidak baik, dan terima kasih atas nasihatnya yang baik”.
Demikian. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga diri kita dan dakwah kita ini, amin.
Readmore »»

Selasa, 22 November 2011

JANGAN JADIKAN AIR ITU BERHENTI

Serial Taujihat Ustadz


Perang Ahzab atau perang Khandaq adalah pertempuran yang sangat melelahkan.
Memang pertempuran dalam arti saling bunuh membunuh dalam jarak dekat tidak
banyak terjadi. Namun, 10000 pasukan multinasional yang mengepung Madinah
telah membuat kaum muslimin tidak sempat melakukan shalat Zhuhur, Ashar,
dan Maghrib. Bahkan hanya sekedar kencing saja juga tidak sempat.

Selesai perang yang sangat melelahkan secara phisik dan psikis ini,
Rasulullah saw hendak beristirahat barang sejenak. Karenanya, beliau
sarungkan dan gantungkan pedang dan senjata beliau.

Namun Allah swt tidak menginginkan beliau dan kaum muslimin beristirahat.
Karenanya, Allah utus malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw.

Sambil tetap berada di atas bighal, malaikat Jibril as berkata: Kayaknya
engkau sudah meletakkan senjatamu, wahai Rasulullah saw? Sesungguhnya para
malaikat belum meletakkan senjata mereka .... (Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam).

Riwayat ini menggambarkan kepada kita agar kita tidak berhenti dari
berjihad.

Pada suatu hari, ada beberapa orang Anshar sedang berkumpul-kumpul. Mereka
saling berkata diantara mereka: Sekarang Islam telah jaya, telah eksis,
dan telah kokoh. Sebaiknya kita kembali ke ladang-ladang kita, kebun-kebun
kita, kita urus lagi harta kekayaan kita yang selama ini terbengkalai dan
kita garap lagi lahan-lahan itu dengan serius, lahan yang selama ini telah
kita tinggalkan dalam rangka berjihad fi sabilillah, dan hasilnya kita
infaqkan fi sabilillah juga, sementara jihad di medan laga biar ditangani
oleh saudara-saudara kita lainnya.

Maka Allah swt menurunkan:

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS Al Baqarah:
195).
Sedangkan riwayat yang satu ini menggambarkan kepada kita bahwa kehancuran,
atau kebinasaan, atau istilah Al Qur?annya tahlukah adalah saat
meninggalkan jihad.

Kalau dua riwayat ini kita hubungkan dengan sirah Rasulullah saw lainnya,
kita akan ketemukan angka-angka berikut:

- Peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah saw secara langsung (ghozwah
) ada 26 ghozwah.
- Peperangan yang tidak dipimpin oleh Rasulullah saw secara langsung (
sariyyah) ada 38 sariyyah.
Maka kita akan dapat menarik satu kesimpulan bahwa manuver Rasulullah saw
dan para sahabatnya itu tiada henti dan tanpa putus. Bagaimana tidak, waktu
yang kurang lebih sepuluh tahun itu terisi oleh peperangan 64 kali
peperangan.

Sungguh, sebuah manuver yang menggambarkan betapa Rasulullah saw dan para
sahabatnya senantiasa menumpahkan segala potensi dan kemampuan yang
dimilikinya secara maksimal dan tiada henti, sehingga tidak ada waktu lagi
untuk bersitirahat dan meng-andai-andaikan hal-hal yang sifatnya duniawi.

Kalau hal itu kita ibaratkan sebagai air yang mempunyai potensi besar untuk
menerjang apa saja, maka aliran air itu tiada pernah berhenti.

Kalau Al Qur?an surat Al Baqarah ayat 195 itu kita hubungkan dengan
pengibaratan air ini, kita bisa katakan bahwa justru kalau air itu
berhenti, dan tidak lagi mengalir, maka air itu akan menjadi rusak, kotor,
sarang nyamuk, dan bau serta berubah warnanya. Begitu juga dengan potensi
jihad yang ada pada kita. Bila potensi jihad itu kita berhentikan, baik
jihad da?awi, jihad ta?limi, jihad irsyadi, jihad tarbawi, jihad bina-I
(jihad membina), jihad qitali dan jihad-jihad lainnya, maka potensi itupun
akan bernasib sama dengan air itu. Karenanya wajar bila Allah swt
memperingatkan para sahabat akan datangnya tahlukah kepada mereka bila
mereka meninggalkan jihad, dan menyibukkan diri dengan urusan pertanian dan
perkebunan.

Firman Allah swt diatas dipertegas juga oleh hadits Rasulullah saw yang
menyatakan:

Jika kalian telah berjual beli secara ?ienah (rekayasa dan akal-akalan
dalam praktek riba), kalian telah mengambil ekor sapi dan puas (asyik)
dengan pertanian serta meninggalkan jihad, niscaya Allah swt akan
menjadikan kehinaan menguasai kalian yang tidak akan dicabut sehingga
kalian kembali kepada agama kalian. (HR Abu Daud dan Ahmad, dan Syekh
Nashirud-Din Al Al Bani menilainya hasan).

Berkenaan dengan hal ini simaklah apa yang dikatakan oleh Sayyid Qutub
dalam salah satu bukunya:

Yang demikian ini karena, hakikat iman tidak akan sempurna dalam hati,
melainkan setelah;

1. Bermujahadah dalam menghadapi orang banyak dalam urusan iman ini;
- Mujahadah dengan hati; bentuknya: membenci kebatilan mereka,
jahiliyyah mereka dan bertekad memindahkan mereka dari kebatilan dan
jahiliyyah itu kepada kebenaran dan Islam.
- Mujahadah dengan lisan; bentuknya:
- Tabligh.dan bayan (penerangan).
- Menolak kebatilan mereka yang merupakan kepalsuan itu.
- Menegaskan kebenaran yang dibawa Islam.
- Dan mujahadah dengan tangan atau pisik; bentuknya: menolak dan
menyingkirkan mereka-mereka yang melakukan penghadangan terhadap jalan
hidayah dengan mempergunakan kekuatan yang melampaui batas dan penghancuran
yang curang.

2. Merasakan melalui mujahadah-nya itu:
- Ujian (ibtila? atau tribulasi) dan rasa sakit.
- Bersabar atas ibtila? dan rasa sakit itu.
- Bersabar atas kekalahan. Dan
- Bersabar atas kemenangan, karena, bersabar atas kemenangan lebih
berat (sulit) dari pada bersabar atas kekalahan. Kemudian ?

3. Tetap Tsabat (tegar) dan tidak ragu-ragu, istiqamah dan tidak
menolah-noleh dan terus maju meniti jalan iman dengan terus menanjak dan
tidak tersesat.
Selanjutnya Sayyid Qutub mengatakan:
Dan hakikat iman tidak sempurna dalam hati sehingga menghadapkannya untuk
mujahadah menghadapi orang banyak dalam urusan iman ini, sebab, saat ia
mujahadah menghadapi orang banyak itu:
- Ia sendiri bermujahadah melawan dirinya sendiri.
- Dan akan terbuka baginya wawasan dan pemandangan keimanan yang belum
pernah terbuka baginya selamanya bila ia hanya duduk (diam) dengan aman dan
tenang.
- Akan jelas baginya hakekat-hakekat tentang manusia dan kehidupan yang
belum pernah manjadi jelas baginya selamanya tanpa adanya wasilah (sarana)
ini.
- Dan ia sendiri -dengan jiwanya, segala perasaannya,
persepsi-persepsinya, kebiasaannya, tabiatnya, emosinya dan responnya- akan
sampai pada sesuatu yang tidak mungkin sampai kepadanya tanpa pengalaman
berat dan sulit ini?.
Lebih lanjut Sayyid Qutub mengatakan:

Inilah sebagian dari yang diisyaratkan firman swt:
Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan
sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. (QS Al Baqarah: 251).
Dan kerusakan yang pertama kali terjadi adalah kerusakan jiwa manusia (
nafsul insan), kerusakan yang terjadi karena rukud (diam, tidak bergerak,
atau istilahnya berharakah, tidak mengalir), rukud yang menyebabkan:
- ruhnya membusuk akibat adanya stagnasi.
- Himmah (semangat)-nya istirkha? (mengendor, lembek, loyo, tidak kenceng).
- Nafs (jiwa)-nya rusak dikarenakan adanya rakha? (bergelimangnya harta
dunia) dan tharawah (tidak teruji dan terlatihnya jiwa itu dengan hal-hal
yang berat).
Yang pada akhirnya seluruh kehidupanpun menjadi rusak gara-gara rukud tadi.
Atau karena hanya bergerak pada bidang syahwat saja, sebagaimana yang
terjadi pada bangsa-bangsa yang mendapatkan cobaan dalam bentuk kemewahan
hidup.
(Lihat : Hadzad-diin, Sayyid Qutub, hal: 12 - 13).

(Musyaffa, Dep. Kaderisasi DPP PK) musyaffa@centrin.net.id
Readmore »»

Selasa, 21 Juni 2011

سُئِلَ حَكِيْمٌ "Seorang Bijak Ditanya"


Diposkan olehadmindi08:17

Oleh: Musyafa Ahmad Rahim
(Ketua Kaderisasi DPP PKS)

سُـئِــل حَـكِـيْـــمٌ

Seorang bijak ditanya:


سُئِلَ حَكِيْمٌ : مَنْ أَسْوَأُ النَّاسِ حَالاً؟

1. Siapakah manusia yang kondisinya paling buruk?

قَالَ : مَنْ قَوِيَتْ شَهْوَتُهُ .. وَبَعُدَتْ هِمَّتُهُ.. وَقَصُرَتْ حَيَاتُهُ .. وَضَاقَتْ بَصِيْرَتُهُ

Ia menjawab: Seseorang yang kuat syahwatnya, jauh cita-citanya, pendek hidupnya dan sempit bashirah-nya (mata hatinya).

سُئِلَ حَكِيْمٌ : بِمَ يَنْتَقِمُ اْلإِنْسَانُ مِنْ عَدُوِّهِ.....؟

2. Dengan apa seorang manusia membalas dendam kepada musuhnya?

فَقَالَ : بِإِصْلاَحِ نَفْسِهِ

Ia menjawab: dengan memperbaiki dirinya.

سُئِلَ حَكِيْمٌ : مَا السَّخَاءُ ...... ؟

3. Apa itu sifat derman?

فَقَالَ : أَنْ تَكُوْنَ بِمَالِكَ مُتَبَرِّعاً، وَمِنْ مَالِ غَيْرِكَ مُتَوَرِّعاً

Ia menjawab: Hendaklah engkau menyumbangkan hartamu dan wara’ dari harta yang bukan milikmu.

سُئِلَ حَكِيْمٌ : كَيْفَ أَعْرِفُ صَدِيْقِيْ اَلْمُخْلِصَ .....؟

4. Bagaimana aku tahu mana teman yang tulus ikhlas?

فَقَالَ : اِمْنَعْهُ .. وَاطْلُبْهُ..فَإِنْ أَعْطَاكَ ..فَذَاكَ هُوَ ,..وَإِنْ مَنَعَكَ..فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Ia menjawab: Kalau dia memintamu, jangan dikasih, dan mintalah sesuatu darinya, jika ia tetap memberi, itulah dia teman sejati, dan jika ia tidak memberinya, maka, cukuplah Allah sebagai tempat meminta pertolongan.

قِيْلَ لِحَكِيْمٍ :مَاذَا تَشْتَهِيْ .....؟

5. Apa yang menjadi kesenanganmu?

! فَقَالَ : عَافِيَةَ يَوْمٍ

Ia menjawab, sehari saja saya selamat dan aman!

فَقِيْلَ لَهُ : أَلَسْتَ فِي الْعَافِيَةِ سَائِرَ اْلأَيَّامِ ...؟

Maka ditanyakan kepadanya: Bukannya sepanjang hari engkau selamat dan aman?

فَقَالَ : اَلْعَافِيَةُ أَنْ يَمُرَّ يَوْمٌ بِلاَ.. ذَنْبٍ

Ia menjawab: Yang dimaksud dengan ‘selamat dan aman’ adalah ada satu hari berlalu dan engkau tidak berbuat dosa pada hari itu.

قَالَ حَكِيْمٌ : اَلرِّجَالُ أَرْبَعَةٌ : جَوَّادٌ وَبَخِيْلٌ وَمُسْرِفٌ وَمُقْتَصِدٌ

6. Seorang bijak berkata: Manusia ada empat; dermawan, pelit, berlebihan dan ekonomis.

فَالْجَوَّادُ : مَنْ أَعْطَى نَصِيْبَ دُنْيَاهُ لِنَصِيْبِهِ مِنْ آخِرَتِهِ

Dermawan yaitu seseorang yang memberikan jatah dunianya untuk akhiratnya.

وَالْبَخِيْلُ : هُوَ..اَلَّذِيْ لاَ يُعْطِيْ وَاحِداً مِنْهُمَا نَصِيْبَهُ

Seorang pelit yaitu seseorang yang tidak memberikan jatahnya, baik untuk dunia maupun untuk akhirat.

وَالْمُسْرِفُ : هُوَ الَّذِيْ يَجْمَعُهُمَا لِدُنْيَاهُ

Seorang musrif (yang berlebihan) adalah seseorang yang menggabungkan seluruh jatahnya untuk urusan dunia.

وَالْمُقْتَصِدُ: هُوَ الَّذِيْ يُعْطِيْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا نَصِيْبَهُ

Seorang yang muqtashid (ekonomis) adalah seseorang yang memberikan kepada masing-masing jatahnya; dunia untuk dunia dan akhirat untuk akhirar.

قَالَ حَكِيْمٌ : أَرْبَعَةٌ حَسَنٌ، وَلَكِنْ أَرْبَعَةٌ أَحْسَنُ

7. Seorang bijak berkata: ada empat hal baik, namun, ada empat hal lebih baik;

اَلْحَيَاءُ مِنَ الرِّجَالِ..حَسَنٌ، وَلَكِنَّهُ مِنَ النِّسَاءِ..أَحْسَنُ

a. Sifat malu dari kaum lelaki adalah baik, namun, sifat malu yang dimiliki kaum perempuan lebih baik.

وَالْعَدْلُ مِنْ كُلِّ إِنْسَانٍ..حَسَنٌ، وَلَكِنَّهُ مِنَ الْقُضَاةِ وَاْلأُمَرَاءِ..أَحْسَنُ

b. Keadilan dari semua manusia adalah baik, namun, keadilan dari para hakim dan pemimpin adalah lebih baik.

وَالتَّوْبَةُ مِنَ الشَّيْخِ ..حَسَنٌ، وَلَكِنَّهَا مِنَ الشَّبَابِ..أَحْسَنُ

c. Taubat dari seseorang yang sudah tua adalah baik, namun, taubat dari seorang muda lebih baik.

وَالْجُوْدُ مِنَ اْلأَغْنِيَاءِ..حَسَنٌ.. وَلَكِنَّهُ مِنَ الْفُقُرَاءِ..أَحْسَنُ

d. Derman bagi orang kaya adalah baik, namun, derma dari kaum fakir adalah ahsan.

قَالَ حَكِيْمٌ : إِذَا سَأَلْتَ كَرِيْماً .... فَدَعْهُ يُفَكِّرُ....فَإِنَّهُ لاَ يُفَكِّرُ إِلاَّ فِيْ خَيْرٍ

8. Jika engkau bertanya kepada seorang mulia, maka biarkannya ia berfikir, sebab ia tidak berfikir kecuali yang terbaik.

وَإِذَا سَأَلْتَ لَئِيْماً.. فَعَجِّلْهُ.. لِئَلاَّ يُشِيْرَ عَلَيْهِ طَبْعُهُ ..أَنْ لاَ يَفْعَلَ

Dan jika engkau bertanya kepada seorang yang buruk (tercela), maka segerakan, agar wataknya tidak memberi isyarat kepadanya untuk berkata: “Jangan lakukan”!

قِيْلَ لِحَكِيْمٍ : اَلأَغْنِيَاءُ أَفْضَلُ أَمِ الْعُلَمَاءِ ... ؟

9. Manakah yang lebih afdhal; ulama atau orang kaya?

فَقَالَ : اَلْعُلَمَاءُ أَفْضَلُ

Ia menjawab: Ulama lebih baik

فَقِيْلَ لَهُ : فَمَا بَالُ الْعُلَمَاءِ يَأْتُوْنَ أَبْوَابَ اْلأَغْنِيَاءِ . وَلاَ نَرَى اْلأَغْنِيَاءَ يَأْتُوْنَ أَبْوَابَ الْعُلَمَاءِ..؟

Ditanyakan kepadanya: Lalu kenapa para ulama mendatangi pintu-pintu orang kaya?! Dan kami tidak melihat orang-orang kaya mendatangi pintu-pintu para ulama?!

فَقَالَ : لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ عَرَفُوْا فَضْلَ الْمَالِ ، وَاْلأَغْنِيَاءُ لَمْ يَعْرِفُوْا فَضْلَ الْعِلْمِ

Ia menjawab: Sebab para ulama mengetahui keutamaan harta, sementara orang-orang kaya tidak mengetahui keutamaan ilmu.

قَالَ حَكِيْمٌ : اَلنَّاسُ فِي الْخَيْرِ أَرْبَعَةٌ : فَمِنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُهُ .. اِبْتِدَاءً، وَمِنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُهُ ... اِقْتِدَاءً

10. Dalam hal kebajikan, manusia ada empat macam; ada yang memulai, ada yang melakukannya dalam rangka berqudwah.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَتْرُكُهُ .. حِرْمَاناً ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَتْرُكُهُ .. اِسْتِحْسَاناً

Dan diantara mereka ada yang meninggalkannya karena tidak ada kesempatan dan diantara mereka ada yang meninggalkannya karena memandangnya sebagai sesuatu yang terbaik.

فَمَنْ يَفْعَلُهُ اِبْتِدَاءً ........ كَرِيْمٌ

a. Adapun yang melakukannya dalam rangka memulai, maka ia adalah seorang yang mulia.

وَمَنْ يَفْعَلُهُ اِقْتِدَاءً ....... حَكِيْمٌ

b. Ada pula yang melakukannya karena mencontoh dan berteladan, maka ia adalah seorang yang bijaksana.

وَمَنْ يَتْرُكُهُ اِسْتِحْسَاناً ...... غَبِيٌّ

c. Ada juga yang meninggalkannya karena menganggap baik, maka ia adalah seorang bodoh.

وَمَنْ يَتْرُكُهُ حِرْمَاناً ........ شَقِيٌّ

d. Dan ada pula yang meninggalkannya karena tidak mendapatkan kesempatan, maka ia adalah seseorang yang celaka.


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia
Readmore »»