Tampilkan postingan dengan label Film Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Agustus 2012

Pemeran Film Umar

Pemeran Umar bin Khattab


Umar bin Khattab di perankan oleh Aktor muda berkebangsaan Suriah yang bernama Samer Ismail








Pemeran Ali bin Abu Thalib

Ali bin Abu Thalib diperankan oleh Ghanem Alzerla, seorang pemuda Tunisia









Pemeran Abu Bakar



Abu Bakar diperankan oleh Ghassan Massoud, berkebangsaan Suriah yang lahir di kota Damaskus, lebih jelasnya ada di wikipedia : http://en.wikipedia.org/wiki/Ghassan_Massoud
 

Pemeran Utsman bin Affan






Utsman bin Affan diperankan oleh Tamer Arbeed
http://denisetiawan.com
Readmore »»

Umar: Film Kepahlawanan Pemuda

Muhammad Elvandi, Lc

Ilustrasi – Poster Film Umar. (inet)

dakwatuna.com – Setiap umat berbangga dengan sejarah masa lalunya untuk menginspirasi masa depannya. Mereka mengumpulkan manuskrip para pahlawannya, hingga detail-detailnya untuk kemudian mereka presentasikan ke generasi mudanya. Oleh karena itu lihatlah di Paris, museum para pahlawan mereka berderet di setiap pojok kota. Setiap kisah kepahlawanan itu diintegrasikan ke dalam semua proses pembelajaran generasi muda mereka. Dengan semua sarana yang mungkin.

Bahkan bagi umat yang tidak mempunyai sejarah panjang seperti Amerika. Mereka baru berumur tiga abad. Tidak banyak yang bisa mereka banggakan untuk rakyatnya, tapi mereka memahami arti penting sejarah yang membangkitkan energi positif. Maka mereka buat seadanya dari tokoh manapun yang tersisa, hingga berdiri salah satu museum, yaitu museum ‘Pirate’. Bayangkan, segerombol perampok lautan mereka pajang karena tidak banyak yang bisa mereka pajang.

Siapa yang tidak kenal kejayaan masa lalunya maka ia tidak ada kegemilangannya masa depan yang menantinya. Ini dipahami benar bagi umat-umat yang sadar kaidah-kaidah revolusi sosial. Maka di abad ini layar kotak di ruang-ruang tamu kita dibanjiri film-film yang menggambarkan keagungan pahlawan-pahlawan Barat.

Kejayaan Roma dikembalikan dengan visualisasi yang begitu detail dan memukau dalam serial seperti Rome, Los Borgias. Caesar menjadi inspirasi para politisi pengagung republik, William Wallace menjadi simbol sebuah perlawanan Skotlandia melawan penjajahan Inggris. Henry VIII yang kejam itu dipoles sehalus mungkin di 4 season serial Tudors-nya yang menjadi inspirasi restorasi keagamaan Eropa. Dan Raja Arthur yang gemar perempuan itu menjadi begitu bijak dalam film-film baik Excalibur, King Arthur, ataupun serial Camelot. Ia disimbolkan menjadi tokoh pengembali kejayaan Eropa dari kepingan reruntuhan kerajaan-kerajaan Roma.

Film Alexander, Spartacus, 300, menjadi wakil kegemilangan bangsa Yunani yang pernah menguasai dunia. Atau seperti juga Joan of Arc yang menjadi wanita pahlawan Kristen Perancis; Napoleon yang kuda-kudanya pernah menginjak-injak kehormatan Al-Azhar Mesir tidak hanya digandrungi orang Perancis, tapi oleh umat Islam juga karena kuatnya efek sugesti kepahlawanan yang disebar, belum lagi kisah heroik Louis IV, raja teragung mereka, dan para pemikir-penulisnya seperti Camus, Victor Hugo, Sade, Voltaire dan Rosseau.

Umat Timur pun tidak lupa membakar obsesi dan meluaskan cakupan mimpi generasi mudanya dengan film. Attila adalah tokoh kebanggaan ras Turki, seperti juga Jengis Khan. Kisah para kesatria Samurai dalam film-film Jepang benar-benar menjaga kemurnian tradisi asli mereka yang berkhidmah hanya untuk kaisar. Ada Ghandi, Mao Tse Tung, Bruce Lee, bahkan film G-30S PKI adalah usaha-usaha untuk menyebar nilai-nilai tertentu bagi generasi baru. Karena bahasa tulisan tidak memasuki hati seperti bahasa gerakan. Semua pesan itu masuk sebenar masuk ke dalam pikiran dan hati, salah atau pun benar.

Apalagi Amerika, film-film yang mereka produksi itu walau fiksi bukan tanpa bekas bagi jiwa. Jika tanpa sadar anak-anak kecil kita melakukan gerakan refleks, meniru gerakan beberapa tokoh seperti Spiderman dan Rambo. Itu bukan kebetulan. Atau ketika para pemuda yang kepalanya tertunduk saat berbicara persaingan dengan Amerika itupun bukan kebetulan. Karena setiap saat mata kita mengkonsumsi semua ‘kegemilangan’ budaya mereka.

Mental manusia itu bisa melambung tumbuh saat merasakan kebesaran sejarah bangsa sendiri ataupun menciut kecut saat melihat ketiadaan sejarah dan justru melihat keagungan umat lain. Itulah yang terjadi saat kecanggihan militer dan teknologi Amerika kita saksikan di film-film seperti Hulk dan Iron Man, atau keberanian mereka di film Saving Private Ryan, The Patriot, dan serial Band of Brother.

Sedangkan film yang diputar di masyarakat muslim sejak tahun 1977 hanyalah The Message atau ar-Risâlah. Sekali-kali ditambah dengan film Umar Mukhtar, atau film serial berkualitas rendah, baik dari akting, latar, desain pakaian dan skenario. Terlebih jika ia film Islam, tidak memperhatikan validitas data sejarah, bahkan tidak memberi inspirasi malah menciptakan fitnah seperti serial Hasan dan Husein atau film serial al-Jama’ah yang mendistorsi sejarah kelahiran Ikhwanul Muslimîn dan biografi Hasan al-Banna.

Di tengah kegersangan ini, saat generasi muda muslim pasca revolusi 2011 membutuhkan inspirasi pemimpin datanglah serial film tentang salah satu manusia teragung sepanjang sejarah umat manusia: Umar bin Khattab.

Ia bukanlah film asalan dan berformalitas ‘Islam’. Tapi ia adalah proyek besar yang Insya Allah diberkahi. Hâtim ‘Ali Sang Produser dari Syria ini tidak tanggung-tanggung dalam membuatnya. Ia carikan penulis skenario se-kaliber Dr. Walîd Saif yang telah menulis naskah-naskah besar seperti ‘Az-Zair as-Sâlim, al-Khansâ, as-Syajaratud Dur, Salahuddîn al-Ayyûbi, Rabi’ Cordoba dan banyak lagi. Tidak hanya itu, semua skenario serial Umar ini telah diteliti validitas sejarah hingga ke detail-detailnya oleh sebuah tim yang terdiri dari ulama-ulama besar seperti: Dr. Yûsuf al-Qaradhâwi, Dr. Salmân al-‘Audah, Dr. ‘Abdul Wahhâb at-Tharîri, Dr. ‘Ali as-Shallâbi, Dr. Sa’ad al-‘Atîbi, Dr. Akram Dhiyâul ‘Umari.

Sepanjang sejarah sinema Arab, belum pernah diproduksi film sebesar ini. Tempat shooting diambil di berbagai lokasi dari Maroko hingga Syria. Dengan 322 pemeran dari 5 benua berbeda. Film Umar berhasil membangun ulang suasana kota Mekah dan Madinah abad ke-7 dengan 29 bangunan internal untuk shooting dan 89 bangunan eksternal. Yang didesain di pinggiran kota Marakech di Maroko. Ditambah lagi desain Ka’bah yang persis aslinya di zaman itu sebesar 12.000 meter persegi.

Kerja terberat adalah visualisasi perang. Ia membutuhkan 170 hari untuk perang saja. Dan untuk keseluruhan momen besar itu membutuhkan 20.000 pemeran ekstra dalam perang. Tidak hanya dalam perang tapi juga dalam momen-momen eksternal seperti Thawaf di Ka’bah atau Fathu Mekah.

Film produksi MBC ini menyiapkan 1.970 pedang, 650 tongkat, 1.050 perisai, 400 busur dan 4.000 anak panahnya, 170 baju besi untuk perang yang disebut dira’, 15 gendang, 1.600 tembikar, 7.550 sandal, 137 patung, 14.200 meter kain, 39 ahli desain dan penjahit, 100.000 koin, 1.500 kuda dan 3.800 unta.

Kerja yang sungguh besar, saat ditanya alasan usaha ini, mereka menjawab, tokoh sebesar Umar tidak layak dipresentasikan kecuali dalam karya yang besar pula. Sehingga 299 designer dari 10 negara pun secara khusus didatangkan.

Film Umar yang menghabiskan 322 hari ini terus melejit menuju dunia internasional, dimulai dari timur tengah, kemudian menuju Turki dengan bekerja sama dengan TV terbesar mereka yaitu ATV Turkuvaz Media Group. Dan di Indonesia bekerja sama dengan MNC TV. Hingga saat ini penonton film ini sekitar 700 juta, atau setengah populasi umat Islam. Dan ia akan terus menyebar dengan terjemahan-terjemahan ke bahasa asing lain. Sekaligus ini menjadikannya film yang paling banyak disaksikan dalam sejarah perfilman Arab.

Sepanjang perjalanan tayang di bulan Ramadhan 2012 lalu, film Umar bukan tanpa tentangan dan makian. Beberapa ulama yang melihat bahwa visualisasi sahabat haram menyebarkan terus fatwa-fatwanya di berbagai media, menyeru untuk memboikot film ini.

Namun Dr. Salmân ‘Audah yang mempunyai pendapat lain tidak melihat pertentangan ini sebagai sesuatu yang esensial. Karena urusan ini tidak ada aturan dan larangannya dalam Qur’an maupun Sunnah. Ia hanya berada di domain perbedaan pendapat ulama soal setuju dan tidak setuju, bukan halal-haram. Tiap ulama berpikir dan berijtihad sesuai sudut pandang yang diyakini benarnya, bukan mutlak. Maka ia sangat mungkin berbeda pendapat. Dalam Islam, perbedaan pendapat dalam masalah seperti ini tidak berlaku hukum halal-haram, tapi yang tepat dan tidak tepat. Allah mengganjar yang tidak tepat dengan satu pahala karena usaha berpikirnya itu, sedang yang tepat dengan dua pahala karena usaha dan ketepatannya. Maka alangkah sayangnya jika ulama-ulama umat ini malah semakin memecah umat dengan fatwa-fatwa kerasnya itu.

Karena perfilman sekarang ini “sedang berada di medan sengit, jika Anda tidak mengisinya, maka pasti orang lain yang akan mengambil alih, apalagi dasar semua persoalan ini adalah ‘boleh’” kata Dr. Salmân. “Fatwa-fatwa itu tidak juga menghentikan orang-orang dari waktu luangnya yang panjang untuk menonton tayangan-tayangan yang tidak layak, tapi justru fatwa-fatwa itu menghadang niat tulus orang-orang yang berjuang memberi alternatif tayangan untuk masyarakat” lanjutnya.

Yang diperlukan hanyalah pengawasan ketat terhadap film sahabat. Oleh karena itu tim pengawas yang terdiri dari 6 ulama besar ini memberikan syarat-syarat yang sangat berat bukan hanya pada skenario, tapi juga pada para pemainnya. Untuk pemeran Umar misalnya, selain sifat-sifat fisik yang mendekati Umar, ia harus pemain baru, yang tidak mempunyai reputasi perfilman sebelumnya, dan ia harus bersedia tidak menerima tawaran apapun selama 5 tahun terhitung sejak mulai kontrak film Umar.

Pilihan itu jatuh pada Sâmir Ismâ’îl, seorang mahasiswa Syria yang tidak pernah mempunyai pengalaman film sebelumnya. Lelaki muslim bertubuh tinggi bersuara besar yang cocok memerankan Umar ini bahkan mengatakan “setelah peran ini, saya akan sangat selektif memilih peran, dan menjadi tanggung jawab saya untuk menampilkan sosok seniman dan aktor yang baik, dan jauh dari semua yang bisa menodai pribadi Umar yang agung”.

Film Umar ini benar-benar sebuah inspirasi pasca revolusi. Saat panggung kepemimpinan negeri-negeri muslim kosong ia hadir memberi paket teladan kepemimpinan yang adil, bijaksana, toleran, dengan bobot kepahlawanan yang memanaskan adrenalin para pemuda untuk mengikuti jejak langkahnya.

Juga, ia berhasil meluruskan sekian banyak persepsi yang salah di literatur-literatur sejarah palsu sahabat yang bertebaran di pustaka umat. Seperti pertengkaran Umar dan Ali karena Ali telat membaiat Abu Bakar, atau ambisi tamak pembesar Anshar untuk kepemimpinan pasca wafat Rasulullah sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Abu Bakar karya Muhammad Husein Haikal. Semua itu tidak benar jika dirunut di buku-buku sejarah sahabat yang valid seperti Abu Bakar karya Dr. ‘Ali Muhammad as-Shallâbi. Semua diskusi dan perselisihan pendapat antar para sahabat berlangsung dengan sangat santun dan penuh ukhuwah. Dan film ini mengklarifikasi pikiran jutaan umat Islam yang tidak sempat membaca detail dan tebalnya buku-buku biografi sahabat Rasul.

Film ini memberi konteks yang benar, adil, proporsional tentang makna syûra, zuhd, qadâ dan qadar, keberanian, tujuan jihad, makna rahmatan lil ‘alamin, universalisme Islam dan banyak lagi nilai Islam yang dipresentasikan sepanjang 31 seri ini.

Dan yang terutama, film ini memberi umat Islam sebuah model kepahlawanan, bahwa kisah manusia agung seperti Umar itu bukan mitos tapi pernah ada. Lalu divisualisasi hingga nyata terasa di darah dan daging penonton. Ia menjadi model keadilan bagi umat manusia, yang di film itu tersublimasi dalam kegagapan duta resmi Kaisar Romawi dengan mata terbelalak saat menemui Umar yang sedang tidur di bawah pohon, tanpa singgasana, tanpa mahkota, tanpa pengawal istana, hanya beralas kerikil Madinah. “Semua perkataan orang-orang tentangmu sudah cukup membuatku bingung… dan sekarang keheranan itu telah berubah menjadi keyakinan, kali ini aku tidak berkata dari lidah orang lain kecuali lidahku sendiri”. Dengan tergagap ia berkata “Anta Yâ ‘Umar, ‘Adalta, Fa Aminta, Fa Nimta” [Anda wahai Umar, kau semai keadilan, maka kau merasa aman, maka kau tidur tenang]

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22495/umar-film-kepahlawanan-pemuda/#ixzz2530XpbOT
Readmore »»

Minggu, 04 Maret 2012

Resensi Film “Fetih 1453″


dakwatuna.com - “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, sebuah kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah SAW di abad ke-7. Pancaran optimisme yang luar biasa dari beliau di saat kaum muslimin masih belum bebas bergerak di seputar jazirah Arab. Namun kemantapan hati bahwa agama ini akan berkembang pesat dan luas itu sangat menenangkan para sahabat.

Membayangkan masuknya Islam hingga ke jantung sebuah negara adidaya, mungkin setara dengan mengatakan bahwa nantinya Gedung Putih akan menjadi salah satu icon peradaban muslim. Nyaris tak tergambarkan. Namun keimanan kepada Rasulullah adalah satu syarat mutlak seorang mukmin, maka setiap benak yang ada pada para sahabat pun bertekad kuat untuk mewujudkannya. Semua berdoa, memohon kepada Allah SWT bahwa ia-lah yang dimaksud dalam hadits tersebut. Sebaik-baik pemimpin, sebaik-baik pasukan. Subhanallah.

Film “Fetih 1453“ buatan Turki yang disutradari Faruk Aksoy ini diluncurkan serentak di berbagai belahan dunia pada tanggal 16 Februari 2012. Momen diriwayatkannya hadits tersebut dijadikan pembuka alur cerita, sekaligus mengisyaratkan bahwa keseluruhan visualisasi yang disajikan adalah bentuk adaptasi dari kisah nyata yang terjadi ratusan tahun silam. Saat itu, tentara kesultanan Usmani di bawah komando langsung dari sang Sultan Muhammad II mampu menaklukkan kota dengan pertahanan terbaik di dunia, yakni Konstantinopel.

Dengan menjual predikat kepahlawanan yang “based on true story“, tentu saja beban yang dibawa oleh film ini cukup berat. Namun bagaimana pun, yang hadir di gedung bioskop dan menyaksikan film ini dapat dikategorikan setidaknya satu dari empat tipe: (1) penikmat sejarah, (2) pendamba hiburan Islami, (3) pengamat film, atau (4) penonton biasa yang “nothing to lose“.

Faruk Aksoy, sutradara Fetih 1453 (IMDb)

Bagi penonton tipe pertama, hadirnya bumbu dalam ceritera yang disuguhkan tidaklah terlalu penting. Yang harus diperhatikan adalah tahun, kejadian, kutipan, serta visualisasi. Semisal, bagaimana dalam “Fetih 1453” Selat Bosphorus ditampilkan terpagari oleh rantai besar yang dapat menghalangi kapal-kapal perang untuk melaluinya. Atau, momen di mana meriam besar berukuran 8 meter itu dibuat kemudian ditarik oleh ratusan orang dan puluhan kerbau ke medan laga. Jika unsur-unsur ini terpenuhi, yang lain sedikit-banyak boleh diabaikan.



Berbeda dengan itu, penonton tipe kedua akan lebih cenderung pada karakter di dalam film yang disaksikan. Apabila terjadi penggambaran yang keliru pada tokoh kunci, maka nilai tontonan itu akan menurun di hadapannya. Memang mustahil mendapatkan protagonis yang terlalu sempurna, namun ada harapan besar bahwa ciri-ciri utama yang ada dalam benaknya, dapat terpenuhi.

Tipe ketiga lebih cenderung menjadi observer. Pada umumnya, sepanjang film ia “sibuk” melakukan komparasi dengan film lain atau menganalisa logis-tidaknya alur cerita yang disajikan. Untuk film perang kolosal yang berlandaskan kisah nyata, perbandingan yang “apple-to-apple“ antara lain bisa diambil dari Kingdom of Heaven (dibintangi oleh Orlando Bloom & Liam Neeson), Braveheart (Mel Gibson), atau Troy (Brad Pitt & Eric Bana). Juga sedikit banyak film seperti Hero (Jet Li & Donnie Yen).

Sedangkan tipe keempat atau terakhir biasanya tidak terlalu mempermasalahkan apa pun, namun mendambakan sebuah alur cerita yang utuh serta tidak membingungkan. Umumnya menyukai humor ringan, kejutan kecil atau adegan yang heroik, sesuai tipe film yang ditonton. Kalimat saktinya “tidak apa-apa melenceng dari sejarah, sosok aslinya atau agak tidak masuk akal, asal enak ditonton”. Dan justru tipe inilah yang mayoritas di antara para penonton bioskop.

Jika Anda penonton tipe pertama,


maka mungkin Anda akan temukan adanya berbagai hal yang cukup memenuhi standar di film “Fetih 1453“. Pencantuman bulan dan tahun yang cukup cermat di awal beberapa peristiwa kunci, juga beberapa hari penting dalam peperangan. Beberapa penggambaran tentang perang yang terjadi pun dapat dianggap sesuai dengan beberapa ilustrasi yang ada di berbagai sumber.

Sultan Muhammad II (Mehmed II) yang diperankan oleh Devrim Evin juga mampu memuat sosok tegas yang memancarkan tekad bulat untuk menaklukkan Konstantinopel. Beberapa karakter penting seperti Ulubatli Hasan (meski sebagian orang menyatakan ini adalah tokoh fiktif), Giustiniani (pimpinan pasukan khusus penjaga benteng Konstantinopel), Ak Syamsuddin (guru dari Mehmed II) hingga raja Konstantin XI juga mampu membangun nuansa sejarah yang padu. Juga penggambaran kota dan bangunan-bangunan yang ada pada masa itu, cukup realistis.

Kelemahan yang ada, umumnya adalah kompensasi akan kebutuhan dramatisasi. Salah satu contoh adalah bagaimana karakter Urban, seorang insinyur yang merancang meriam raksasa, digambarkan menolak permintaan pembuatan Konstantin XI dan kemudian terancam dibunuh namun berhasil diselamatkan oleh Hasan. Yang “agak parah” adalah hadirnya seorang perempuan bernama Era dengan status anak angkat Urban. Namun sekali lagi, ini kebutuhan alur cerita untuk penonton tipe keempat.

Pasukan Usmani dan meriam-meriam kecilnya bersiap menyerang Konstantinopel (trthaber)

Jika Anda penonton tipe kedua,

di satu sisi mungkin Anda akan berbahagia dengan hadirnya film ini. Sebuah alternatif di luar tipikal film Hollywood yang hadir dari sebuah negeri mayoritas muslim. Tetapi hendaknya ekspektasi Anda tidak perlu terlalu tinggi. Untuk keseluruhan film, kemungkinan besar Anda akan puas. Namun menyikapi berbagai penggambaran atas karakter-karakter yang ada dalam film tersebut, memang mau tidak mau masih ada bias dengan sejumlah tontonan yang banyak beredar.

Tidak ada manusia yang sempurna, mungkin itu pesan yang ingin ditampilkan. Namun, saat berbagai sumber menyebutkan bahwa Sultan Muhammad II tidak pernah sekalipun meninggalkan shalat wajib, sunnah rawatib hingga tahajjud, Anda mungkin akan kecewa mendapati bahwa sang permaisuri beliau Mukrima Khatun (di dalam film menggunakan nama Gulbahar Hatun, namun jelas dikisahkan bahwa ia adalah ibu dari Bayazid II), digambarkan tidak berhijab. Gelengan kepala Anda juga akan makin lebar saat melihat kesibukan sang ibu negara di sepanjang film nyaris hanya bersolek saja. Ya, begitulah adanya film tersebut.

Juga, pengaruh Hollywood nampaknya tidak bisa lepas dengan mudah. Masih ada saja pernik-pernik yang cukup mengganggu, semisal kisah asmara antara Hasan dan Era. Mengingat Hasan dikenang sebagai pahlawan besar perang tersebut (yang pasukannya adalah sebaik-baik pasukan) sedangkan Era adalah tokoh fiktif, jelaslah bahwa ini sekedar mengakomodir keinginan untuk menampilkan alur cerita yang dramatis.

Jika Anda penonton tipe ketiga,

bisa jadi pertama-tama yang Anda bayangkan adalah bagaimana film ini menampilkan sebuah ciri khas, di luar berbagai tontonan yang pernah beredar. Mampukah perfilman Turki menampilkan kualitas film yang sejajar dengan Hollywood, Eropa atau Asia Timur? Standar yang terlalu tinggi memang, namun setidaknya harapan itu masih ada.

Membandingkan dengan film-film lain yang bersesuaian tema, maka di berbagai momen Anda akan melihat sedikit duplikasi Kingdom of Heaven saat pasukan Usmani berusaha memanjat tembok benteng. Dari sudut pandang sejarah memang demikianlah situasinya, namun Anda mungkin berharap bisa melihat versi yang agak berbeda. Juga, adegan meluncurnya ribuan panah yang visualisasinya masih (sedikit) di bawah Hero. Atau adegan negosiasi antara Muhammad II dan Konstantin XI yang penggambaran umumnya tidak jauh berbeda dengan Troy. Tanpa mengatakan film ini kurang kreatif, namun tanpa sengaja pikiran Anda akan lari ke sana jika pernah menyaksikan film-film tersebut.


Lagi-lagi menyoal dramatisasi, Anda akan menemukan bahwa hubungan emosional yang coba dibentuk melalui karakter Era agak “maksa”. Setelah menolak lamaran Giustiniani yang merupakan jenderal pertahanan Konstantinopel, Era pulang ke rumah ayah angkatnya (Urban sang insinyur meriam), dan kemudian menjalin hubungan dengan Hasan yang merupakan pimpinan pasukan khusus Usmani. Saya sempat menebak, di suatu bagian dari film akan digambarkan pertarungan satu lawan satu antara Hasan dan Giustiniani. Dan dengan dinyana, ternyata tebakan saya benar.

Adegan 1 lawan 1 antara Hasan & Giustiniani (haberler)

Jika Anda penonton tipe keempat,

maka Andalah yang berusaha dimanjakan oleh film ini. Banyaknya adegan kekerasan seperti – maaf – tangan atau kaki terpotong, leher tertembus tombak, dsb mungkin cukup seru bagi penggemar film action. Karena adegan semacam itu cukup signifikan, film ini dikategorikan FSK-16 di Jerman (tempat saya menontonnya), yang berarti terlarang bagi anak berusia di bawah 16 tahun.

Penggemar drama? Hadirlah rentetan bumbu yang berkisar di seputar romantika para tokohnya. Hanya bumbu, karena seandainya pun adegan-adegan itu tidak ada, jalan cerita tidaklah terpengaruh besar. Atau malah sama sekali nggak ngefek. Barangkali sikap Sultan Muhammad II yang dingin dan tidak sekalipun bersedia tersenyum kepada anak dan istrinya sebelum Konstantinopel takluk membuat Anda terbawa, atau bisa juga penggambaran sang raja yang frustrasi menjadi titik di mana Anda tersentuh. Walau mungkin, Anda juga akan merasa jengkel dengan sikap Konstantin XI yang digambarkan berfoya-foya di banyak adegan. Ya, selamat mencari kesesuaian dengan apa yang Anda harapkan.

Nah…

apakah film ini layak tonton? Insya Allah, iya. Ada perspektif baru yang bisa ditambahkan pada memori Anda, yakni film asing yang digagas dan dibuat oleh dunia Islam. Situs rujukan film IMDb, saat tulisan ini dibuat, telah merangkum lebih dari 16.000 votes dengan nilai rata-rata 8.4 yang berarti sangat tinggi. Memang itu bukan patokan satu-satunya, namun sedikit-banyak angka tersebut bisa memberikan gambaran bagi kita.

Saya sarankan, jika nantinya bioskop di Indonesia memutarnya, saksikan bersama orang-orang yang sedikit banyak sudah mengetahui bagaimana peperangan dan tokoh-tokoh kunci yang ada di film ini. Syukur-syukur lagi kalau ada yang bisa membuat intisari dari berbagai hikmah yang tersedia, apakah itu dari sisi Islam, motivasi, dunia perfilman, atau sekedar hiburan. Tapi tentu saja itu bukan sebuah keharusan, melainkan sekedar rekomendasi.

Film ini hanya tersedia dalam bahasa Turki. Umumnya bioskop-bioskop Jerman memutar film asing yang sudah melalui proses dubbing, tapi “Fetih 1453” ditayangkan hanya dengan subtitle bahasa lokal. Bisa jadi karena cukup banyak orang berkebangsaan atau keturunan Turki di Jerman sini.

Jadi, kapan ditayangkan di Indonesia? Entahlah… jika Anda tahu, ayo beri informasi melalui komentar Anda di bawah, terlepas dari Anda sudah menonton atau belum. Semoga tulisan ini dan apa pun pendapat Anda tentang film “Fetih 1453″ bisa bermanfaat bagi kita semua… amin.

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, `Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?´ Beliau menjawab, `Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.’ Maksudnya adalah Konstantinopel.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19168/resensi-film-fetih-1453/#ixzz1oALXc3lN
Readmore »»