Selasa, 28 Juni 2011

Hikmah Isro' Mi'roj


Diposkan olehadmindi11:33
Oleh: Agus Priyatmono,S.Pd*)
Walaupun bulan Rajab hampir habis dan akan memasukki bulan Syaban tetapi menggali hikmah bulan Rajab tak akan habis. Apalagi pada bulan tersebut 14 abad yang lalu telah terukir dalam sejarah Islam satu peristiwa yang sangat menakjubkan dan sulit diterima oleh jangkauan akal manusia.

Peristiwa tersebut adalah Isro dan Miroj yaitu suatu peristiwa dimana Sang Maha Pencipta pemilik rahasia alam semesta memperjalankan seorang hambanya yang suci Muhammad SAW dalam dua perjalanan akbar. Perjalanan melintasi alam nyata dari Masjid Al Haram Makkah ke Masjid Al Aqsa Yerussalem Palestina serta perjalanan melintasi alam nyata ke alam ghaib dengan pembukaan tabir pembatasnya dari alam dunia ke alam masa depan.

Tujuan dari peristiwa itu cukuplah dua ayat Allah dalam kitabnya yang suci dan yang terjaga Al Quran Al Karim surat Al Isro’ ayat 1 dan An Najm ayat 13-18 yaitu untuk diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagian kecil dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan Sang Penguasa alam semesta. Kalau ditinjau secara akal peristiwa tersebut akanlah sulit terutama untuk peristiwa mi’raj, adapun untuk peristiwa isra’ pada zaman sekarang sudah dapat dibuktikan dengan teknologi.

Lepas dari itu semua dan runtutan peristiwa yang ada, banyak hikmah yang dapat diambil. Tetapi sebelum mengupas hikmah yang perlu kita pilah ada 4 peristiwa besar berkenaan dengan isro’ mi’raj. Peristiwa tersebut adalah:

1. Peristiwa sebelum kejadian isro’ mi’roj
2. Peristiwa isro’
3. Peristiwa mi’raj
4. Peristiwa sesudah kejadian isro’ mi’roj

Peristiwa sebelum kejadian isro’ mi’roj

Sebelum kejadian isro’ mi’roj, umat Islam dan Nabi yang Agung mendapatkan suatu ujian yang sangat berat. Ujian itu adalah pemboikotan kaum kafir Quraisy dan sekutunya terhadap umat Islam, wafatnya pendamping dan penyokong dakwah Nabi saw ummul mukminin Khadijah dan pamannya Abi Thalib serta penolakan dan penghinaan oleh bani Tsaqif di Thaif. Kempat ujian tersebut merupakan ujian yang berat bagi Nabi dan umat Islam saat itu. Puncaknya adalah dengan hati yang pedih Nabi saw mengadukan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla Sang Maha Penghibur bagi hambanya yang mengadu dengan lantunan do’a yang khusyuk dan harap.

Peristiwa isro’

Allah swt memberikan penghibur pertama kepada Nabi saw berupa perjalanan yang menakjubkan untuk ukuran zamannya. Jarak antara Makkah dan Yerusalem Palestina ditempuh berhari-hari dengan perjalanan biasa tetapi dapat ditempuh dengan sekejap mata. Teknologi masa depan yang digunakan Nabi saw pada zamannya atas izin Allah swt. Diperlihatkan pula kepada Nabi saw peristiwa yang terjadi dan terekam sempurna selama perjalanan itu termasuk cirri-ciri masjid Al Aqsa seperti halnya rekaman peristiwa dalam perjalanan biasa. Ketika di Al Aqsa, Nabi saw berjumpa dengan para Nabi as dan sholat bersama di sana. Hal ini menunjukkan bahwa para Nabi as memiliki tugas yang sama dengan Nabi saw yaitu mengajak segenap umat manusia untuk berislam, tunduk dan sujud hanya kepada Allah Yang Esa dan Nabi saw yang merupakan nabi penutup dan penyempurna bangunan dakwah islam dan risalah keselamatan itu. Terkadang manusia pada saat ini sering memilah-milah agama berdasarkan risalah yang dibawa oleh para nabi. Padahal agama atau risalah yang dibawa oleh para nabi adalah satu, yaitu Islam, agama keselamatan, agama para penghuni surga Allah.

Peristiwa mi’roj

Allah swt kemudian memberikan penghibur kedua kepada nabi Naw berupa perjalanan yang lebih dan sangat menakjubkan lagi, yaitu perjalanan ke alam ghoib, lapisan langit yang tertinggi dan gambaran masa depan sesudah mati berkenaan dengan balasan amal. Ketika tabir itu dibukakan oleh Sang Maha Hebat Allah ‘azza wa jalla, terlihat oleh Nabi saw peristiwa demi peristiwa yang sangat sulit dicerna akal manusia kecuali dengan kebeningan iman dan hati seorang hamba. Lengkap terekam oleh Nabi saw peristiwa-peristiwa yang dilalui seolah peristiwa tersebut berjalan detik demi detik hitungan manusia di alam dunia. Tabir alam dimensi lain terbuka, Nabi saw melihat lapisan langit yang disambut oleh saudaranya para nabi as dengan sapaan marhaban bil akhis shalih (selamat datang wahai saudaraku yang shaleh). Terlihat strategi dan tipu daya musuh abadi manusia, iblis laknatullah dengan dunia yang fananya. Terlihat kenikmatan surga dengan segala fasilitas yang ada yang jauh berbeda dengan fasilitas kemewahan di dunia. Terlihat kesengsaraan di neraka yang disiapkan untuk hamba Allah yang mendustakan kebenaran hakiki. Dan puncaknya adalah kenikmatan yang diberikan pada Nabi saw yaitu berkomunikasi langsung dengan Allah dan sekaligus beliau diberikan satu risalah syariat shalat, tiang penyangga keselamatan manusia setelah syahadat.

Peristiwa sesudah kejadian isro’ mi’roj

Setelah dua peristiwa tersebut, Nabi saw khabarkan kepada segenap manusia di Makkah. Terjadi guncangan dalam hati dan masyarakat, antara percaya dan tidak percaya bagi umat islam dan keanehan serta kemustahilan bagi kaum kafir. Keimanan teruji setelah peristiwa itu, diantaranya adalah shahabat karib beliau Abu Bakar menerima dengan ucapannya yang mantap sehingga beliau mendapat gelar As Shidiq (yang jujur) jujur menerima kenyataan iman. Suatu keniscayaan peristiwa yang ada yang terjadi dan bertentangan dengan akal manusia tetapi tidak bagi hati yang disinari oleh hidayah dan keimanan.

HIKMAH

Dari rentetan sejarah nyata isro’ mi’roj dapatlah dipetik beberapa hikmah dari sekian banyak hikmah yang terkandung. Diantaranya adalah:

1. Hendaklah kita selalu menggantungkan diri kepada Sang Maha Tempat Berharap bagi hambanya. Dialah tempat meminta dan berharap. Dialah Sang Khaliq yang tidak pernah mengecewakan hambanya yang selalu berharap dengan khusyuk dan cinta. Berbeda dengan manusia yang akan selalu mengecewakan bagi manusia lainnya yang berharap apalagi bila manusia telah berada pada puncak kekuasaan dan materi dan hatinya tidak disinari oleh cahaya hidayah.

2. Sesuatu yang mustahil bagi manusia tidak berlaku bila Allah berkehendak. Sehingga manusia diharapkan memiliki optimisme yang tinggi dalam menghadapi kehidupan dan menjalani kehidupan itu sendiri. Kehidupan di dunia hanyalah sekejap kedipan mata atau bahkan kurang dari itu dibandingkan dengan kehidupan di akhirat yang kekal dengan segala bentuk balasannya baik balasan baik maupun balasan buruk.

3. Kenikmatan iman tidak mungkin tercapai bila hati masih tertutup dengan keraguan dan kenyataan kehidupan yang ada. Apalagi bila hanya dibatasi kemampuan akal manusia yang terbatas atau pandangan nyata mata manusia yang lebih terbatas lagi.

4. Peristiwa isro’ mi’roj tidak terpisah dengan perintah shalat. Kekuatan sholat bagi seorang hamba akan membuka pintu kejumudan berpikir dan membersihkan kebebalan hati yang kotor. Dengan sholat pula akan meng-isro’ mi’roj-kan manusia ke dalam kedudukan mulia di antara hamba-hambanya yang mulia yang telah diberi kenikmatan oleh Allah swt dari golongan para nabi, shidiqqin, syuhada dan shalihin. Juga akan mengikat para hamba-hambaNya yang demikian dalam satu ikatan yang utuh, lepas dari ikatan nasab, ras maupun kepentingan keduniaan lainnya yang fana.


*)sumber: http://www.alfurqon.or.id/component/content/article/45-tausyiah/51-hikmah-isro-miroj

*posted: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia
Readmore »»

Tifatul : Da'i Harus Melek Teknologi Informasi


6/28/2011 09:45:00 AM | Posted by Faguza Abdullah
Islamedia - Dakwah bisa dilaksanakan mela­lui situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Karena itu, Menteri Komunikasi dan Infor­matika Tifatul Sembiring, me­ngim­bau kepada para dai di Su­matera Barat agar melek terhadap teknologi informasi (TI).

“Ketika para dai memahami dan menguasai penggunaan tekno­logi informasi, maka bisa digu­nakan sebagai salah satu sarana dakwah kepada masyarakat,” kata Tifatul Sembiring, Senin (27/6).

Hal itu disampaikannya saat memberikan orasi ilmiah pada Peringatan Satu Abad Perguruan Thawalib Padang Panjang, di Aula Hamka Kompleks Pergu­ruan Thawalib.

Dikatakannya, pada era seka­rang dengan penguasaan teknologi informasi yang baik, dai bisa memanfaatkan situs jejaring sosial sebagai salah satu sarana dakwah dan tidak hanya berdakwah di mimbar saja.

“Para dai harus melek TI agar bisa menyebarkan dakwah melalui facebook atau twitter yang penggu­nanya setiap hari terus bertambah,” lanjut dia.

Menurut dia, facebook dan twitter sebenarnya bukanlah hanya sarana ‘cuap-cuap’ (bercerita red), caci maki, curhat atau lainnya.

“Kedua jejaring sosial itu bisa menjadi salah satu media dakwah yang efektif mengingat pengguna facebook di Indonesia cukup besar, sehingga dakwah melaui media tersebur sangat mungkin dilakukan,” kata dia.

Ia mengatakan, semua jejaring sosial bisa jadi media dakwah. Sebab semua penggunanya pasti membaca postingan dakwah tersebut.

“Jadi kecanggihan teknologi informasi bisa digunakan untuk dakwah dan jangan menjadi wadah untuk caci maki serta melihat gambar porno,” kata mantan Pre­siden PKS itu.

Pada peringatan Satu Abad Perguruan Thawalib Padang Panjang selain mengangkat orasi ilmiah oleh Menkominfo juga dilaksanakan beberapa rangkaian kegiatan.

“Perayaan kali ini juga dihadiri oleh 1000-an alumni dari berbagai daerah,” kata Ketua Ikatan Alumni Thawalib Padang Panjang, Guspardi Gaus.

Sumber : Haluan
Readmore »»

"Bertarung" Demokratis, Ikhwan Lebih Unggul Dari Liberalis


Written By Admin BeDa on Kamis, 23 Juni 2011 | 13:00
Jika berhadapan secara fair, Ikhwanul Muslimin lebih mudah memenangkan "pertarungan" daripada kelompok liberalis. Majalah Time menilai bahwa Ikhwan lebih piawai dalam demokrasi dibanding kelompok liberal, demikian lansir alarabiya.net, Kamis (23/6).

Majalah Time baru-baru ini mengangkat tema masalah perseteruan antara kelompok Islam yang diwakili oleh Al Ikhwan Al Muslimun di Mesir dengan kelompok liberalis dalam perpolitikan. Kepiawaian Al Ikhwan dibanding kelompok liberal terbukti berhasilnya penggalangan melakukan voting untuk mengubah beberapa poin perundang-undangan pada bulan Maret lalu. Di mana saat itu kelompok liberal terpecah menjadi dua kelompok, yang pertama menyerahkan perubahan itu kepada pihak militer yang berkuasa sedangkan lainnya menginginkan perubahan dilakukan oleh panitia khusus di parlemen.

Namun ternyata, malah voting rakyatlah yang memutuskan perubahan, dimana 77% dari mereka menyetujui perubahan itu. Itu menjadi kemenangan besar Ikhwan dan kelompok Islam.

Kekalahan yang nempak dari kelompok liberal adalah penentangan mereka terhadap hasil voting tersebut. Bahkan mereka mengancam untuk turun ke lapangan Tharir kedua kalinya untuk menentang hasil itu. Mereka menyatakan bahwa hasil voting bulan Maret tidak ada nilainya sama sekali.

Berbeda dengan pihak liberal Ikhwan menghadapi pemilu mendaatang dengan tenang, dan mencoba melakukan koalisis dengan kelompok kiri dalam pemilu. Dan mereka berjanji untuk tidak “menculik” perbaikan undang-undang setelah pemilu.

Posisi ini menjadikan Ikhwan sebagai pihak yang paling banyak bertanggung jawab, dan ini akan menjadi daya tarik bagi para pemilih. [AN/Hdy]
http://muchlisin.blogspot.com
Readmore »»

Bank Dunia: 20 Tahun Lagi Turki Menjadi Negara Terkaya

Written By Admin BeDa on Kamis, 23 Juni 2011 | 11:00
Bank Dunia: 20 Tahun Lagi Turki Menjadi Negara Terkaya - Turki akan menjadi salah satu negara terkaya dalam 20 tahun ke depan. Turki juga akan menjadi 15 besar tiang ekonomi global yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi negara lain dalam 25 tahun mendatang. Demikian seorang pejabat Bank Dunia memprediksikan, Rabu (22/6).

"Pada tahun 2025, Turki akan menjadi salah satu dari 15 tiang global dan akan memainkan peran untuk mempengaruhi negara lain," kata Mansoor Dailami, manajer kelompok dari Emerging Global Trends Team of the Development Prospects di Bank Dunia.

Dalam pertemuan di Ankara pada rilis laporan Bank Dunia yang berjudul, "Perspektif Pembangunan Global 2011" itu, Dailami mengatakan Turki dengan perkembangannya yang relatif seimbang ditambah dengan banyaknya permintaan penanaman modal asing dan domestik yang semakin tumbuh akan menjadikannya sebagai salah satu negara terkaya dalam 20 tahun mendatang.

"Perekonomian Turki menjadi pertanda baik bagi masa depan dengan populasi kaum muda yang membutuhkan investasi yang cukup besar dalam pendidikan," kata Dailami menambahkan.

Perekonomian Turki meningkat sejak beberapa tahun terakhir, pasca pemerintahan AKP tahun 2002. Kemajuan ekonomi itu juga yang disinyalir menjadi salah satu kunci kemenangan AKP pada pemilu 2007 dan pemilu 2011 pekan lalu. [AN/bsb]
http://muchlisin.blogspot.com
Readmore »»

Jumat, 24 Juni 2011

WAJIBATUL AKH AL-MUSLIM


“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. Annisaa : 65)

Kewajiban merupakan kebutuhan bagi orang yang telah mengetahui arti pentingnya, bagi orang yang telah merasakan kenikmatannya, dan bagi orang yang telah mendapatkan hikmah di baliknya, sebaliknya kewajiban menjadi beban bila tidak dibarengi dengan jiwa yang lapang, hati yang ikhlas, dan perasaan yang ridho, senang dan gembira menyambut seruan Allah SWT dan Rasulnya. Seperti halnya kewajiban hidup di bawah naungan Al-Qur’an dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya, sesungguhnya merupakan kenikmatan dan rahmat dari Allah SWT, sebagaimana ungkapan As-Syahid Sayyid Qutub dalam muqaddimah tafsir Dzhilalnya :

“Al-Hayaatu fi dzhilali Qur’ani ni’matun, ni’matun laa ya’rifuhaa illaa man dzaaqahaa, tubaarikul ‘umra wa tunmiihaa” ( Kehidupan di bawah naungan al-Qur’an adalah kenikmatan, kenikmatan yang hanya dapat diketahui oleh orang yang mereguk cita rasanya, kenikmatan yang memberkahi usia dan memproduktifkannya).

Imam as-Syahid Hasan Al-Banna merumuskan tujuh butir kewajiban asasi bagi seorang Al-Akh, di mana masing-masing butir terjabarkan sedemikian rupa dengan cukup rinci dan detail. Tentu saja kewajiban tersebut hanya ditekankan taklifnya kepada “Al-Akh” yang telah melampaui proses takwiniyah minimal sampai marhalah intisab, yang dianggap telah bermu’ayasyah dengan kewajiban Al-Akh pada marhalah sebelumnya hingga proses taqwim intisabnya . Sebagaimana ungkapan Imam as-syahid dalam Muqaddimah “Risaalah at-ta’lim wal Usar” :

“Fahaadzihi risaalatii ilal ikhwaanil mujaahidiin, minal Ikhwaanil muslimiin, alladziina aamanuu bisumuwwi da’watihim wa qudsiyyati fikratihim, wa ‘azamuu shadiqiina ‘alaa an ya’iisyuu bihaa, au yamuutuu fii sabiilihaa, ilaa haaulaail ikhwaani faqoth uwajjihu haadzihil kalimaatil muujazah, wa hiya laisat durusan tuhfadzh walaakinnahaa kalimaatun tunfadz, fa ilal ‘amali ayyuhal ikhwatisshadiquun…”. (Inilah risalahku, kutujukan kepada anggota ikhwan yang bersungguh-sungguh, yang mengimani keluhuran da’wahnya, kesucian fikrahnya, keseriusan tekadnya untuk senantiasa hidup bersamanya atau mati di jalannya, hanya kepada seluruh ikhwan saja (A’dho) aku haturkan pesan ringkas ini (Risalah ta’lim wal usar), dan semua ini bukanlah pelajaran untuk dihafal, melainkan ta’limat yang harus dilaksanakan, oleh karena itu bersegeralah kepada ‘amal wahai ikhwah sejati….”)

Kata-kata “minal Ikhwan” dalam ungkapan di atas, ditekankan oleh Imam Hasan al-Banna dalam rangka tawaddhu dan menjauhi sikap ‘ujub dan takabbur, artinya Imam as-syahid tidak menutup kemungkinan bahwa “Al-Ikhwan al-Mujahidiin” juga muncul di luar IM, Oleh karenanya kita tidak boleh “ghurur” hanya dengan kebesaran nama IM, untuk ini kita sering diingatkan oleh taushiah para syuyukh : “Kam fiinaa laisa minnaa wa kam minnaa laisa fiinaa” (Berapa banya orang bersama kita (IM) tapi pada hakekatnya mereka “bukan dari kita” dan sebaliknya berapa banyak orang diluar kita (IM) tapi pada hakekatnya mereka bersama kita).

Kewajiban Al-Akh terhadap Rabb

Di antara kewajiban terhadap Rabb yang dapat mendorong terlaksananya kewajiban-kewajiban lainnya adalah senantiasa merasakan adanya muroqobatulloh, ( As-Syu’ara : 219 – 220, Al-Hadid : 4, Ali Imron : 6, Al-Fajr : 14, Ghafir ; 19 ). Ketika seorang Al-Akh senantiasa merasakan muroqobatulloh maka keikhlasan niat akan mewarnai setiap amal perbuatannya ( Al-Bayyinah : 5, Al-Hajj : 37, Ali Imron : 29). Keikhlasan yang tulus akan menguatkan ingatan tentang akherat dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapinya dengan taqarrub kepada Allah dan dengan memperbanyak amalan sunnah, memperbanyak dzikir dalam segala situasi dan kondisi serta melazimkan do’a matsur dari Rasululloh SAW. Ditambah dengan “Al-aurad Al-Ikhwaaniyah” yang senantiasa dibaca dan tidak meninggalkannya kecuali dalam keadaan yang sangat darurat atau terpaksa.

Hendaknya seorang Al-Akh dalam menyempurnakan kewajibannya kepada Allah SWT senantiasa menjaga dan memelihara “Thaharah hissiyyah dan ma’nawiyyah”, thaharah hissiyyah dengan berwudhu dan mendawamkannya ( Al-maidah : 6 ) sedangkan tharah ma’nawiyyah dengn menjaga hati dan lisan dari dzhon, tajassus dan ghibah ( Al-Hujurat : 12), juga dengan membuang sikap hasad, sebagaiman hadits nabi mengatakan : “Iyyaakum wal hasada fa innal hasada ya’kulul hasanaat kama ta;kulunnarrul khatoba’ ( jauhilah olehmu Hasad karena Hasad itu memakan kebaikan sebagaiman api memakan kayu bakar ).

Kewajiban lainnya adalah membaguskan shalat dengan menunaikannya pada waktunya dan bersungguh-sungguh ke masjid untuk menunaikannya secara berjamaah, Rasululloh SAW memotivasi ummatnya untuk shalat berjamaah dengan 27 derajat dibanding shalat sendirian, bahkan lebih afdhal lagi bila hal itu dilakukan di Masjid sebagaiman hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Al-Hakim : “Idzaa ra’aitumurrajula ya’taadul masjidafasyhaduu lahu bil iiman” (apabila engkau melihat seseorang membiasakan pergi ke Masjid maka saksikanlah oleh kalian keimanannya). Sedangkan shalat yang harus diperhatikan oleh seorang Al-Akh bukan hanya semata-mata dari aspek mengerjakannya, tetapi yang lebih penting dari itu adalah aspek menegakkannya dengan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar. As-Syekh Mutawaali Sya’rawi salah seorang ulama pakar tafsir tematik mengatakan bahwa firman Allah yang menyatakan “Innasshalaata tanha anil fakhsyaa’i wal munkar” itu bisa dibalik pengertiannya menjadi “Innal fakhsya’a wal munkar tanha ‘anisshalaati”, artinya shalat yang sungguh-sungguh dan disertai dengan merenungkan hakekatnya dapat mencegah perbuatan yang keji dan munkar, sebaliknya perbuatan yang keji dan munkar dapat mencegah pelakunya dari kesungguhan dan hakekat shalat yang ditunaikannya.

Setiap bulan Ramadhan ada kewajiban bagi Al-Akh untuk menunaikan ibadah puasa seoptimal dan sebaik mungkin kemudian setiap bulan Dzul Qa’dah dan Dzulhijjah Al-Akh yang mampu dari segi materi berkewajiban menunaikan haji ke Baitulloh atau mempersiapkannya untuk dapat menunaikannya kelak di kemudian hari dengan bersungguh-sungguh bekerja dan mencari maisyah (Ali Imron : 97, Al-hajj : 27).

Hendaknya pula seorang Al-Akh senantiasa memperbaharui taubat dan istighfar, menjauhkan diri dari dosa –dosa kecil apalagi dosa besar ( Annisaa : 17 – 18, Ali Imron : 135 ) Hendaknya pula seorang Al-Akh mengoptimalkan waktunya karena “Al-Waqtu hual hayah”, waktu adalah kehidupan itu sendiri, kemudian bersikap wara’ dari segala syubuhat sehingga tidak jatuh kepada yang haram.

Hendaknya seorang Al-Akh bermujahadah li nafsihi, mengarahkan kecenderungan nafsu senantiasa kepada yang halal dan baik, sehingga terhindar dari segala yang haram dimana saja kapan saja, lebih dari itu hendaknya seorang Al-Akh senantiasa berniat untuk jihad dan mempersiapkan diri semampunya untuk itu (Al-Anfal :60).


Kewajiban terhadap Badan

“Inna lijasadika ‘alaika Haq”, sesungguhnya bagi jasadmu ada hak, itulah nasehat Rosululloh SAW kepada seorang sahabat yang ingin berpuasa terus sepanjang hari. Di antara hak jasad yang menjadi kewajiban seorang Al-Akh adalah menjaga dan memeliharanya dari segala penyakit, “wa sihhataka qobla saqamika” dan sehatmu sebelum sakitmu demikan nasehat Rosululloh SAW untuk senantiasa memelihara kesehatan badan

Untuk menjaga keseimbangan badan hendaknya seorang Al-Akh tidak berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh dan sejenis minuman seperti itu lainnya (Soft drink), sedangkan rokok harus benar-benar dihindari samasekali, selain itu juga menjaga kebersihan badan, tempat, pakaian, makanan dan lain-lainnya, karena “Buniaddinu ‘alannadzhafah” (Dibangun Din itu di atas kebersihan).

Banyak berolah raga walaupun hanya sekedar berjalan kaki, mencegah dari mengkonsumsi khamr dan apa saja yang memabukkan. Semua kewajiban terhadap badan tidak lain dimaksudkan agar Al-Akh senatiasa fit dan prima dalam menjalankan ibadah dan tugas da’wah, karena sesungguhnya Ikhwah adalah SDM yang mahal, sekian lama terbina dan bila pada saat-saat tenaganya dan fikirannya sangat dibutuhkan dalam da’wah kemudian tiba-tiba tidak produktif dan optimal lantaran kesehatan sangatlah disayangkan. “Al-mu’minul Qowiyyu khoirun wa ahabbu ilallahi minal mu’minddhoifi” (Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada Mu’min yang lemah) Hadits Nabi.

Kewajiban Al-Akh dalam memelihara dan menjaga kondisi badannya pada prinsipnya adalah mengatur keseimbangan, agar suplai makanan yang masuk ke dalam tubuh tidak berlebihan sehingga menimbulkan isyraf dan juga tidak kekurangan sehingga mendzhalimi diri sendiri, terlalu berlebihan dalam mengkonsumsi makanan, apalagi bukan kategori makanan yang menyehatkan. Melainkan yang hanya sekedar memenuhi standar halal tapi tak baik untuk dikonsumsi, seperti sejenis makanan fast food, mie Instan dll. Padahal kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengkonsumsi makanan yang “Halalan Thayyiban”. Perintah Allah tersebut bukan hanya sekedar sebuah syariat, tetapi terbukti hikmahnya dapat menjamin kesehatan seseorang, karena kesehatan itu pangkalnya di perut yang menjadi tempat segala jenis makanan dan minuman, sebagaimana sabda Rosululloh SAW : “Maa ro’aitu wi-aa’a rajulin sarran min bathnihi” (Tidaklah aku melihat wadah seseorang yang lebih buruk dari perutnya). Oleh karena itu memilih jenis makanan yang sehat juga merupakan kewajiban seorang Al- Akh agar terpelihara badannya dari segala penyakit. Misalnya membatasi makanan yang mengandung lemak dan kadar kolesterol tinggi, karena hal itu lama kelamaan akan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah dan memicu munculnya penyakit jantung koroner. Sebaliknya memperbanyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan sangat bagus untuk pencernaan.

Kesimpulannya adalah Al-Akh harus menjaga keseimbangan tubuh agar sesuai antara suplai dan energi yang dikeluarkan. Insya Allah seorang Al-Akh banyak mengeluarkan energinya untuk da’wah baik energi fisik maupun pikiran, bahkan energi pikiran termasuk hal yang dominan terkuras dari diri Al-Akh. Oleh karenanya menjaga keseimbangan dengan menunaikan kewajiban terhadap badan menjadi sebuah kewajiban yang terkait dengan pelaksanaan kewajiban yang lainnya seperti kewajiban beribadah dan da’wah , sebagaimana kaidah fiqih mengatakan ; “Maa laa yatimmul waajibu illaa bihi fahuwa waajibun”. Di sisi lain Aloh telah memberikan contoh keseimbangan pada struktur ciptaanNya, seperti langit yang ditegakkanNya dan dirancang dengan penuh keseimbangan. Jarak antara matahari dan bumi juga diatur seimbang, tidak terlalu dekat sehingga bumi terancam bahaya oleh radiasinya, juga tidak terlalu jauh sehingga suhu udara di bumi tidak membeku. Demikianlah Allah SWT menggambarkan prinsip-prinsip keseimbangan, dan oleh karenanya kita dilarang untuk menyimpang dari timbangan dan takaran yang semestinya, wabilkhusus untuk badan kita. ( QS Ar-Rahman : 7-10 ).

Kewajiban terhadap akal

Akal merupakan karunia Allah SWTyang sangat berharga. Betapapun terbatasnya kemampuan akal, akan tetapi Allah telah mendisain akal seseorang agar memiliki kemampuan untuk merenungkan nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu seseorang dapat tergolong sebagai penghuni neraka sa’ir lantaran meninggalkan kewajibannya dalam hal menggunakan akalnya. ( QS. Al-Mulk : 10 )

Di antara kewajiban seorang Al-Akh terhadap akalnya adalah dengan banyak membaca dan produktif dalam membuat tulisan. Semangat membaca dan menulis merupakan stimulus dari wahyu pertama yang termaktub dalam rangkaian surat al-‘Alaq. Kemudian syogyanya seorang Al-Akh juga dianjurkan untuk banyak menelaah Risalah-risalah Ikhwan (Risalah Ta’lim, Risalah Jihad dll), surat kabar, tabloid, buletin dan majalah yang diterbitkannya, berusaha sebisa mungkin mengadakan perpustakaan betapapun kecil dan sederhana, sedangkan bagi seorang Al-Akh yang mempunyai peluang, kemampuan dan prospek akademis hendaknya jangan menyia-nyiakan hal itu untuk memperdalam kemampuan akademisnya dan keterampilan ilmiahnya, hal ini ditekankan oleh Allah SWT dalam firmanNya surat at-Taubah : 122.

Dengan segala kemampuan akademis dan wawasan keilmuan yang dimiliki seorang Al-Akh, maka wajiblah baginya untuk memberikan perhatian kepada kegiatan keislaman secara umum. Sehingga dapat segera direspon dengan baik bila ada kegiatan da’wah.

Kewajiban pula bagi seorang Al-Akh untuk mengerahkan pikirannya bagaimana dapat membaguskan tilawah Al-Qur’annya, dan mentadabburkan kandungan ma’nanya ( 4 : 82, 47 : 24, 38 :29 ). Imam Ali Bin Abi Thalib berkata ; “Laa Khaira fii qira’atin laa tadabbura fiihaa” (Tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur’an yang tidak dibarengi dengan mentadabburkannya). Di sisi lain seorang Al-Akh diharuskan banyak mempelajari Sirah Nabawiyah dan sejarah salafussalih, karena hal itu akan memantapkan hati (Tsabat), menjalin hubungan nostalgia dan mempertajam memori (Dzikra) dan nasehat penuntun di jalan da’wah (Mau’idzah). Sebagaiman firman Allah SWT dalam surat Hud : 120. Juga untuk menambah militansi dan semangat dalam berda’wah serta berjihad di jalan Allah, karena sebagaimana perkataan Ulama Salafussalih “Al-Hikayatu jundun min junudillah” (Kisah atau cerita laksana tentara-tentara Allah SWT).

Kewajiban intelektual seorang Al-Akh juga dianjurkan untuk berusaha mempelajari bahasa Arab dan gramatikanya serta disiplin ilmu syari’ah lainnya.


Kewajiban Al-Akh terhadap akhlaknya

Hendaknya seorang Al-Akh bersikap malu dan peka perasaannya. Malu yang dimaksud di sini adalah menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak keimanan dan kehormatan diri. “Al-Hayaa’u satrul Iman” (Malu itu sebagian dari Iman), demikian hadits Rosululloh SAW. Sedangkan yang dimaksud peka perasaannya adalah cepat tanggap terhadap kebaikan-kebaikan, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan, misalnya bila seorang Al-Akh kedatangan tamu maka ia cepat-cepat menyambut tamunya dengan senyum dan wajah yang berseri seri, “Tabassumuka li akhika sadaqah” (Senyummu kepada saudaramu adalah sodaqoh), demikian nasehat Rasulullah SAW. Akhlak terpuji lainnya yang menjadi kewajiban seorang Al-Akh adalah sikap tawaddhu, tawaddhu yang dimaksud bukanlah rendah diri tapi rendah hati. Sebab kalau rendah diri pertanda tidak memliki izzah maka tawaddhu yang sebenarnya adalah tidak menyombongkan dan membesarkan diri dihadapan orang-orang beriman, tetapi sebaliknya merasa besar dan mulia di hadapan orang-orang kafir, “ ‘Aizzatin ‘alal kaafiriina, ‘Adzillatin ‘alal mu’minin” (5 : 54), tawaddhu yang dimaksud disini juga bukan “jurus tawaddhu” yang terkadang ditunjukkan oleh seorang Al-Akh untuk menolak satu permintaan kebaikan atau wadzhifah, baik tandzhimiyah maupun da’awiyah.

Seorang Al-Akh berkewajiban menjunjung tinggi kebenaran dan menjauhi sikap dusta, karena bersikap benar itu amanah dan dusta itu khianat. Orang yang konsisten dengan kebenaran biasanya memiliki keinginan yang kuat (quwwatul iradah), istiqomah, tidak plin-plan dan tidak gampang mengingkari janji, bersikap berani karena benar, mengakui kesalahan, menyadari keterbatasan diri sendiri dan mampu menguasai emosi.

Hendaknya pula seorang Al-Akh menjaga kehormatan dan wibawanya, meskipun demikian hal itu bukan berarti menghalanginya untuk sekali-kali bergurau dan melempar senyum, “Arihuu anfusakum fainnahaa lam tushna’ min hadiid” (Rehatkanlah diri kalian karena diri kalian bukan terbuat dari besi, demikian hadits Rasulullah SAW.

Hendaknya seorang Al-Akh menjauhi pergaulan yang jelek dan rusak serta menjauhi tempat maksiat, meskipun tidak melakukan maksiat di tempat tersebut. Namun hal itu akan menimbulkan fitnah dan kurang mendatangkan berkah, oleh karena itu di antara adab-adab rihlah adalah tidak mengunjungi tempat yang nyata-nyata banyak dan penuh dengan kemaksiatan.

Kewajiban Al-Akh terhadap kantongnya

Meskipun kaya seorang Al-Akh tetap berkewajiban untuk bekerja mencari maisyah. Sebab semakin kaya semakin banyak harta yang diinfakkan di jalan da’wah, terutama para suami yang harus bekerja menghidupi anak dan istrinya. Suami adalah qowwam, sehingga meskipun isterinya adalah orang kaya bukan berarti suami lepas dari tanggung jawab mencari maisyah, karena kekayaan isteri tidak menggugurkan kewajiban suami untuk mencari nafkah. (4 :34).

Hendaknya seorang Al-Akh jangan terlalu berambisi untuk duduk di birokrasi, tetapi jangan ditolak bila memang peluang itu ada. Seorang Al-Akh lebih disukai menjadi wiraniaga atau pengajar, karena waktunya lebih fleksibel dan tidak terlalu mengikat, sehingga bebas dan leluasa untuk melakukan manuver-manuver da’wah. Adapun seorang Al-Akh bila menjadi tenaga profesional hendaknya seoptimal mungkin menjaga kualitas, kredibilitas dan tepat janji sesuai kesepakatan, dengan kata lain ithqonul ‘amal. “Innallaha yuhibbu idzaa ‘amila ahadun an yuthqinahu” (Sesungguhnya Allah SWT menyukai bila seseorang bekerja ia melakukannya dengan ithqon). Jangan menyalah artikan tsiqoh dengan ikhwah lalu bermuamalah seenaknya atau membiasakan manajemen “afwan” untuk menutupi kelalaiannya dan ketidak ithqonannya dalam bekerja.

Dalam mencari Ma’isyah seorang Al-Akh jangan coba-coba bermain riba, karena selain tidak berkah hal itu berarti melanggar sesuatu yang jelas-jelas diharamkan Allah SWT, juga menjauhi perjudian dengan segala unsurnya, sebaliknya seorang Al-Akh berkewajiban menghemat dengan menabung dan menyimpan uangnya agar sewaktu-waktu bila ada emergency bisa digunakannya tanpa harus meminta atau meminjam kepada yang lain. Bila dari hasil ma’isyah menghasilkan uang cukup banyak janganlah berlebihan dan berfoya-foya sehingga cenderung mengarah kepada perbuatan yang mubadzir, dan yang terakhir sedapat mungkin mencintai produk dalam negri wabil khusus produk sesama ikhwah untuk menggairahkan produktifitas ma’isyah di kalangan ikhwah.

Kewajiban Al-Akh terhadap da’wah

Kewajiban seorang Al-Akh terhadap da’wahnya adalah menjaga konsistensi dan soliditas hubungan terhadap jama’ah, kalaupun seorang Al-Akh menjalin hubungan dengan institusi dan organisasi lainnya, seperti perusahaan, ormas dll, maka hal itu dibenarkan sepanjang ada maslahat berkecimpung di dalamnya, terlebih lagi bila hal itu memang dilakukan atas perintah dan rekomendasi jama’ah sebagai on mission misalnya. Sebaliknya memutuskan hubungan sama sekali dengan lembaga atau institusi baik hukum, pemerintahan maupun pendidikan yang nyata-nyata berlawanan dengan fikrah Islam.

Juga menjadi kewajiban seorang Al-Akh untuk mengenali anggotanya satu persatu dengan baik, menunaikan hak-hak ukhuwwah mereka, mengutamakan dan membantu mereka serta menunjukkan rasa cinta dan empati kepada mereka karena Allah SWT.

Hendaknya seorang Al-Akh berpartisipasi aktif dalam da’wahnya dengan menyumbangkan sebagian hartanya, menyebarluaskan da’wah ke mana saja, mulai dari keluarga dan siapa saja yang berhubungan dengannya. Dan seorang Al-Akh senantiasa merasakan nuansa keqiadahan meliputi dirinya, sehingga terus menerus terasa berhubungan dengan qiadah baik secara ruh maupun amal, misalnya meminta idzin jika hendak melakukan kebijakan dan manuver da’wah yang dirasakan penting dan sensitif. Ala kulli hal hendaknya seorang Al-Akh laksana tentara yang bersiap siaga di pos dan baraknya untuk menunggu komando dan perintah.

Kewajiban Al -Akh kepada masyarakat umum.

Kepada orang lain meskipun dia bukan ikhwah hendaknya seorang Al-Akh bersikap adil, objektif dalam mengambil keputusan di setiap keadaan ( 5 : 8 ), jangan melupakan kebaikan orang lain hanya karena marah dan sebaliknya jangan menutup mata terhadap kejahatan dan keburukannya karena terlalu senang kepadanya.

Seorang Al-Akh hendaknya bersungguh-sungguh berkhidmat demi kepentingan orang lain, dan merasakan adanya kegembiraaan dan kepuasan batin bila dapat berbakti kepada orang lain, seperti menengok orang sakit atau menghibur seseorang dalam kesedihannya walaupun hanya dengan satu kalimat. “Khairunnaasi anfa’uhum linnaasi” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain), demikian hadits Rasulullah SAW.

Kepada orang lain Al-Akh hendaknya menebar kasih sayang, bersikap toleran, mudah mema’afkan dan lapang dada, bersikap lembut walaupun kepada binatang, bergaul dengan akhlak yang baik kepda semua orang dan menjaga adab dalam hidup bermasyarakat. Menyayangi yang kecil, menghormati yang besar, melapangkan majlis dan memberi tempat duduk kepada orang lain. Kemudian tidak melakukan tajasssus, ghibah, dan tidak lupa meminta idzin bila hendak masuk atau keluar dari ruangan ( 49 : 9 – 13 ).

Wallohua ‘lam bisshawab
Readmore »»

Hikmah dari Isra’ Mi’raj

Artikel Lepas
24/6/2011 | 23 Rajab 1432 H | Hits: 407
Oleh: Hendratno

dakwatuna.com – Beberapa hari lagi kita akan melewati sebuah peristiwa sejarah yang sangat monumental. Momentum sejarah tersebut adalah peristiwa yang terjadi sekitar 14 abad Hijriyah yang lalu, yaitu peristiwa Isra’ Mi’raj. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsha di Al-Quds, lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk, malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditempuh dalam sehari semalam. Peristiwa itu sekaligus sebagai mukjizat mengagumkan yang diterima Rasulullah SAW.

Permintaan kaum kafir Quraisy kepada Nabi SAW

Sebenarnya, sebelum peristiwa itu terjadi, orang-orang kafir Quraisy pernah meminta kepada Rasulullah untuk menunjukkan hal-hal yang aneh, karena mereka tidak percaya kalau Muhammad SAW itu adalah nabi. Permintaan-permintaan itu mereka lontarkan untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar seorang Nabi. Hal ini direkam oleh Allah SWT dalam Al Qur’an sebagai berikut:

“Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca”. (QS. Bani Israil : 90 – 93)

Kalau kita jabarkan dari ayat di atas, mereka meminta hal-hal di bawah ini kepada Rasulullah:

1. Mereka meminta untuk memancarkan mata air dari bumi.
2. Mereka juga meminta sebuah kebun kurma dan anggur, dengan air mengalir di bawahnya. Padahal di sekitar situ sebagian besar padang pasir.
3. Mereka meminta untuk menjatuhkan langit.
4. Mereka juga meminta menghadirkan Allah beserta malaikat-malaikat-Nya untuk dihadapkan kepada mereka. Sungguh suatu permintaan yang lancang.
5. Mereka juga meminta sebuah rumah dari emas.
6. Yang terakhir, mereka meminta Nabi untuk naik ke langit tanpa membawa buku, lalu harus kembali dengan membawa sebuah buku (kitab) untuk mereka baca.

Permintaan mereka itu betul-betul “kebangetan”. Tetapi Rasulullah SAW menjawabnya dengan bijaksana, “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. Bani Israil: 93). Allah Yang Maha Suci tentu Maha Kuasa untuk melakukan semua itu, tetapi Rasulullah mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia biasa yang diangkat menjadi seorang Rasul, sehingga tidak mungkin melakukan semua itu.

Kita bisa ambil pelajaran dari hal di atas. Mungkin sampai zaman kapan pun, kebenaran (baca: Islam) akan menghadapi hal-hal seperti itu. Orang yang membawa kebenaran akan selalu menghadapi permintaan-permintaan yang di luar kemampuan. Dan permintaan tersebut kebanyakan hanya sebagai “olok-olok”. Karena, kalaupun kita bisa memenuhi permintaan itu, mereka kebanyakan tetap tidak akan mendengar Islam ini. Hanya sedikit yang mau mendengarnya. Sebagaimana halnya Rasulullah setelah mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj, tidak banyak yang mempercayai perjalanannya tersebut, bahkan ada yang mengatakan Nabi gila walaupun Nabi sudah memberikan bukti-bukti atas apa yang telah dia alami (Isra’ Mi’raj).

Peringatan Isra’ Mi’raj sebagai motivasi

Kalau kita baca sejarah kehidupan Rasulullah SAW (Sirah Nabawiyah), sebelum peristiwa itu terjadi, Rasulullah mengalami keadaan duka cita yang sangat mendalam. Beliau ditinggal oleh istrinya tercinta, Khadijah, yang setia menemani dan menghiburnya di kala orang lain masih mencemoohnya. Lalu beliau juga ditinggal oleh pamannya sendiri, Abu Thalib, yang (walaupun kafir) tetapi dia sangat melindungi aktivitas Nabi. Sehingga orang-orang kafir Quraisy semakin leluasa untuk melancarkan penyiksaannya kepada Nabi, sampai-sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah SAW.

Dalam keadaan yang duka cita dan penuh dengan rintangan yang sangat berat itu, menambah perasaan Rasulullah semakin berat dalam mengemban risalah Ilahi. Lalu Allah “menghibur” Nabi dengan memperjalankan beliau, sampai kepada langit dan menemui Allah. Hingga kini, peristiwa ini seringkali diperingati oleh sebagian besar kaum muslimin dalam peringatan Isra’ Mi’raj. Pada dasarnya peringatan tersebut hanyalah untuk memotivasi dan penyemangat, bukan dalam rangka beribadah (ibadah dalam artian ibadah ritual khusus). Namun peringatan tersebut juga terdapat beberapa catatan. Apa saja itu? Mari kita ikuti beberapa hal di bawah ini.

Dalam Al Qur’an, dari sekian ribu ayat di dalamnya, hanya ada 4 ayat yang menjelaskan tentang Isra’ Mi’raj, yaitu QS. Bani Israil ayat 1, dan QS. An Najm ayat 13 sampai 15. Maksudnya, kebesaran Islam itu bukan terletak pada peristiwa Isra’ Mi’raj ini, tapi pada konsepnya, sistemnya, dan muatannya. Pada surat An Najm ayat 13-15 itu, menggambarkan bahwa Rasulullah menemui Jibril dalam bentuk aslinya di Sidratil Muntaha ketika Isra Mi’raj. Sebelumnya Rasulullah juga pernah menjumpai malaikat Jibril dalam bentuk asli ketika menerima ayat pertama (QS. Al Alaq: 1-5) dari Allah SWT, yaitu ketika di gua Hira.

Dan di antara 25 nabi, hanya 2 Nabi yang pernah berbicara langsung kepada Allah, yaitu Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana dengan Nabi Adam AS, bukankah beliau juga pernah berdialog dengan Allah? Ya, tapi Nabi Adam ketika itu masih di Surga. Setelah diturunkan ke bumi, tidak lagi berdialog secara langsung. Nabi Musa berdialog dengan Allah secara langsung yaitu ketika di bukit Tursina (di bumi), sedangkan Nabi Muhammad di Sidratil Muntaha (di langit). Tetapi (sekali lagi), kebesaran Islam bukan di situ letaknya, namun di konsepnya, di muatannya. Oleh karena itulah, peristiwa Isra’ Mi’raj sendiri tidak perlu secara berlebihan diangkat-angkat. Peristiwa itu sendiri merupakan mukjizat imani, maksudnya adalah mukjizat yang hanya bisa diterima apabila kita beriman.

Meskipun hanya Nabi Muhammad yang telah diperjalankan pada malam harinya (Isra’ Mi’raj), tapi dia tetaplah manusia biasa, hamba Allah. Hal ini perlu ditegaskan, karena dua umat sebelum Islam (Yahudi dan Kristen), telah terjebak men-Tuhankan nabinya.

Mengapa Masjidil Aqsha?

Ada beberapa pertanyaan mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj. Salah satunya, mengapa dalam peristiwa itu Rasul diperjalankan ke Masjidil Aqsha? Kenapa tidak langsung saja ke langit? Paling tidak ada beberapa hal hikmahnya, antara lain:

1. Bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya adalah berasal dari Ishaq AS. Inilah yang menyebabkan Yahudi dan Kristen menolak Nabi Muhammad, karena mereka melihat asal usul keturunannya (nasab). Alasan mereka itu sangat tidak ilmiah, dan kalau memang benar, mereka berarti rasialis, karena melihat orang itu dari keturunannya. Hikmah lainnya adalah, bahwa Nabi Muhammad berdakwah di Mekah, sedangkan Nabi yang lain berdakwah di sekitar Palestina. Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Muhammad SAW sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan “golongan” Ibrahim dan merupakan sempalan. Bagi kita sebagai muslim, tidaklah melihat orang itu dari asal usulnya, tapi dari ajarannya.

2. Hikmah berikutnya adalah, Allah dengan segala ilmu-Nya mengetahui bahwa Masjidil Aqsha adalah akan menjadi sumber sengketa sepanjang zaman setelah itu. Mungkin Allah ingin menjadikan tempat ini sebagai “pembangkit” ruhul jihad kaum muslimin. Kadangkala, kalau tiada lawan itu semangat jihad kaum muslimin “melemah” karena terlena, dan dengan adanya sengketa tersebut, semangat jihad kaum muslimin terus terjaga dan terbina.

3. Berikutnya, Allah ingin memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi SAW. Pada Al Qur’an surat An Najm ayat 12, terdapat kata “Yaro” dalam bahasa Arab yang artinya “menyaksikan langsung”. Berbeda dengan kata “Syahida”, yang berarti menyaksikan tapi tidak musti secara langsung. Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya itu secara langsung, karena pada saat itu dakwah Nabi sedang pada masa sulit, penuh duka cita. Oleh karena itulah pada peristiwa tersebut Nabi Muhammad juga dipertemukan dengan Nabi-nabi sebelumnya, agar Muhammad SAW juga bisa melihat bahwa Nabi yang sebelumnya pun mengalami masa-masa sulit, sehingga Nabi SAW bertambah motivasi dan semangatnya. Hal ini juga merupakan pelajaran bagi kita yang mengaku sebagai da’i, bahwa dalam kesulitan dakwah itu bukan berarti Allah tidak mendengar.

Perintah Shalat

Pada Isra’ Mi’raj, Allah SWT memberikan perintah shalat wajib. Dan shalat Subuh adalah shalat yang pertama kali diperintahkan. Karena peristiwa Isra’ Mi’raj sendiri terjadi pada saat malam hari. Subuhnya Rasulullah sudah tiba kembali di tempat semula. Mungkin ini juga hikmah bagi kita semua, karena shalat Subuh adalah shalat yang sulit untuk di laksanakan, di mana pada saat itu banyak manusia yang masih terlelap dalam tidurnya. Sebelum diperintahkannya shalat wajib 5 waktu ini, Rasulullah melaksanakan shalat sebagaimana Nabi Ibrahim.

Kita tidak hanya diperintahkan untuk mengerjakan shalat, tetapi juga menegakkan shalat. Shalat bukan segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari shalat, demikian kata seorang ustadz.

Demikianlah beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj. Semoga semakin menambah keimanan kita kepada Allah, kitab-Nya, Nabi-nabi-Nya, para malaikat-Nya, Hari Akhir, serta Qadha dan Qadar-Nya.
Readmore »»

Dongeng Jama’ah


Artikel Lepas
16/6/2011 | 15 Rajab 1432 H | Hits: 4.500
Oleh: Maidani dakwatuna.com – Suatu waktu ketika hari pembalasan tiba, Malaikat menanti para manusia yang akan digilirkan dalam penghisaban untuk masuk ke surga atau neraka. Mereka datang dengan sendiri-sendiri dan ada juga yang berkelompok-kelompok sesuai dengan jamaahnya. Sebelum mereka masuk untuk dihisab Malaikat bertanya kepada setiap manusia, “hai Kamu dari jama’ah mana?” saya jamaah A pak Malaikat, jawab manusia. “ya silahkan masuk lewat pintu sini…” kata malaikat.

Malaikat terus mengabsen para manusia, ada dari jamaah A, B, C dan sebagainya, hingga sampailah pada seseorang manusia yg datang seorang diri.

Malaikat kemudian bertanya, “hai manusia, kamu dari jamaah mana?”

Manusia itu menjawab :”saya tidak dari jamaah mana-mana pak malaikat, saya seorang diri saja”

Malaikat :”loh?? kenapa begitu? kenapa kamu tidak masuk jamaah A, B, C atau lainnya??

Manusia : “Tadinya aku berada di jamaah A, Aku diberikan pendidikan keislaman dari jamaah A, tapi aku merasa ada yang tidak cocok dengan jamaah A. para qiyadah di jamaah A, sudah tidak berada pada jalan dakwah yang benar. Sangat berbeda dengan Rasulullah. dan akhirnya saya keluar deh dari jamaah A yang membesarkan saya”

Malaikat : “terus kenapa kamu tidak masuk jamaah B?”

Manusia : “saya kurang suka dengan jamaah B, cara berdakwahnya kurang saya minati, orang-orangnya juga saya tidak suka”

Malaikat : “jamaah C?”

manusia : “walaupun mengikuti Al qur’an dan hadits tapi ga seluruhnya.. anggotanya juga banyak yg mengecewakan saya”

Malaikat : “(bergumam : set dah ini manusia, dia pikir jamaah-jamaah itu jamaah malaikat kali ya?”)

Malaikat : “Terus apa yang kamu lakukan seorang diri? bagaimana amal-amal harian kamu dengan seorang diri? bagaimana dakwah yang kamu lakukan dengan seorang diri? Ada berapa orang yang kamu dapati kemudian kamu menyeru kebaikan kepada mereka dan mereka mengikuti? Sadarkah ketika Engkau berada seorang diri kemudian dihadapkan kepada perbuatan maksiat? sadarkah kau bahwa srigala lebih leluasa dan lebih berani memakan domba yang sendirian?”. “Hai Manusia… kalian itu Jamaah Manusia, bukan jamaah malaikat seperti kami yang tidak ada khilaf, salah dan dosa. Jangan engkau banding-bandingkan apalagi disama-samakan qiyadah dalam jamaah kalian dengan Rasulullah SAW. Jangankan menyamai Rasulullah SAW, mendekati amalan-amalan para sahabat saja mungkin belum bisa.”

Malaikat :”kalian itu jamaah manusia, bukan jamaah malaikat. kalian itu jamaah manusia, salah sedikit tidak mengapa karena kalian itu manusia bukan malaikat. Allah saja Maha Pemaaf, masa kamu tidak bisa memaafkan saudara-saudara kalian?? kemudian apakah amal-amal mu lebih baik dari saudara-saudara kalian? kemudian apakah ketika kamu yg memimpin bisa lebih baik dari saudara-saudara kalian”

Manusia : “gitu ya pak malai?!?!?! hiks…hiks…hiks… iya saya sangat menyesal pak malai… ;(”

***

Al Wafa secara bahasa bisa diartikan kesetiaan, loyalitas, keikhlasan, amanah. Namun, jika diartikan secara sederhana adalah “Kacang Tidak Lupa Kulitnya”

Makna Al Wafa yang lain adalah menepati janji. Semisal akad jual beli, akad nikah, akad dengan saudara kita, akad dijalan dakwah dan sebagainya.

itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.; sesungguhnya Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah (Al Isro : 34)

Salah satu ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah orang yang memenuhi janjinya. Orang yang wafa dan orang yang bertakwa sudah pasti orang yang mukmin (arkanul iman), muslim (arkanul islam) dan muhsin (selalu berbuat baik).

Ingat-ingatlah janji kita :

* Kepada Allah SWT
* Kepada Rasulullah SAW
* Sudahkah kita selalu memenuhi janji kita kepada Allah, yang sederhana saja, apakah ketika panggilan Allah berkumandang apakah kita selalu tepat waktu berjamaah di masjid?
* janji kepada gerakan da’wah yang kita aktif didalamnya.
* dimanapun kita berada, dalam jamaah apapun kesetiaan harus tetap di munculkan. Jangan bandingkan Rasulullah dengan Ikhwah-ikhwah kita.
* janji kepada teman sejawat
* dan sebagainya..

“Ya Allah Kuatkanlah Gantunganku hanya pada-Mu saja, tidak dengan Manusia”

Wallahualam..
Readmore »»

Selasa, 21 Juni 2011

سُئِلَ حَكِيْمٌ "Seorang Bijak Ditanya"


Diposkan olehadmindi08:17

Oleh: Musyafa Ahmad Rahim
(Ketua Kaderisasi DPP PKS)

سُـئِــل حَـكِـيْـــمٌ

Seorang bijak ditanya:


سُئِلَ حَكِيْمٌ : مَنْ أَسْوَأُ النَّاسِ حَالاً؟

1. Siapakah manusia yang kondisinya paling buruk?

قَالَ : مَنْ قَوِيَتْ شَهْوَتُهُ .. وَبَعُدَتْ هِمَّتُهُ.. وَقَصُرَتْ حَيَاتُهُ .. وَضَاقَتْ بَصِيْرَتُهُ

Ia menjawab: Seseorang yang kuat syahwatnya, jauh cita-citanya, pendek hidupnya dan sempit bashirah-nya (mata hatinya).

سُئِلَ حَكِيْمٌ : بِمَ يَنْتَقِمُ اْلإِنْسَانُ مِنْ عَدُوِّهِ.....؟

2. Dengan apa seorang manusia membalas dendam kepada musuhnya?

فَقَالَ : بِإِصْلاَحِ نَفْسِهِ

Ia menjawab: dengan memperbaiki dirinya.

سُئِلَ حَكِيْمٌ : مَا السَّخَاءُ ...... ؟

3. Apa itu sifat derman?

فَقَالَ : أَنْ تَكُوْنَ بِمَالِكَ مُتَبَرِّعاً، وَمِنْ مَالِ غَيْرِكَ مُتَوَرِّعاً

Ia menjawab: Hendaklah engkau menyumbangkan hartamu dan wara’ dari harta yang bukan milikmu.

سُئِلَ حَكِيْمٌ : كَيْفَ أَعْرِفُ صَدِيْقِيْ اَلْمُخْلِصَ .....؟

4. Bagaimana aku tahu mana teman yang tulus ikhlas?

فَقَالَ : اِمْنَعْهُ .. وَاطْلُبْهُ..فَإِنْ أَعْطَاكَ ..فَذَاكَ هُوَ ,..وَإِنْ مَنَعَكَ..فَاللهُ الْمُسْتَعَانُ

Ia menjawab: Kalau dia memintamu, jangan dikasih, dan mintalah sesuatu darinya, jika ia tetap memberi, itulah dia teman sejati, dan jika ia tidak memberinya, maka, cukuplah Allah sebagai tempat meminta pertolongan.

قِيْلَ لِحَكِيْمٍ :مَاذَا تَشْتَهِيْ .....؟

5. Apa yang menjadi kesenanganmu?

! فَقَالَ : عَافِيَةَ يَوْمٍ

Ia menjawab, sehari saja saya selamat dan aman!

فَقِيْلَ لَهُ : أَلَسْتَ فِي الْعَافِيَةِ سَائِرَ اْلأَيَّامِ ...؟

Maka ditanyakan kepadanya: Bukannya sepanjang hari engkau selamat dan aman?

فَقَالَ : اَلْعَافِيَةُ أَنْ يَمُرَّ يَوْمٌ بِلاَ.. ذَنْبٍ

Ia menjawab: Yang dimaksud dengan ‘selamat dan aman’ adalah ada satu hari berlalu dan engkau tidak berbuat dosa pada hari itu.

قَالَ حَكِيْمٌ : اَلرِّجَالُ أَرْبَعَةٌ : جَوَّادٌ وَبَخِيْلٌ وَمُسْرِفٌ وَمُقْتَصِدٌ

6. Seorang bijak berkata: Manusia ada empat; dermawan, pelit, berlebihan dan ekonomis.

فَالْجَوَّادُ : مَنْ أَعْطَى نَصِيْبَ دُنْيَاهُ لِنَصِيْبِهِ مِنْ آخِرَتِهِ

Dermawan yaitu seseorang yang memberikan jatah dunianya untuk akhiratnya.

وَالْبَخِيْلُ : هُوَ..اَلَّذِيْ لاَ يُعْطِيْ وَاحِداً مِنْهُمَا نَصِيْبَهُ

Seorang pelit yaitu seseorang yang tidak memberikan jatahnya, baik untuk dunia maupun untuk akhirat.

وَالْمُسْرِفُ : هُوَ الَّذِيْ يَجْمَعُهُمَا لِدُنْيَاهُ

Seorang musrif (yang berlebihan) adalah seseorang yang menggabungkan seluruh jatahnya untuk urusan dunia.

وَالْمُقْتَصِدُ: هُوَ الَّذِيْ يُعْطِيْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا نَصِيْبَهُ

Seorang yang muqtashid (ekonomis) adalah seseorang yang memberikan kepada masing-masing jatahnya; dunia untuk dunia dan akhirat untuk akhirar.

قَالَ حَكِيْمٌ : أَرْبَعَةٌ حَسَنٌ، وَلَكِنْ أَرْبَعَةٌ أَحْسَنُ

7. Seorang bijak berkata: ada empat hal baik, namun, ada empat hal lebih baik;

اَلْحَيَاءُ مِنَ الرِّجَالِ..حَسَنٌ، وَلَكِنَّهُ مِنَ النِّسَاءِ..أَحْسَنُ

a. Sifat malu dari kaum lelaki adalah baik, namun, sifat malu yang dimiliki kaum perempuan lebih baik.

وَالْعَدْلُ مِنْ كُلِّ إِنْسَانٍ..حَسَنٌ، وَلَكِنَّهُ مِنَ الْقُضَاةِ وَاْلأُمَرَاءِ..أَحْسَنُ

b. Keadilan dari semua manusia adalah baik, namun, keadilan dari para hakim dan pemimpin adalah lebih baik.

وَالتَّوْبَةُ مِنَ الشَّيْخِ ..حَسَنٌ، وَلَكِنَّهَا مِنَ الشَّبَابِ..أَحْسَنُ

c. Taubat dari seseorang yang sudah tua adalah baik, namun, taubat dari seorang muda lebih baik.

وَالْجُوْدُ مِنَ اْلأَغْنِيَاءِ..حَسَنٌ.. وَلَكِنَّهُ مِنَ الْفُقُرَاءِ..أَحْسَنُ

d. Derman bagi orang kaya adalah baik, namun, derma dari kaum fakir adalah ahsan.

قَالَ حَكِيْمٌ : إِذَا سَأَلْتَ كَرِيْماً .... فَدَعْهُ يُفَكِّرُ....فَإِنَّهُ لاَ يُفَكِّرُ إِلاَّ فِيْ خَيْرٍ

8. Jika engkau bertanya kepada seorang mulia, maka biarkannya ia berfikir, sebab ia tidak berfikir kecuali yang terbaik.

وَإِذَا سَأَلْتَ لَئِيْماً.. فَعَجِّلْهُ.. لِئَلاَّ يُشِيْرَ عَلَيْهِ طَبْعُهُ ..أَنْ لاَ يَفْعَلَ

Dan jika engkau bertanya kepada seorang yang buruk (tercela), maka segerakan, agar wataknya tidak memberi isyarat kepadanya untuk berkata: “Jangan lakukan”!

قِيْلَ لِحَكِيْمٍ : اَلأَغْنِيَاءُ أَفْضَلُ أَمِ الْعُلَمَاءِ ... ؟

9. Manakah yang lebih afdhal; ulama atau orang kaya?

فَقَالَ : اَلْعُلَمَاءُ أَفْضَلُ

Ia menjawab: Ulama lebih baik

فَقِيْلَ لَهُ : فَمَا بَالُ الْعُلَمَاءِ يَأْتُوْنَ أَبْوَابَ اْلأَغْنِيَاءِ . وَلاَ نَرَى اْلأَغْنِيَاءَ يَأْتُوْنَ أَبْوَابَ الْعُلَمَاءِ..؟

Ditanyakan kepadanya: Lalu kenapa para ulama mendatangi pintu-pintu orang kaya?! Dan kami tidak melihat orang-orang kaya mendatangi pintu-pintu para ulama?!

فَقَالَ : لِأَنَّ الْعُلَمَاءَ عَرَفُوْا فَضْلَ الْمَالِ ، وَاْلأَغْنِيَاءُ لَمْ يَعْرِفُوْا فَضْلَ الْعِلْمِ

Ia menjawab: Sebab para ulama mengetahui keutamaan harta, sementara orang-orang kaya tidak mengetahui keutamaan ilmu.

قَالَ حَكِيْمٌ : اَلنَّاسُ فِي الْخَيْرِ أَرْبَعَةٌ : فَمِنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُهُ .. اِبْتِدَاءً، وَمِنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُهُ ... اِقْتِدَاءً

10. Dalam hal kebajikan, manusia ada empat macam; ada yang memulai, ada yang melakukannya dalam rangka berqudwah.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَتْرُكُهُ .. حِرْمَاناً ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَتْرُكُهُ .. اِسْتِحْسَاناً

Dan diantara mereka ada yang meninggalkannya karena tidak ada kesempatan dan diantara mereka ada yang meninggalkannya karena memandangnya sebagai sesuatu yang terbaik.

فَمَنْ يَفْعَلُهُ اِبْتِدَاءً ........ كَرِيْمٌ

a. Adapun yang melakukannya dalam rangka memulai, maka ia adalah seorang yang mulia.

وَمَنْ يَفْعَلُهُ اِقْتِدَاءً ....... حَكِيْمٌ

b. Ada pula yang melakukannya karena mencontoh dan berteladan, maka ia adalah seorang yang bijaksana.

وَمَنْ يَتْرُكُهُ اِسْتِحْسَاناً ...... غَبِيٌّ

c. Ada juga yang meninggalkannya karena menganggap baik, maka ia adalah seorang bodoh.

وَمَنْ يَتْرُكُهُ حِرْمَاناً ........ شَقِيٌّ

d. Dan ada pula yang meninggalkannya karena tidak mendapatkan kesempatan, maka ia adalah seseorang yang celaka.


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia
Readmore »»

Minggu, 19 Juni 2011

Rahmat 20 Juz Meski Buta, Hudzaifah Hindari Musik dan Wanita


Ahad, 19 Juni 2011

Hidayatullah.com—Banyak sisi lain yang menarik dari Musabaqah Hafalan Al-Qur’an dan Hadits (MHQH) Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alu Su’ud keempat yang telah dimulai sejak Ahad (19/6) pagi di Lembaga Penjaminan Mutu dan Pendidikan (LPMP) Jl. Nangka No. 60 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan, khususnya mengenai trik para peserta dalam menjaga hafalannya.

Rahmat misalnya, hafidz (penghafal Al-Qur'an) tunanetra yang ikut di cabang gede, yaitu tingkat 20 juz Al-Qur’an. Peserta MHQH 2011 utusan pondok pesantren Miftahul Jannah, Sumbergede, Lampung Timur, Lampung ini mengaku bahwa menghafal Al-Qur’an memang sulit. Namun ketika sudah menguasainya terasa nyaman.

“Enak, karena mampu menjaganya,” ujar hafidz yang telah meraih beberapa prestasi di berbagai lomba hafalan Al-Qur’an ini. Rahmat pernah merengkuh juara satu lomba hafal Al-Qur’an untuk 5 juz se-Provinsi Lampung (2006), 10 juz (2007), 20 juz (2008-2009) dan baru-baru ini 30 juz.

Untuk tidak melepasnya, dia selalu mengulang-ulang hafalan. “Tiap hari, pagi siang, malam dan sore, Al-Qur’an tidak boleh lepas,” ujar pria kelahiran 5 Maret 1990 ini.

Pantangan bagi seorang penghafal? “Nggak boleh mengerjakan yang jelek-jelek!,” jawabnya singkat kepada Hidayatullah.com (19/6).

Meski tidak bisa melihat, Rahmat mulai menghafal Al-Qur’an sejak lima tahun lalu. Setiap tahunnya, dia mengaku punya target tersendiri dalam menguasai hafalan.

Lain lagi dengan Hudzaifah, peserta MHQH cabang 15 juz. Meski belum menorehkan prestasi juara, bocah belia yang mengaku mulai menghafal Al-Qur’an sejak kelas dua SD ini punya kiat tersendiri dalam menjaga hafalannya, yaitu taat kepada orang tua.

Suatu ketika, tutur Hudzaifah, orang tuanya melarang dia melihat aurat wanita. Akan tetapi, dia ceroboh tidak mengindahkan larangan tersebut. Dampaknya, kata hafidz perwakilan Ponpes Al-Matuq, Sukabumi, Jawa Barat ini, hafalannya langsung hilang.

Kiat lainnya dalam menghafal ayat perayat, dia membaca sepuluh kali berulang-ulang ketika duduk.

Selain itu, salah satu hal yang harus dihindari seorang penghafal Al-Qur’an, menurut Hudzaifah adalah musik. Sebab, bagi anak kelahiran 20 Mei 1996 ini, mendengarkannya sangat berpengaruh bagi hafalan.

“Bisa menjadikan musik lebih banyak dari pada hafalan Al-Qur’an kita,” imbuhnya. Hudzaifah sendiri sudah mengurangi mendengarkan musik sejak dilarang orang tuanya.*
Readmore »»

Kamis, 16 Juni 2011

Siyasatud Da'wah

Taujih
Siyasatud da’wah merupakan aktivitas politik praktis da’wah yang erat kaitannya dengan minhaj da’wah, bukan ilmu politik seperti yang kita kenal selama ini yang dilakukan oleh personal structural dan fungsional da’wah dimana ruang lingkupnya adalah dalam pengendalian problematika da’wah.

siyasatud da’wah berbicara tentang pengendalian da’wah. ia merupakan istiglalul amtsal (usaha terbaik dan maksimal) dan mempercepat terbentuknya isti’ah (kemampuan) beramal jama’i. meningkatnya kualitas dan kuantitas, menertibkan marotib tanzhimi (stelsel structural) da’wah. Siyasatud da’wah mengarahkan sumber daya da’wah baik materi, termasuk situasi kondisi, pribadi, lembaga, dsb. pandai dalam melakukan intifa (pemanfaatan) potensi pada umat dan lawan.

Contoh Rasulullah di Mekah dilindungi oleh Abu Thalib, paman beliau yang melindungi beliau. Saat hijrah ke madinah pun Rasulullah memanfaatkan keahlian Suraqah dalam mengelabui kafir Quraisy. Pemanfaatan potensi lawan ini dengan syarat:

1. Untuk maju dan berkembangnya da’wah
2. Tidak menjual kebenaran pada orang-orang kafir
3. Jaminan kepada orang kafir boleh, asal diminta, untuk keselamatan da’wah
4. Tidak mengandalkan kekuatan selain sunatullah

Da’wah Islam tidak boleh lepas dari prinsip-prinsip islam (mabadiul Islam). Ia tidak boleh melarut pada kancah politik, bebas dari vested interest dan motivasi-motiovasi diluar mardhatillah, tidak lepas dari tujuan Li ‘ilai Kalimatullah. Ia akan efektif jika punya patokan yang khas sebagai prasarat operasional dan berdiri diatas prinsip yang jelas, tidak melanggar aqidah, fikrah, minhaj, dan akhlak islam. Al-Qur’an menjelaskan:

1. Posisi yang kokoh

Adanya police maker dalam menentukan kebijakan da’wah.. jabatan/posisi bukanlah tasrif (kemuliaan) tetapi taklif (beban) yang mesti di pertanggungjawabkan. Para police maker muncul karena dipilih (isthofa) melalui syuro jama’ah. Sedapat mungkin untuk kelayakan, mereka harus bertakwa, banyak pengetahuan, sehat fisiknya (basthotan fil ilmi wal jismi)

1. Adanya sarana sebagai potensi

Menggunakan sarana-sarana sebagai potensi da’wah yang paling efektif dan efisien.. pemimpin harus memiliki isti’ab hammatut tadhbir (kemampuan menguasai perancangan) dalam menggunakan potensi-potensi ini

1. Langkah-langkah pelaksanaan

Potensi dirubah menjadi kekuatan da’wah berdasarkan acuan program yang jelas dan terarah. tidak boleh mengkalkulasikanpertolongan ghaibiyah sebagai potensi kekuatan

Sumber kekuatan adalah Allah, jama’ah berfungsi sebagai penampung kekuatan Ilahi (markazul quwwah, dimana kekuatan utama gerakan da’wah adalah anggota gerakan sebagai basis operasional jama’ah. Manusia sebagai asset harakah (thoqwotul harakah), para du’at menjadi milik da’wah, Anggota mesti didukung oleh masyarakat sebagai power base (pangkal kekuatan).

1. 13 tahun di mekah Rasulullah belum berhasil membentuk Qaidah ijtima’iyah sebab basis social pada sat itu belum mampu dimunculkan sebagai kekuatan islam yang manunggal. Rasulullah memulai da’wah dan menghimpun kekuatan mulai dari keluarga, kemudian kepada pemuka Quraisy , kemudian kepada masyarakat di Thaif, dan yang terakhir adalah basis sosial di Madinah oleh Mus’ab Bin Umair, diplomat dan da’I di Yastrib (madinah). Basis social terdiri dari mahali (lokal) dan ‘alami (regional)







Penerimaan Yastrib (madinah) pada saat itu adalah karena:





1. Masyarakat madinah mayoritas adalahg kalangan pemuda. mereka mudah menerima perubahan sosial. Kebanyakan orang tuanya banyak yang meninggal dikarenakan perang Buats selama 40 tahun sebelu islam masuk Madinah.
2. Masyarakat terdiri dari dua kabilah Aus dan Khajraj yang saling berseteru. adanya islam mempersatukan dua suku asli madinah tersebut.. perselisihan keduanya dikarenakan adanya campur tangan dari Yahudi.
3. Rasulullah mempersaudarakan muhajirin da anshar

Pada masyarakat manusia sebagai inti dari kekuatan (quwwatul basyariyah) sebagai main power. kekuatan ditentukan pleh bentuk manusia yang mengelolanya.

3 unsur kekuatan pada manusia antaralain: ruh, akal, dan jasad:

1. Ruh yang suci dan dekat pada Allah, penggerak dan sebagai daya dorong dari segala aktifitas hidupnya
2. Akal cerdas dan berkhidmat pada islam. ia tidak terpengaruh oleh pemikiran jahiliyah. Ia juga mampu memecahkan masalah umat dalam sudut pandang masyarakat islami
3. 3. Jasmani mampu menanggung beban da’wah bagaimanapun besarnya.

Personal da’wah harus mampu membentuk bia’ah (lingkungan/masyartkat) yang tidak terpengaruh oleh hal-hal yang sifatnya jahiliyah. Mereka mesti mampu membentuk opini umum (ro’yul aam) yang islami. Sehingga sedapat mungkin mampu melahirkan Bi’ah Islamiyah dan Bi’ah Harpkoyah secara sekaligus. Dimana diperlihatkan bahwa adanya bi’ah islam syiar islam tersebar.. slogan-slogan dan visi islam mampu hidup dalam tatanan masyarakat organik. Dan adanya bi’ah harakiyah menumbuhkan sia[ berjihad dalam islam.

Sebagaimana kita ketahui, ada 4 penberimaan masytarakat terhadap harakah islam:

1. Toleran (tasamuh)

Harakah tidak dianggap musuh dan tidak diganggu, dibiarkan tumbuh dan berkembang

1. Simpati (ta’athut)

Masyarakat ada minat dan rasa suka terhadap harakah meskimereka belum turun dalam kancah pergerakan harakah itu

1. Cinta (mahabbah)

Masyarakat yang sudah mengerti arti dan nilai harakah siap memberi dukungan pada harakah

1. Keterlibatan langsung (Ta’yid)

Masyarakat terlibat langsung dan melakukan pembelaan sekuat tenaga.



Da’wah nabi pada masa-masa kepeloporan adalah da’wah secara sirriyatut tanzhim, meski pada konteks sekarang, da’wah ini malah banyak dicurigai. Harakah (gerakan) islam harus mampu menjadi penghubung social (alaqoh ijtimaiyah) dengan masyarakat secara umum.

Ada dua bentuk wajihah da;am gerakan da’wah:

1. Wajihah tanzhim (langsung terkait dengan personil harakah)

wajihah ini dituntut untuk berpenampilan formal yang baik dan berkualitas. Ia merupakan penjelmaan dari bidang-bidang structural yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, termasuk dalam wajiha tanzhimiah (wajihah organisasi))

1. Wajihah amal (berkaitan dengan personil-personil gerakan da’wah)

Wajihah ini sedapat mungkin mampu memperkenalkan sakhshiyah (kepribadian) personil dalam konteks ruang keteladanan. Ia adalah wahana dari aktifitas anggota harakah, bisa berupa masailiyah dan bisa melibatkan orang di luar tanzhim (diluar struktural)

3 sasaran wajihah amal, antara lain:

1. Penyebaran fikroh (nashrul fikroh)
2. Penumbuhan keahlian (tanmiyatul kafaah)
3. Mendapat sumber pencaharian (kasbul maisyah)

Dalam meletakan potensi-potensi, jama’ah hendaklah mampu menganalisa hal-hal dibawah ini:

1. Pengalama masa lalu (tajribiyah madhiyah)
2. Realaitas masa kini (al haqiqah al hadhirah)
3. Perkiraan di masa mendatang (At-Tawaqut Al Mustaqbaliyah)

Dari tiga hal tersebut diatas, maka ditetapkanlah kebijakan jama’ah (qororot al ijtima’i), jika dari analisa tersebut baik/positif (ijabiyah) maka perlu dikembangkan dan ditumbuhkan, jika sebaliknya (salbiyat) maka hendaklah di ilaj (diperbaiki) kembali. Maka Qororot (kebijakan) da’wah ini merupakan bagian dari aktifitas ijtihad yang bernilai disisi Allah. Ada dua kemungkinan dari da’wah dan segala analisa kita:

1. Mihnah (karunia)

Ia adalah pemberian dari Allah, penuh bimbingan Ilahiyah yang mampu memuaskan hati, sehingga manusia perlu tafakkur fini’amillah

1. Minhah (ujian)

Ini adalah pemberian Allah, untuk menguji keimanan dan keislaman manusia, mereka perlu tafakur fillah

Dalam QS. Al Anfal ayat 60 dikatakan: wa’a idu lahum mastato’tum min quwwah, quwwah yang tersebut bersifat nakirah dan bermaksud kurang lebih sebagai berikut:

1. Ta’azomul aan (perintah yang besar)
2. Ma’na aam (pengertian yang umum)

Maksudnya adalah tegaknya masyarakat isalm dan daulah isalmiyah baru bisa dicapai manakala seluruh komponen kekuatan telah terpatri pada setia elemen pembawa kekuatan itu. Dan tarbiyah adalah pintu gerbang tegaknya berbagai aspek kekuatan. Namun, jama’ah kita tidak boleh semata-mata terjebak menjadi jama’ah tarbawiyah semata, meski tidak dipungkiri bahwa ikhwah memang tumbuh dan dibesarkan dalam tarbiyah islamiyah ini.. Maka, dalam kopntemplasi waktu ini, ada dua hal persiapan (I’dad) sebagai pangkal kekuatan umat:

1. I’dad dakhily

Mempersiapkan pribadi muslim sebagai sakhsiyah jama’iyah yang senantiasa iltizam dan memiliki kekuatan loyalitas yang tinggi pada jama’ah harakiyah

1. I’dad khorijy

Setelah sakhsiyah jama’iyah matang, maka hendaklah mereka beraktifitas di masyarakat, memberi penerangan di masyarakat, menjadi rujukan masyarakat

I’dad ini perlu dikembangkan dalam suasana pranata terkecil terrlebih dahulu (fard), kemudian dilanjutkan dalam kehidupan usrah (keluarga), dan seterusnya. usrah memegang peranan yang sangat fundamental dalam perkembangan tatanan masyarakat. Ada beberapa karakteristik usrah, antara lain:

1. Usrah ruhani

Ia adalah mata air keimanan yang tidak pernah kering.. didalam usrah ini dibentuk sifat2 sebagai berikut:

* Iman dan aqidah
* Hubungan hati dan persaudaraan
* Hubungan moralitas dan akhlak

1. Usrah fikriyah

Ia menghimpun cita-cita dan pemikiran islam dimasa depan yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sifat-sifat yang dibentuk antara lain:

* Ilmu pengetahuan dan wawasan yang mendalam, baik syariah maupun umum, tumbuhnya kajian-kajian ilmiyah sesuai dengan kafaah (keahlian) masing-masing
* Teoritis (nazhariyah)

Usrah melahirkan teori-teori keislaman yang praktis dan aplikatif

* Konsepsional (minhajiyah)

Usrah melahirkan konsepsi (minhaj) sesuai dengan bidang atau kecenderungan

1. Usrah da’wah

Usrah ini sebagai pos da’wah yang paling dekat pada mad’u (objek da’wah) yang meliputi setiap amaliyah da’wah.. dengan karakterisitsik sebagai berikut:



* Gerakan (harakah)

Upaya perbaikan masyarakat diberbagai bidang

* Perjuangan (jihadiyah)

Usrah menjadi basis perjuangan islam dala kehidupan

* Jundiyyah (kepeloporan)

usrah mampu membentuk elemet2 tanzhim yang disiplin, sami’na wa’atona

usrah harus berperan di masyarakat sebgaia pemimpin asyarkat (al qoid al mujtama’) dan sebagai pemegang kendali masyarakat (ad daurul al qiyadi).. maka butuh beberapa urutan-urutan, agar masyarakat menjadi basis sosaila harakah yang murni:

1. Ro’yul aam al islamy (tersebarnya opini umum yang islami)
2. As suluk al ijtima’il islam (tingkah laku yang islami)
3. Bi’ah harakah islamiyah (lingkungan yangmenunjang gerakan islam)

Jama’ah da’wah haruslah berdiri dalam konsep petumbuhan.. untuk melakukan pertumbuhan (an numu) jama’ah harus secara berkesinambungan (mustamirah) melakukan tarbiyah. Tarbiyah ini harus meliputi tiga unsure penting, yakni: shalabatul qaidah (kekokohan barisan) sebagai inti kekuatan jama’ah, nuqhthatul intilaq (titik bertolak) diperlihatkan dengan kejelasan fikrah dan pemahaman yang mendalam tentang islam, dan kayfiyatul masiir (metode berjalan) dengan berusaha tetap[ dalam arah gerak seoerti Rasulullah saw.. tarbiya ini ada dua sisi:

1. Talqiniyah

Pembahasan masalah-masalah islam dalam bentuk halaqoh/liqo tarbawi

1. tajribiyah

menerima pengalaman langsung di lapangan sebagai pembelajaran di medan da’wah

asset harakah adalah manusia, mereka yang berhasil diajak ke jalkan Allah maka tegaklah diennulah.. para du’at menjadi milik da’wah.. watak yang mesti dipelihara keseimbangannya dalam thoqotul harakah (potensi pergerakan da’wah) adalah watak kebijaksanaan orang tua dan semangat pemuda (hikmatus syukukh fi hamasatus syabaab). Kita mengetahui bahwa potensi syabab adalah:

1. quwwatul mubadarah (kuat inisiatif)
2. quwwah tanfiziyah (kuat dengan gerak dan aktifitas)
3. al muthala’ah an nashariyah (kuat telaah konsepsional secara teoritis)

hamashah syabab tidak boleh menjadi emosi (infi’ali) sehingga menyeret manusia kedalam ekstremisme. Bahwa syukuh (orangtua) dianggap bijaksana, dengan kriteria-kriteria sebagai berikut:

1. Khazanah tadribiyah (kaya pengalaman)

Banyak dan lamanya perjalanan hidup mereka,sehingga mereka memiliki kekuatan menelaah situasi dan kondisi

1. Quwatussaitaroh fikriyah (kekuatan daya berpikir)

Pengaruh pemikiran mereka yang matang diterima di masyarakat

1. Quwwatus syaitaroh ruhiyah (kekuatana ruhani)

Mampu memberi pengaruh di hati masyarakat

Manusia sebagai pendukung dari harakah, adalah asset yang sangat bernilai, asset da’wah bukanlah kekayaan materi atau kekayaan lain dari jama’ah.. jama’ah harus akif, opensif, dalam proses rekruiting dan pembinaan iman melalui halaqah-halaqah. Pertumbuhan (an numu) asset meliputi:

1. Pertumbuhan kuantitas (numu ‘I kamiyah)

Jama’ah dalam rekrtuiting dan pembinaan melakukan tarbiyah qobla tanzhim sebagai pintu gerbang parrtisipasi dalam jama’ah dan tarbiyah ba’da tanzhim melalui daurah-daurah takhasusiyah (pelatihan kespesifikasian) untuk melahirkan orang-orang dengan kemampuan spesial (spesialis). Pertumbuhan jumlah ini mesti memperhatiakn:

* Pertumbuhan jumlah

Keselarasan antara jumlah du’at denbgan mad’u, termasuk mengelola peminat da’wah dengan berkualitas

* Penyebaran potensi harakah

Pemeliharaan piramida da’wah dan fase pembinaan dilakukan mulai dari tingkat Al-Akh (akltifis), sa’id (pendukung), muhibbin (pengembira), dan sampai kepada da’wah amah (orang umum), tidak bpleh ada yang mu’athol (hilang) dalam tatanan hierarki ini. Disini pert;u pembagian wilayah da’wah agar kondisi ini dapat menjadi tatanan strategis dalam da’wah

* Komposisi kafa’ah yang ada (tarkibul kafaah)

Kafaah dalam wihdah harakah (komponen pergerakan) da’wah ada tiga macam: da’wah, ilmiyah, dan fanniyah.. dengan potensi penyebaran 2-1-1

1. Pertumbuhan kualtitas (numu ‘I nau’iyah)

Parameter kualitas adalah adanya tarqiyah (peningkatan) baik qobla tanzhim maupun ba’da tanzhim.. sehingga mereka dituntut untuk memahami arkan bai’ah (rukun-rukun bai’ah) dalam jama’ah tersebut. Penjagaan klulitas ini dil;akukan dengan tarbiyah (pendidikan) madal hayah (seumur hidup). Tidak boleh anggota harakah lepas dari tarbiyah, mereka senatiasa melibnatkan diri dalam setiap aktifitas harakah, tidak bersikap penonton( komentator) dan memiliki sikap lapang dada (inshirohus shadr) agar sanggup melakukan tugasnya..

Contoh masyarakat yang lemah interaksinya dengan harakah adalah masyarakat bani israil..

* tatkala mereka meminta pemimpin kemudia ditunjuk oleh Allah, maka mereka menolak (kelemahan dalam mengantisipasi perkembamngan struktural)
* tatkala mereka diperintahkan untuk menyembelih sapi betina oleh Allah, mereka menganggap hal ini sebagai ledekan (kelemahan dalam menerima perintah Allah)
* tatkala mereka mendapat kenikmatan dari Allah meraka tidak puas, meminta lebih dari porsi yang diberikan Allah

dengan kenyataan seperti ini, Nabi Musa as, bersikap Rhahabatus shadr (lapang dada), maka bentuk solusi dari pertolongan Allah yang dia minta untuk disegerakan adalah:

* Allah melapangkan dada dan memudahkan segala urusan

Lapang dada (inshirahus shadr)merupakan mata rantai dari kemudahan urusan (tasyirul umur). Misalnya: dsalam fatratul wahyu, Allah memudahkan dan menghibur Rasulullah saw dengan Ad-Dhuha (sebagai hiburan) dan Al Insyirah (untuk melapangkan hati Rasulullah saw)

* Allah membuang uqdatul lisan dan membuat orang memahami da’wah

Uqdatul lisan adalah lisan yanmg gemar mengghibah, mengumpat, mencari kesalahan orang lain, mengejek, dsb.. denagn benarnya ucapan kita, memudahkan masyarakat dalam menerima dan memahami ajakan kita

* Allah memunculkan wazir (penolong) dalam urusamn da’wah

Orang dengan karakter setia (wazir) mendukung da’wah,, dengan adanya kesesuaian aqidah, fikrah, dan minhaj da’wah.. meraka adalah manusia pilihan untuk menolong kebenaran

1. Pertumbuhan kemampuan (numu ‘I qudrah)

Jama’ah yang kuat akan terbentuk jika memiliki jumlah yang memadai dalam mengendalikan masyarakat secara efektif. Ada beberapa syarat dalam pengendalian masyarakat ini:

1. Jumlah yang cukup dalam pengendalian masyarakat ini (al a’dad kafiy)

Umat tidak boleh ghurur dalam mengendalikan masyarakat

1. Ghirah keimanan yang kuat (ghirah qowwiyah)

Ghirah ini muncul jika doktrin-doktrin harakah sudah melekat pada individu

1. Kekuatan yang terorganisir secara rapi (al quwwah al munashomat)

Setiap Al-Akh (aktifis) hendaklah memiliki al indibath al qowwiyah (disiplin yang kuat) dalam bersikap, berbicara, dalam menyunaikan amanah jama’ahnya.. ia mampu berbicara sesuai dengan spesifikasi lawan bicaranya. (khatibu ahlid dunya billughati ahlid dunya, wa khatibu ahlillah billughati ahlillah). Mereka memiliki kedudukan yang sama, berbeda pada tugas dan fungsi penataannya saja, dan bahwa ketaatan kepada Qiyadah (pemimpin) merupakan kunci sukses bagi jama’ah. Ada lima (5) jenis kader da’wah di masyarakat:

1. Para khutoba yang bersemangat (al khutoba al jamahiry)

Kekuatan para khatib adalah dalam mengerahkan masa (tahtidh) dan menumbuhkan tahmis (semangat) berdasarkan iman dan pengetahuan.. bukan berdasarkan emosi atau kebencian

1. Orang faqih di masyarakat (faqih assya’bi)

Mereka adalah para ulama ditengah masyarakat yang member bimbingan dan fatwa-fatwa lurus, mampu memberikan jawaban dari permasalahan-permasalahan masyarakat.. da’I mesti meyakini tentang “Nahnu du’at qobbla kulla syai” (pada dasarnya kita ini adalah DA’I)

1. Aktifitas kerjasama social (amal at-ta’awun al khairy)

Salah satu contohnya adalah mampu menjadikan mesjid sebagai tempat strategis. para da’I menjadi pelopor di berbagai bidang (ta’zizud da’wah)

1. Menumbuhkan ekopnopmi masyarakat kecil (nasru’al iqtishadis sya’bi)

Sasaran yang hendak dicapai adalah agar masyarakat menjadi ikhtifa dzati (berdikari), mampu mengendalikan seluruh laju perekonomian.

1. Penerangan yang memasyarakat (al I’lam as sya’bi)

Sebagai langkah pembentukan ro’yul aam (opini umum) sesuai dengan rancangan da’wah. Ditandai dengan kemampuan menyebarkan dan memperluas media dan komunikasi serta pemasaran konsep-konsep yang terbingkai dengan ruh dan fikrah islam secara syar’I di masyarakat.

Jama’ah da’wah ibarat rumah (bina), ia tampak dalam (bina dakhily) dan tampak luar (bina kharijy). Jama’ah harus mampu meningkatkan fungsi rumah dengan baik.. maka ada dua hal yang mesti dikuasai oleh Al-Akh, yakni:

1. Peningkatan penguasaan internal (numu al isti’ab ad dakhily)

* Kemampuan meredakan masalah dalam jama’ah

Dalam meredakan masalah di tubuh jama’ah, ada dua hal pengefektifan (ilaj) yang dapat dilakukan, antara lain:

1. Ilaj tarbawi (mengefektikan wasail tarbiyah)

Seperti poeningkatan ruhiyah, fikrah, ukhuwah, pemahaman dan tsaqoha islamiyah

1. Ilaj tanzhimi (mengefektifkan mekanisme struktural)

Meningkatkan suasana lingkungan persaudaraaan di tubuh jama’ah, memperbaiki penugasan melalui mekanisme structural oraganisasi

* Mendisiplinkan mekanisme structural organisasi

Mengusahakan agar jama’ah dapat berfungsi secara hierarkis, ditangani oelh orang0orang yang strategis

* Memobilisasi bantuan dengan stock ukhuwah

Ukhuwah sebagai wahana kebersamaan, sebagai kekuatran jama’ah dalam menghadapi tantangan dan perkembangan jaman. Ia akan lapang dada (insirahus shadr) dalam skala kecil dan toleran (tasamuh) dalam skala besar

1. Peningkatan penguasaan eksternal (numu al isti’ab al kharijy)

Meningkatkan kemampuan personil da’wah dalam memenuhi tuntutan dari luar jama’ah. Tuntutan-tuntutan ini biasanya berupa:

1. Tarbiyah di tingkat tasis harakah
2. Tsaqofiyah sebagai langkah poencerdasan umat dengan program islam
3. Siyasat (langkah politis) dalam pengendalian masyarakat
4. Iqtishadiyah (peningkatan ekonomi) dan kewmandirian

Dalam qoidah harakiyah (basis pergerakan) da’wah, tidak perlu tenaga mutakhasis (tenaga specialist). Orang dengan kemampuan generalis (multi dimensi) malah sangat efekltif. Berbeda dengan qoidah fikriyyah (basis konsepsional) dimana orientasi dari basis ini adalah penumbuhan orang-orang dengan karakter khusus (spesialist), mampu memikirkan dan memproyeksikan da’wah dan memenuhi tuntutan da’wah di masa depan. Pertumbuhan interenal qoidah fikriyyah ini mencangkup:



1. Pembentukan kafaah-kafaah spesialis

Memanfaaatkan orang yang memiliki kelebihanm dalam satu bidang untuk diberdayakan.. berdasar kaidah fikih mengatakan: ashobu shun’is sa’bi la yujidu syaian (mereka yang memiliki tujuh keahlian sebenarnya tidak emiliki keahlian apa-apa)

1. Pembentukan konsep keislaman yang dibutuhkan masyarakat

Ini adalah salah satu studi mendalam dari para pakar terhadap berbagai masalah dan kebutuhan jawaban bagi masyarakat, dengan jawaban-jawaban yang tersibghah dengan islam. Lalu disebarkan keluar dalam rangka menumbuhkan opini umum yang islami

1. Penyebaran teori-teori atau konsep-konspe (batsu nazhariyat fikrul islam)

Upaya mempublikasikan teori keislaman sehingga popular di masyarakat

1. Pembentukan lingkungan yang islami (siyaghat bi’ah islamiyah)

Dalam qoidah siyasiyah (basis kepemimpinan), mereka adakah para policy maker (pembuat kebijakan), ia hidup dalam qadhaya assahsiyah (pronblematika kepemimpinan), dalam qadhaya al maidaniyah (masalah-masalah di lapangan) baik dimasa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Pertumbuhan kemampuan basis siaysah bergantung pada tingkat komitmen mereka terhadap disiplin siyasah islam. Hendaklah mereka berdisiplin dengan cara:

1. Jelas sasaran dan tujuan dari kebijakan yang diambil

Ini merupakan komitmen para pembuat kebijakan dengan komitmen aqidah dan fikrah islam.a danya suasana dan ruh islam dalam berbagai keputusan dan kebijakan yang diambil. Sebagaimana ungkapan sahabatyang terkenal: ta’alau numus sa’ah (mari sejenak meningkatkan iman)

1. Menggunakan wasilah yang sesuai dengan syariat islam

Tidak menghalalkan segala cara untuk tujuan islam, maka orang-orang yang ada di level ini harus memahami dengan baik tentang fiqhul ahkam.. dalam rangka memunculkan karakter keseimbangan agama dan ilmu pengetahuan.. za’inul alim wa allimuz zaiim (pemimpin yang ulama dan ulama yang pemimpin).. tidak dibenarkan para pembuat kebijakan menggunakan dalil darurat (dalil dalam keadaan terpaksa) secara sembarangan, sebab dalil ini bersifat temportal (muaqotoh)

1. Keterkaitan yang integral

Melihat kasus secara integral dalam kaitannya dengan hal lain yang terjadi.. maka dituntut orang-orang untuk memahami fiqhud da’wah secara menyeluruh

1. Saling sempurna dan menyempurnakan

Agama kita yang bersifaat kaafah (menyeluruh) secara syamil mutakammil (lengkap dan sempurna) tidak sebanding dengan kemampuan kita yang sektoral dan terbatas.. maka kita dituntut untuk memahami fiqhu amal jama’I dalam rangka untuk saling menopang satu dengan yang lain dalam penyebaran potensi yang tidak seragam ini. Istilahnya adalah tidak boleh ada yang mendahului shaff atau tertinggal sangat terbelakang, sebab akan merugikan jama’ah itu sendiri. Maka kita mengenal konsep kewajiban tarqiyah sebelum tausiyah (kewajiban peningkatan sebelum perluasan))

1. Pandangan positif dan dinamis

Poara ikhwah hendaknya berhati-hati, penuh rancangan dan poerhitungan. Segala kesulitan dipandang sebagai upaya mencari pengalaman, sedapat mungkin mengupayakan agar front perbedaan dan peperangan yang kita hadapi tidak meluas. Mencari segala penyelesaian yang mampu menyelasiakan masalah secara tuntas dan akurat

1. Kesupelan yang didasari kenyataan di lapangan

Syariat ilahi memberikan range (skala toleranbsi) bila menetapkan suatu kebijakan atau hukum.. nmaka kita dituntut agar memahami medan da’wah (ma’rifatul maydan) secara komprehensif

1. Kemudahan yang toleran

“mudahkanlah jangan mempersulit, gembirakanlah jangan mengecewakan” (HR Bukhari dan Muslim)

Hendaklah para pengambil kebijakan menguasai ma’rifatu rijaal (mengenal karakter) terhafdap asset da’wah (manusia) dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.

Ketujuh point diatas apabila direaliosasikan, akan menghasilkan siyat al hakimah (politik yang bijaksana), dalam rangka mencapai kebenaran dalam hal tatanan politis maupun praktis (ishobatul haq fil qauli wal ‘amali). Refleksi dari siyasat hakimah ini adalah:

1. Penerimaan yang luas (wasi’atul qobul)
2. Kuatnya dukungan yang diberikan (qowiyatud do’m)
3. Mudah untuk dilaksanakan (suhulatu tanfizh)
4. Hasil-hasil yang baik (thoyyibatun natajj)

Qoidah siyasiyah harus bertumpu pada siyasat idariyah (manajemen politik), berdasarkan tiga landasan:

1. Memahami policy umum dari jama’ah

Jama’ah bekerja secara syumul dan menyeluruh untuk kemenangan islam dan segala tatatan dan pranata social

1. Memahami tahapan-tahapan

Ikhwah sangat dituntut keahliannya dalam hal memahami aplikasi dan implementasi da’wah yang berbeda-beda ini

1. Menentukan policy yang bersifat bagian-bagian

Berkaitan dengan siyasat ammah (strategi umum) dan siyasat marhaliyah (strategi bertahap)

Maka dari tiga fundamen/landasan tersebut diatas, maka kita bisa embuat takhtit (perencanaan), meliputi

1. Menentukan sasaran-sasaran, baik itu sasaran amah, sasaran marhaliyah, atau tarbiyah
2. Menyusun program operasional untuk pelaksanaan tugas-tugas
3. Menentukan time schedule (barnamij aj jamaniy)
4. Menentukan metode bergerak (uslubut taharuk)

Dalam rangka merealisasikan program-program tanzhim (program organisasi), dibutuhkan pengarahan (taujih) secara terus menerus, bisa berupa:

1. Taujih Qiyadi
2. Taujih Ma’nawiyyah (pengarahan untuk meningkatkan semagnat moralitas)
3. Taujih lil ittishalat (pengarahan untul lomunikasi)
4. Menetukan sarana-sarana yang dipergunakan

Dalam hal penataan tanzhim, ada bebrapa kjewajiban yang tidak boleh dilalaikan oleh jama’ah:

1. Pembagian tugas sesuai kemampuan ikhwah
2. Menentukan tanggungjawab
3. Menentukan batas-batas wewenang dalam tanggungjawab
4. Menumbuhkan administrasi tanzhim
5. Menentukan mekanisme struktural
6. Menentukan perkiraan biaya/beban yang dibutuhkan

Jama’ah mesti mampu menjawab kebutuhan dan tantangan jaman. Ia mesti mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan perkembangan kaidah-kaidah ijtima’iyah yang ada (sya’biahisasi) dalam rangka membentuk opini publik (ro’yul aam) dan melyu (suasana) isalm yagn menyatu dengan masyarakat.. dalam fiqhud da’wah kita kenal istilah: “yakhtalitun walakin yatamiizun” (bercampur tapi tetap berbeda), nu’tsar ghairu mutaasiruun (mempengaruhi tetapi tidak terpengaruh). Jama’ah harus mematerikan (mengejawantahkan) tarbiyah sehingga ada pengaruh/efek kepada internal jama’ah dan feel eksternal kepada sya’biah.. sebagaimana kita ketahui bahwa, pada tatanan masyarakat, tidak ahnya multazim (anggota) saja, akan tetapi ada diantara merak sebagai mu’ayyidin (pendukung), muhibbin (penggembira, dan mutafarrijin (penonton).. lingkungan sya’biayah (lingkungan masyarakat) menuntut kearifan para da’i.. Dalam rangka memelihara keaslian (muhafazhah alaa ashalah) jama’ah, agar tidak terjadi pelarutan dan pembiasan, maka diperlukan langkah-langkah ta’sil (penjagaan), antara lain:

1. Ta’sil aqidi

Sedapat mungkin menghindari sikap minder atau hyper di masyarakat, mengokohkan basis aqidah dan keyakinan dengan sebaik-baiknya.. seperti pada saat dulu, wanita-wanita madinah bersyair untuk Rasulullah: “kammi mengetahui Rasulullah yang mengetahui hari esok”, maka Rasulullah menasihati mereka: “laa taquulu hadza, innahu la yu’lima ghaiba illallah”

1. Ta’sil fiqih

Fiqih berkaitan dengan mafahim (pemahaman).. memahami uslub (cara) Rasulullah dalam merentas perjalanan da’wahnya mulai dari skala makro kepada skala mikro dengan konsep Islam minhajul hayyah (isalm adalah pedoman kehidupan). Maka sikap berdisiplin syar’I merupakan tuntutan yang tidak bisa dielakan, dalam rangka menjawab hal-hal yang terjadi di sya’biyah (masyarakat) yang biasanya bersifat farpiyan, juz’iyah, tafshiliyah, dsb

1. Ta’sil fiqri

Menjaga originalitas fikroh, dimana fikroh islam adalah: syamilah, mutakamillah, integral, tepadu. Tidak sentral/sektoral.. fikrah ini tidak bisa dipenjara, sertiap pukulan yang dilakukan terhadap wajan da’wah hanya membantu penyebaran gerakan da’wah lebih luas lagi.. maka, dalam konteks tahririyah (pembebasan), kita lebih dulu melakukan pembebasan terhadap daulatul hawa, menegakan islam dalam diri kita (fard), usrah (keluarga), masyarakat (al ijtima’iyah), Negara (daulah), dunia islam (khilafah), lalu sampai pada tahapan tertinggi yakni Ustradziaytul Alam (Islam sebagai soko guru peradaban)

1. Ta’sil syar’I secara tanzhimi

Hendaklah kita memhamai jama’ah kita, berdasarkan hadits rasulullah saw: alaikum bil jama’ah (hendaklah kalian berjama’ah). Individu-individu dalam jama’ah haruslah berkarakteristik jundullah “wain jundanaa lahumul ghaalibuun” .. kita belajar kepada alam, pada tatana kosmos, bahwa semua benda/materi tersekap dalam mihnatu wahid, dalam konsep kejernihan dan keteraturan.. disamping jundullah, maka qiyadah (pemimpin) pun mesti mampu melakukan segala aktifitas dan tanggungjawabnya dengan pendekatan tarbawi.. maka klasifikasi kader pemimpin di masyarakat antara lain:

1. Murrobi

Murobi membimbing, mengarahkan (muwajih), dan mengajarkan (mu’allim) kepada masyarakat tentang islam

1. Mufakhir

Menguasai fikriah, memahami tasawwur (penggambaran yang jelas), menguasai konsepsional yang luas

1. Munazhim (organisatoris)

Mampu memobilisasi dan mengkonsolidasikan potensi, menggerakan dan mengkoordinasi jama’ah

Kita diharapkan mampu menjaga keseimbangan iklim-iklim bi’ah da’awiyah, meliputi hal-hal berikut ini:

1. Iklim ruhiyah dan ubudiyah

Bergantuing niatnya, bagaimana kuatnya hati dan perasaan dia terhadap konsep ketuahanan dan penghambaan

1. Iklim fikrah dan ilmu

Mampu melakukan anaisis, riset, dan perencanaan secara ilmiyah

1. Iklim do’mah dan harakah

Manusia itu multidimensi: fariyah, da’awiyah, maupun ilmiyah.. diharapkan mampu melakukan sinergitas dalam pergerakan da’wah (harakah da’wah).. dengan catatan:

1. Tidak boleh melejit salah satu, sedangkan yang lain tertinggal
2. Perpindahan/mutasi da’I sebagai kader kepemimpinan boleh dilakukan
3. Untuk memelihara kedinamisan dan penyegaran
4. Untuk menjagfa efisiens, efektifitas, dan kelancaran pelaksanaan program

Al-Akh dituntut untuk berkomitmen terhadap jama’ah, terhadap diri sendiri.. komitmen ini diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari.. ia mesti memhamai arkanul ba’iah (rukun-rukun perjanjian) dengan jama’ah, sebagaimana Sahid Hasan Al Banna memaparkan rukun baiah ini secara jelas.. steven Covwey dalam bukunya “the seven habits” memaparkan bahwa kebiasaan dibangun atas dasar pegnetahuan, keterampilan, dan perbuatan.. beberapa rukun ba’iah ini antaralain: al fahmu (memahami), Al-Ikhlas (meluruskan niat dan tujuan beramal), dsb.. komitmen ini tidak cukup, tanpa diikuti dengan pernyataan misi individu dan misi jama’ah.. beberapa misi jama’ah, antara lain:

1. Jama’ah memahami ilmu sebelum beramal
2. Jama’ah menjadikan ikhlas sebagai asas dari amal
3. Jama’ah memiliki insisiatif beramal shaleh
4. Jama’ah bersungguh-sungguh dalam Iqomatuddiin secara berkesinambungan dan tereus-menerus
5. Jama’ah melatih individu agar siap bertadhiyah (berkorban) secara efektif

Peringkat da’wah yang menuntut tadhiyah kita antara lain:

1. Ta’rif (penyebaran fikrah umum)
2. Takwin (suffi total dalam ruhiyah, militer total dalam amaliyah)
3. Tanfizh (jihad tanpa konfromi)
4. Jama’ah senantiasa teguh dan stabil dalam bergerak dan berjihad
5. Jama’ah membulatkan diri mendukung fikrah islam
6. Jama’ah menekankan bahwa “dimanapun, kami adalah bersaudara”
7. Percaya sepenuhnya kepada Allagh, Islam, da’wah dan Jama’ah

Dalam da’wah hendaklah kita berlaku ihsan dalam segala hal, ihasan sebagai komitmen kualitas operasional, iman sebgai komitmen moral dan .. “ Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu” (HR Muslim).. ada dua makna ihsan, yang sebagaimana kita ketahui brsama-sama:

1. Kebersamaan dengan Allah

Tumbuhnya sikap Ma’yatullah (kebersamaan dengan Allah), merasadiawawsi oleh Allah, senantiasa berhati-hati dalam hidup, tumbuhnya sikap/rasa takut kepada Allah atas amal yang tidak sempurna, atas amal yang tidak ikhlas dan disoreintasi amal.

1. Berbuat baik karena Allah

Mmenuhi hak dan adab kepada oranglain.. Rasulullah sebagai udwah terbaik dalam hal perbuatan baik ini. Maka ihsan sebagai factor kualitas dalam amal da’awiy kita mesti meliputi setidakmya hal-hal berikut ini:

1. Ikhlasun Niyat

Ikhlas sebagai landasan cinta kepada Allah, senantiasa merasakan pengawasan Allah

1. Itqanul amal

“bekerja dengan rapi, berminhaj tertata, terprogram dengan baik” ada tiga prinsif agar amal/aktifitas kita menjadi Itqan dihadapan Allah:

* Jiddiyah (sungguh-sungguh dan serius dalam bekerja)
* Istimroriyyah (terus menerus dalam bekera)
* Ruhul BAdzli wa tadhiyyah (semangat berkorban yang senatiasa berdegup dalam dada)

1. Jaudatul ‘Ada

Melaksanakan pekerjaan secara tuntas, penyelesaiannya baik, tanpa menimbulakan masalah.. maka anggota jama’ah dituntut agar mampu melaksanakan tanggung jawab dengan baik, dating tepat waktu saat agenda/aktifitas, bekerja dengan tahu bnagaimana kesempurnaan dari pekerjaannya. Ihsan dalam da’wah, meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Ihsan daam perencanaan da’wah

Ihsan dalam merencanakan agenda jangka panjang dan jangka pendek, melibatkan seluruh elemen jama’ah

1. Ihsan dalam pengorganisasian da’wah

Ihsan dalam menyelenggarakan liqp’at tanzhimiyah.. misalnmya dengan cara: tepat waktu kedatangannya, partisifasi secara aktif da;am ruhiyan/fikriyan dalam syuro, membagi tugas dan penugasan

1. Ihsan dalam operasional da’wah

Melaksanakan da’wah dalam berbagai peringkat sesuai tuntutan manhaj.. peringkat-peringkat da’wah yang dimaksud antara lain:

* Memperbaiki diri, Memperbaiki keluarga muslim
* Memperbaiki masyarakat
* Memperbaiki tanah air
* Memperbaiki pemerintahan
* Mewujudkan kesatuan dunia islam
* Sampai terealisasinya kepemimpinan islam, dimana islam sebagai soko guru peradaban cerdas

1. Ihsan dalam memutaba’ahi dan mengevaluasi da’wah
2. Ihsan dalam melibatkan para poendukung da’wah

dibedah dari buku: H. Hilmi Amiruddin (Siyasatud Da'wah) oleh : Kammi Komisariat ITB
Readmore »»